find me on:

Showing posts with label cerbung. Show all posts
Showing posts with label cerbung. Show all posts

Sunday, February 4, 2018

CERBUNG: "Setan Kecil" Itu Pilihanku (3)

PART 1: Bullyan Terus-Menerus

PART 2: Terungkapnya Sebuah Fakta

PART 3: Sang "Setan Kecil" Terbakar




*
Keesokan harinya setelah jam matkul pertama selesai, Rafael mengajak Dina makan di kantin.

“Eh Din, gue mau nanyain ini ke lo pas kemaren, tapi gue keburu lupa deh.” Ucap Rafael.

“Nanya apa? Kok serius gitu..” Jawab Dina.

“Kok gelang yang dipake lo sama kayak Bisma. persiiiisss banget! Apa jangan-jangan….” Tanya Rafael serius.

Dina pun menanggapi Rafael hanya dengan senyuman.

“Tuh kan! Bener kan? Jadi si Bisma itu setan kecil lo itu?” Tanya Rafael penasaran.

“Hmmm menurutmu??” Jawab Dina dengan penuh kemisteriusan. Kemudian meninggalkan Rafael di kantin.

“Eh Din.. Dinaa.. lo mau kemana? Katanya mau makan? Lo juga belum jawab pertanyaan gue!! Diiiin…” Teriak Rafael.

Dina pun hanya menoleh ke arah Rafael dengan tersenyum. Dan melanjutkan kembali langkahnya. Ternyata, teriakan Rafael tadi terdengar oleh Bisma yang akan menuju ke kamar kecil dan melewati kantin terlebih dahulu.

“Jawab pertanyaan gue? Apa sih maksud si Rafael tadi! Apa jangan-jangan dia nembak Dina!!” Batin Bisma. Sambil berjalan ia memasang wajah yang cemberut.

“Bis! Cemberut aja lo dari tadi! Kenapa sih?” Tanya Reza.

“Gue beteeee!” Jawab Bisma.

“Bete? Apa gue gak salah denger? Apa sih yang ngebuat Bisma Karisma bisa bete? Baru kali ini loh gue denger lo bilang bete sampe kebangetan.” Canda Reza.

“Iya bener lo Za! Selama ini kan cuman nilai ujian jelek aja yang bisa buat seorang Bisma bete. Itupun cuman sekejap, baru lima menit aja dia udah bisa cengar-cengir lagi..” Ejek Dicky.

Bisma pun hanya bisa diam mendengar ejekan teman-temannya. Entah dia harus menjawab bagaimana. Yang ada dipikiran dia hanyalah ucapan Rafael tadi itu.

“Biiisss!! Lo baik-baik aja kan?” Tanya Ilham sambil menepuk pundak Bisma.

“Ih apaan sih lo!” Jawab Bisma.

“Lo kesambet deh Bis.. audzubillahhiminassyaitonnirrojim……..” Ucap Dicky sambil memegang dahi Bisma. Kemudian Reza dan Ilham memegang kedua pundak Bisma.

“Woyy apaan sih kalian tuh! Gue gak kesambet! Gue masih sadar wooyyyy!!” Bentak Bisma.

“Eh setannya keluar tuh, kabuuuuurrrrr..” Teriak Ilham.

Mereka bertiga pun lari meninggalkan Bisma. Sementara  Bisma mengejar dibelakangnya. Ia berhasil menangkap Reza yang larinya sangat lambat. Insiden terjatuh pun tak dapat mereka hindari.

“Nah kena lo! Gue jitak terus lo sampe benjol!” Ucap Bisma.

“Ampun Bis.. ampuunn!! Gue cuman becanda euy!” Jawab Reza memohon.

Kemudian Dicky dan Ilham yang sudah jauh di depan mereka kembali menghampiri mereka untuk menolong Reza. Namun saat Dicky lengah, Bisma menarik celananya dan Dicky pun spontan langsung jongkok dan akhirnya tersungkur. Melihat semua itu, Ilham pun malah ikut-ikutan tiduran di atas mereka. Sungguh konyol persahabatan mereka ini.

“Udah ahh gue cape!! Haus, laper juga gue mau ke kantin.” Ucap Bisma.

“Gue ikut…” Ucap Dicky, Ilham dan Reza.

Mereka pun bersama-sama pergi ke kantin sambil diiringi candaan di setiap langkahnya.

“Kalian beneran pengen tau kenapa gue bisa bete gini?” Tanya Bisma.

