Lagi, bagian yang bikin saya nangis dengan kisahnya Ryuto! Makin diterusin, malah makin kerasa berat pas saya nulisnya. Peluk jauuuhhh abang!!
![]() |
| foto pribadi |
š©µš©µš©µ
⬛ TITIK TERENDAH
Ketika aku kembali ke Amagasaki, rutinitas harianku kembali normal. Pelajaran EXPG pun kembali seperti biasa. Aku sebenarnya tidak antusias pada itu, tetapi Yamada-san tetap ikut campur seperti biasa, dan para instruktur sangat antusias. Aku juga sibuk dengan pekerjaan paruh waktuku, jadi aku tidak punya waktu untuk meratapi kegagalan audisi.
Suatu hari, aku mendapat telepon dari ayahku.
Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku berbicara dengan ayahku. Ia bercerai ketika aku awal kelas 2 SMP, dan sejak itu, aku dan adikku sesekali bertemu dan makan bersamanya. Tapi kemudian, entah kenapa, ia mulai membawa pacar dan anak pacarnya, dan setelah bertemu dengannya, adikku akan mengalami serangan panik di rumah. Mengapa kami harus makan bersama ayah, meskipun itu berarti harus bersikap baik juga kepada seorang bibi yang bukan ibu kami, serta anaknya?
Aku dan adikku memutuskan untuk menjauhkan diri darinya. Itu terjadi di musim dingin ketika aku berada di tahun kedua SMP dan adikku di kelas 4 SD, jadi sudah hampir tiga tahun kami tidak berhubungan.
"Halo? Sudah lama ya tidak bertemu."
Ketika aku mengatakan itu, ayahku di ujung telepon berbicara terbata-bata, mengatakan sesuatu seperti, "Ryu, to... O×*?=%$#" dan aku tidak mengerti apa pun yang ia katakan kecuali namaku. Ayahku, yang tidak minum alkohol, terdengar seperti sedang mabuk.
"Hah? Apa?"
Aku khawatir, jadi aku memintanya untuk mengulangi ucapannya beberapa kali. Kemudian, aku hanya berhasil mendengar tiga kata.
"Audisi", "TV", "Aku sedang menonton".
Ayahku selama ini menonton "Shuukan EXILE", acara yang meliput putranya.
"Ah, audisinya... tidak berjalan dengan baik."
Aku mengatakannya seceria mungkin, tetapi kemudian aku mendengar sesuatu yang lain di ujung telepon, "&@△O×*?=%S#", dan suara isak tangis yang keras. Ayahku menangis.
"Akulah yang seharusnya menangis."
Pikirku dalam hati, tetapi aku tidak ingin memprovokasi ayahku, yang bicaranya terbata-bata, jadi aku mengatakan sesuatu yang tidak kumaksudkan, "Jadi ayah menonton acaranya? Aku tidak lolos kali ini, tetapi aku akan berusaha sebaik mungkin untuk audisi berikutnya," dan menutup telepon.
Cara bicara ayahku yang tidak biasa membuatku gelisah, jadi aku segera menelepon ibuku.
"Ayah meneleponku, tapi ada yang terasa aneh."
Mendengar ini, ibuku menelepon saudara perempuan ayahku, yaitu bibiku. Bibiku dengan nada meminta maaf mengatakan bahwa setelah ayahku bercerai dengan ibuku, ia menjadi depresi karena utang. Ia selalu menarik diri dari pergaulan, tetapi ia menantikan untuk menonton "Shuukan EXILE", dan tampaknya ia membual kepada beberapa kenalannya, "Ini adalah anakku."
Meskipun telah berpisah, aku menyadari bahwa orang tua masih memikirkan anak-anak mereka. Meskipun mereka tidak mengatakannya secara terang-terangan, aku bisa merasakan kasih sayang orang tua, dan itu adalah perasaan yang luar biasa. Telepon dari ayahku membantuku sedikit pulih dari kekecewaan setelah audisi.
Aku mulai berpikir, "Mungkin aku harus berusaha lebih keras."
Saat itu tanggal 8 November, ketika musim gugur benar-benar tiba. Tepat setelah aku menyelesaikan pekerjaan paruh waktuku di siang hari dan hendak pergi ke EXPG, aku menerima telepon di ponselku dari bibiku—saudara perempuan ayahku—. Aku memiliki firasat buruk.
"Halo, Ryuto?"
Suara bibiku bergetar.
"Ya? Tidak biasanya bibi menelepon, ada apa?"
