find me on:

Monday, July 7, 2014

Cerpen: Karena Cinta Butuh Waktu


Mungkin ini terlalu cepat. Aku baru beberapa waktu mengenalmu, namun kau ungkap perasaan yang tak sebanding denganku. Perlakuanku padamu hanya sebatas teman biasa walau aku nyaman dan tenang saat bersamamu. Tapi tak semudah itu kujatuhkan hati. Untuk kali ini tidak, kukatakan. Aku dan kamu masih tetap bisa bersama dengan status teman. Selebihnya aku pasrahkan pada waktu yang terus mengiringi.

Seperempat tahun memang bukan waktu yang lama untuk aku dan kamu saling mengetahui. Lewat sebuah perkumpulan salahsatu komunitas kesukaan kita, aku dan kamu dipertemukan. Seperti halnya berjumpa dengan orang baru, saling berjabat tangan dan memperkenalkan nama. Memulai dialog dengan agak hati-hati karena belum memahami sifat satu sama lain. Sampai di pertemuan-pertemuan berikutnya kurasa kita sudah saling mendalami mengenai diri masing-masing. Kamu nyaman.? Aku pun demikian.

Namun.. ada yang salah dengan ini. Iya, dengan kamu! Kau terlalu menganggap ini lebih. Kenyamanan mu padaku dan sebaliknya tidaklah sama. Kau yang terlalu memaksakan dan terkesan buru-buru untuk mengikat ‘status’ antara kita. Bagaikan petir yang menyambar di siang hari terik saat detik demi detik gerakan bibirmu mengucap kata yang disebut cinta itu. Indah. Puisi yang bak membawa sang pujaan hati terbang menuju langit ke tujuh yang penuh kebahagiaan abadi. Dan disana telah ada pangeran yang menanti untuk membangun kehidupan bersama. Itukan keinginanmu.??

Maaf kawan, aku enggan bukan karena ada yang lain tertambat di hati, tapi aku memang tak bisa mewujudkan impianmu. Tidak untuk sekarang. Mengertilah… semua butuh waktu, termasuk cinta. Aku takut salah melangkah dan merusak pertemanan yang telah kita tanam. Jalani saja seiring waktu berlalu, sampai aku benar-benar bisa mengubah pikiran atau bertahan pada keputusanku saat ini.  

Monday, June 23, 2014

Cerpen: Satu Nama dalam Do’a


Tak ada kesan yang berarti diawal perjumpaan aku dan dirinya. Tatapan yang terjadi diantara kami pun seolah tak berarti apa-apa. Aku acuh, dia pun demikian. Cukup saling mengenal, tanpa butuh keakraban.
Pernah kami bersama dalam satu waktu yang tak direncanakan. Saling berkomunikasi, bertukar pikiran, hingga canda tawa terjadi diantara kami. Namun itu terasa biasa saja. Tanpa ada rasa canggung ataupun segan. Semua berjalan apa adanya.

Hingga pada suatu waktu, ketika terdiam dalam lamunanku, entah ada angin apa, tiba-tiba pikiranku tertuju pada dia. Terlintas seketika bayangannya di otakku. Heran sekali. Sampai ku berusaha mengelak dan menganggap itu hanya bualan semata. Selalu kutanggapi dengan senyuman miring. Berpikir bahwa hal itu sangat konyol. Hmmm.. menjengkelkan!!

Tanpa sadar kuhadirkan dia dalam khayalan tingkat tinggiku setiap malam sebelum kupejamkan mata menyambut bunga tidur yang kuharap selalu memberi keindahan. Terbayang jelas lukisan parasnya yang membuat bibirku tersenyum tulus. Membuat hatiku bahagia bukan kepalang. Ini hanya sebuah imajinasi, namun berhasil membuatku benar-benar menginginkannya. Kuberharap Tuhan mengabulkan doaku untuk menghadirkan dia dalam mimpi indahku di setiap malam. Walaupun setiap jawaban yang kutunggu tak kunjung tiba, kumenanti dengan penuh kesabaran. Ini cinta…

Kini setiap pertemuan kami selalu kuanggap special. Begitu berharga untukku. Dia yang sekarang membuat jantungku berdebar bila melihatnya. Yang membuatku jadi salah tingkah bila dia berada di sekitarku. Memaksa diri ini untuk mencari perhatian dia. Hingga mataku yang tak pernah letih untuk memandang dia. Inginku hentikan waktu bila didekatnya. Dan kupercepat waktu untuk dapat bertemu dengannya lagi. Dia.. dia.. dia…

Dalam setiap ibadahku doa tak pernah luput kupanjatkan pada Sang Pencipta. Hanya untuk orangtuaku dan aku. Tapi semenjak kulabuhkan dia dihati, doa itu menambah tujuannya. Kusertakan dia dalam setiap doa yang kupanjatkan kepada-Nya. Ini baru pertama kalinya kusebut nama seseorang dalam doaku. Tak pernah sebelumnya aku melakukan hal ini walau sudah pernah ada yang singgah dihatiku. Tapi kini dengan dia, aku merasa ada sesuatu yang berbeda. Entah apa yang melatarbelakangi, kata hatiku selalu ingin menyebut dia dalam doa tulusku. Berharap Sang Pencipta mengabulkan apa yang aku ucap dalam pintaku. Aku merasa yakin dengan dia. Semoga tak sekedar harapan belaka. Kuingin dia juga rasakan yang sama. Menjawab kesungguhan hati ini. Hanya dia, ‘satu nama’ yang terucap dalam doa yang kupanjatkan dengan tulus kepada-Nya.

Thursday, January 2, 2014

Cerpen: Cinta, Kita Sama Namun Berbeda


Dalam gerimis di sore itu aku bergegas pulang sehabis bermain futsal karena tak ingin ketinggalan serial televisi kesukaanku hingga jilbabpun tak sempat aku pakai. Aku mengebut dalam mengendarai motor dan tak kusangka…….. braakkkkk.!! Seorang pria tertabrak olehku.!!. Panik sekali. Langsung kujatuhkan motor dan menghampiri orang itu. Banyak sekali orang sekitar yang ikut berkerumun. Memang salahku melaju pada kecepatan yang tak semestinya walaupun jalanan terlihat lengang. Namun pada jalur zebra cross dia menyebrang dan aku terlambat untuk menghentikan kendaraanku. Bodoh sekali.!! Setelah kulihat orang itu ternyata masih sadar dan mengalami luka di tangannya. Aku hendak membawa dia ke rumah sakit, namun dia memintaku untuk dibawa ke puskesmas terdekat saja. Setelah itu, aku mengantarkan pulang ke rumahnya yang tak jauh dari lokasi kecelakaan tadi. Dijalan kita sedikit mengobrol dan kutahui bahwa dia bernama Iman. Nama yang menurutku indah untuk seorang pria. Ketika sampai dirumahnya, aku ditawari untuk masuk dulu. Karena aku juga berniat untuk meminta maaf kepada orangtuanya atas insiden tadi, maka aku memenuhi permintaannya itu.

“Assalamualaikum..” Ucapku

Dia melihatku dan hanya tersenyum. Lalu aku dipersilahkan duduk di sofa dan tak kukira disampingnya ada sebuah pohon natal serta pernak-perniknya. Kulihat sekitarnya tanda salib raksasa terpampang. Boneka sinter klas berserakan dan beberapa lukisan gereja. Aku baru sadar dan ucapku dalam hati , 
”pantesan tadi aku ngucap salam ga dijawab, ternyata……..” .

