Inilah persembahan bagian terakhir dari foto esai bertajuk "Tsuitekite"! Setelah hampir satu setengah tahunan yaa saya nyicil buat mostingnya ahahaha, otsukaresamadeshita!! Manis, pahit, asem, asin, beragam rasa pokoknya saat menyimak kisah hidupnya sang penulis! Tapi satu yang pasti, saya sangat sangat sangat saluuuttt pada perjuangan yang sudah dilakukan oleh Ryuto! Dan teramat bangga memiliki idola seperti beliau! Yang ingin saya katakan adalah TERIMA KASIH, sudah memilih untuk tetap bertahan pada saat itu, berjuang lagi terus-menerus, hingga menjadi sosok yang bisa saya kenali sebagai seorang artis hebat bernama RYUTO KAZUHARA! Aishiteruzeeeee Ryuto-kun!!!!
Oke dehh, yukk ikuti saya menuju ujung dari buku ini~
⬛ TSUITEKITE (IKUTI AKU)
Selama pandemi, ketika aku tidak bisa terhubung dengan penonton melalui pertunjukan langsung yang sangat kusukai, aku menganggapnya sebagai "tiga tahun yang hilang". Tetapi jika melihat ke belakang, aku menyadari bahwa sebenarnya ada banyak hal yang baru aku pelajari karena pandemi.
Mengapa aku begitu cemas ketika aktivitas musikku terhenti? Memikirkan alasannya, aku rasa aku cemas karena aku sadar akan usiaku, "30." Untungnya, aku telah mencapai impianku menjadi seorang penyanyi, dan jika aku mau, aku bisa terus bernyanyi bahkan di usia 50 atau 60 tahun. Namun, jika aku membatasi diri pada genre musik pop, aku merasa bahwa usia 30-an adalah waktu dengan potensi terbesar untuk menciptakan gerakan besar. Akan bagaimana masa depanku sebagai seorang artis? Bagaimana seharusnya aku menjalani hidupku? Kupikir tahun 2020 akan menjadi tahun yang hebat, tetapi pertunjukan langsung dibatalkan, dan kami merasa telah menyia-nyiakan keberuntungan kami.
Namun karena masa itulah, aku diselamatkan oleh musik, dan aku mampu menegaskan kembali apa yang seharusnya kulakukan melalui musik. Itulah juga alasanku memutuskan untuk belajar di luar negeri. Setiap kali aku bertanya kepada seseorang yang fasih berbahasa Inggris, "Di manakah kamu belajar bahasa Inggris?" dan dia menjawab, "Aku belajar di luar negeri," aku berpikir, "Hebat sekali," dan, "Aku juga ingin pergi." Tetapi ketika aku dihadapkan pada pilihan antara menjalani hidup yang hanya membantu orang lain atau menjadi seseorang yang diremehkan, aku memilih ingin jadi yang terakhir. Benar, jika aku ingin belajar di luar negeri, aku harus melakukannya saja. Ada beberapa momen dalam hidupku di mana aku berpikir, "Aku tidak pernah tahu kapan atau bagaimana aku akan mati," jadi aku menyadari bahwa hal terpenting adalah melakukan apa yang bisa kulakukan selagi aku bisa.
Aku telah mencoba menggunakan keterampilanku di luar musik untuk membantu pekerjaanku, dan setelah menemukan sesuatu yang bisa kutekuni, aku menyadari bahwa aku sebenarnya menikmati belajar. Aku sangat buruk dalam pelajaran sekolah, tetapi aku benar-benar asyik membaca tentang sejarah sepeda motor, yang sangat kusukai. Bahkan dalam berselancar, awalnya aku tidak mengerti perbedaan antara papan selancar dengan satu, dua, dan tiga sirip. Tetapi ketika akhirnya aku menyadari perbedaan antara mengendarai papan selancar twin fin dan single fin, aku seperti, "Wow!", sangat menyenangkan bukan ketika kita bisa memecahkan sesuatu yang membuat kita penasaran?
Jika aku merasakan jenis pencarian jawaban yang menyenangkan ini pada pelajaran matematika di SMA, mungkin aku bisa masuk Universitas Tokyo. Begitulah betapa aku menikmati belajar saat ini.