"Dengarkan baik-baik. Ayahmu meninggal hari ini."
"Apa?"
"Ayahmu sudah meninggal."
Awalnya, aku tidak begitu mengerti apa yang dikatakan bibiku.
"Dia sangat menyesal telah menyebabkan banyak masalah. Kurasa dia tidak bisa mengendalikan diri lagi karena dia mengalami depresi......"
Setelah mengatakan itu, bibiku menangis tersedu-sedu, "Huwaaa!" bibi terus mengatakan, "Maaf, maaf," berulang-ulang sambil terus menangis.
Aku hanya bingung. Kupikir amarah akan meluap dalam diriku, tapi ternyata tidak. Aku bertanya-tanya apa yang harus kulakukan terhadap ibu dan adikku. Apa yang harus kukatakan pada mereka. Perasaan "sedih" itu tidak muncul.
"Apa yang harus kulakukan dengan lesku?"
Meskipun ayahku telah meninggal, tidak ada yang bisa kulakukan. Aku tidak ingin mengikuti les, tetapi jika aku tinggal di rumah, aku hanya akan memikirkan kematian ayahku, dan aku mungkin akan terjebak dalam lubang gelap dan mengalami gangguan mental. Bagaimanapun, lebih baik menjalani hariku seperti biasa. Sambil berpikir begitu, aku mencoba pergi ke tempat les, tetapi tubuhku terasa sangat berat. Pikiran dan tubuhku telah tenggelam ke dasar rawa yang dalam, dan ketika aku mencoba merangkak keluar, rasanya seperti banyak lumpur menempel di tubuhku, mencegahku untuk bergerak maju.
Ini adalah pertama kalinya bergerak maju terasa begitu menyakitkan. Tidak peduli seberapa banyak pikiranku mengirimkan sinyal untuk "bergerak maju", tubuhku tidak mau mendengarkan. Jarak yang biasanya hanya membutuhkan waktu lima menit untuk berjalan kaki, menjadi sekitar tiga kali lebih lama, dan aku berkali-kali harus berhenti untuk istirahat.
Akhirnya aku sampai di EXPG dan mengikuti pelajaran seperti biasa...... kurasa. Aku tidak ingat apa pun kecuali perjalanan yang panik dari rumahku.
Setelah pelajaran selesai, aku berjalan pulang, beristirahat di beberapa tempat sepanjang jalan. Ketika aku sampai di Stasiun Osaka setelah berganti jalur kereta bawah tanah, semuanya tiba-tiba menjadi gelap, dan lututku terasa lemas. Dengan menyeret tubuhku yang berat, aku dengan putus asa menuju tembok dan berjongkok di sana untuk sementara waktu.
Apa gunanya terus maju? Empat tahun lalu, ayahku mencoba bunuh diri karena tidak mampu membayar utangnya. Tapi, tepat ketika kupikir ia sudah berhenti, ia malah menceraikan ibuku. Bagaimana aku bisa menjalani kehidupan yang layak setelah melihat hidupnya yang begitu berantakan? Siapa dia sebenarnya sampai berani mengatakan padaku, "Kamu satu-satunya laki-laki, jadi tolong jaga semuanya."
Segala macam kebencian dan kepahitan terhadap ayahku berkecamuk di pikiranku. Seluruh tubuhku diliputi emosi negatif, dan aku merasa tak mampu melangkah lagi.
Sudah berapa lama aku berjongkok? Kerumunan di Stasiun Osaka sudah berkurang dibanding sebelumnya.
"Aku harus pulang apa pun yang terjadi."
Hanya berdiri saja sudah membuatku pusing. Aku akhirnya menelepon ibuku dan menceritakan semuanya, "Aku tidak bisa berjalan lagi." Aku berjongkok lagi di tempat yang sama, hanya menunggu waktu berlalu. Ketika aku merasakan dingin dan mulai menggigil, aku mendongak dan di sana sudah ada ibuku. Matanya merah padam, seolah-olah beliau telah menangis, tetapi ketika beliau melihatku, beliau tersenyum seperti biasanya.
Dengan bantuan ibuku, aku berhasil naik kereta dan entah bagaimana sampai di rumah. Aku tidak ingin melakukan apa pun, jadi aku langsung berbaring di tempat tidur di kamarku dan terus memikirkan ayahku. Aku tidak bisa tidur.
Kemudian, menjelang subuh, adikku membuka pintu kamarku dan berkata, "Kakak..." sambil menangis.
