⬛ TUR KUBAH
Setelah tur aula nasional dan tur dunia pada tahun 2015, tahun berikutnya kami akhirnya dapat mengadakan tur arena, sebuah tujuan yang telah kami impikan sejak debut kami. Aku secara bertahap mulai menikmati proses penulisan lagu, dan catatan kata-kata untuk diubah menjadi lirik semakin menumpuk. Melihat kembali catatan-catatan itu, terkadang aku berpikir mungkin aku memang memiliki bakat sebagai penulis lagu.
"Apakah aku bisa berbagi perasaan ini dengan semua orang?"
Terkadang aku mencatat emosi positif yang muncul secara tak terduga, berharap dapat membagikannya suatu hari nanti. Dan ketika emosi negatif muncul, meskipun aku merasa sedih, aku mulai berpikir, "Pengalaman ini mungkin berguna ketika aku menulis lirik suatu hari nanti."
Momen ketika aku memutuskan untuk "mengakhiri" rasa dendamku terhadap ayahku adalah ketika aku berdiri di atas panggung di Kyocera Dome selama tur kubah pertama GENERATIONS, "UNITED JOURNEY". Aku ingat saat-saat mengikuti les di EXPG, aku melihat topi alien di sebelah kiriku saat menyeberangi Jembatan Shiomibashi. Berdiri di tempat yang selalu kuimpikan, dikelilingi begitu banyak penggemar, dengan ibu dan adikku di sana, teman-teman band di atas panggung, dan begitu banyak staf yang mendukung kami di belakang panggung.
"Cukup sudah. Aku tidak perlu terus-menerus meratapi kematian ayah......"
Aku tidak bermaksud untuk terus memikirkannya, tetapi aku memang membencinya. Ia kecanduan judi sendirian, menumpuk utang sendirian, kabur dengan wanita lain, jatuh sakit sendirian, dan meninggal sendirian. Sebagai orang tua, kupikir tidak ada yang lebih tidak bertanggung jawab darinya. Betapa sedihnya keluarga yang ditinggalkan. Betapa besar duka yang mereka rasakan. Betapa mereka menyalahkan diri sendiri. Ia meninggalkan luka di hati kami yang takkan pernah sembuh. Dia benar-benar menghancurkan hidupku, ibuku, dan adikku.
Sebelum aku berdiri di panggung kubah itu, setiap kali aku terpikirkan ayahku, aku merasa seolah-olah dia telah "menghancurkan hidupku". Tetapi sekarang aku telah berdiri di panggung Kyocera Dome, tempat yang selalu kuimpikan. Ketika aku benar-benar memikirkannya,
"Hidupku ternyata sama sekali tidak hancur."
Mungkin justru sebaliknya. Meskipun ayahku melakukan hal-hal yang mengerikan, karena dia, aku menyadari bahwa "musik adalah satu-satunya yang kumiliki", dan setinggi apa pun tembok di depanku, itu tampak tidak berarti dibandingkan dengan penderitaan yang kurasakan ketika ayahku meninggal. Ayahku adalah contoh terburuk dari apa yang seharusnya tidak ditiru. Tetapi jalan yang kutempuh sekarang juga merupakan jalan yang pernah ia tunjukkan kepadaku.
"Tidak ada pengalaman yang sia-sia" mungkin merupakan ungkapan umum. Tetapi merupakan fakta yang tak terbantahkan bahwa aku menjadi seperti sekarang ini karena kematian ayahku. Aku tidak akan pernah mengatakan bahwa itu adalah "pengalaman yang baik", tetapi kupikir itu mungkin pengalaman yang diperlukan.
Ada dua hal yang sangat kusukai. Yang pertama adalah "bernyanyi" dan "musik", dan yang kedua adalah "tetap hidup". Dalam kasusku, kematian ayahku pada akhirnya menjadi sumber kekuatan bagiku, tetapi aku lebih suka jika tidak ada orang lain yang harus mengalami pengalaman seperti itu. Karena aku cukup beruntung memiliki profesi yang memungkinkanku untuk menyampaikan semacam pesan kepada banyak orang melalui musik, aku ingin menyampaikan kegembiraan hidup dan keajaiban dunia melalui musik. Kepada mereka yang merasa kesepian saat ini, aku ingin mengatakan bahwa, "Dunia ini luas." Untuk melakukan itu, aku perlu memperluas duniaku sendiri, memperkaya apa yang kulihat, dan menyerap banyak hal dan pengalaman.