Tak lama ayahnya datang dan ia bertanya tentang apa yang telah terjadi pada anaknya. Kuceritakan semuanya pada ia dan aku meminta maaf berkali-kali atas kecerobohanku tadi. Ayahnya tersenyum dan menepuk pundakku sambil berkata,

“Nak Fayna, terimakasih karena sudah menolong Iman dan mengantarnya pulang. Semua itu sudah takdir tuhan dan kita sebagai manusia tidak bisa menolaknya. Yang terpenting kamu sudah mau bertanggung jawab atas kesalahanmu. Kamu anak baik. Tuhan memberkati.”

Aku kaget mendengar kalimat terakhirnya. Dan Iman memberitahukan kepada ayahnya bahwa aku seorang muslim dan tak seharusnya diberi kalimat seperti itu. Tak lama aku pamit untuk pulang karena sudah malam.

“Fay, maaf ya tadi ayah aku bilang gitu” Ucapnya
“Ohh gapapa kok, kan dia gatau. Tapi yang aku aneh kan kalimat itu doa, nah kenapa dia malah ngedoain aku.? Padahal aku kan salah.??” Tanyaku
“Ayah aku seorang pendeta. Ia tahu mana yang pantas didoakan dan tidak walaupun orang itu bersalah. Aku bangga punya ayah seperti dia.” Jawabnya
“Hmm.. aku juga bangga sama ayahku. Dia kuat dalam agama tapi ga ngelarang aku untuk bergaul dengan siapapun. Beda ras, status social, ataupun agama.” Ucapku lagi
“Iya. Karena pada dasarnya kita semua sama. Sama-sama makhluk ciptaan tuhan. Namun lingkungan yang membedakan karena tempat kita berada mempunyai budaya beragam. Ohh ya, kapan-kapan aku bisa dong ketemu sama ayahkamu.? ” Katanya. Aku hanya mengangguk.

Bulan dan bintang menjadi saksi perbincangan kita malam itu. Tentang hal yang sangat berpengaruh pada kehidupan duniawi maupun akhir nanti. Dan inilah awal kisahku dengannya.

**
Lelah sekali rasanya hari ini. Hal ‘gila’ menimpa aku. Tak sempat berganti pakaian aku langsung rubuh di pangkuan kasur. Terlelap dan hanyut dalam mimpi…

Alarm berbunyi. Aku bangun dari tidur. Memasang wajah tegang. Jelas sekali mengingat mimpiku malam tadi. Tak bisa kupercaya ini seperti nyata. Namun ada keganjilan dalam mimpi ini. Aku dan Iman……… ah sudahlah.

Pagi ini aku berangkat kampus diantar oleh ayah. Karena kejadian kemarin aku tak diperbolehkan membawa kendaraan untuk sementara waktu. Tepat dijalan insiden itu aku melihat Iman didepanku. Melaju ke arah yang sama. Kemudian masuk ke kampusku. Dia satu kampus denganku.??

Pertemuan itu terjadi lagi dalam sebuah ‘kecelakaan’. Kita bertabrakan saat berjalan pada arah yang berlawanan. Ternyata dia Iman. Sekarang giliran dia yang meminta maaf padaku dan dia mengajakku pergi ke taman. Disana kita bercerita segalanya mulai dari masa kecil hingga saat ini. Seru sekali rasanya. Aku nyaman berkomunikasi dengan dia.

“Dari kapan kamu mulai pakai jilbab.?” Tanyanya
“Sebenernya ini cuman formalitas aja. Dulu aku cuman pake jilbab ke sekolah. Tapi semakin kesini aku mulai belajar buat memakainya kapanpun dan dimanapun. Walau kadang-kadang aku masih suka males.” Jawabku
“Ayah kamu ga marah.?”
“Ayah ga pernah maksa aku buat ini. Semuanya dia serahin sama aku karena hidup aku cuman aku aja yang bisa jalaninnya.”
“Kalau ibadah kamu gimana.?”
“Alhamdulilah aku ga pernah ketinggalan sholat lima waktu. Tapi….. susah buat aku sholat tepat waktu. Sekarang adzan, baru aku sholat satu jam setelahnya. Padahal ayah selalu ngingetin. Tapi yang terpenting aku masih bisa melaksakannya kan.?”
“Itu ga baik loh Fay,, ibadah tepat waktu itu penting. Jika tuhan memanggil kita untuk ibadah sekarang maka laksanakan saat itu juga. Kalo kamu ingin bahagia kamu harus ubah sifat. Dan… kamu juga lebih anggun kalo pake jilbab. Aku suka ko J .”

Aku berpikir benar juga apa yang dikatakannya. Kalau hidupku ingin bahagia aku juga harus mentaati aturan sang pencipta. Tak kukira Iman yang ‘berbeda’ denganku bisa menjadi motivator untuk kehidupan agamaku. Kupandanginya. Tapi aku coba tahan perasaan ini, jangan sampai aku melakukan kebodohan seperti di mimpi itu.

“Ohh ya Fay, aku ada kelas sebentar lagi. Maaf ya aku tinggal.” Ucapnya
“Iya gapapa, aku juga sama ada kelas. Tapi aku masih pengen disini dulu. Yaudah kamu duluan sana.” Jawabku

Dia pun pergi sambil meninggalkan senyuman yang membekas di ingatanku. Tak lama aku beranjak dari sana. Dua langkah kedepan ada yang mengganjal dibalik sepatuku. Kuambil benda itu. Sebuah kalung salib bertuliskan ‘Imanuel Jonathan’. Ya, ternyata ini milik Iman.

Kupandangi terus kalung itu kala ku sedang  bersantai di kamar terindahku. Kata-kata motivasinya terngiang di telingaku. Senyumannya terbayang dipikiranku. Semakin jelas bayangannya dalam benakku. Semakin lekat namanya terukir di hatiku. Tak bisa kutahan, aku jatuh hati padanya.

**
“hey, Imanuel Jonathan!” Teriakku. Lalu aku menghampirinya yang sedang duduk sendiri di taman.
“Kenapa.? Kaget yaaa.. “ Tanyaku
“Darimana kamu tau nama panjang aku.?”
“Nih…..” kukembalikan kalungnya yang kemarin terjatuh di tempat yang sama.
“Pantesan. Makasih ya. Kamu cukup panggil aku Iman aja, aku lebih suka.”
Aku hanya mengangguk. Seperti biasa kita terhanyut dalam kebahagiaan yang sesungguhnya. Lalu aku menceritakan tentang mimpi konyolku itu padanya.

“Dua hari yang lalu dan semalam aku mimpi nikah sama kamu. Tapi yang buat ga lazim adalah kita melakukan ijab qabul kemudian melakukan pemberkatan di gereja. Aneh kan.?? Konyol banget mimpi aku hahahaa..” Ucap aku sambil menertawainya

“Hey.. Iman. Bicara dong.? Kamu kenapa.?” Tanyaku lagi

 Sampai dia mulai berbicara dengan pertanyaan yang membuatku seketika berhenti tertawa dan serasa dijatuhkan ke dalam jurang tak bertepi.