Aku sedang berbaring di tempat tidur, tidak bisa menggerakkan otot sedikit pun, tetapi aku berhasil bangun dan membalas, "Ada apa?"
"Aku mengalami kelumpuhan tidur. Itu sangat menakutkan. Tolong izinkan aku tidur bersamamu."
Benar sekali. Aku bukan satu-satunya yang menderita. Ibu bahkan sudah berusaha keras untuk menjemputku tadi. Mungkin beliau juga mengalami malam-malam tanpa tidur seperti kami, tetapi beliau mungkin tetap akan pergi bekerja hari ini seolah tidak terjadi apa-apa. Ayah sangat menyayangi adikku. Kurasa adikku juga menyayangi ayah. Itulah mengapa dia pasti terkejut ketika mereka bercerai, dan jelas bahwa dia lebih terluka daripada aku karena apa yang terjadi kali ini.
Aku putus asa dengan hidup, tetapi aku masih merasakan kemarahan dan kebencian terhadap ayahku. Bagi seseorang yang keras kepala sepertiku, itu mungkin bisa menjadi energi untuk terus hidup. Tetapi Ibu dan adikku putus asa setelah dikhianati oleh orang yang mereka cintai. Tidak apa-apa jika hatiku mengeras, tetapi jika hati adikku mengeras, siapa yang akan bertanggung jawab? Ayah, apa yang telah kau lakukan! Kau telah menghancurkan hati keluarga kita. Betapa tidak bertanggung jawabnya dirimu!
Pada saat itu, kata-kata dari surat yang kuterima empat tahun lalu kembali terlintas di benakku, "Kamu satu-satunya laki-laki, jadi kamu harus menafkahi semuanya." Ya, aku harus melindungi mereka.
Dua hari kemudian, pemakaman ayahku diadakan di sebuah aula pemakaman kecil. Aku hadir bersama pamanku, adik laki-laki ibuku. Itu adalah pemakaman yang sepi dengan hampir tidak ada yang hadir. Wajah ayahku, yang terlihat melalui jendela peti mati, begitu kurus sehingga ia tampak seperti orang yang berbeda. Setidaknya ibuku tidak harus melihat wajah itu. "Semuanya sudah berakhir sekarang."
Melihat wajah ayahku yang berubah drastis, aku berpikir hidupku sendiri juga telah berakhir. Aku tidak akan pernah bisa lagi tertawa lepas. Kehidupan sehari-hari yang damai tidak akan pernah datang lagi. Tapi setidaknya, aku bisa menghabiskan waktu bersama ibu dan nenekku. Aku akan melindungi nyawa adikku dengan segala cara. Aku akan melindunginya dengan tetap hidup.
Aku memutuskan untuk istirahat sejenak dari les. Ketika aku merenungkan mengapa aku begitu menderita setelah kematian ayahku, aku menyadari bahwa salah satu alasannya adalah karena aku bermimpi menjadi seorang penyanyi. Berharap, bekerja keras, dan kemudian kecewa. Jika itu yang membawa orang ke ambang keputusasaan, maka seharusnya aku tidak memiliki harapan sejak awal. Jika aku tidak pernah berpikir untuk menjadi seorang penyanyi, aku tidak akan terluka. Meskipun begitu, aku tidak bisa memaksa diriku untuk berhenti dari EXPG.
Sejak saat itu, aku menghabiskan hari-hariku dalam kesunyian.
Dulu, aku selalu menyalakan boombox begitu bangun tidur. Entah itu kaset, CD, atau radio, tidak pernah ada waktu tanpa musik yang diputar di rumah. Aku juga sudah benar-benar berhenti berlatih menggunakan remote control sebagai mikrofon. Aku tidak mengharapkan apa pun lagi. Bukan dari orang lain, bukan dari musik.
Beberapa minggu berlalu sejak kematian ayahku, dan sedikit demi sedikit, hari-hari yang damai kembali. Suatu hari, ibuku libur kerja, dan aku masih punya waktu sebelum berangkat kerja paruh waktu. Dalam keheningan, ibuku membuatkanku cokelat panas. Saat aku menyesapnya dalam kesunyian, tiba-tiba beliau berbicara.
"Hmm.. ibu tidak suka kalau rumah terasa sepi, jadi ibu ingin mendengarmu bernyanyi lagi. Bernyanyilah seperti biasanya."
Ibuku ingin mendengarku bernyanyi. Bukan nyanyian orang lain, tapi nyanyianku sendiri.
