Foto Esai milik Ryuto Kazuhara yang baru dirilis tanggal 8 Agustus 2024 ini berisi 272 halaman dengan menceritakan kehidupan dari masa kecil hingga debutnya menjadi member GENERATIONS! Selain itu, foto-foto yang mencerminkan hobinya yang dipotret di Amerika pun tersaji dengan begituuu banyak! Menjadikan sang buku yang diberi judul "ついてきて / Tsuitekite (Ikuti Aku)" semakin menarik untuk diikuti!
Niat saya, adalah menulis terjemahan bahasa Indonesia dari foto esai ini. Tentu saja akan terbagi ke beberapa bagian dikarenakan banyak poin-poin yang menjadi pembahasan. Pusing kali saya kalo semuanya dijadikan satu wkwkw! Entah kapan selesainya, yang pasti terus ikuti saya aja yaaa hihihihi~
PROLOG
Sejak debut, aku telah mewujudkan banyak mimpi.
Dari pagi hingga malam, mimpiku adalah "debut sebagai penyanyi LDH", tetapi bahkan setelah itu terwujud, aku masih memiliki mimpi seperti "aku ingin bermain game kuis", "aku ingin bisa menulis lagu sendiri", "aku ingin lebih mengeksplorasi hobiku", "aku ingin menaklukkan semua prefektur dengan penampilan solo langsung, termasuk street live", dan sebagainya.
Keinginan manusia tidak ada habisnya karena mimpi-mimpi baru terus lahir satu demi satu. Namun, mencapai pekerjaan impianku juga berarti menyadari kekurangan dan kelemahanku.
Keputusanku untuk belajar bahasa Inggris di Los Angeles, Amerika Serikat selama tiga bulan mulai April 2024 juga dipicu oleh pengalamanku di Zizbar, di mana aku menyadari kurangnya kepercayaan diriku sendiri.
Itu terjadi pada tahun 2017, aku sedang mengerjakan syuting video musik pertama di LA untuk single GENERATIONS, "Taiyou mo Tsuki mo". Dan suatu malam aku diundang oleh Kapten dan Noda-san, yang merupakan pemimpin band dalam penampilan live EXILE, ke sebuah bar jazz. Captain ternyata bermain bass di sana dan beliau berbicara dalam bahasa Inggris.
Di sana, dengan suasana "jamming session", para musisi jazz berimprovisasi dengan riang. Seolah-olah sesuatu sedang diciptakan saat itu juga.
Kemudian, ada komentar-komentar yang terdengar seperti diucapkan secara pasif, dan tepat ketika aku pikir mata dan telingaku terpaku pada musik, sambil berkata, "Para musisi sejati ini luar biasa!", seorang tunawisma tiba-tiba muncul dan mencoba mengambil kotak tip yang ada di atas piano, tetapi staf harus mengambilkan kembali. Setiap hal tak terduga yang terjadi di sana sangat menarik, dan aku sangat gembira seperti anak kecil, sehingga aku berbicara dengan kapten tentang berbagai hal.
"Aku akan bernyanyi," ucap kapten.
Setelah sesi yang panjang, kapten tiba-tiba berdiri dan menuju ke tempat para musisi berada. Setela pertemuan singkat, beliau langsung bernyanyi sebuah lagu berbahasa Inggris. Aku sangat terpukau.
"YEAH!"
Suara-suara seruan dan sorakan terdengar dari sekeliling pada momen-momen penting. Para penonton tampak menikmati penampilan tersebut. Yang terpenting, suara nyanyian kapten sangat sensual. Itu benar-benar berbeda dari alunan jazz yang sangat terampil sebelumnya. Aku merasakan sedikit sensasi geli di belakang hidungku. Saat kapten kembali ke tempat duduknya, mataku mungkin tampak berbentuk hati, sambil terus mengulang, "Itu keren sekali!", dan, "Itu luar biasa!", lalu kapten menjawab,
"Ryuto, maukah kamu bernyanyi?"
Aku bernyanyi? Aku tidak punya kepercayaan diri untuk menyanyikan lagu-lagu indah dengan baik, ditambah di bar jazz yang penuh dengan tipe tsundere seperti ini, bernyanyi dengan pengucapan yang buruk hanya akan memalukan.
"Tidak, tidak, tidak, itu tidak mungkin."
Aku langsung menolaknya.