“iya lah Bis, gue kepo nih. Kita-kita pada kepo..” Jawab Ilham.

“Eh bentar, kurang si Rafa nih, masa dia gak ikutan nimbrung sih.” Ucap Reza.

“Gak usah! Gue lagi kesel sama dia! Kalo ada dia disini, gue gak jadi ngasih tau kalian.” Bentak Bisma.

“Eh kenapa?” Tanya Dicky.

“Pokoknya sekali enggak tetep enggak. Jadi pilih mana? Si Rafa atau cerita gue?” Tanya Bisma.

“Ya udah iya iya deh, lo cerita aja. Kita gak bakal kasih tau si Rafa kok.” Jawab Dicky.

“Tapi kalian janji ya gak bakal kaget pas udah denger cerita gue..” Ucap Bisma.

“Apaan sih Bis… Lo banyak basa-basi banget, makin penasaran nih…” Gereget Ilham.

“Jadi gini,, tentang Dina…”

Bisma pun memulai ceritanya… Membicarakan tentang pertemuan pertamanya dengan Dina pada masa kecil, tentang gelang sampai tindakan Bisma yang selalu kejam pada Dina.

“HAAAHH APAAAA??!!!” Ketiga sahabat Bisma ini kaget bukan kepalang.

“Eh Bis serius lo?! Lo gak lagi ngerjain kita kan? Sumpah gue kaget!!” Ucap Reza sambil melotot.

“Iya lah gue ngomong jujur nih. Kalian gak percaya apa hah sama omogan gue?” Kesal Bisma.

“Bukan gitu Bis. Kagetlah sumpah kita, cewek yang selama ini suka lo bully eh ternyata seseorang yang penting di hidup lo! Tapi gila, lo malah berbuat kejam sama si Dina.” Ucap Dicky.

“Gue bukannya kejam, tapi gue kayak gitu supaya dia bisa inget sama gue tanpa gue ngomong ke dia secara langsung.” Jawab Bisma.

“Tapi cara lo salah Bis, kita pikir kan lo emang beneran benci sama si Dina karena emang sifat lo yang semena-mena itu kan?” Ucap Ilham.

‘Nah iya… Padahal cara yang paling baik kalo lo pengen si Dina inget lagi sama lo, ya lo harus ngomong jujur ke dia. Jelasin gitu siapa lo sebenernya..” Reza.

Bisma hanya diam saja.

“Eh tapi si Rafa tau gak sama hal ini? Dia kan deket tuh sama Dina?” Tanya Ilham.

“Feeling gue si Rafa baru tau deh tentang cerita gue sama Dina pas kemaren gue nolongin Dina saat dia jatoh di depan kelas.” Jawab Bisma.

“Hmmm.. jadi rencana lo sekarang gimana Bis?” Tanya kembali Ilham.

“Gue juga bingung sih, mau bilang jujur tapi susah banget ini bibir buat gerakinnya. Mau dipendem terus, tapi gue gak tenang arrggghhh!!” Kesal Bisma.

“Ternyata masalah lo yang ini jauh lebih berat ya daripada nilai ujian lo yang selalu jelek? Hahaha” Canda Dicky mencairkan suasana. Semuanya pun ikut tertawa.

“Berisik lo ah! Kalian pada seneng apa gue menderita gini!” Bisma.

“Bukan gitu Bis.. tapi saran gue sih, lo kan cowok nih.. (sambil memukul pelan pundak Bisma tanda seorang pria sejati), lebih baik lo jujur ngomong sama Dina. Itu satu-satunya cara terbaik. Bisma yang gue kenal gak bakal secemen itu kan? Ya gak temen-temen?” Tantang Reza.

“Nah iya bener tuh..” Jawab yang lain.

Bisma pun termenung.

*
“Eh denger-denger ada anak baru di kelas kita ya Din?” Tanya Rafael.

“Katanya sih.. tapi aku juga belum liat orangnya.” Jawabku. Mereka berdua terlihat sedang makan di kantin.

“Permisi.. maaf ganggu. Ini kantinnya kan sudah penuh, dan saya lihat di meja ini masih ada tempat untuk satu orang. Boleh saya gabung kalau kalian tidak keberatan?” Seseorang menghampiriku dan Rafael yang sedang makan.

“Ohh boleh kok, gabung aja sini.” Jawabku.

“Kayaknya gue baru liat lo deh disini?” Tanya Rafael sambil menilik-nilik orang itu.

“Iya, saya mahasiswa baru disini. Perkenalkan nama saya Rangga.” Ucap dia.

