Aku duduk sendiri di depan kelas. Tersenyum tak karuan
memandangi Bisma, seseorang yang aku suka sejak kelas 1 SMA. Ia sedang bermain
bola. Sedang asyiknya aku dalam suasana ini, tiba tiba ada yang merusak
pemandanganku,
“dorrr… haha, lo ngapain disini sendirian??? Ketawa
ketawa sendiri lagi kaya yang ga waras!!” Usil Vara.
“ihhh lo tuh ngagetin gue tau ga!! Mana ngerusak mood
gue lagi!!!” jawab aku ketus.
“iya deh, sorry sorry. Jangan ngambek dong, nah lo
lagi ngapain??” tanya Vara.
“tuh (tanganku menunjuk ke arah Bisma). Lo ngerti kan
maksud gue??” jawabku.
“ohh si Bisma ternyata. Lo kalo suka sama dia mending
tembak aja. Daripada gini terus” Canda Vara sambil tertawa.
“idiiihhhh ogah ah. Masa cewe nembak cowo sih, tengsin
ah gue.”
“ya udah, terserah lo sih. Jangan nyesel yah nanti
kalo diambil orang. Hahahahaaaa”
Bel pun berbunyi dan terpaksa aku harus masuk kelas
untuk kembali belajar.
Sorenya aku dan Vara pergi ke toko peminjaman buku.
Saking asyiknya aku membaca novel sambil
jalan, tiba tiba aku bertabrakan dengan seseorang hingga membuat aku
terjatuh. Orang itupun menolongku. Saat aku lihat wajahnya, tak kusangka dia
adalah……….. Bisma !!!. orang yang aku suka saat ini. Dia pun mengenalku tapi
kita tak saling akrab. Dia meminta maaf padaku.
“eh sorry yah Cind, gue ga sengaja nabrak lo” ucap
Bisma sambil mengulurkan tangannya padaku.
“ohh eng.. engg.. enggak kok. Gue yang salah, gu.. gue
yang jalannya ga liat liat” jawab aku sambil terbata bata.
Kita pun saling berjabat tangan. Tak lama kemudian
Bisma pamit kepadaku karena dia sudah selesai membeli bukunya. Aku langsung
menghampiri Vara yang sedang duduk membaca buku. Kuceritakan semuanya kepada
Vara tetapi dia biasa saja menanggapinya. Mungkin dia bete karena aku ganggu.
Tapi biarkan sajalah, yang penting aku senang sekali. Kejadian ini takkan
pernah kulupakan sepanjang hidupku.
Besoknya ketika aku masuk kelas, ada sesuatu diatas
mejaku. Terlihat setangkai bunga mawar dan secarik kertas bertuliskan “Maafin
aku Cindy”. Kukira itu bukan untukku, tapi jelas jelas tulisannya tertuju
padaku. Aku bingung. Ku tanya pada teman teman tapi mereka tidak tahu. Mereka
bilang bunga itu sudah ada dari tadi di mejaku. Tak lama Vara datang dan
melihat bunga itu di tanganku,
“eh Cind, ni bunga punya siapa??” tanya Vara.
“gue juga ga tau,pas gue dateng, bunga ini udah ada di
meja gue.” Jawab aku bingung.
Kami pun diam sejenak, tiba tiba Vara nyeletuk,
“Bismaa…”
“Bisma?? Masa sih dia??
“ya mungkin aja kan, siapa tau ini permintaan maaf dia
ke lo gara gara kejadian kemaren.” Ucap Vara sambil meyakinkan aku.
Aku pun terdiam. Ya, mungkin saja. Tapi aku belum
yakin kalo bunga itu dari Bisma.
Jam pertama dimulai. Kami disuruh pergi ke
perpustakaan untuk mencari buku yang ditugaskan oleh Bu Guru sekaligus
mengerjakan tugas disana. Aku dan Vara sedikit kesulitan untuk mengerjakan
tugas. Tiba tiba datanglah seseorang menghampiri kami. Ternyata dia adalah
Pandu. Dia anak yang jenius dan selalu jadi juara di kelasnya. Hampir satu
sekolah mengenal dia, termasuk kita. Dia juga berpenampilan rapi, baik, dan
selalu tepat waktu untuk datang ke sekolah. Aku suka dengan cowo yang seperti
itu, tapi entah kenapa aku tak punya rasa lebih padanya. Hanya sekedar teman.