Mengapa aku begitu keras kepala? Apa yang ingin kuhindari dengan menutup pintu rumah dari musik? Jika ada satu orang saja yang ingin mendengarku bernyanyi, maka aku harus bernyanyi. Jika bernyanyi bisa memberikan kenyamanan kepada seseorang, mengapa tidak?
Aku merasakan hatiku yang keras perlahan melunak.
"Ah, ya.. itu benar. Aku sama sekali belum bernyanyi akhir-akhir ini. Mungkin aku harus bernyanyi sesekali."
Aku berpura-pura tenang dan memasukkan CD ke dalam boombox. Saat intro dimulai, aku menggenggam erat remote TV yang kugunakan sebagai mikrofon di tangan kananku. Perasaan larut dalam musik ini terasa nostalgia. Saat aku mulai bernyanyi, hatiku secara alami menjadi ringan. Ibuku mengeluarkan bendera dari suatu tempat, jenis bendera yang biasa dikibarkan di konser EXILE, dan mengibarkannya dari sisi ke sisi mengikuti irama nyanyianku, seperti di pertunjukan langsung. Aku melihat air mata perlahan menggenang di mata ibuku, yang tadinya berseri-seri dengan senyum lebar. Melihat itu, air mata pun mulai menggenang dari mataku. Itu adalah air panas dan asin yang sama yang aku tumpahkan ketika aku lolos babak pertama VOCAL BATTLE AUDITION 2.
Saat aku bernyanyi, aku merasa pulih. Sejak ayahku meninggal, aku hidup dengan hati yang tertekan, tetapi dengan bernyanyi, dengan orang-orang mendengarkan nyanyianku, membuatku merasa benar-benar hidup untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu.
Aku ingin membuat orang lain merasakan hal yang sama. Bagiku, bernyanyi mungkin adalah arti hidup. Mungkin aku tetap hidup karena bernyanyi. Dan mungkin ada lagu-lagu yang hanya aku yang bisa menyanyikannya. Jika demikian, maka aku akan kembali serius menekuni dunia bernyanyi. Aku ingin sebanyak mungkin orang mendengar lagu-laguku.
Aku kembali ke EXPG. Aku mengikuti sebanyak mungkin pelajaran, dari kelas paling awal hingga kelas paling akhir. Setahun yang lalu juga merupakan saat dalam hidupku ketika aku bertekad untuk memberikan segalanya. Namun, kali ini aku lebih bertekad dari sebelumnya untuk meningkatkan kemampuan menyanyi dan menariku. Melihat ini, Yamada-san hampir setiap hari berkata, "Kemarilah sebentar," dan selalu mengkritik pakaian serta sikapku.
"Aku sudah bekerja keras, dan anda masih saja mengkritikku?"
Entah bagaimana, aku terkesan dengan kegigihan dan semangatnya.
Pada bulan Februari 2011, beberapa orang dari LDH datang ke EXPG di Osaka dari Tokyo. Seorang instruktur memberitahuku, "Mereka ingin melakukan wawancara singkat," dan ketika aku memasuki ruangan, setelah sedikit berbincang, salah satu dari mereka memberikan saran ini:
"Belum ada keputusan resmi, tetapi kami sedang mengerjakan project untuk membentuk grup muda di Tokyo, dan kami berencana untuk mengadakan audisi di Tokyo dalam beberapa bulan ke depan. Kazuhara-kun, apakah kamu tertarik untuk datang ke Tokyo?"
Sepertinya aku telah direkomedasikan. Rupanya, Koyama-san, Yamada-san, dan yang lainnya dari sekolah Osaka telah melihat kerja kerasku baru-baru ini dan merekomendasikanku.
Tanpa ragu, aku menjawab,
"Aku akan pergi."
⬛ PINDAH KE TOKYO
Tokyo yang kulihat selalu memesona dan berkilauan.
Audisi itu akan berlangsung selama beberapa bulan, jadi aku tidak punya banyak uang, tetapi aku sedang mempersiapkan diri untuk pindah ke Tokyo. Saat itu, tempat pertama yang terlintas di pikiranku ketika memikirkan Tokyo bukanlah Shibuya atau Harajuku, melainkan Nakameguro, tempat kantor pusat LDH berada, tempat yang telah kukunjungi berkali-kali selama VOCAL BATTLE AUDITION 2 (VBA 2). Kupikir akan lebih baik tinggal di dekat Nakameguro, jadi aku memutuskan untuk mencari apartemen di Yutenji, satu stasiun jauhnya di Jalur Tokyu Toyoko. Ketika aku mengunjungi Yutenji sebelumnya, suasana jalan perbelanjaan di sekitar stasiun, dan perpaduan antara penduduk lama dan anak muda yang datang dari daerah lain, mengingatkanku pada Amagasaki. Meskipun hanya satu stasiun jauhnya dari Nakameguro yang modis, tempat itu terasa membangkitkan rasa nostalgia bagiku.