“Ohh jangan-jangan lo mahasiswa baru di kelas 4B Jurusan ilmu Sastra?” Tanya Rafael.

“Iya, saya mahasiswa disana.” Jawabnya.

“Ah berarti kamu sekelas sama kita dong? Halo namaku Dina.” Akupun memperkenalkan diri.

“Gue Rafael..” Susul Rafael memperkenalkan diri.

“Wah beruntung sekali saya di hari pertama sudah punya kenalan. Hmm bisa kita berteman?” Ucap Rangga.

“It’s okay.. Kita berdua temenan sama siapa aja kok. Selama lo gak ‘bahaya’ buat Dina, gue mau temenan sama lo.” Ucap Rafael berlagak curiga.

“Rafa apaan sih lebay banget!” Ucapku.

“Oke oke.. selama hidup, saya belum pernah punya catatan kriminal kok. Jadi saya bisa menjamin kalau saya tidak berbahaya.” Jawab Rangga sambil tersenyum.

“Kamu jangan dengerin si Rafa ya.. dia kadang suka gak jelas omongannya.” Ucapku. Aku dan Rangga menertawai kecil Rafael.

“Haahh gimana lo aja deh Din..” Ucap Rafael dengan lemas.

“Hmmm kalau boleh tahu, apa kalian berdua pacaran?” Tanya Rangga.

Aku dan Rafael saling pandang.

“Ehmm kita berdua sahabatan udah lama.” Jawabku. Rafael pun mengiyakan juga.

“Kalau saya ingin dekat dengan kalian apa boleh? Walau belum lama ngobrol tapi saya merasa nyaman dengan kalian berdua.” Ucap Rangga.

“Boleh kok gapapa.” Jawabku.

“Okee boleh, tapi… ubah dulu cara ngomong lo! Gue risih tau gak denger lo ngomong pake bahasa baku gitu. Berasa kayak rapat aja. Emang kita jurusan sastra, tapi kalo diluar itu ngomongnya biasa aja lah kayak ke sesama temen maen aja gitu. Bisa kan lo?” Ucap Rafael dengan diikuti kernyitan dari dahinya.

“Oke! Gue bisa! Mulai sekarang gue bakal ngomong pake bahasa gaul gaya kids jaman now. Gimana?” Jawab Rangga.

“Eh eh eh jangan kids jaman now juga,, itu sesat Rangga..” Ucapku. Dia pun tertawa.

“Nah lo bisa tuh ngomong santai gitu..” Ucap Rafael.

“Ya gue sih kalo baru pertama kenal sama orang pasti selalu pake bahasa baku, nunjukin kesopanan lah gitu hahaha.” Jawab Rangga.

“Tapi sebenernya si Rafa punya geng sih, dia sahabatan sama empat orang cowok lainnya. Ini kebetulan aja si Rafa mau deket-deket sama aku..” Ucapku.

“Mulai deh.. Gue tulus Din sahabatan sama lo. Gue juga kan pengen ngelindungin lo terutama dari si Bisma syalan itu.” Ucap Rafael kesal.

“Lo punya geng Raf? Boleh dong kenalin ke gue? Terus Bisma siapa?” Tanya Rangga.

“Kayaknya gak usah deh.. itu geng, ketuanya si Bisma, belagunya minta ampun. Gue aja sering kesel sama dia.” Jawab Rafael.

“Kesel juga tapi kalian saling sayang kan?” Tanyaku.

“Yaa mau gimana lagi.. Udah kebiasaan gue gaul sama mereka, jadi mau gimanapun gue gak pernah bisa beneran benci sama mereka, sama Bisma juga.” Jawab Rafael. Akupun tersenyum menanggapinya.

“Kayaknya menarik nih.. Pokoknya lo harus kenalin gue sama mereka Raf!” Ucap Rangga memaksa.

“Hmmm gimana nanti aja lah.” Jawab Rafael.

Kami bertiga pun tenggelam dalam obrolan yang menyenangkan. Aku dan Rafael menceritakan tentang diri masing-masing pada Rangga, begitupun sebaliknya. Dari jauh, seseorang mengamati kami bertiga.



“Itu siapa sih yang sama si Rafa sama Dina? Kok gue baru liat yaa? Mana tuh orang akrab banget sama Dina!! Bikin kesel gue aja pagi-pagi gini!!” Tak lain dan tak bukan seseorang itu adalah Bisma. Dengan mukanya yang kusut dia terus memata-matai kami.