Selain pembahasan bidang akademik, aku secara alami berbakat dalam olahraga. Namun, apa pun yang kulakukan, aku tidak pernah bisa menjadi nomor satu, aku selalu berada di sekitar posisi kedua. Aku mungkin bisa menjadi nomor satu jika aku berusaha cukup keras, tetapi aku adalah tipe orang yang tidak mau mengerahkan usaha sebanyak itu. Begitulah adanya. Musik adalah satu-satunya hal yang paling kujadikan prioritas utama. Aku juga sedang giat belajar bahasa Inggris, aku menyadari bahwa usaha yang konsisten dan mantap adalah jalan tercepat menuju kesuksesan dalam segala hal. Mungkin sudah dianggap terlambat untuk menyadari hal ini setelah berusia 30 tahun, tetapi usia tidak menjadi masalah ketika menyadari sesuatu dan memulai sesuatu yang baru.
Aku ingin berbagi pandanganku dengan para penggemar, jadi aku memulai sebuah acara bernama "NO PAIN NO GAIN". Aku berharap melalui sesuatu yang aku sukai, aku dapat memperluas dunia mereka yang berpartisipasi, meskipun hanya sedikit. Saat ini, berkemah adalah fokus utama, tetapi aku ingin memperluas interaksi yang meriah ini ke lokasi luar ruangan lainnya.
Jika aku bisa menjadi yang pertama terjun ke sesuatu yang ingin dicoba orang tetapi ragu-ragu, dan memberi seseorang keberanian untuk mengambil langkah pertama itu, itu akan menjadi keinginan terbesarku sebagai seorang seniman.
Baik itu musik atau hobiku, yang paling aku hargai adalah "nuansa langsung". Aku akan senang jika mereka yang berinteraksi denganku dapat mengukir apa yang mereka lihat dan rasakan pada saat itu ke dalam hati mereka. Yang ingin aku lakukan bukanlah sesuatu yang "menjadi viral" atau "Instagramable," tetapi sesuatu yang tidak ingin kuceritakan begitu saja kepada orang lain. Sesuatu yang tidak dapat disampaikan hanya dengan melihat. Aku ingin berbagi hal-hal seperti itu.
Hal yang sama berlaku untuk musik. Untuk aktivitas soloku, aku senang selama musikku bisa menjangkau orang-orang yang benar-benar beresonansi dan terhubung dengannya. Misalnya, "Hari ini cuacanya indah, jadi aku ingin mendengarkan 'Love is?' di pagi hari," atau "Aku akan pergi ke pantai, jadi mungkin aku akan memutar 'Beautiful Sunset' di mobil." Keduanya adalah lagu yang liriknya aku tulis (promosi terselubung š). Aku ingin menciptakan lebih banyak lagu seperti itu, lagu-lagu yang akan dihargai dan didengarkan orang-orang dalam berbagai adegan kehidupan sehari-hari mereka. Lagu-lagu yang terlintas di pikiranku ketika aku berada di momen favoritku. Aku sangat berharap lagu-lagu yang menangkap emosi mentah dan energi dalam mengatasi badai kehidupan dapat menjangkau mereka yang membutuhkannya.
Tentu saja, sebagai sebuah grup, kami bermaksud merilis lagu-lagu pop yang menarik dan dapat menjangkau sebanyak mungkin orang. Aku percaya bahwa mampu melakukan keduanya, daripada hanya salah satu, adalah sebuah hak istimewa sebagai seorang artis yang tergabung dalam LDH.
Aku sudah mengatakan banyak hal, tetapi selama itu menjangkau orang-orang yang mencari penghiburan dalam musik, maka tidak masalah apakah itu lagu-lagu grup atau project soloku. Yang terpenting, aku ingin terus bernyanyi, dan menyebarkan musik yang menyentuh hati seseorang. Itu saja.
Tahun lalu (2023), di Chiki Chiki Bomber di Amagasaki, tempatku dulu bekerja paruh waktu, aku melayani pelanggan di sebuah acara, dengan kedok kembali bekerja paruh waktu.
Saat itu, seorang ibu tunggal yang membawa anaknya dengan santai bercerita kepadaku,
"Sejujurnya, aku kehilangan pekerjaan selama pandemi, dan aku berpikir untuk mengakhiri hidupku bersama anak ini. Tapi setelah mendengarkan lagu-lagu Ryuto-kun membuatku berubah pikiran, dan aku sangat bersyukur."