Sayangnya, baru-baru ini ibuku mulai mengatakan kepadaku bahwa aku semakin mirip ayah (hiks). Ayahku memiliki penglihatan yang buruk dan selalu memakai kacamata berwarna dengan lensa resep, dan ia juga memiliki janggut, jadi aku yakin itulah alasannya.
Aku bisa menerima sampai batas tertentu bahwa kami mulai terlihat mirip secara fisik, tetapi aku tidak bisa menerima jika kami menjadi mirip secara sikap dan perasaan. Akar dari semua penderitaan ayahku adalah utang, dan utang itu ditimbulkan karena perjudian. Namun, menurut ibuku, ayahku bekerja di bidang real estat melalui perkenalan seorang teman sejak aku lahir hingga sebelum aku mulai SD. Tetapi bisnis itu hancur ketika runtuhnya gelembung ekonomi, dan ia tidak punya pilihan selain berganti pekerjaan. Mungkin jika ayahku menemukan sesuatu yang benar-benar bisa ia dedikasikan, atau pekerjaan yang "ia cintai", ia tidak akan terlibat dalam perjudian.
"Kami tidak berpisah karena saling membenci."
Ibuku seringkali mengatakan itu. Rupanya, beliau juga pernah berkata, "Aku sendiri terlalu kekanak-kanakan, aku tidak tahu bagaimana memperlakukan anak-anak." Tapi aku juga pernah dilempari piring saat ayah sedang marah setelah kalah judi, jadi meskipun aku bisa memaafkan ayahku, aku tetap membenci judi, yang telah menghancurkannya. Baik dulu maupun sekarang, apa pun yang terjadi, aku tidak akan pernah menyentuh judi seumur hidupku. Itu tekadku.
⬛ DREAMERS
Apa artinya "mewujudkan mimpi"?
Saat berusia 10 tahun ketika pertama kali aku menonton konser EXILE dan berpikir, "Aku ingin menjadi bagian dari mereka." 10 tahun kemudian, aku berhasil debut sebagai member GENERATIONS. Jika hanya melihat bagian itu saja, sepertinya aku bisa menggapai mimpiku di usia 20 tahun, tetapi ketika aku mencapai satu impian, impian lain pun lahir darinya. Mimpi sebagai sebuah grup, dan mimpi sebagai individu.
Sebagai sebuah grup, mimpi kami adalah menjadi grup yang dapat menginspirasi banyak orang, seperti EXILE. Sebagai individu, aku ingin meningkatkan kemampuan menyanyiku dan menjadi seseorang yang dapat dengan bangga menyebut dirinya sebagai "seniman". Selama masa pelatihan, aku berada di tengah-tengah mimpiku, dan aku benar-benar larut di dalamnya, tetapi ketika aku akhirnya mencapai satu mimpi besar, aku menyadari bahwa itu datang dengan tanggung jawab yang besar pula.
Bahkan setelah debut kami, mimpi-mimpi spektakuler menjadi kenyataan satu demi satu: tur arena, tur dunia, dan tur kubah. Kami selalu didampingi HIRO-san, produser andalan kami. HIRO-san seperti kapten dan kompas kapal GENERATIONS, yang menentukan arah dan mengarahkannya. Yang harus kami lakukan hanyalah mengambil lagu-lagu yang disarankan HIRO-san, dengan mengatakan, "Bagaimana dengan yang ini?", dan mengekspresikannya melalui filter kami sendiri.
Namun, seperti yang aku katakan sebelumnya, bagiku yang mampu mencari nafkah dengan melakukan apa yang aku inginkan dan cintai, begitu aku mencapai satu hal, mimpi baru akan lahir. Seiring bertambahnya pengalamanku, baik secara berkelompok maupun individu, keinginan untuk "melakukan ini" dan "mengekspresikan jenis musik ini" mulai tumbuh. Pada tahun 2019, ketika semua member grup menyadari pentingnya "produksi sendiri", mimpi itu akhirnya menjadi kenyataan. Lagu "DREAMERS" yang dirilis pada 28 Agustus, dipilih sendiri oleh kami dari sekian banyak lagu kandidat, dan kami mendiskusikan penampilan dan tema pembuatan video musiknya. Video musiknya seperti sebuah film, dengan kami bertujuh berperan sebagai "pengejar mimpi" kami sendiri, dan di adegan terakhir, kami bahkan mengajak penggemar kami untuk berpartisipasi, yang juga merupakan ide para member.