“ada yang bisa gue bantu??”tanya Pandu.
“lo ga keberatan kan bantuin kita ngerjain
tugas??”jawab Vara.
“okeyy… kita kerjain bareng bareng aja.” Ucap Pandu.
“mmm…. Apa ga ngerepotin nih??” tanyaku.
“ga kok, nyantei aja kali gue juga lagi ga sibuk.”
Jawab Pandu.
Kami pun mengerjakan tugas bersama sama. Dia anaknya
agak pendiam. Jadi dia cuma bicara seperlunya saja dan fokus pada tugas.
Sedangkan aku dan Vara malah terus bercanda.
Dua jam berlalu. Akhirnya kami selesai juga
mengerjakan tugasnya.
“thanks yah Pan udah bantuin kita.” Ucap Vara.
“iya, makasih ya. Jangan bosen bosen yah bantuin
kita.hehee.” Ucap aku sambil ketawa.
“sama sama. Kalo butuh bantuan, tinggal cari gue aja.”
Jawab Pandu sambil memegang pundakku. Dia tersenyum padaku.
Malamnya, di kamar aku terus memandangi bunga itu. Aku
mulai membayangkan Bisma lah yang memberi bunga itu kepadaku secara langsung. Aku
tersenyum sendiri melamunkan Bisma. Tetapi, kenapa hatiku belum benar benar
yakin kalau Bisma lah yang memberi bunga itu.
Keesokan harinya, hal yang sama terjadi lagi. Bunga
dan surat yang sama tersimpan diatas mejaku. Demikian juga pada hari hari
selanjutnya. Hingga sampai dua minggu, aku sudah tak sabar lagi dan aku sangat
penasaran. Akhirnya aku memberanikan diri untuk bertemu dengan Bisma dan
menanyakan tentang bunga itu. Tetapi apa yang kudapat setelah aku bertemu
dengan Bisma??? Dia justru malah bingung
dan benar benar tidak tahu tentang bunga itu. Aku sangat malu rasanya dan tak
ingin bertemu dengan Bisma lagi.
Kuceritakan semua hal itu pada Vara. Dan dia pun dapat
mengerti perasaanku dan mencoba menenangkanku. Kemudian Vara berkata;
“kalo bukan Bisma yang ngasih bunga itu, trus siapa
dong??”
“gue juga gatau Ra, gue bener bener penasaran. Apa
coba maksud tuh orang ngasih gue bunga segala!!”
“hmmm… oh ya!! Mungkin lo punya pengagum rahasia.
Secret admirer gitu???” tanya Vara sambil meyakinkanku.
“masa sih?? Ahh ga mungkin lah, emang gue artis
apa???” tepis aku.
“yah gue juga masih ngira ngira sih.” Jawab Vara.
Sepulang sekolah aku dan Vara pergi dulu ke toko bunga
karena disuruh oleh mama. Aku sibuk mencari bunga yang dipesan mama. Disana aku
bertemu dengan Pandu. Kulihat dia memegang setangkai bunga dan diselipi secarik
kertas. Tetapi tak lama bunga tersebut ia sembunyikan ke belakang badannya.
Tiba tiba ada seorang anak kecil yang berlari lari dan tak sengaja menabrak
Pandu. Bunga yang dipegangnya pun jatuh tepat di samping kaki Vara. Diambillah
bunga itu oleh Vara, dan ia sangat terkejut ketika membuka secarik kertas yang
ada pada bunga itu.
“jadi lo Pan pengagum rahasianya Cindy???” tanya Vara
serius.
“maksud lo apaan sih Ra?? Gue ga ngerti??” tanya aku
balik.
Kemudian Vara memberikan kertas tersebut kepadaku,
betapa kagetnya aku setelah membaca isi dari kertas tersebut.
“Pandu, ternyata lo secret admirer gue...” tanya aku.
“iya Cind, gu.. gu.. gue pengagum rahasia lo, gue suka
sama lo dari dulu, dari kelas satu SMA. Tapi gue tau, lo sukanya sama Bisma.”