Setelah aku kembali ke kamar hotel, aku menyesal karena tidak bernyanyi. Sekalipun aku buruk dalam menyanyikannya, tapi jika aku menyanyikannya pasti akan menjadi pengalaman yang berharga bagiku. Jika aku dicemooh, tidak masalah. Dan jika penonton menyukainya, itu akan menjadi bonus. Sebagai seseorang yang pekerjaannya menyanyi di depan penonton, menolak ajakan baik dari kapten hanya karena takut dipandang dingin itu......
Sejak itu, setiap kali aku harus mengambil keputusan, aku selalu mengingat malam di LA itu. Aku pikir lebih baik menyesal melakukan sesuatu daripada menyesal karena tidak melakukannya. Saat itu, alasan utamaku ragu untuk bernyanyi adalah karena aku tidak bisa berbahasa Inggris. Dari situlah awal impianku untuk bisa berbahasa Inggris.
Bertahun-tahun berlalu sejak debut kami, dan saat mendiskusikan rencana grup untuk tahun 2024, kami memutuskan bahwa paruh pertama tahun ini digunakan untuk aktivitas individu para member. Sebagai seorang vokalis, ada pembicaraan untuk fokus pada pembuatan lagu solo selama waktu itu, tapi aku berpikir jika aku menggunakan jumlah waktu yang sama, mungkin akan terdengar egois, tapi aku ingin belajar di luar negeri. Aku sudah mulai tampil solo di jalanan dan di live house, dan jika aku bisa berbahasa Inggris, aku mungkin bisa tampil di tempat-tempat di luar Jepang. Akhir-akhir ini, aku juga diam-diam berlatih gitar. Aku ingin menyandang gitar di bahuku, mengendarai sepeda motor, dan bernyanyi di bar musik lokal......
Suatu hari nanti aku ingin mencoba menunggang kudaku ke tujuan berikutnya. Hidup akan menjadi lebih baik atau lebih buruk tergantung pada pilihan yang kamu buat. Namun menurutku, untuk berani mengambil pilihan yang berisiko, kita membutuhkan emosi "sakit" sebagai intinya.
Buku ini berisi berbagai cerita tentang peristiwa-peristiwa yang memotivasiku untuk bernyanyi. Aku telah melakukan hal-hal gegabah atas kemauanku sendiri, tetapi ada juga saat-saat aku berada di bawah kendali peristiwa-peristiwa di luar kendaliku. Namun anehnya, pengalaman-pengalaman yang tidak berjalan dengan baik itulah yang memberiku energi untuk terus mencoba. Buku ini memberiku kekuatan.
Saat masih SD, aku sangat buruk dalam belajar dan sering berkata, "Aku akan menjadi pemain bisbol profesional!". Tapi sekarang, aku bernyanyi di depan orang banyak dan serius mengerjakan latihan bahasa Inggris. Kita memang tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dalam hidup. Aku berharap buku ini, yang mengungkap separuh hidupku, dapat memberikan sedikit penghiburan bagi hati mereka yang membacanya.
⬛ JALAN NASIONAL 2
Brmm, brmm, brmm, brmmmmm......
Di luar jendela, suara bising dari banyak sepeda motor yang menggeber mesinnya bergema keras. Saat itu, rumah yang kami tinggali terletak di sepanjang Jalan Nasional 2 di Amagasaki. Itu adalah rumah Jepang kuno yang bobrok dengan pintu geser di pintu masuknya. Setiap kali dibuka dan ditutup, terdengar suara berderak yang keras.
Setiap Sabtu malam, kami hampir selalu diganggu oleh deru sepeda motor yang memekakkan telinga yang berkumpul entah dari mana. Saat suara itu mendekat, getaran kecil yang mengguncang kaca buram di pintu geser juga semakin keras. Para pemuda bersemangat dengan sepeda motor modifikasi akan melaju kencang di sekitar kantor polisi, seolah-olah mencoba memprovokasi petugas polisi yang seharusnya melindungi ketenangan warga. Bagi kami yang tinggal di dekatnya, itu tak tertahankan.
"Diam!!"
Setiap kali perkumpulan geng motor dimulai, ayahku akan marah besar. Ekspresi wajahnya saat ia mengambil pemukul bisbolku dan mencoba lari keluar sangat menakutkan.
"Itu pemukul bisbolku!"
Setiap kali, aku dan ibuku berusaha sekuat tenaga untuk menghentikannya. Namun, aku masih duduk di kelas bawah Sekolah Dasar. Ibuku juga kelelahan karena baru pulang kerja. Sekeras apa pun kami berusaha menahannya agar tidak keluar, kekuatan dan momentumnya tak mampu menandingi amarah ayahku. Ayahku mati-matian mencoba menghentikan pertahanan kami. Ia berhasil melepaskan diri lalu membanting pintu hingga terbuka dan berlari menuju kantor polisi.