Sambil melayani pelanggan, aku mencoba berbicara ceria dan menjawab, "Benarkah? Aku sangat senang anda masih hidup." Gadis kecil itu yang tampak seperti masih TK, dengan malu-malu berpegangan pada lengan ibunya.
Untuk beberapa saat setelah acara berakhir, kata-kata sang ibu tetap terngiang di benakku.
Jika ibu itu memilih untuk 'pergi' bersama putrinya, aku tidak akan bertemu dengannya hari ini.
Kenangan pahit dari pengalamanku sendiri kembali menghantamku. Aku mendambakan dunia di mana tidak ada seorang pun yang harus melalui pengalaman seburuk itu. Jika bahkan satu orang pun dapat diselamatkan atau disembuhkan oleh lagu-laguku, maka aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan terus bernyanyi selamanya. *aaaaaaaa so proud of you, Kazuhara-san!! š©µ*
Jika ada orang yang akan mengikutiku, jika tidak keberatan oleh orang sepertiku.
⬛ OBROLAN SAAT INI
▪️BUDDY
Sekitar pertengahan usia 20-an, ada seseorang yang menjadi bahan gosip di antara teman-temanku, "Mereka berdua pacaran, ya?"
Orang itu adalah aktor Kento Imamura.
Aku bertemu dengannya saat berusia 20 tahun. Saat itu, dia bekerja di sebuah bar di Shibuya selain pekerjaannya sebagai model.
Sejak pindah ke Tokyo pada usia 18 tahun, aku sama sekali tidak punya teman di Tokyo, jadi seorang karyawan LDH memperkenalkanku kepada Kento, dengan mengatakan, "Dia lahir tahun '92, dan usiamu sama dengan Ryuto."
Tak lama setelah itu, aku kebetulan mampir ke sebuah kafe sepulang kerja, dan Kento juga bekerja di sana.
"Kebetulan sekali!" kata kami, lalu bertukar informasi kontak.
Kami langsung akrab saat mulai mengobrol. Kami menjadi sangat dekat ketika mulai pergi ke gym bersama, sekitar usia 24 tahun.
Selama dua tahun berikutnya, kami terkadang menghabiskan sepanjang hari bersama, pagi, siang, dan malam, di hari libur kami. Bahkan sejak dulu, Kento memiliki berbagai minat, termasuk sepak bola, kickboxing, bersepeda, mobil, sepeda motor, dan wake surfing. Aku bahkan pernah dibonceng di sepeda motornya dan kami pergi ke pemandian air panas bersama.
Saat itulah aku mulai tertarik pada sepeda motor, dan memutuskan untuk memulai dengan sepeda fixed-gear (sepeda yang digunakan untuk balap trek). Kento memperkenalkanku ke sebuah toko yang menjual sepeda fixed-gear. Semua staf di sana berkata, "Kami bersepeda di akhir pekan."
Bahkan di toko pakaian yang direkomendasikan Kento, gaya yang sesuai dengan seleraku adalah mode yang terinspirasi oleh budaya Amerika. "Kurasa kamu akan menyukainya," katanya. Toko itu mencerminkan gaya hidup orang-orang yang bekerja di sana. Sungguh keren. Semua orang tampak melakukan apa yang mereka sukai untuk mencari nafkah, bukan hanya bekerja di bidang yang mereka nikmati, tetapi dikelilingi oleh teman-teman baik dan hal-hal yang mereka cintai, berhubungan dengan alam, menghabiskan waktu yang bermakna, dan menjalani setiap hari dengan sebaik-baiknya.
Saat aku melihat senyum tulus mereka, aku, yang sebelumnya hanya memikirkan "bagaimana seharusnya aku sebagai vokalis" dan "bagaimana GENERATIONS bisa menjadi lebih besar lagi", untuk pertama kalinya, mulai merenungkan "kehidupan seperti apa yang ingin aku jalani sebagai individu".
Aku telah banyak berbicara dengan para member tentang masa depan dan mimpi yang ingin kami capai sebagai sebuah grup. Tetapi masa depan yang kubicarakan dengan Kento berbeda; itu tentang apa yang ingin kujalani sebagai individu. Temanya adalah tentang jenis kehidupan seperti apa yang seharusnya dijalani seseorang. Sebelum pandemi, ketika kami berusia 27 tahun, salah satu jawaban yang kami pikirkan adalah, "Mari kita hargai rasa hormat yang kita miliki terhadap orang-orang di sekitar kita sekarang. Mari kita kejar apa yang masing-masing kita cintai sebelum kita berusia 30 tahun. Sehingga ketika kita berusia 30 tahun, kita dapat saling mengucapkan selamat atas ulang tahun ke-30 yang luar biasa." Aku rasa kami berdua berhasil mencapai hal itu.