Aku mencari di internet secara ekstensif menggunakan kata kunci seperti "Yutenji, dengan kamar mandi, murah," dan akhirnya menemukan sebuah properti dengan "Kamar bergaya Barat, 5,5 tikar tatami, 46.000 yen". Aku memutuskan untuk menandatangani kontrak tanpa melihatnya terlebih dahulu.
Hari kepindahanku dijadwalkan pada tanggal 14 Maret. Aku sudah mengumpulkan semua barang-barang yang kubutuhkan di rumah orang tuaku, termasuk pakaian, perlengkapan tidur, dan peralatan seperti kulkas, dan aku telah merencanakan jadwal pengambilan dan pengiriman dengan sempurna. Ibuku bahkan mengambil cuti kerja untuk datang ke Tokyo bersamaku. Aku tidak merasa kesepian atau cemas tinggal sendirian untuk pertama kalinya, tetapi tidak seperti saat VBA2, di mana aku memiliki jaring pengaman mental berupa "jika tidak berhasil, aku akan tetap melakukannya," kali ini aku benar-benar tidak memiliki apa pun.
Meskipun begitu, aku dipenuhi tekad bahwa aku tidak punya pilihan selain melakukannya.
Saat itu Jumat sore, dan aku sibuk mempersiapkan perjalananku ke Tokyo. Terjadi beberapa gempa kecil, jadi aku menyalakan TV untuk melihat di mana pusat gempa berada. Tampaknya telah terjadi gempa besar di Tohoku. Ketika aku melihat tayangan stasiun TV Tokyo, situasinya kacau, dan aku tidak bisa mengalihkan pandanganku, berpikir, "Ini serius."
"Sesuatu yang mengerikan sedang terjadi."
Aku langsung ketakutan. Apakah ini benar-benar terjadi? Saat malam tiba, liputan TV sepenuhnya terfokus pada laporan gempa bumi. Tampaknya Tokyo sedang panik. Layanan Tokaido Shinkansen ke Tokyo dihentikan. Aku merasa bahwa tujuan impian yang sangat ingin kukunjungi telah hancur total oleh kekuatan yang tidak dikenal.
"Apakah aku bisa pergi ke Tokyo dengan situasi seperti ini?"
Layanan Tokaido Shinkansen kembali beroperasi pada tanggal 12. Ketika aku menghubungi perusahaan pengiriman, mereka berjanji untuk mengirimkannya secepat mungkin dengan tarif yang telah disepakati, meskipun mereka tidak dapat mengirimkannya sesuai jadwal. Aku sebenarnya tidak tahu bagaimana situasi di Tokyo, tetapi aku tidak ada pilihan lain selain pergi.
Tiga hari setelah gempa, pada hari Senin, aku naik shinkansen bersama ibuku. Kami berganti ke Jalur Yamanote di Shinagawa, lalu berganti lagi ke kereta bawah tanah di Ebisu, dan akhirnya tiba di Stasiun Yutenji di Jalur Toyoko dari Nakameguro. Tidak ada yang berubah drastis, tetapi jalan-jalan di Tokyo setelah gempa tampak jauh lebih sepi daripada Tokyo yang kukenal.
Apartemen yang aku sewa berada di sebuah bangunan kecil dan tua dari beton bertulang. Tidak ada tempat parkir sepeda, dan tidak banyak mendapat sinar matahari, tetapi karena aku hanya kembali ke sana untuk tidur, aku tidak terlalu keberatan. Namun, kamar itu akan bergetar setiap kali sebuah truk lewat di jalan utama terdekat.
Paket dari Osaka tidak tiba hari itu. Karena ibuku masih di sana, aku memutuskan untuk setidaknya membeli kebutuhan pokok, jadi aku pergi ke Don Quijote di Nakameguro, tempat yang sudah kukenal. Meskipun air minum sudah habis terjual, tetapi Don Quijote masih cukup ramai. Ada deretan sepeda di etalase toko, dan karena aku memutuskan untuk bersepeda dari rumah ke kantor LDH, aku memutuskan untuk membeli sepeda gunung yang tampak bagus di antara sepeda kota yang harganya di bawah 10.000 yen. Harganya hampir sama dengan tiga atau empat sepeda kota.