Saat kami debut, aku berusia 19 tahun. Aku rasa rata-rata usia member grup juga sekitar itu. Setelah tujuh tahun, masing-masing dari kami telah mengembangkan keinginan yang jelas untuk "menyanyikan tentang ini" dan "mengekspresikan diri kami dengan cara ini". Kami terus-menerus disuruh untuk "menjadi seperti EXILE", dan meskipun kami sendiri bertujuan untuk itu, kami juga mencari jalan unik kami sendiri. Pada saat itu, kami, sebagai GENERATIONS, memiliki pesan yang jelas yang ingin kami sampaikan.
"DREAMERS" kemudian menjadi nama penggemar GENERATIONS. Aku ingin mengingat perasaan penuh gairah yang kumiliki saat itu, jadi aku memutuskan untuk mentato kata "DREAMERS" di punggungku. Pada saat yang sama, itu adalah pernyataan tekadku untuk membawa harapan para penggemar bersamamu. Setiap kali aku menyanyikan lagu ini, aku menyadari bahwa aku akan terus mengejar mimpiku selamanya. Dan yang aku inginkan adalah agar para DREAMERS memiliki mimpi. Yang aku maksud dengan mimpi, itu tidak harus sesuatu yang muluk-muluk. Sesuatu seperti, "Aku akan bekerja keras dan pergi ke konser band favoritku, xxx!" sudah cukup baik (aku akan senang jika xxx adalah GENERATIONS atau nama Ryuto Kazuhara). *wkwk ngarep ya XD*
Mimpiku sendiri untuk menjadi seorang penyanyi berawal dari pertemuanku dengan EXILE, dan dasar kemampuanku saat ini untuk menantang diri sendiri dalam berbagai hal tidak hanya musik, tetapi juga bahasa, hobi, dan banyak lagi, adalah kekagumanku terhadap berbagai budaya. Meskipun aku sangat membenci belajar, tetapi sebagai orang dewasa aku menyadari bahwa aku adalah tipe orang yang akan mengejar hal-hal yang aku sukai dengan sungguh-sungguh.
Saat ini, sambil bekerja di perusahaan besar LDH, aku sedang mengeksplorasi kemungkinanku sendiri di luar musik, hal-hal yang menurutku menarik untuk dilakukan. Akhir-akhir ini, aku telah meluangkan banyak waktu untuk hobiku, tetapi aku memulai semuanya dengan tujuan untuk menghubungkannya dengan pekerjaan musikku. Jika "lingkaran" yang sama sekali tidak berhubungan dapat terhubung melalui aku, dan berpikir, "Lingkaran itu juga tampak menarik," maka reaksi kimia jenis baru mungkin akan terbentuk.
Mimpi-mimpiku terus berkembang, tetapi mimpi pribadiku yang terbesar saat ini adalah "menjadi orang yang bermakna". Sederhananya, "menjadi pahlawan bagi seseorang." Aku tidak akan pernah menemukan garis finish untuk ini, tetapi aku ingin terus mengungkapkan semua aspek kemanusiaan dan kekuranganku sehingga orang-orang akan selalu tertarik padaku, "Ryuto Kazuhara". Dan ketika aku bernyanyi, aku ingin membawa penonton ke dalam dunia lagu tersebut. Diriku sebagai manusia dan diriku sebagai seniman. Aku tidak sepenuhnya kehilangan kepercayaan diri dalam kesenjangan antara kedua karakter tersebut......
⬛ PANDEMI COVID-19
Pada awal tahun 2020, kami merasa angin baik bertiup untuk GENERATIONS. Setelah tur lima kubah kami pada tahun 2019, "SHOUNEN CHRONICLE" yang memperkuat kemampuan produksi mandiri kami, kami sangat bersemangat dengan tur kubah ketiga, "GENERATIONS PERFECT LIVE 2012➡️2020," yang dimulai pada bulan April. Tumbuh dengan motto "bertujuan menjadi EXILE", kami yakin bahwa tur ini tidak hanya akan mengikuti jejak para senior, tetapi juga membangun gaya unik kami sendiri.