▪️MY LOVE
Selama berada di Amerika, aku tidak pernah merasa rindu pada kampung halaman, tetapi tidak ada satu hari pun aku melupakan Tono dan Waka, yang kutitipkan untuk tinggal bersama adikku.
Tono dan Waka, yang merupakan bagian dari keluargaku, adalah campuran anjing Pekingese dan Toy Poodle. Keduanya disebut "PekiPoo". Saat pertama kali bertemu Tono, aku langsung jatuh cinta padanya. Saat aku mengunjungi tempat Frida-san, Tono termasuk di antara anak-anak anjing yang bersemangat berlari menghampiriku. Kemudian, selama pemeriksaan dan sebagainya, Waka adalah satu-satunya yang menarik perhatian.
Membesarkan dua anak anjing sekaligus jauh lebih sulit daripada yang kubayangkan. Saat itu, Tono berusia 4 bulan dan Waka berusia 3 bulan. Waka memang kecil sejak awal, jadi aku takut jika aku mungkin secara tidak sengaja menginjaknya. Aku khawatir dia akan tumbuh menjadi anjing yang tidak ramah, jadi aku sangat ketat dalam hal memberi makan dan melatih buang air. Jika salah satu dari mereka mencoba masuk ke dapur saat aku sedang menyiapkan makanan, Aku akan memarahinya dari atas dengan suara keras dan mengintimidasi, "Tidak boleh!"
Waka yang pemalu terkadang begitu terkejut hingga mengompol. Bahkan sekarang, ketika aku meninggikan suaraku dari atas, Waka akan tersentak dan menunduk. Untuk membuat Tono dan Waka buang air dengan benar di alas toilet, aku akan menghabiskan beberapa menit dengan mereka, memegang ponselku di depan mereka. Itu juga ujian kesabaran bagiku, tetapi jika mereka bergerak sedikit saja, aku akan menahan mereka dan memastikan mereka buang air dengan benar. Dan jika mereka sudah buang air dengan benar, aku akan membelainya dengan antusias dan memberinya camilan.
Awalnya, aku menempatkan mereka di kandang besar, tetapi karena aku selalu berada di rumah akibat pandemi, aku menyingkirkan kandang itu. Sejak dia mulai tidur di tempat tidur bersamaku pada malam hari, Tono menjadi sangat manja. Dia menjadi anak kecil yang sangat manja sehingga dia tidak akan tidur kecuali wajahnya menempel di wajahku.
Beberapa orang berkata, "Aku ingin punya anjing, tapi aku sering bepergian, jadi aku merasa kasihan padanya." Tapi bagiku, itu hanya alasan untuk tidak memiliki hewan peliharaan.
Kebahagiaan yang datang dari hidup bersama hewan tak ternilai harganya. Bermain dengan anjing-anjingku di pagi hari memberiku energi untuk menjalani hari, dan ketika aku pulang kerja dan melihat TonoWaka dengan gembira melompat-lompat di atasku, ketegangan di hatiku pun lenyap.
Ketika kamu mulai hidup bersama hewan, penggunaan waktumu secara alami akan berubah.
Di Amerika, tempat aku menjalani kehidupan yang memuaskan, satu hal yang kurang adalah waktu penyembuhan yang diberikan TonoWaka. Suatu hari nanti, aku ingin menulis lagu tentang waktu yang tak tergantikan yang kuhabiskan bersama TonoWaka.
▪️FAMILY
Saat aku meninggalkan Amagasaki, keluargaku memiliki seekor anjing Chihuahua berbulu panjang. Namanya Rocchi, gabungan dari "Ro" untuk berbulu panjang" dan "Chi" untuk "Chihuahua". Akulah yang memberinya nama.
Rocchi meninggal sekitar dua tahun lalu. Membuat ibuku sangat sedih. Ketika aku bertanya tentang kondisi ibuku kepada adikku yang sedang berkunjung ke rumah, dia berkata, "Ibu sangat depresi karena kehilangan hewan peliharaannya, dan itu mungkin akan memicu demensia."