“Apa kita bisa bersatu seperti di mimpi kamu.??” Tanyanya serius menatapku

Aku diam. Menatap tajam sorot matanya. Sulit sekali untuk membuka gembok yang mengunci bibirku. Aku sangat mengerti apa yang dia maksud. Tak sadar air mata mengalir dari indera penglihatanku. Hanya ini yang bisa mewakilkan betapa tersayatnya perasaanku. Sebuah tanya dengan format jawaban dalam dua sisi. Kita bertemu dengan tidak sengaja, tidak saling mengenal, apalagi berhubungan. Dan kini aku mecintainya, begitupun dia. Namun apa hanya cinta yang dapat menyatukan dua insan.? Logika tak dapat menerima semua itu. Jarak kita sangat dekat, tapi kenyataan berbicara kalau kita bagaikan air dan minyak. Sedekat apapun tetap tak akan bisa menyatu. Benteng perbedaan menjadi pemisah kebahagiaan kita.

**
Aku untuk kamu 
Kamu untuk aku 
Namun semua apa mungkin 
Iman kita yang berbeda 
Tuhan memang satu 
Kita yang tak sama 
Haruskah aku lantas pergi 
Meski cinta takkan bisa 
Pergi...
**

Semua cinta selalu butuh perjuangan. Apa termasuk dengan kisah kita.? Lalu bagaimana kita berjuang untuk melawan perbedaan agama diantara kita .? Mustahil.!! Ataukah salah satu dari kita harus mengalah.? Tak akan.!! Orangtua kami sama-sama menjadi panutan dalam aqidahnya.

Perpisahan juga kita alami dengan kecelakaan yang sangat menyakitkan dari luka lainnya. Batinlah yang menjadi korban kisah ini. Kurekatkan kalung salibnya dengan jilbabku. Tanpa kata terucap memang ini satu-satunya alasan dari perbedaan kami. Hujan jadi saksi dari musnahnya harapan kita untuk menyatukan hati. Kita bukan sepasang kekasih, bukan juga mantan kekasih. Kita hanya sebatas ‘teman’ yang saling mencintai. Kau tahu hey pria berkalung salib, akulah satu-satunya wanita berjilbab yang mencintaimu.

Friday, December 27, 2013

Cerpen: Secret Admirer Itu Ternyata……


Aku duduk sendiri di depan kelas. Tersenyum tak karuan memandangi Bisma, seseorang yang aku suka sejak kelas 1 SMA. Ia sedang bermain bola. Sedang asyiknya aku dalam suasana ini, tiba tiba ada yang merusak pemandanganku,
“dorrr… haha, lo ngapain disini sendirian??? Ketawa ketawa sendiri lagi kaya yang ga waras!!” Usil Vara.
“ihhh lo tuh ngagetin gue tau ga!! Mana ngerusak mood gue lagi!!!” jawab aku ketus.
“iya deh, sorry sorry. Jangan ngambek dong, nah lo lagi ngapain??” tanya Vara.
“tuh (tanganku menunjuk ke arah Bisma). Lo ngerti kan maksud gue??” jawabku.
“ohh si Bisma ternyata. Lo kalo suka sama dia mending tembak aja. Daripada gini terus” Canda Vara sambil tertawa.
“idiiihhhh ogah ah. Masa cewe nembak cowo sih, tengsin ah gue.”
“ya udah, terserah lo sih. Jangan nyesel yah nanti kalo diambil orang. Hahahahaaaa”
Bel pun berbunyi dan terpaksa aku harus masuk kelas untuk kembali belajar.

Sorenya aku dan Vara pergi ke toko peminjaman buku. Saking asyiknya aku membaca novel sambil  jalan, tiba tiba aku bertabrakan dengan seseorang hingga membuat aku terjatuh. Orang itupun menolongku. Saat aku lihat wajahnya, tak kusangka dia adalah……….. Bisma !!!. orang yang aku suka saat ini. Dia pun mengenalku tapi kita tak saling akrab. Dia meminta maaf padaku.
“eh sorry yah Cind, gue ga sengaja nabrak lo” ucap Bisma sambil mengulurkan tangannya padaku.
“ohh eng.. engg.. enggak kok. Gue yang salah, gu.. gue yang jalannya ga liat liat” jawab aku sambil terbata bata.
Kita pun saling berjabat tangan. Tak lama kemudian Bisma pamit kepadaku karena dia sudah selesai membeli bukunya. Aku langsung menghampiri Vara yang sedang duduk membaca buku. Kuceritakan semuanya kepada Vara tetapi dia biasa saja menanggapinya. Mungkin dia bete karena aku ganggu. Tapi biarkan sajalah, yang penting aku senang sekali. Kejadian ini takkan pernah kulupakan sepanjang hidupku.

Besoknya ketika aku masuk kelas, ada sesuatu diatas mejaku. Terlihat setangkai bunga mawar dan secarik kertas bertuliskan “Maafin aku Cindy”. Kukira itu bukan untukku, tapi jelas jelas tulisannya tertuju padaku. Aku bingung. Ku tanya pada teman teman tapi mereka tidak tahu. Mereka bilang bunga itu sudah ada dari tadi di mejaku. Tak lama Vara datang dan melihat bunga itu di tanganku,
“eh Cind, ni bunga punya siapa??” tanya Vara.
“gue juga ga tau,pas gue dateng, bunga ini udah ada di meja gue.” Jawab aku bingung.
Kami pun diam sejenak, tiba tiba Vara nyeletuk,
“Bismaa…”
“Bisma?? Masa sih dia??
“ya mungkin aja kan, siapa tau ini permintaan maaf dia ke lo gara gara kejadian kemaren.” Ucap Vara sambil meyakinkan aku.
Aku pun terdiam. Ya, mungkin saja. Tapi aku belum yakin kalo bunga itu dari Bisma.

Jam pertama dimulai. Kami disuruh pergi ke perpustakaan untuk mencari buku yang ditugaskan oleh Bu Guru sekaligus mengerjakan tugas disana. Aku dan Vara sedikit kesulitan untuk mengerjakan tugas. Tiba tiba datanglah seseorang menghampiri kami. Ternyata dia adalah Pandu. Dia anak yang jenius dan selalu jadi juara di kelasnya. Hampir satu sekolah mengenal dia, termasuk kita. Dia juga berpenampilan rapi, baik, dan selalu tepat waktu untuk datang ke sekolah. Aku suka dengan cowo yang seperti itu, tapi entah kenapa aku tak punya rasa lebih padanya. Hanya sekedar  teman.
“ada yang bisa gue bantu??”tanya Pandu.
“lo ga keberatan kan bantuin kita ngerjain tugas??”jawab Vara.
“okeyy… kita kerjain bareng bareng aja.” Ucap Pandu.
“mmm…. Apa ga ngerepotin nih??” tanyaku.
“ga kok, nyantei aja kali gue juga lagi ga sibuk.” Jawab Pandu.
Kami pun mengerjakan tugas bersama sama. Dia anaknya agak pendiam. Jadi dia cuma bicara seperlunya saja dan fokus pada tugas. Sedangkan aku dan Vara malah terus bercanda.
Dua jam berlalu. Akhirnya kami selesai juga mengerjakan tugasnya.
“thanks yah Pan udah bantuin kita.” Ucap Vara.
“iya, makasih ya. Jangan bosen bosen yah bantuin kita.hehee.”  Ucap aku sambil ketawa.
“sama sama. Kalo butuh bantuan, tinggal cari gue aja.” Jawab Pandu sambil memegang pundakku. Dia tersenyum padaku.

Malamnya, di kamar aku terus memandangi bunga itu. Aku mulai membayangkan Bisma lah yang memberi bunga itu kepadaku secara langsung. Aku tersenyum sendiri melamunkan Bisma. Tetapi, kenapa hatiku belum benar benar yakin kalau Bisma lah yang memberi bunga itu.