Jawab Pandu gugup.
“tapi kenapa lo ga ngomong langsung sama gue.??” Tanya
aku lagi.
“ asal lo tau yah, gue tuh udah dibikin malu di depan
Bisma soalnya gue nyangka kalo Bisma yang suka nyimpen bunga diatas meja gue.!!”
Bentak aku.
“maafin gue yah... gue cuma pengen bikin lo seneng.
Gue bener bener sayang ma lo Cind.” Ucap Pandu.
Tanpa menunggu jawaban dariku, Pandu langsung pergi
meninggalkan aku dan Vara. Aku benar benar tak tahu harus berbuat apa. Harus
mengatakan apa pada Pandu. Saat itu pikiranku benar benar tak karuan.
Keesokan harinya, hal berbeda terjadi. Tak ada bunga
lagi tersimpan diatas mejaku. Ya, kali ini aku sudah tahu siapa sosok misterius
itu. Aku mulai memikirkan Pandu. Aku merasa bersalah karena kemarin sudah
membentak dia.
“Ra, gue nyesel deh kemaren udah ngebentak Pandu di
depan umum..” ucap aku.
“kalo menurut gue sih, wajar aja lo berbuat kaya
gitu.” Jawab Vara.
“ya, tapi gue ga enak aja sama dia, maksud dia itu kan
baik..” jawab aku kembali.
“yaudah, lo sekarang maunya gimana??” tanya Vara.
“gue harus minta maaf sama dia.” Ucap aku serius.
“hmmm… yaudah lo ke perpustakaan aja sekarang. Lo temuin
Pandu.” Vara meyakini aku.
“tapi gue maluu…” jawab aku.
“katanya mau minta maaf, gimana sih lo???” jawab Vara.
“okey deh. Gue ke perpustakaan sekarang.” Jawab aku
yakin.
Aku pun pergi ke perpustakaan. Dan benar saja, Pandu
sedang ada disana. Kulihat dia sedang membaca buku. Aku menghampirinya. Pandu
melihatku dan dia terlihat gugup sekali. Aku ajak dia ke taman sekolah dan dia
pun menurut saja.
“Pan, gue minta maaf yah. Ga seharusnya gue bentak lo
kemaren.” Ucap aku.
“gue udah maafin lo kok, gue juga minta maaf yah..”
ucap Pandu.
“iyaaa.. “ jawab aku.
Tak lama, Pandu memegang kedua tanganku. Hatiku dag
dig dug, tak tahu apa yang akan dilakukan oleh Pandu. Apa dia
akan………………………………..
“Cindy, gue bener bener sayang sama lo. Gue tahu, lo
suka sama Bisma, tapi gue cuma pengen nyatain perasaan gue aja.” Ucap Pandu
serius.
“gu.. gu.. gue….” Jawab aku gugup.
“lo mau jadi pacar gue??” tanya Pandu.
“gu..gu..guee.. aduh gimana yah.” Jawab aku sangat
gugup dan terkejut.
“ga papa kok kalo lo nolak gue. Gue terima lapang
dada, yang penting gue udah jujur tentang perasaan gue sama lo.” Ucap Pandu.
“lo beneran sayang sama gue??” tanya aku.
“iya, gue bener bener sayangggggg sama lo. Gimana??”
jawab Pandu.
“gue, gue mau jadi pacar lo.” Jawab aku.
“serius?? Trus Bisma ??” tanya Pandu.
“gue udah mulai ngelupain dia. Ternyata susah buat
bikin orang yang kita suka jadi suka sama kita. Dan sekarang ada cinta yang
datang, gue ga mau sia sia in itu.” Jawab aku meyakinkan Pandu.
“makasih yah Cind, gue janji gue bakal bikin lo
bahagia. Gue bakal bikin lo nyaman sama gue. Dan gue ga bakal sia sia in lo.”
Ucap Pandu.
“iyah, gue yakin kok kalo lo ga bakal nyakitin gue.”
Jawab aku.
Akhirnya aku dan Pandu menjadi sepasang kekasih.
Dan dia tetap jadi secret admirer ku yang setiap hari selalu meletakkan bunga
diatas mejaku.