-bersambung-

Tuesday, December 26, 2017

CERBUNG: "Setan Kecil" Itu Pilihanku (2)

PART 1: Bullyan Terus-Menerus

PART 2: Terungkapnya Sebuah Fakta



*flashback*

“Aduhhh sakiittt…”

“Hahaa kasiaann deh lo.” Seorang anak laki-laki berlari sambil menertawai si kecil yang jatuh.

“Yaahh berdarah,, aduhh sakit banget kaki aku. Kamu kenapa sih ngerjain aku, aku kan gak kenal sama kamu.”

Anak itu menghampirinya..

“Kaki kamu berdarah..??”

“Kamu liat aja sendiri!!”

Anak itu pun mengobati luka si kecil yang jatuh akibat ulah nakalnya.

“Kamu ngapain ngobatin aku, kamu kan yang udah bikin aku jatuh?”

“Aku kan cuman bercanda, gak tau kalo kaki kamu bakalan berdarah. Ya udah aku bantu berdiri ya..”

Kemudian mereka duduk di taman.

“Nama kamu siapa?” tanya anak laki-laki itu.

“Aku Dina, nama kamu siapa?” 

“Nama aku Bisma.” Jawabnya.

Mereka pun saling berjabat tangan.

“tunggu sebentar ya.” Ucap si anak laki-laki.

“Nih buat kamu..”

“Wah eskrim, aku suka banget sama eskrim. Makasih ya..” Ucap si kecil.

“Iya sama-sama. Aku minta maaf ya udah ngerjain kamu..” jawab si anak laki-laki.

“Iya gak apa-apa kok, lain kali jangan jahat lagi kayak gini ya, nanti kamu gapunya temen loh.”

“Aku udah biasa kayak gini, tapi banyak kok temen aku.”

“Ihh dibilangin ya! Kamu tuh kaya setan tau, jahat! Padahal masih keci, jadi aku panggil kamu setan kecil, wleeee..”
“Terserah kamu aja deh. Oh ya, aku punya gelang dua loh, nih buat kamu. Aku pakein ya” Ucap anak laki-laki itu sambil mengeluarkan dua buah gelang dari sakunya.

“Gelangnya lucu. Kamu pasti nyuri ya.? Kamu kan jahat.??”

“Enak aja, ini aku bikin sendiri tau diajarin sama mama. Dan aku pengen aja ngasih gelang ini ke kamu. Aku suka sama kamu.. hihihihiii” Ucap anak laki-laki itu dengan polosnya.

“Hah? Suka? Ih kita kan baru ketemu, masa kamu bisa suka sama aku?”

“Biarin aja terserah aku dong… nanti kalau udah gede, aku bakalan jadi pangeran kamu.” Ucap anak laki-laki itu.

“Hmmm janji?” tanya si kecil sambil mengacungkan kelingkingnya.

“Janji!” jawab anak laki-laki itu

*
Jadi, ‘setan kecil’ itu Bisma? yang selalu berbuat semena-mena terhadapku? Iya! Tapi senyuman selalu terpancar setiap kali ku membayangkan peristiwa itu. Memang konyol pikiranku ini. Saat itu kami masih kecil dan mungkin menurut orang-orang itu hanya sebuah candaan saja. Namun aku tetap yakin kalau dia tak akan mengingkari janjinya. Gelang pemberiannya pun masih kusimpan dan masih muat pula jika kukenakan karena gelang tersebut ternyata dapat diubah-ubah ukurannya sesuai besar pergelangan tangan.

*
*
Bisma meregangkan badannya diatas tempat tidur. Memegang sebuah gelang yang sudah lama ia simpan. Bibirnya tersungging melihat gelang tersebut.

“Gue tau itu lo kok. Saksinya adalah gelang ini. Gue tinggal cari waktu yang tepat aja buat ngasih tau lo. Lo pasti kaget karena gak nyangka kalo pangeran lo itu adalah gue… Tapi sebenernya gue pengen lo yang nyadar duluan tanpa gue kasih tau, Din...” Ucap Bisma sambil tersenyum dan memasangkan gelang itu ke tangannya.
Ternyata.. mungkinkah Bisma….?

*
*
“Ciyee gelang baru.. tapi kok kusam gitu? Nemu di jalan ya haha..” Ucap Rafael.

“Ihh apaan sih enak aja nemu di jalan! Gelang ini tuh bersejarah buat aku Raf..” Jawab Dina.