Namun, karena keadaan darurat yang diumumkan sebagai respons terhadap penyebaran COVID-19, semua konser yang dijadwalkan dari April hingga Juli dibatalkan. Aku benar-benar bingung pada saat itu. Kami bukan satu-satunya yang aktivitasnya terhenti karena pandemi global, dan sebagai seseorang yang bercita-cita menjadi pahlawan bagi orang lain, aku tidak bisa menyerah. Kami mencoba mencari hal-hal yang bisa kami lakukan sendiri dan tetap positif, tetapi jujur saja, kami sendiri mengalami penderitaan yang luar biasa.
Dari saat aku akhirnya mampu memproduksi sendiri di usia 26 tahun, hingga usia 30-an, aku baru saja mulai menyadari hal ini, dan sedang memikirkan bagaimana memanfaatkan usia 30-an-ku sebaik mungkin, dan merencanakan untuk memulai ini dan itu sendiri.
Seperti yang sering dikatakan, pada saat itu, hiburan dikategorikan sebagai "tidak penting", dan menyadari ketidakberdayaan dan ketidakmampuanku sebagai seorang seniman, yang tidak mampu melakukan apa pun, membuat semangatku suram. Ada saat-saat ketika aku merasa semuanya menjadi gelap, bertanya-tanya, "Bagaimana jika masa ini berlangsung selamanya?" Pada saat-saat itu, aku merasa seperti ditawan oleh iblis dari negeri yang penuh negativitas.
Namun bahkan selama masa-masa itu, musik adalah penyelamatku. Selama masa isolasi mandiri, aku mendengarkan genre musik yang belum pernah aku dengarkan sebelumnya, dan bahkan mulai memeriksa tangga lagu, yang cukup di luar kebiasaanku. Setiap karya musik memiliki penciptanya, dan ada perasaan yang mereka curahkan ke dalamnya. Bukan sebagai seorang seniman, tetapi sebagai pendengar, aku merasa disembuhkan oleh obat bernama musik. Hal yang sama berlaku untuk film. Setelah mendapatkan pengalaman sebagai seorang seniman, aku sekarang sangat memahami perasaan para kreator terhadap karya mereka, dan aku menyadari sekali lagi bahwa "hiburan pun dapat menjadi penyelamat bagi seseorang".
Sekarang, sebagai seorang seniman, aku memiliki kesempatan untuk berada di pihak yang dapat menyelamatkan seseorang melalui "ekspresi". Oleh karena itu, aku harus melakukan segala yang aku bisa sebagai seorang seniman ekspresif. Itulah tekad yang kubuat.
Selama masa isolasi mandiri, kami mengadakan pertemuan harian di antara para member untuk mencoba mencari cara mengatasi situasi ini. Perusahaan kami berpusat pada pertunjukan langsung, tetapi kami tidak dapat mengadakan pertunjukan langsung apa pun. Namun, kami memiliki banyak artis di bawah manajemen kami, dan banyak karyawan yang perlu kami dukung. Kami memahami bahwa perusahaan kami sendiri telah terkena dampak yang berat.
Meskipun mungkin hanya kontribusi kecil, kami bertanya-tanya apakah ada cara yang dapat kami lakukan untuk membantu meringankan krisis perusahaan, jadi kami secara aktif mengadakan pertunjukan langsung daring. Alan mulai menulis lagu-lagunya sendiri. Kami adalah grup LDH pertama yang mulai membuat video promosi di YouTube. Pada saat itu, kami berharap hal tersebut dapat menjadi sumber penyemangat bagi para penggemar. Sembari mengeksplorasi berbagai pendekatan, kami juga didorong oleh semangat "For LDH" dalam pikiran.
Namun, begitu pandemi mereda dan memungkinkan untuk mengisi tempat pertunjukan langsung hingga kapasitas penuh, dan sorak-sorai penonton diizinkan, kami melihat penurunan serius dalam jumlah penonton konser langsung. Selama tiga tahun pandemi, cara orang menikmati musik telah berubah karena peningkatan konten yang dapat dinikmati tanpa menghadiri pertunjukan langsung, dan munculnya boygroup baru, termasuk K-pop.
Saat kami bersiap untuk kembali ke pertunjukan langsung, kami sangat merasakan perubahan tren di dunia.
🩵🩵🩵
(terjemahan bahasa Indonesia bekerjasama dengan google translate, bing, dan ilmu dari penjelajahan internet)
(mohon koreksi jika ada kesalahan)



No comments:
Post a Comment