"Kenapa kamu beli sepeda semahal itu padahal tidak punya banyak uang......?"
Ibuku bertanya dengan ekspresi khawatir, jadi aku menjelaskan alasanku membeli sepeda gunung.
Aku sudah berkali-kali tampil di TV untuk audisi. Akan memalukan jika orang-orang berpikir, "Oh, itu Kazuhara-kun yang ikutan audisi, kok naiknya sepeda kumbang!'" Aku hanya melakukan apa yang bisa kulakukan.
Tidak ada tempat parkir sepeda, jadi aku memutuskan untuk memarkirnya di depan gedung. Kemudian, seorang wanita tua muncul dari suatu tempat dan memperingatkanku, "Jika kamu memarkirnya di situ, sepedanya akan dicuri, jadi hati-hati." Tapi tangga gedung itu sempit dan tidak ada ruang untuk meletakkan sepedaku di depan kamarku, jadi aku menjawab dengan sopan, "Baik, aku paham!"
Ibuku menyapanya, "Anakku baru pindah ke sini dari Hyogo hari ini. Ini pertama kalinya dia tinggal sendirian. Salam kenal, mohon bantuannya," lalu nenek itu tersenyum dan menunjuk ke sebuah rumah tiga pintu di sebelah, sambil berkata, "Saya tinggal di sana, jadi beri tahu saya jika kalian membutuhkan sesuatu." Aku mendapat kesan bahwa orang-orang di Tokyo itu dingin, tetapi sungguh menyenangkan ada seseorang yang mau datang dan menyapa. Yutenji memang mirip Amagasaki dalam beberapa hal.
Karena belum memiliki kulkas, microwave, atau penanak nasi, jadi aku memutuskan untuk menjadikan mitarashi dango (pangsit beras dengan saus kecap manis) yang kubeli di Don Quijote sebagai makanan utamaku untuk sementara waktu. Ibuku pulang hari itu, dan malamnya, karena aku tidak punya futon, aku menggulung beberapa pakaian yang kubawa dan menggunakannya sebagai bantal untuk tidur.
Keesokan harinya, barang-barangku tiba, dan kamarku akhirnya terasa seperti tempat tinggal. Di TV, bahkan ada lebih banyak program tentang gempa bumi daripada ketika aku berada di Osaka. Di malam hari, jalanan Tokyo menjadi gelap gulita. Masih ada beberapa hari lagi sampai audisi seharusnya dimulai. Aku bertanya-tanya apakah audisi itu benar-benar akan dimulai sesuai rencana?
Keesokan harinya, ketika aku turun ke bawah untuk berbelanja, sepeda gunungku hilang. *haaahhh nangisss bangettt šš*
Sialan, sepeda itu dicuri! Pada akhirnya, ramalan nenek itu menjadi kenyataan. Semua uang yang kuhabiskan untuk sepeda itu menjadi sia-sia, dan aku sangat depresi. Lebih buruk lagi, aku menerima telepon dari seseorang di LDH.
"Kami tidak tahu dampak apa yang akan ditimbulkan oleh bencana nuklir Fukushima terhadap kehidupan di Tokyo. Sampai pemeriksaan keamanan selesai dan ada prospek untuk melanjutkan audisi, silakan terus mengikuti les di EXPG di Osaka dan menunggu info selanjutnya," katanya.
Singkatnya, itulah intinya. Aku sudah jauh-jauh datang ke Tokyo, tapi sekarang aku akan kembali ke Kansai. Itulah yang terjadi.
⬛ KAMP PELATIHAN INTENSIF
Akhirnya aku kembali ke EXPG Osaka, sekolah yang seharusnya sudah kutinggalkan. Aku sudah jauh-jauh datang ke Tokyo, tetapi audisinya ditunda. Namun, itu tidak bisa dihindari karena bencana alam. Memikirkan orang-orang yang jauh lebih menderita, aku tahu aku tidak bisa membiarkan hal seperti ini membuatku patah semangat.
Saat aku sedang bersiap di ruang kelas yang biasanya, seorang anak laki-laki masuk dengan hati-hati. Dia menatapku dengan wajah yang seolah-olah berkata, "Apakah ini tempat yang tepat?"