“Bersejarah? Hmmm jangan bilang kalo itu pemberian dari setan kecil lo?” Tanya Rafael.

“Hmmm kalo emang dari orang itu gimana dong?” Jawab Dina.

“Ohh jadi lo mau ketemu sama dia sekarang?” Ucap Rafael serius.

“Gak tau sih, tapi aku pengen dia ngeliat gelang ini dan sadar sama kehadiran aku.”

“Kalo dia gak sadar gimana? Kan banyak kali gelang kayak gitu, lagian udah kusam gelangnya juga..”

“Engga raf, aku yakin dia pasti sadar. Gelang ini tuh cuman aku sama dia yang punya, karena ini buatan dia sendiri.”

“Ohhh ya udah deh, terserah lo aja. Gue dukung kok apa yang lo lakuin.” Ucap Rafael dengan nada agak cemburu.

Mereka pun pergi menuju kelas bersama-sama.

*
“Mana sih si Dina kok belum datang? Masa dia bolos sih. Tugas gue gimana dong!” Bisma kebingungan

“Lo sih tugas gampang gitu malah nyuruh oranglain buat ngerjainnya. Apa gunanya lo kuliah Bis kalo kayak gini terus kelakuannya.” Jawab Reza.

“Iya nih. Ehh tapi kok lo segitunya sama Dina. Kenapa coba gak nyuruh ke kita-kita aja buat ngerjain tugas lo. Atau ke si Rafa tuh yang pinternya gak ketulungan. Lo lebih kenal kita-kita kan daripada Dina?” Tanya Dicky.

“Lo semua salah. Gue lebih tau Dina jauh sebelum gue kenal kalian..” Jawab Bisma.

“Hah? Yang bener lo?” Tanya Ilham.
 
“Kalian liat ajalah nanti..” Jawab Bisma sambil tersenyum.

“Eh si Bisma stress kali ya gara-gara tugasnya belum ada?” Bisik Dicky pada Reza. Namun terdengar juga oleh Bisma.

“Apaan lo bilang gue stress?! Wah lo mau gue sikat ya!!” Ucap Bisma.

“Enggak Bis enggak, gue cuman bercanda kok. Kabuuuurrrr..” Jawab Dicky sambil berlari keluar kelas dan dikejar oleh Bisma. Namun saat di dekat pintu, Dicky menabrak Dina yang saat itu hendak masuk kedalam kelas. Dicky terjatuh, begitupun dengan Dina. Dan secara refleks Bisma yang ada didekatnya mengulurkan tangan menolong Dina bangkit. Saat Dina menggapai tangan Bisma, ternyata mereka sama-sama memakai gelang tersebut di tangan kanannya. Dan Rafael yang melihat itu spontan berkata..

“Ya Tuhan! gelangnya…” Ucap Rafael terkejut.

Dina dan Bisma pun berpandangan dengan posisi tangan mereka yang saling menggenggam. Tak lama mereka sadar dan Bisma pun menagih tugasnya yang dikerjakan oleh Dina. Setelah itu ia pun kembali lagi ke kursinya tanpa mengucapkan terimakasih pada Dina.

“Tuh orang gak tau terimakasih banget sih, walaupun dia itu sahabat gue tapi tetep aja gue gak suka sama sikapnya. Kapan sih dia bakal berubah!” Geram Rafael.

“Udah lah.. dia kan emang gitu dari dulu, jadi gak usah heran. Biarin aja lah.” Jawab Dina.

Mereka berdua pun kemudian duduk di kursi masing-masing. Dan Rafael seketika lupa akan gelang yang dilihatnya itu karena saking kesalnya pada Bisma.

*
“Oh my good.. apa yang harus gue lakuin! Sekarang udah jelas-jelas buktinya di depan mata! Apa dia nyadar gak ya? Sumpah! Gue jadi takut kalo dia udah tau tapi gak bisa nerima gue karena perlakuan gue yang selalu kasar sama dia. Tapi semua gue lakuin supaya dia bisa inget sama gue. Di pertemuan pertama kita kan gue udah jahatin dia. Dan sekarang pas kita ketemu lagi, gue lakuin hal yang sama kayak dulu. Tapi kenapa coba dia gak keliatan inget sama gue. Apa gue yang salah karena gak bilang ke dia? Tapi gue pengen dia yang inget sama gue. Sama janji kita dulu! Arrrggghhhttt gue pusiiiiinnnggg!!!” Kesal Bisma sambil mengacak-acak rambutnya.