Geng motor itu hanya akan memprovokasi polisi dengan suara sepeda motor mereka, dan begitu para polisi bersiap untuk mengejarnya, mereka akan berhamburan seperti laba-laba yang ketakutan. Ayahku akan pergi dengan sikap sok jagoan, tetapi ia selalu kembali dalam beberapa menit.
"Mereka sudah pergi sekarang," katanya dengan sedikit kecewa, lalu duduk di tempat biasanya di ruang tamu. Ibu dan aku akan menghela napas lega. Adik perempuanku yang empat tahun lebih muda, sama sekali tidak mengerti situasi tersebut dan menatap dengan ekspresi bingung pada pemandangan seperti badai yang datang dan pergi setiap hari Sabtu.
Ia tidak mengerti. Kami pindah ke rumah dekat kantor polisi itu ketika aku masih kelas 2 SD. Sebelum itu, kami tinggal di sebuah gedung apartemen di tepi sungai di daerah yang sama. Pindah dari gedung apartemen ke rumah terpisah adalah peristiwa yang sangat menggembirakan bagi seorang anak. Saat aku membuka pintu geser dan menemukan tangga di dalam rumah, aku berpikir, "Wow!". Di lantai pertama ada sebuah ruangan besar yang lebih mirip "ruang keluarga" daripada ruang keluarga biasa. Ruangan yang lebih besar di lantai dua adalah kamar tidur untuk keluarga berempat, dan ruangan lainnya menjadi kamar anak-anak. Hanya ada satu tempat tidur di kamar tidur, dan entah kenapa, akulah yang tidur di sana, bukan ayah atau ibuku. Meskipun wajar bagi adikku yang masih pra-sekolah untuk tidur di kasur lipat yang sama dengan ibuku. Aku masih sering bertanya-tanya bagaimana aku bisa berakhir tidur di tempat tidur.
Kedua orang tuaku bekerja dan jarang ada di rumah. Ayahku tampaknya sering berpindah-pindah pekerjaan, tetapi ibuku telah bekerja sebagai konsultan kecantikan untuk merek kosmetik sejak lulus SMA. Berangkat kerja dengan kereta api ke sebuah Department Store di Sannomiya hampir setiap hari, baik hari kerja maupun akhir pekan.
Sekolah berakhir sekitar pukul tiga sore, dan setelah itu kami menghabiskan waktu di pusat penitipan anak sepulang sekolah. Sekitar pukul enam sore, nenek dari pihak ibuku, yang tinggal di dekat situ, akan datang menjemput kami. Karena kami menghabiskan banyak waktu bersama nenek ketika kami masih kecil, aku dan adikku sangat dekat dengannya. Masakan rebusan berbahan dasar kecap yang manis dan gurih, sukiyaki, kari, dan hidangan lainnya sangat lezat, dan kami akan makan nasi beberapa porsi.
Kami makan masakan rumahan nenek dan bermalas-malasan menonton TV, dan biasanya adikku akan tertidur. Ayah akan datang menjemput kami sekitar jam 9 malam setelah selesai bekerja. Ia akan menggendong adikku yang sedang tidur di punggungnya, dan kami akan bersenandung sepanjang jalan pulang. Jika mengingat kembali, itu mungkin hari-hari paling damai dalam hidup kami.
⬛ TAMAN KUCING
Di dekat rumah yang kami tempati, ada sebuah taman yang disebut "Taman Kucing" oleh anak-anak tetangga. Sejumlah besar kucing liar, yang ditinggalkan oleh penduduk setempat dan sekarang berkembang biak di sana, telah menetap. Kami baru pindah ke rumah terpisah, jadi kupikir tidak akan ada yang mengeluh jika aku memelihara kucing. Dengan pemikiran itu, begitu pindahan selesai, aku langsung bilang pad ayah, "Aku ingin kucing!", dan ia menjawab, "Oke, ayo pergi," dan mengajakku berjalan menuju taman kucing.
Dalam perjalanan, ayah menyarankan agar kami membeli cumi kering, jadi kami berhenti di toko swalayan. Saat tiba di taman kucing, tas belanjaan kami tergantung di bak mobil. Ayahku pergi ke tempat anak-anak kucing berkumpul dan dengan santai mengeluarkan beberapa cumi kering. Ia menggantungkan cumi tipis itu dari ujung jarinya, dan anak-anak kucing berlari ke arahnya. Ia dengan cepat menangkap anak kucing pertama yang menerkam cumi itu dan berkata, "Oke kita akan memelihara yang ini," lalu memasukkan anak kucing itu, yang ukurannya pas unyuk di telapak tangannya, ke dalam saku jaketnya. Semuanya terjadi begitu cepat seperti sihir. Aku terkesan dengan betapa terampilnya ayahku bermain dengan anak kucing di sakunya, dan aku pulang ke rumah dengan perasaan gembira.