Wajahnya tampak familiar.
"Ah, Komori-kun.."
Itu Hayato Komori, yang kemudian menjadi rekanku di GENERATIONS.
"Aku melihatmu di Okaxile."
Karena tahu dia lebih muda dariku, jadi aku berbicara kepadanya dengan santai.
"Ah, aku juga melihatmu di audisi." balas Hayato.
Ia sambil memasukkan tangannya ke dalam saku dan sedikit bergoyang dari sisi ke sisi. Sikapnya itu agak mengintimidasi.
Itulah yang kupikirkan. Dia tampak bertingkah seperti itu, dan dalam hati aku berpikir, "Sialan, orang ini sangat sombong. Orang-orang Tokyo memang selalu arogan."
Lalu Hayato duduk di kursi di sebelahku dan mulai mengganti sepatunya. Kemudian aku menyadari ada lubang di bagian jempol kaus kaki Hayato,
"Ada lubang di sana," kataku tiba-tiba.
"Tidak, ini tren di Tokyo, ini sudah jadi hal yang umum,"
Hayato mengatakannya dengan wajah datar. Sekarang, aku akan langsung tahu jika itu hanya kebohongan kecil yang bodoh. Tapi saat itu, aku sendiri juga masih suka pamer, jadi aku membalas dalam hati, "Itu tidak mungkin benar." Sejak kejadian itu, Hayato dicap sebagai "orang aneh" dalam pikiranku. *lucu deh š*
Audisi kamp pelatihan, yang awalnya dijadwalkan berlangsung selama liburan musim semi, akhirnya ditunda hingga Golden Week. Pada akhir April, sekitar 20 kandidat berkumpul di kantor LDH di Nakameguro. Sebagian besar adalah performers, dan kandidat vokal adalah aku, Ryota, dan Kishi-kun, yang telah tereliminasi bersamaku di VBA2 sekitar enam bulan sebelumnya. Hanya ada kami bertiga.
Setelah setiap kandidat menunjukkan kemampuan menyanyi atau menari mereka di depan para juri, 10 dari 20 kandidat tereliminasi di hari itu juga. Keesokan harinya, audisi dimulai di sebuah kamp pelatihan, dengan jadwal yang melelahkan. Di antara mereka ada Alan (Shirahama), yang saat itu sudah menjadi member Gekidan EXILE; Hayato dan Reo (Sano), keduanya berusia 15 tahun; Keita (Machida)-kun, yang sekarang menjadi aktor yang sangat populer; Mandy (Sekiguchi)-kun, yang saat itu masih mahasiswa; Isomura (Yosuke)-kun, yang dulunya bagian dari Gekidan EXILE; Yoshida Tomoya, yang sekarang mengelola talenta muda; dan aku sendiri; Ryota; Kishi-kun. Kamp pelatihan intensif dimulai dengan 10 orang.
Selama VBA 2, aku berulang kali mengatakan kepada Ryota bahwa, "Aku tidak ingin bekerja sama denganmu," tetapi saat kamp, aku merasakan ikatan tertentu dengannya. Dia adalah satu-satunya kandidat yang berasal dari Kansai bersamaku, dan kami bahkan menyanyikan lagu yang sama, "Angel", di babak pertama audisi VBA 2. Di babak kedua, aku mengenakan kemeja kotak-kotak merah, dan Ryota mengenakan kemeja kotak-kotak kuning. Dengan begitu banyak kebetulan yang terjadi, aku merasa bahwa dia seperti adik laki-laki bagiku. Ketika staf bertanya tentang pembagian kamar di kamp, "Apakah kamu memiliki preferensi tentang siapa yang ingin kamu ajak berbagi kamar?", aku menjawab, "Aku ingin berbagi kamar dengan Ryota." *uwuwuwu manis kali KazuYose š©µš*
Jika mengingat kembali, aku bertanya-tanya tentang alasanku yang bisa dengan santai mengatakan "Aku tidak ingin bekerja sama denganmu" itu karena aku punya firasat bahwa aku mungkin akan bekerja sama dengan Ryota suatu saat nanti. Dari sudut pandangnya, dia mungkin berpikir, "Mengapa orang ini yang lebih tua dariku, mengatakan hal-hal seperti itu kepadaku?" dan kepalanya penuh dengan tanda tanya.