Keesokan harinya, hal yang sama terjadi lagi. Bunga dan surat yang sama tersimpan diatas mejaku. Demikian juga pada hari hari selanjutnya. Hingga sampai dua minggu, aku sudah tak sabar lagi dan aku sangat penasaran. Akhirnya aku memberanikan diri untuk bertemu dengan Bisma dan menanyakan tentang bunga itu. Tetapi apa yang kudapat setelah aku bertemu dengan Bisma??? Dia justru  malah bingung dan benar benar tidak tahu tentang bunga itu. Aku sangat malu rasanya dan tak ingin bertemu dengan Bisma lagi.
Kuceritakan semua hal itu pada Vara. Dan dia pun dapat mengerti perasaanku dan mencoba menenangkanku. Kemudian Vara berkata;
“kalo bukan Bisma yang ngasih bunga itu, trus siapa dong??”
“gue juga gatau Ra, gue bener bener penasaran. Apa coba maksud tuh orang ngasih gue bunga segala!!”
“hmmm… oh ya!! Mungkin lo punya pengagum rahasia. Secret admirer gitu???” tanya Vara sambil meyakinkanku.
“masa sih?? Ahh ga mungkin lah, emang gue artis apa???” tepis aku.
“yah gue juga masih ngira ngira sih.” Jawab Vara.

Sepulang sekolah aku dan Vara pergi dulu ke toko bunga karena disuruh oleh mama. Aku sibuk mencari bunga yang dipesan mama. Disana aku bertemu dengan Pandu. Kulihat dia memegang setangkai bunga dan diselipi secarik kertas. Tetapi tak lama bunga tersebut ia sembunyikan ke belakang badannya. Tiba tiba ada seorang anak kecil yang berlari lari dan tak sengaja menabrak Pandu. Bunga yang dipegangnya pun jatuh tepat di samping kaki Vara. Diambillah bunga itu oleh Vara, dan ia sangat terkejut ketika membuka secarik kertas yang ada pada bunga itu.
“jadi lo Pan pengagum rahasianya Cindy???” tanya Vara serius.
“maksud lo apaan sih Ra?? Gue ga ngerti??” tanya aku balik.
Kemudian Vara memberikan kertas tersebut kepadaku, betapa kagetnya aku setelah membaca isi dari kertas tersebut.
“Pandu, ternyata lo secret admirer gue...” tanya aku.
“iya Cind, gu.. gu.. gue pengagum rahasia lo, gue suka sama lo dari dulu, dari kelas satu SMA. Tapi gue tau, lo sukanya sama Bisma.” Jawab Pandu gugup.
“tapi kenapa lo ga ngomong langsung sama gue.??” Tanya aku lagi.
“ asal lo tau yah, gue tuh udah dibikin malu di depan Bisma soalnya gue nyangka kalo Bisma yang suka nyimpen bunga diatas meja gue.!!” Bentak aku.
“maafin gue yah... gue cuma pengen bikin lo seneng. Gue bener bener sayang ma lo Cind.” Ucap Pandu.
Tanpa menunggu jawaban dariku, Pandu langsung pergi meninggalkan aku dan Vara. Aku benar benar tak tahu harus berbuat apa. Harus mengatakan apa pada Pandu. Saat itu pikiranku benar benar tak karuan.

Keesokan harinya, hal berbeda terjadi. Tak ada bunga lagi tersimpan diatas mejaku. Ya, kali ini aku sudah tahu siapa sosok misterius itu. Aku mulai memikirkan Pandu. Aku merasa bersalah karena kemarin sudah membentak dia.
“Ra, gue nyesel deh kemaren udah ngebentak Pandu di depan umum..” ucap aku.
“kalo menurut gue sih, wajar aja lo berbuat kaya gitu.” Jawab Vara.
“ya, tapi gue ga enak aja sama dia, maksud dia itu kan baik..” jawab aku kembali.
“yaudah, lo sekarang maunya gimana??” tanya Vara.
“gue harus minta maaf sama dia.” Ucap aku serius.
“hmmm… yaudah lo ke perpustakaan aja sekarang. Lo temuin Pandu.” Vara meyakini aku.
“tapi gue maluu…” jawab aku.
“katanya mau minta maaf, gimana sih lo???” jawab Vara.
“okey deh. Gue ke perpustakaan sekarang.” Jawab aku yakin.
Aku pun pergi ke perpustakaan. Dan benar saja, Pandu sedang ada disana. Kulihat dia sedang membaca buku. Aku menghampirinya. Pandu melihatku dan dia terlihat gugup sekali. Aku ajak dia ke taman sekolah dan dia pun menurut saja.
“Pan, gue minta maaf yah. Ga seharusnya gue bentak lo kemaren.” Ucap aku.
“gue udah maafin lo kok, gue juga minta maaf yah..” ucap Pandu.
“iyaaa.. “ jawab aku.
Tak lama, Pandu memegang kedua tanganku. Hatiku dag dig dug, tak tahu apa yang akan dilakukan oleh Pandu. Apa dia akan………………………………..
“Cindy, gue bener bener sayang sama lo. Gue tahu, lo suka sama Bisma, tapi gue cuma pengen nyatain perasaan gue aja.” Ucap Pandu serius.
“gu.. gu.. gue….” Jawab aku gugup.
“lo mau jadi pacar gue??” tanya Pandu.
“gu..gu..guee.. aduh gimana yah.” Jawab aku sangat gugup dan terkejut.
“ga papa kok kalo lo nolak gue. Gue terima lapang dada, yang penting gue udah jujur tentang perasaan gue sama lo.” Ucap Pandu.
“lo beneran sayang sama gue??” tanya aku.
“iya, gue bener bener sayangggggg sama lo. Gimana??” jawab Pandu.
“gue, gue mau jadi pacar lo.” Jawab aku.
“serius?? Trus Bisma ??” tanya Pandu.
“gue udah mulai ngelupain dia. Ternyata susah buat bikin orang yang kita suka jadi suka sama kita. Dan sekarang ada cinta yang datang, gue ga mau sia sia in itu.” Jawab aku meyakinkan Pandu.
“makasih yah Cind, gue janji gue bakal bikin lo bahagia. Gue bakal bikin lo nyaman sama gue. Dan gue ga bakal sia sia in lo.” Ucap Pandu.
“iyah, gue yakin kok kalo lo ga bakal nyakitin gue.” Jawab aku.

Akhirnya aku dan Pandu menjadi sepasang kekasih. Dan dia tetap jadi secret admirer ku yang setiap hari selalu meletakkan bunga diatas mejaku.

Thursday, July 11, 2013

Cerpen: Status Sosial, Pemusnah Kebahagiaanku !


Sepi. Duduk ku di tepi kolam. Terhanyut dalam lamunan. Berkawan sementara dengan segerombolan hewan berinsang dengan beragam keindahan tubuhnya. Mereka kompak layaknya sebuah tim dalam permainan. Menuju pada suatu arah secara bersamaan. Ya ! kebersamaan. Aku cemburu. Namun pantaskah aku bertindak demikian pada ikan-ikan tak bersalah itu.? Sungguh tak dapat diterima dengan logika. Tapi apa daya, itu yang benar-benar aku rasakan. Mereka hidup bahagia ! Hidup bersama dengan beragam jenis populasinya. Perbedaan tak nampak diantara mereka. Kadang aku berpikir, mengapa Tuhan tak jadikan aku seperti mereka.? Sebagai binatang air yang diselimuti kebahagiaan, tanpa pernah ada tetesan air mata dalam hidupnya. Namun, inilah takdirku !