Aku dan adikku menyarankan anggota keluarga baru untuk ibuku. Ibuku berkata, "Jika perpisahan yang menyakitkan seperti itu menantiku, aku berpikir untuk menyambut anggota keluarga baru, tetapi aku tidak bisa melakukannya lagi."
Aku berencana memberikannya sebagai hadiah untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh kehilangan hewan peliharaan. Lubang di hatinya tidak dapat diisi oleh apa pun selain hewan peliharaan.
Aku menemukan anak anjing Pekipoo, persis seperti TonoWaka. Suatu hari, adikku berkata pada ibu, "Ada sesuatu yang ingin kulakukan," lalu mengajak ibuku datang ke rumahku. Awalnya aku menyembunyikannya. Tapi ketika aku memberinya Pekipoo yang kusembunyikan itu sebagai hadiah, wajah ibu langsung berseri-seri. Aku memberinya nama gabungan dari "Dai" dan "Sho", maka jadilah "Taisho". Saat ini dia berada di rumah keluarga kami di Amagasaki, bersama nenek dan ibu.
Rencana untuk menyelamatkan ibuku sangat berhasil, tetapi tak lama kemudian, adikku menelepon lagi, mengatakan bahwa Taisho memiliki saudara kandung dan belum menemukan pemiliknya, jadi mungkin dia akan dibawa ke pedesaan. Sambil menangis, dia berkata, "Kasihan sekali."
"Lalu kenapa kamu tidak memeliharanya?"
Saat aku mengatakan itu, adikku sepertinya memutuskan untuk memeliharanya sendiri.
Nama anjingnya adalah Gonzaburo, dipanggil Gon-chan, dan pada akhirnya ibuku, aku, dan adikku, memelihara empat anjing Pekipoo. Semuanya jantan.
Sekarang, kami bertiga memiliki grup LINE bernama "Pekipoo Empat Bersaudara", dan kami berbagi foto anjing-anjing tersebut.
Saat aku merawat Taisho, dia gemuk dan menggemaskan, tetapi ketika aku menemuinya setelah sekian lama, dia jadi tampak memiliki lingkaran hitam besar di bawah matanya, dan terlihat seperti telah jatuh ke dalam kegelapan. Mungkin itu karena tempat tinggal kami, Amagasaki (haha). Setiap kali aku berkomentar "jatuh ke dalam kegelapan" pada foto Taisho, ibuku selalu marah dan menyuruhku berhenti mengejek. *iseng amat lu š*
Di sisi lain, Gon-chan telah dilatih dengan baik oleh adikku yang tinggal di Tokyo, dan telah tumbuh menjadi penampil yang cukup berbakat.
Melihat setiap anjing tumbuh, akhir-akhir ini aku berpikir bahwa mungkin yang penting bukanlah garis keturunan, tetapi lingkungan tempat mereka dibesarkan.
▪️SURFING
Lima tahun lalu, aku tiba-tiba ketagihan berselancar. Aku pergi ke Hawaii bersama ko-dai-san dan temannya. Kami mengambil pelajaran super-pemula dari peselancar profesional lokal, di mana dia akan berkata "GO!" dan mendorongku dari belakang ketika ombak datang.
Kemampuan atletik alamiku membuahkan hasil, dan saat aku berdiri di atas papan selancar di ombak pertamaku, pemandangan Hawaii yang terkenal, terbentang di hadapanku. Hotel-hotel berjejer di sebelah kiriku, dan Diamond Head di sebelah kananku. "Hei, aku seorang peselancar!" pikirku. Aku langsung terpesona oleh keajaiban selancar.
Setelah kembali ke Jepang, aku langsung pergi ke Chiba untuk belajar dari peselancar profesional dan agak terpaksa mendaftar dalam pelatihan mereka. Bahkan sekarang, lima tahun kemudian, aku masih belum lebih baik, dan semakin banyak aku berlatih, semakin aku berpikir, "Tidak ada olahraga lain yang sesulit ini." Ombak yang sama tidak akan pernah datang lagi, jadi berlatihlah berulang kali.