Saat itulah hidupku bersama kucing dimulai. Kucing itu, yang pertama kali menerkam cumi kering yang ayahku berikan, memiliki pola seperti spiral di punggungnya. Dokter hewan di rumah sakit hewan tempat aku memeriksanya mengatakan bahwa itu adalah kucing American Shorthair.
Nama yang kami putuskan untuk kucing itu setelah berdiskusi dengan keluarga adalah "Kuu". Awalnya, kami menjaganya tetap di dalam rumah, tetapi sekitar enam bulan setelah dia datang ke rumah kami, Kuu mulai sering mencoba melarikan diri. Ketika aku pulang sekolah dan membuka pintu depan, dia akan mencoba menyelinap keluar melalui celah. Kami tidak memiliki gerbang anti kabur di pintu masuk, jadi setelah beberapa waktu, ketika aku membuka pintu depan, aku mulai membukanya perlahan dan hati-hati, tidak dengan paksa untuk memastikan Kuu tidak melarikan diri.
Meskipun kami sudah berusaha sekuat tenaga, suatu hari Kuu tiba-tiba kabur. Hari itu, kami semua mencari di lingkungan sekitar. Adikku menangis, memanggil namanya, "Kuu! Keluar, Kuu!". Setelah beberapa hari mencari dengan panik, suatu pagi kami mendengar kucing mengeong di luar jendela, dan ketika kami melihat, di sana ada Kuu yang terluka. Kami membawanya ke dokter hewan, dan dia dirawat, kemudian kami mulai hidup bersama lagi. Tapi kemudian Kuu kabur lagi, hanya untuk muncul beberapa hari kemudian. Ini terjadi sekitar tiga kali, kemudian Kuu tidak kembali selama seminggu, lalu dua minggu.
Setelah sebulan kami hidup tanpa kucing, tiba-tiba ayahku berkata, "Ayo kita ke taman," dan mulai berjalan cepat menuju taman kucing. Di perjalanan, kami membeli cumi kering di toko swalayan. Dan ketika kami sampai di taman kucing, ia menjulurkan cumi itu di tangannya dan menangkap anak kucing pertama yang menerkamnya. Kucing kedua adalah anak kucing Himalaya berbulu panjang, dan kami memutuskan untun menamainya "Tora".
Belajar dari pengalaman kami dengan Kuu, kami memutuskan untuk membiarkan Tora keluar pada waktu-waktu tertentu. Awalnya, dia berkeliaran di halaman dengan malu-malu dan segera kembali ke dalam, tetapi mulai hari berikutnya, dia tampak memperluas wilayahnya sendiri. Namun, dia selalu kembali pada waktu makan, jadi kami terus membiarkan hidup semi-di luar, hanya saja suatu hari, kami mengalami serangan kutu yang sangat besar di dalam rumah.
Aku masih mengingatnya dengan jelas. Saat aku sampai di rumah dan membuka pintu depan, aku melihat benda kecil berwarna putih melompat-lompat di lorong di depan pintu masuk. Karena kaget, aku merobek selotip dan menempelkannya ke lantai, di mana empat atau lima serangga kecil yang tampak seperti kutu menempel padanya. Adikku menangis histeris karena itu sangat menjijikkan (dalam ingatanku, adikku selalu menangis). XD
Melihat rumah dipenuhi kutu, orang tuaku akhirnya menyadari bahwa ini gawat. Pada haru libur mereka, mereka membakar obat anti serangga di seluruh rumah. Berkat itu, kami terbebas dari masalah kutu untuk sementara waktu, tetapi keluarga sepakat bahwa "tetap tidak baik membiarkan kucing keluar rumah". Sejak saat itu, kami memelihara Tora di dalam rumah, tetapi suatu hari dia tiba-tiba kabur dan tidak pernah kembali. Kehilangan dua kucing berturut-turut yang telah kami pelihara menyebabkan aku dan adikku mengalami tekanan emosional yang cukup besar. Sejak itu, kami tidak pernah lagi memelihara kucing di rumah.
(terjemahan bahasa Indonesia bekerjasama dengan google translate, bing, dan ilmu dari penjelajahan internet)
(mohon koreksi jika ada kesalahan)



No comments:
Post a Comment