Mungkin semua orang diluar sana berpandangan bahwa hidup bergelimang harta selalu menjamin kebahagiaan manusia. Tapi tidak bagiku ! Hal itu sungguh merupakan kesalahan yang amat besar. Selama dua dasawarsa aku bernapas selalu kucari apa itu bahagia, dan kata itu tak kunjung berpihak pada hidupku. Tak pernah ! Seringkali aku temukan “mereka” didampingi sesosok ayah atau ibu ataupun keduanya, bersenda gurau melepaskan tawa tanpa adanya beban. Tak sadar, bersamaan saat itu air mataku tak terbendung. Pisau kecemburuan menyayat hati. Dan kembali aku marah pada Sang Pencipta, Engkau tak adil ! untuk apa Kau memberiku harta berlimpah tanpa adanya kebahagiaan.? Apa aku tak layak mendapatkannya.?

Disudut kamar ditemani derasnya air mata yang mengalir. Bertambah keheningan malam yang suram mendekat padaku. Tetap sendiri. Kugenggam sebuah bingkai berfoto. Aku, ibu, dan ayah. Tak bersyukurkah aku memiliki mereka.? Tapi ini tak sebanding dengan realita yang kualami. Satu sayapku patah. Aku kehilangan sosok ibu yang pergi selama-lamanya dari tempatku berpijak. Semenjak aku berada di dunia ini saat itulah ia tiada. Memandangnya pun tak pernah, apalagi menyentuh bahkan merasakan kasih sayang darinya. Kini aku hanya punya ayah, satu-satunya harta berhargaku. Aku menyayanginya. Begitupun dia,”katanya”. Ayah selalu berkata bahwa aku satu-satunya yang terpenting di dunia ini. Namun apa.? Sulit sekali untukku bertemu dengannya. Walau hanya melalui telepon, ayah tak pernah menghiraukan. Banyak hal yang ingin kuceritakan padanya. Berjuta bahkan milyaran kisah inginku bagi dengannya. Namun semuanya hanya mimpi. Bertemu dengan orang terdekat yang masih hidup pun mustahil dapat terwujud. Ia terlalu menyibukkan diri dengan pekerjaan. Setiap kali ia pulang, dan aku meminta waktunya, ayah selalu tak peka. Selalu ia katakan,”Ayah melakukan ini semua untuk kebahagiaan kamu. Agar kamu bisa hidup berkecukupan.” Ya ! hidupku dikelilingi harta yang berlimpah. Sangat berkecukupan. Ayahku orang terpandang di negeri ini. Tapi,,,, bukan itu yang aku inginkan selama ini. Harta tak akan menjamin kebahagiaanku. Aku hanya butuh perhatian dan kasih sayang. Entah dari siapapun. Hanya itu !

Manusia itu makhluk social. Tak bisa hidup sendiri. Bukan begitu.? Teman ! aku mengenal itu dalam hidupku. Aku memilikinya, bahkan sahabat yang sebenarnya. Semasa putih abu hingga usiaku saat ini, mereka penyemangatku. Sejenak ku lupakan masalah pribadi ketika bersama mereka. Sampai suatu hari ayah bertemu dan seketika merenggut kehadiran mereka dari hidupku. Dengan semena-mena ia usir mereka yang tak berdosa dari hadapanku setelah ia tahu bahwa mereka tak sederajat dengan keluargaku. Tak selevel, tak berpendidikan, atau apalah yang memiliki makna sama dengan kata-kata kejam itu. Kujelaskan semua padanya. Aku senang bersama mereka. Menghabiskan waktu bersama. Meluapkan canda tawa, mendapatkan kebahagiaan seperti yang aku impikan selama ini. Mimpi menjadi nyata yang tak pernah kudapat dari orangtuaku. Kau tahu.? Ayah lebih menyuruhku untuk bergaul dengan anak dari rekan-rekannya. Kucoba. Namun aku sungguh tak nyaman bersama mereka. Hidup hura-hura, bebas pergaulan dan,,,,, jauh dari agama. Aku tak ingin hidupku lebih rusak setelah berkawan dengan mereka. Hidupku kembali sendiri. Sendiri dalam jiwa dan raga.

Sempat ku bertanya pada ayah. Apakah ia tak ingin memberi aku seorang “ibu” baru, untuk dapat mengurus aku sekaligus ayah. ia hanya tersenyum. Ayah masih mencintai ibuku sampai saat ini, dan seterusnya. Ucapnya. Cinta ayah untuk ibu, dan cintaku untuk pemilik hatiku. Tanpa sepengetahuan ayah, aku menjalin hubungan asmara dengan seorang lelaki yang sekampus denganku. Sebenarnya ingin sekali aku bercerita pada ayah kabar istimewa ini, namun ketakutanku muncul kembali. Aku tak ingin mimpi buruk yang dialami sahabat-sahabatku terulang lagi. Lebih baik aku pendam dan tak tahu sampai kapan aku kuat merahasiakan ini padanya. Kekasihku mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya sekarang ini. Dia cerdas, baik, bahkan tampan. Hatiku luluh olehnya. Hingga berjalannya waktu dan akhirnya kita memutuskan untuk mengikat hubungan. Dia hanya memiliki ibu dan aku hanya punya ayah. Hampir setiap hari aku bermain ke rumahnya, walau harus dengan susah payah. Bodyguard suruhan ayah selalu mengikuti arah tujuanku. Berbagai alasan kuberikan pada mereka hingga akhirnya kebohonganku dapat dipercayai. Ibunya begitu baik. Beliau  sangat sayang pada anak satu-satunya itu. Berbanding terbalik dengan sikap ayah padaku. Lupakan ! aku tak ingin mengingat hal itu. Setiap kali aku ke rumah kekasihku, selalu ibunya menyambut dengan pelukan. Berbagi cerita dengannya, berkeluh kesah dengan masalah pribadiku dengan ayah. Namun beliau melarangku untuk membenci ayah. Bagaimanapun ayah tetaplah orangtua yang harus dipatuhi. Berbagai nasehat aku dapat darinya. Bahkan akupun diajari memasak, karena beliau mempunyai usaha catering di rumahnya yang sederhana. Ini yang membuatku begitu nyaman. Aku serasa memiliki orangtua, entah itu sebagai ibu ataupun ayah. Mendapatkan cinta dari kekasihku, sekaligus dari ibunya. Ini yang benar-benar aku harapkan. Hidup sederhana namun banyak cinta. Cinta ! Satu kata yang mengandung milyaran makna.