Tidak hanya sulit untuk dilakukan, tetapi meskipun aku berpikir, "Aku sudah lama menungganginya!", pada kenyataanya waktu yang berlalu terasa misterius, seperti "sekitar 3 detik dalam satu menit". Tapi aku benar-benar terpikat oleh pesona unik selancar.
Aku menulis lirik untuk "Beautiful Sunset". Aku mendapatkan ide itu saat melihat sepasang kekasih anak SMA bermain dengan polos di pantai Shichirigahama. Aku menambahkan frasa-frasa yang kuingat untuk melengkapi lagu tersebut.
Jika aku tidak mulai berselancar, aku, yang lahir di Amagasaki, mungkin tidak akan pergi ke pantai yang indah seperti Shichirigahama, dan jika bukan karena Shichirigahama adalah tempat kencan klasik, mungkin aku tidak akan bertemu dengan pasangan yang begitu manis dan lembut sehingga aku merasa terdorong untuk menulis lagu tentang mereka.
Aku mendengarkan lagu-laguku sendiri setiap hari. Agak memalukan, tapi "Beautiful Sunset" adalah satu-satunya lagu yang kutulis sendiri yang ada di daftar putar musik selancarku.
Aku juga mengalami pengalaman hebat di San Diego. Lima hari sebelum kembali ke Jepang, aku pergi ke taman skate dengan gundukan pasir yang sangat tinggi. Aku pikir itu akan menjadi latihan yang bagus untuk berselancar. Terakhir kali aku melihat gundukan pasir itu di acara lain, aku sedikit takut dan tidak bisa mencobanya, tetapi karena ini adalah kesempatan terakhirku, aku mengumpulkan keberanian dan berbicara kepada seorang pemuda, "Aku adalah pemula, jadi aku ingin kamu mengajariku cara berselancar."
Dia mengajariku dengan sangat hati-hati sehingga aku hampir malu. Musik dan olahraga adalah bahasa umum terkuat bagi orang-orang yang mencintainya. Pada saat itu, aku merasakan koneksi instan, dan itu benar-benar menyenangkan.
EPILOG
Hampir tiga bulan telah berlalu sejak aku tiba di Amerika. Di usia 31 tahun, ini adalah pertama kalinya aku belajar di luar negeri. 12 tahun setelah debutku, akhirnya aku mengambil cuti dari pekerjaan, dan selama bulan pertama, aku menghabiskan hari-hariku dengan mengikuti kelas bahasa Inggris.
Hari itu penuh dengan kekhawatiran. Kehidupan di rumah kontrakan dimulai dengan berbelanja kebutuhan sehari-hari. Ada begitu banyak barang yang harus kubeli dari awal, rasanya seperti pertama kali aku pindah ke Tokyo.
Bulan itu, aku melampaui batas kartu kreditku, dan sebulan kemudian, kartu utamaku diblokir. Bukan hanya karena belanja. Ketika aku pergi makan dengan teman-teman sekelas di sekolah bahasa, mereka semua jauh lebih muda dariku, jadi aku mencoba bersikap keren dengan mengatakan, "Aku akan traktir kalian, minumlah sepuasnya," tetapi meskipun aku hanya minum sekitar dua gelas, tagihannya melebihi 50.000 yen. Teman-teman sekelasku semuanya muda, jujur, dan tidak terkekang. Terlebih lagi, yen saat ini berada pada level terlemahnya dalam 34 tahun terakhir.
Sebagian orang mengatakan belajar di luar negeri pada saat seperti ini adalah tindakan gegabah, tetapi ketika kartu kreditku diblokir, perasaanku bukanlah "Ah sialan!" melainkan "Aku sudah menduganya sih..". Aku tahu bahwa aku harus melindungi diri sendiri, tetapi aku juga memiliki kepercayaan diri yang tidak berdasar bahwa aku bisa bertahan hidup bahkan jika aku menjadi tidak punya uang. Dan aku berjanji pada diri sendiri, "Aku akan menjadi tipe orang yang bisa mendapatkan kartu kredit tanpa batas pengeluaran."
Saat itu awal Mei, sekitar sebulan setelah tiba di Amerika. Aku pergi ke bar karaoke di pusat kota bersama teman-teman sekelasku. Ada panggung besar di tengah, dan semua orang berdiri di sana, memamerkan suara nyanyian mereka dan menerima tepuk tangan.