Kelam. Mimpi buruk itu terjadi untuk yang kedua kalinya. Ketika ku sedang larut dalam canda tawa saat memainkan bahan makanan pada alat-alat dapur, keributan muncul tiba-tiba. Suara itu.? Aku sangat mengenalnya. Kulihat ayah berdebat dengan kekasihku di depan rumah sederhana yang dihuni oleh dua malaikat cintaku. Darimana ia tahu keberadaanku.? Kata-kata tak pantas ayah lontarkan dengan penuh amarah. Dikeluarkannya uang berlimpah dan dilemparkan ke wajah mereka, sumber kebahagiaanku. Uang sebagai jaminan bahwa mereka akan menjauh dari kehidupanku. Kehidupan yang berbeda “kelas” dengan mereka. Ayah memaksaku pulang hingga akhirnya ia meluapkan lagi amarahnya padaku. Derasnya air mata kembali meleburkan semua kebahagiaan yang aku dapat. Aku tak bisa berontak. Aku sayang ayah, namun aku juga sayang mereka. Sahabat-sahabatku, dan dua malaikat cinta itu. Sosok ayah yang kukenal hanya menilai bahwa harta yang memberikan kebahagiaan, tak ada yang lain lagi selain itu. Kelas, pangkat, ataupun status social sangat penting untuk mengetahui siapa kita. Andai saja ayahku lebih memberikan perhatiannya padaku, atau mungkin memberi kebebasan untukku berkawan dengan siapapun tanpa memandang golongan, kebahagiaan itu pasti bersamaku. Namun itu hanya andai, sebuah keinginan dalam khayalan yang tak akan terjadi, sampai kapanpun. Sampai aku tiada.

Sunday, July 7, 2013

JUST GIVE ME A REASON


Right from the start
You were a thief
You stole my heart
And I your willing victim
I let you see the parts of me
That weren’t all that pretty
And with every touch you fixedthem
Now you’ve been talking in your sleep oh oh
Things you never say to me oh oh
Tell me that you’ve had enough
Of our love, our love

Just give me a reason
Just a little bit’s enough
Just a second we’re not broken just bent
And we can learn to love again
Its in the stars
Its been written in the scars on our hearts
We’re not broken just bent
And we can learn to love again

I’m sorry I don’t understand
Where all of this is coming from
I thought that we were fine
(oh we had everything)
Your head is running wild again
My dear we still have everything
And its all in your mind
(yeah but this is happening)
You’ve been having real bad dreams oh oh
You used to lie so close to me oh oh
There’s nothing more than empty sheets
Between our love, our love


Just give me a reason
Just a little bit’s enough
Just a second we’re not broken just bent
And we can learn to love again
Its in the stars
Its been written in the scars on our hearts
We’re not broken just bent
And we can learn to love again


Oh tear ducts and rust
I’ll fix it for us
We’re collecting dust
But our love’s enough
You’re holding it in
You’re pouring a drink
No nothing is as bad as it seems
We’ll come clean

Saturday, July 6, 2013

Puisi : Terima Kasih, Selamat Tinggal


Terima kasih
Sudah membuatku mengenalmu
Terima kasih
Kau pernah beri aku harapan itu
Terima kasih
Bayanganmu selalu ada dalam khayalku
Terima kasih
Telah hadir dalam bunga tidurku

Kini ku tahu
Aku bukan pilihan hatimu
Dia…. Kau persembahkan hatimu untuknya
Walau kau tahu
Dan ku pun mengetahui
Bahwa hatimu terluka karena dia
Tapi kau tetap pada pendirianmu
Hatimu sudah dipenuhi olehnya
Aku tak bisa menyusuri lagi ruang hatimu
Sudah cukup bagiku
Terima kasih
Atas hari indah menatap lukisan wajahmu
Terima kasih untukmu
Selamat tinggal kenangan itu

Friday, July 5, 2013

Puisi : SMA


Putih biru tlah kutinggalkan
Putih abu kini kukenakan
Semakin besar tanggung jawabku
Semakin besar pengorbananku
Bersama kawan wujudkan mimpi
Bersama kawan meraih masa depan
Sebagai langkah awal menuju dewasa
Memang…….
Sangat indah masa SMA kita
Asam manis kehidupan kita rasakan disini
Percintaan, pertemanan, permusuhan
Selalu bersahabat dengan kita
Tapi harus selalu kita ingat kawan
Tak selamanya kita bersama
Tiga tahun pasti akan berakhir
Putih abu akan terlipat sempurna
Dan menjadi kenangan
Menjadi masa lalu
Yang  tak akan pernah kembali
Selamanya...

Cerpen: Ku Jaga Selalu Hatimu


Taman indah ini menemaniku yang tak berdaya duduk di kursi roda. Hanya ini tempat ku berelaksasi selama berada di gedung putih ini. Tiba-tiba semua jadi gelap.
“hei siapa.?? Jangan tutup mata aku !”
Kedua tangan itu terlepas dari mataku. Ternyata.. ya ! itu Argi, kekasihku, memandangku dengan senyuman lepas.
“pagi sayang… “ Ucap Argi yang kemudian duduk disampingku sambil memberikan setangkai bunga mawar.
“pagi jugaaa… hmm, bunganya harum” Puji aku.
“harum parfum aku kan.?? Hahaa…” Canda Argi.
“plastic lagi.? Kenapa selalu bunga plastic.??” Tanyaku.
“sayang,,, bunga dari plastic itu ga akan pernah mati sampai kapanpun. Dan ga perlu pake pengawet. Sama kaya rasa sayang aku ke kamu, selamanya” Argi meyakinkanku sambil memegang kedua tanganku.
“tapi… aku kan….”
Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, jari telunjuk Argi menghentikannya.
“aku tahu kamu bakal bilang apa. Dan kata-kata itu udah sering kamu ucapin. Tapi aku gamau denger itu lagi. Apapun keadaan kamu, aku terima. Hati aku hanya ada satu, dan itu untuk kamu,“ Ucap Argi.
Ucapan itu menempel pekat dalam ingatanku. Matanya tajam memandangku. Namun, ada keanehan dalam penglihatanku. Cairan berwarna merah keluar dari hidungnya.
“hidung kamu berdarah” ucap aku.
“oh.. ini… ini biasalah cuma mimisan. Kamu tau kan aku sering tidur malam demi nonton klub sepakbola favorit aku tanding. Ya ini efeknya. Tapi ga masalah, yang penting idola aku menang semalem. Yesss menaannnggg” jawab Argi dengan gaya so’ cool nya sambil membersihkan darah di hidungnya.
“kamu yakin ini cuma mimisan biasa.?? Tapi ini sering terjadi sama kamu” Tanya aku khawatir.
“iyaa,,, aku gapapa sayang. Kamu tenang aja ya. Sekarang kita kembali ke kamar. Kamu kan harus minum obat” Ucap Argi.
Kami pun kembali ke kamar tempatku dirawat.

*keesokan harinya
“selamat pagi nona Akilla” sapa dokter.
“pagi juga Dok, apa hari ini aku bisa pulang.??” Tanyaku.
Dokter terdiam. Sesekali dia menoleh ke arah Mama. Aku tahu. Aku memang tahu apa yang terjadi.
“Akilla sayang,,, kamu masih harus disini. Kesehatan kamu belum benar-benar pulih. Jika kamu rutin minum obat, kamu akan semakin cepat pulang” Ucap Mama.
“tapi Ma,,, aku ga betah disini terus. Aku butuh udara bebas” Paksa aku.
“Akilla, dengar Mama !! Mama cuma punya kamu. Mama gamau kehilangan orang yang Mama cintai lagi dengan kondisi yang sama. Mama ingin kamu benar-benar sembuh!!”
Aku tak berdaya dalam dekapan Mama. Air mata membasahi pipi kami berdua. Dokter menghampiri.
“nona Akilla, saya akan terus berusaha mencarikan donor hati untuk anda. Saya yakin anda akan baik-baik saja” Ucap dokter sambil mengelus pundakku.
Dua minggu berlalu. Aku sudah diizinkan pulang oleh dokter. Argi ikut menjemputku. Ia membantu Mama mengemas barang-barang.