Setelah absen bernyanyi selama sebulan, aku merasa sangat gelisah dan berkali-kali berpikir, "Haruskah aku naik ke panggung?" Tetapi karena aku telah mengistirahatkan suaraku selama sebulan, aku menahan keinginan itu, berpikir bahwa jika aku bernyanyi, aku akan menyesalinya dan berpikir, "Oh, aku buruk sekali." Saat aku pergi, aku menyadari bahwa aku mulai benar-benar ingin bernyanyi lagi.
Pada akhir Mei, aku melakukan rekaman bersama paduan suara lokal. Semua orang yang berkumpul di sana senang bernyanyi, dan mereka bernyanyi terus-menerus bahkan selama istirahat. Ketika seseorang bertepuk tangan atau menggerakkan tubuh mereka, itu adalah sinyalnya, dan mereka dengan gembira menyanyikan lagu-lagu gospel yang mungkin sudah familiar. Aku ingin ikut serta, tetapi karena aku tidak tahu lagunya, aku hanya mencoba menemukan nadanya dan hanya memainkan nada bass rendah agar tidak mengganggu. Ketika aku melihat diriku dari perspektif objektif, perasaan ingin menjadi bagian darinya, ingin berbaur, mengingatkanku pada pertama kali aku melihat EXILE. Aku benar-benar yakin bahwa aku akan bersinar jika berada di antara mereka. Aku ingat perasaan itu dari masa lalu, perasaan yang aku miliki ketika aku memercayainya.
Selama masa studiku di luar negeri, aku terus-menerus mendengarkan musik, meskipun hanya bahasanya saja yang kukenal. Musik adalah bagian penting dari hidupku. Aku terutama suka mendengarkan musik surf yang lembut, lambat, dan menenangkan. Seolah-olah laut dan angin itu sendiri, yang merangsang kelima indraku, telah berubah menjadi suara, dan hati serta tubuhku terasa meleleh. Aku berharap bisa menciptakan musik yang begitu terintegrasi dengan alam dan gaya hidup. Saat aku menatap lautan luas dengan pikiran itu, aku menyadari bahwa itu sebenarnya Samudra Pasifik yang sama dengan samudra tempatku berselancar di Jepang. Jika dilihat kembali, itu jelas, tetapi pada saat itu, itu adalah penemuan yang luar biasa bagiku.
Tiga bulan terakhir ini membuatku menyadari hal yang sudah jelas. Berselancar, sepeda motor, berkemah, mobil, golf...... Aku punya banyak hal yang kusuka, tapi aku tetap paling mencintai musik. Musik selalu menyelamatkanku, dan kurasa aku tidak bisa hidup tanpanya di masa depan. Aku mungkin agak dikenal di Jepang, tetapi seseorang bernama Ryuto Kazuhara bukanlah siapa-siapa di dunia. Sambil merasakan ketidakberartianku sendiri, aku juga menjadi yakin bahwa melalui musik, aku dapat berkomunikasi dengan banyak orang, melampaui bahasa, budaya, agama, era, jenis kelamin, usia, kebangsaan, dan banyak hambatan lainnya.
Hidupku selalu dipenuhi momen-momen yang membuat frustrasi. Tetapi setelah tiga bulan ini, satu-satunya emosi yang memenuhi diriku sekarang adalah cinta dan rasa syukur. Aku ingin mendedikasikan rasa syukur yang tulus ini kepada kalian, yang mendengarkan lagu-laguku, dan yang telah menjadi sumber dukungan bagiku sebagai seorang penyanyi. Kepada kalian yang ingin mendengarkan lagu-laguku: Jika lagu-laguku dapat membawa sedikit saja penyembuhan, dukungan, atau warna dalam kehidupan sehari-hari kalian...... itulah alasan aku terus bernyanyi, dan alasan untukku hidup.
Terima kasih telah memilih buku ini. Aku akan terus berjuang mati-matian untuk menyanyikan lagu-lagu yang menyentuh hatimu. Jadi, izinkan aku mengatakan satu hal terakhir,
"Ikutilah aku".
26 Juni 2024
Saat menuju Samudra Pasifik yang menghubungkan Pantai Barat dengan Jepang.
š©µš©µš©µ
(terjemahan bahasa Indonesia bekerjasama dengan google translate, bing, dan ilmu dari penjelajahan internet)
(mohon koreksi jika ada kesalahan)



No comments:
Post a Comment