*sampai di rumah
“surpriseeeeee…………..”
Ternyata Nina, Vania, dan Rifan yang hadir dihadapanku. Mereka yang menyiapkan semua ini. Rumahku seperti pelangi dengan balon beragam warna menghiasi dinding. Lampu kerlap-kerlip dan suara terompet memeriahkan suasana ini. Kebahagiaan sungguh terpancar dari wajahku. Pelukan dari mereka menambah keceriaanku hingga aku lupa akan kehadiran Argi. Dia tak ada disekitarku. Ponselku bordering. Sebuah pesan singkat permohonan maaf dari kekasihku karena pergi begitu saja. Aku mengerti, mungkin dia punya kesibukan lain. Tak apalah, hadirnya sahabat-sahabatku ini lebih dari cukup. Senyuman lepas tak bisa kusembunyikan. Aku bahagia.

*esok hari, sabtu pagi
Gatal itu membuatku terbangun. Alangkah terkejutnya aku ketika melihat Argi sudah duduk disebelahku yg masih dalam keadaan terbaring. Disodorkannya setangkai bulu ayam ke hidungku membuatku tak kuasa menahan bersin dan akupun bangkit dari tidurku.
“kamu ngapain disini, sekarang kan baru jam 6.??” Tanyaku.
“aku pamit ya..” Jawabnya.
“pamit.?? Maksud kamu.??”
“dua minggu ini aku bakal ke Italia. Papa nyuruh aku buat belajar bisnis sementara disana”
“selama itu.??” Tanyaku lemas.
“ya, aku udah janji sama papa. Tapi aku juga janji, aku akan selalu kabarin kamu, mungkin 3 hari sekali. Karena selama ada disana aku akan jadi orang yang supeeerrr sibuukkk. Bertemu dengan banyak pengusaha yang berbakat” Ucap Argi dengan gaya so’ cool nya lagi dan diselipi tawa untuk mencairkan suasana. Akupun terbawa dalam tawa.
“apa harus sekarang.? Ini mendadak sayang” Ucapku.
“iya ! memang harus sekarang. Satu jam lagi aku terbang”
“satu jam.? Aku belum apa-apa. Satu jam ga cukup buat aku siap-siap dan nganter kamu ke bandara”
“justru itu sayang, makanya aku kesini. Aku gamau kamu anter ke bandara. Nanti kamu kecapean. Aku benci liat kamu sakit lagi”
“kamu ga liat, aku udah sembuh ! dn ga akan terjadi sesuatu sama aku !! masa aku gabisa nganter kamu??” Ucapku membentak.
“pokoknya kamu gausah khawatir. Kamu istirahat aja ya. Aku pasti baik-baik” Ucapnya meyakinkanku.
Kedua tangan Argi menggenggam tanganku. Pandangan mata kita beradu. Kupeluk erat dirinya tanpa kusadar air mata mengiringi. Ini berbeda. Rasanya berat sekali melepas dia pergi. Terlepas dari dekapan, Argi mencium keningku. Dan iringan air mata tetap tak bisa kubendung. Tangannya mengusap pipiku yang basah. Sesekali dia menghiburku dengan candaannya. Sebelum pergi, ia memberikanku setangkai mawar merah plastic beraroma parfumnya. Ia pamit. Pergi meninggalkan tanah Indonesia.
Hari berganti hari. Dan memang benar, setiap 3 hari sekali ia selalu mengirim email padaku. Menarik pengalamannya. Membuat aku ingin merasakan hal itu.
Hari ke-12. Dimana seharusnya kabar dari dia yang aku terima. Tapi ini lain. Tak ada email darinya untukku. Mencoba sabar, mungkin esok. Kemudian hal yang sama aku dapatkan. Tak ada sedikitpun kabar menghampiriku. Pikiranku kacau. Bisikan negative mulai menjalar di otakku. Prasangka buruk membayangi. Mungkinkah Argi sudah lupa padaku.?? Apa dia mengkhianati kata-katanya.?? Aku mulai sadar. Untuk apa dia terus mempertahankan aku. Aku ini lemah. Aku hanya seorang wanita malang berpenyakit yang selalu menyusahkan orang lain. Dan tak lama lagi aku akan mati. Hanya orang bodoh saja yang mau menerimaku. Pikiranku semakin tak karuan. Mulai kurasakan sakit di bagian dadaku. Sakit yang luar biasa. Berusaha mencari obat disekitarku. Control tanganku sudah tak menentu. Terakhir kudengar jatuhan gelas. Kemudian semuanya gelap.

**
Mataku terbuka perlahan. Semuanya putih. Terpikir di otakku bahwa aku berkawan lagi dengan si gedung putih. Dokter masuk. Memberitahuku bahwa telah ada pendonor hati untukku. Kulihat Mama bahagia, begitupun Nina dan Vania. Tapi tak kulihat Rifan. Sudahlah aku tak peduli. Pikiranku hanya tertuju pada Argi. Aku harus benar-benar tahu apa yang terjadi sebenarnya. Ini sudah hari ke-14, waktu dimana seharusnya dia kembali kesini seperti yang dijanjikannya padaku. Namun kenyataan berbalik. Pahit yang kurasakan. Dia tak ada disini.
Esoknya operasi dilaksanakan. Aku pasrah dengan apapun hasilnya. Entah hati siapa yang akan menjadi bagian hidupku. Mungkin itu bisa membuat aku melupakan Argi. Diluar ruang operasi, terlihat Mama, Nina, dan Vania menunggu cemas diriku. Doa terus mengalir untuk kesembuhanku. Ya ! aku harus kuat. Aku harus bertahan hidup demi mereka.

*7 jam kemudian
“Alhamdulilah Ya Allah, engkau telah mengabulkan doaku, doa kami semua sehingga Akilla dapat sembuh dari penderitaannya”.
Kudengar ucapan syukur itu, aku mulai tersadar namun mataku sulit untuk terbuka. Mulutku bergerak berusaha memanggil Mama. Menunggu beberapa saat, kasadaranku sudah penuh. Mama tersenyum kearahku dan memberitahu kabar bahagia itu. Operasiku berhasil. Mulai saat ini aku hidup dengan hati yang baru. Aku harus berterimakasih pada keluarga orang itu. Namun dokter tak memberitahuku dari siapa hati ini berasal. Keluarganya meminta dokter untuk merahasiakannya. Sayang sekali, aku sangat berhutang budi padanya.
Esoknya tepat dihari ulang tahunku aku diperbolehkan pulang. Aku harap ini yang terakhir kalinya berkawan dengan rumah sakit dan menjadi kado terindah untukku. Sampai dirumah, aku langsung masuk kamar. Kulihati foto-foto bersama Argi. Hatiku begitu terenyuh mengingat kenangan bersamanya. Terasa tak ada bedanya dengan hati aku yang sebenarnya. Membuat aku sulit melupakan Argi. Sangat sulit. Tiba-tiba ada yg mengetuk pintu kamar. Ternyata Rifan. Dia menanyakan kabarku. Ya, aku baik sekarang. Kutanyakan kabar Argi padanya, namun dia bilang tak tahu. Semenjak pergi ke Italia, Argi tak pernah mengabarinya. Entah bagaimana, saat itu aku merasa dekat dengan Rifan. Dia memang sahabatku, sahabat Argi juga. Tapi ini rasanya beda. Aku tak bisa mendeskripsikannya. Tanganku memegangi dadaku.
“lo kenapa La.? Sakit lagi.?” Tanya Rifan.
“gue gapapa kok. Fan, kok gue ngerasa deket ya sama lo.?” Tanyaku.
“yaiyalah deket, kita kan sahabatan udah lama. Gimana sih lo ada-ada aja” jawabnya.
“bukan, bukan karena itu. Ini lain rasanya. Kayaknya, gue emang deket banget sama lo. Banyak cerita yang terjadi sama kita. Hati gue ngerasa gitu. Gue juga bingung”
Rifan terdiam. Dia melamun. Wajahnya seperti terkejut ketika aku berkata demikian. Kupandangi terus wajahnya. Aku yakin dia menyembunyikan sesuatu dariku.
“La, gue balik dulu ya”
“lo mau kemana, gue yakin pasti lo nyembunyiin sesuatu kan dari gue.?”
“gue ga nyembunyiin apa-apa ko. Gue pamit ya”
Rifan pun bergegas pergi. Aku masih tak tenang. Ku kejar dia. Teriakku memanggilnya. Ketika Rifan hendak menjalankan motornya, kutarik baju dia. Turun dari motor.
“Fan, pliss. Gue yakin lo punya rahasia besar, terutama tentang Argi. Lo kan yg paling deket sama dia. Pliss kasih tau gue sebenernya. Gue rela kok kalo Argi udah punya pilihan lain. Itu hak dia, gue gabisa larang kemauannya” Pintaku sambil berlutut pada Rifan dengan kucuran air mata di pipi.
Sepertinya Rifan tak tega melihatku. Dia menarikku untuk berdiri. Mengajakku pergi ke taman kota dimana Argi pun sering mengajakku kesana. Suasana hening. Tak ada yang mau memulai percakapan. Kudengar isakan Rifan. Dia menangis. Sungguh membuatku semakin tak mengerti. Sepucuk surat dia keluarkan dari tas nya. Diberikan padaku.
“ini surat apa.? Dari Argi.?” Tanyaku.
“iya. Lo baca aja sendiri. Gue gatau apa isinya” jawab Rifan lemas.
“banyak bercak darah !! maksudnya ini apa.?” Aku semakin bingung.
“udah lo baca aja La,,” Rifan menangis tersedu-sedu.
Kubaca suratnya:
“29 Maret, selamat ulang tahun penjaga hatiku. Aku hanya bisa memberikan hati ini. Seperti yang aku katakan, hati aku hanya ada satu, dan itu untuk kamu. Aku yakin kamu bisa menjaga hatiku. Maaf aku pergi tanpa pamit. Aku akan selalu merindukanmu meski kita kini ada di dunia berbeda.“
DEG.. !! betapa terkejutnya aku membaca surat kecil itu. Air mata menetes. Aku tak bisa mengontrol diri. Kutarik-tarik baju Rifan memaksa dia untuk menceritakan semuanya. Dia hanya bisa menangis. Akhirnya dia menceritakan kejanggalan yang aku rasakan. Ternyata selama ini Argi sakit. Kanker otak. Dan aku benar-benar tak tahu hal itu. Ia juga tak pernah pergi ke Italia. Semua itu hanya untuk membuatku tenang dan tak khawatir saat dia berperang melawan penyakitnya. Hanya Rifan yang selama ini tahu keadaannya dan menemaninya disaat terakhir. Dan hati ini, yang sekarang melekat ditubuhku, adalah hatinya Argi. Itu pesan terakhirnya. Tubuhku lemas, air mata mengalir deras, suara rintihanku semakin kencang memanggil namanya. Tak bisa kuterima kenyataan bahwa Argi kini sudah tiada. Dia pergi dari dunia ini.
“Fan, anter gue ke makamnya Argi. Sekarang, pliss “ mohon aku.
“yaudah, tapi usap dulu air mata lo” jawab Rifan.
Kami pergi kesana. Sampai di makam. Kulihat sebuah pusara baru, dengan batu nisan bertuliskan Argi Mahardhika. Ya, itu nama kekasihku. Dengan tanggal lahir yang sama denganku. Dan tanggal wafatnya.? 3 hari yang lalu. Kuingat saat hari itu dokter memberitahuku bahwa sudah ada pendonor. Dan ternyata orang itu Argi, seseorang yang sangat berarti di hidupku. Aku berlutut tak berdaya di samping pusaranya. Kuusap-usap batu nisan bertuliskan namanya itu. Pedih sekali rasanya. Begitu lemas tubuhku. Rifan mencoba membuatku tegar. Dia mengingatkanku tentang pesan terakhirnya Argi. Aku memang harus tegar. Aku harus jaga hati ini. Bagiku Argi masih tetap hidup di dalam ragaku. Dan ia akan tiada, bersamaan dengan kepergian aku dari dunia ini.

Thursday, July 4, 2013

Cerpen: Misteri Malam Mencekam


Malam sangat sepi. Sesekali terdengar suara burung hantu. Ya... suara itu seperti sedang mencari mangsa. Terdengar juga rintik-rintik hujan yang menambah dinginnya suasana malam yang sepi itu. Tak jauh, terlihat seorang laki-laki yang berpenampilan serba hitam. Mencurigakan. Berjalan dengan perlahan-lahan seakan tidak ingin ada seorangpun yang melihat gerak-geriknya. Dihampirinya sebuah rumah ber cat hijau nomor 7 yang terletak di sebelah kanan lapangan warga. Rumah itu tergolong mewah. Ia berhenti sejenak di depan pagar rumah tersebut. Lalu mulai menengok ke keadaan sekitarnya. Aman. Tak lama ia memanjat pagar rumah itu dan berhasil masuk ke halamannya. Di intiplah jendela rumah tersebut untuk memastikan bahwa penghuni rumah benar-benar sudah tertidur. Lalu ia mengutak-atik lubang kunci pintu rumah tersebut dan entah bagaimana caranya akhirnya ia pun bisa menembus masuk ke dalam rumah tersebut. Apakah ia pencuri??? Entahlah. Selang beberapa waktu, terdengar suara benda pecah belah terjatuh dan suara keributan seperti kapal pecah lalu diikuti teriakan histeris yang begitu kencang dari balik rumah itu. Sementara di luar rintik hujan semakin deras dan burung hantupun semakin kencang mengeluarkan suaranya yang membuat malam itu semakin menakutkan. Peristiwa itupun hanya berlangsung sesaat, kembali lagi ke suasana malam yang sunyi sepi. Tak lama, laki-laki itupun keluar dari rumah itu dengan ekspresi wajah yang tenang. Apakah yang sebenarnya ia lakukan selama berada di dalam rumah itu?? Mencuri?? Tapi tak terlihat bahwa ia membawa barang hasil curiannya itu. Kemudian, ia pun terdiam sejenak di depan rumah tersebut. Ia mengecek kembali keadaan sekitarnya siapa tahu ada orang yang melihat aksinya tersebut. Tak lama, ia mengeluarkan sesuatu dari balik jaketnya. Dan ternyata……. Tiga buah bendera kuning. Lalu ia pasangkan ketiga bendera kuning tersebut diatas pagar rumah itu dengan memakai sarung tangan untuk menghilangkan jejak. Tak lama kemudian, ia pun berlari sekencang-kencangnya meninggalkan rumah tersebut dengan diiringi suara burung hantu. Entah siapakah sebenarnya orang tersebut. Apakah seorang pembunuh?? Sungguh malam yang penuh dengan misteri.