Selama kamp pelatihan, aku sangat putus asa. Aku ingin keluar dari tahap pelatihan secepat mungkin dan melakukan debut utama. Baik Imaichi-kun maupun Tosaka-kun, yang baru delapan bulan sebelumnya mengikuti audisi bersamaku, sudah debut sebagai Sandaime J SOUL BROTHERS pada hari Minggu dan Senin, tampil di program musik dan informasi, serta mendapatkan pengakuan. Sejak itu, jarak yang signifikan telah tercipta di antara kami. Selama waktu itu, beberapa peristiwa terjadi yang semakin memicu obsesiku untuk bernyanyi, sehingga aku tidak punya pilihan lain selain menjadi seorang penyanyi.
Saat itu, Alan (Shirahama) adalah satu-satunya remaja di Gekidan EXILE. Tampaknya HIRO-san memiliki ide untuk membentuk grup dengan Alan dan para performer muda lainnya dari EXPG, bersama dengan anggota muda VBA 2 yang tersisa.
Selama kamp pelatihan, kami sibuk dengan pelajaran tari dan nyanyi dari pagi hingga malam. Yang membingungkan adalah aku satu-satunya yang diberi bobot yang sama dalam pelajaran nyanyi dan tari. Aku tidak terlalu pandai menari, jadi setelah menyelesaikan jadwal harian, aku sering meminta Alan dan Reo yang lebih muda dariku untuk mengulas pelajaran hari itu untukku. Alan sangat dapat diandalkan bahkan saat itu, dan dia menjawab pertanyaan apa pun tanpa menunjukkan rasa kesal. Reo adalah yang tercepat dalam mempelajari koreografi, dan banyak kandidat lain selain aku yang bergantung padanya. Reo memiliki bahu yang sangat bungkuk saat itu, dan aku diam-diam bertanya-tanya, "Bagaimana dia bisa membawa ransel dengan bahu yang bungkuk seperti itu?" Sekarang dia tegap dan jauh lebih berotot, tetapi saat itu aku pikir bahunya "seperti payung."
Kakiku penuh dengan lecet, dan telapak kakiku tidak sedap dipandang. Rasanya sakit, tapi aku tidak punya waktu untuk menyembuhkannya. Aku hanya membalut area yang mengelupas dan berdarah dengan plester untuk sementara waktu. Tapi betapapun sakitnya, aku tidak pernah menyerah. Aku tidak ingin mengalami perasaan hancurnya tujuan lagi, seperti yang terjadi dengan VBA 2. Aku bertekad untuk meraih kesempatan ini, dan aku bersedia melakukan apa pun yang diperlukan untuk mencapainya.
Saat kamp pelatihan hampir berakhir, kami mulai bekerja untuk memperkuat kemampuan menyanyi dan penampilan kami untuk resital yang dijadwalkan pada tanggal 14 Mei, sambil mengikuti juga pelajaran reguler di EXPG di Nakameguro. Ada segudang hal yang harus dilakukan dari pagi hingga malam, dan kami tidak punya waktu untuk beristirahat. Jika kami punya waktu luang, kami semua akan berkumpul di apartemenku di Yutenji dan tidur siang bersama. Setelah pelajaran, Alan, yang saat itu tinggal di Gakugei-daigaku, dan aku, akan mampir ke restoran gyudon dekat stasiun, dengan cepat menghabiskan pesanan kami yang biasa, yaitu gyudon biasa dengan saus ekstra, daun bawang ekstra, telur rebus setengah matang sebagai topping, dan jahe acar dalam jumlah banyak, lalu langsung tertidur begitu sampai di rumah.
Selama kamp pelatihan, aku pernah sekali pergi ke restoran donburi stamina di Dogenzaka di Shibuya bersama Keita-kun dan Mandy-kun. Keita-kun mengajakku, "Ayo makan," dan setelah selesai makan, dia berkata, "Aku seniormu, jadi aku akan mentraktirmu." Aku selalu berpikir dia orang yang baik selama kamp pelatihan, tetapi kupikir sungguh keren bagaimana dia begitu ramah, mulai dari caranya mengajakku hingga menaktrirku. Mandy-kun, yang seumuran dengan Keita-kun, bahkan tidak mengeluarkan dompetnya dan langsung menerima traktiran Keita-kun begitu saja.
"Mereka berdua lebih senior dari aku, tapi tingkat energi mereka sangat berbeda."
Itulah yang kupikirkan. Setelah kejadian itu, aku tidak lagi bisa menganggap Mandy-kun sebagai senior. Keita-kun adalah kakak laki-laki yang baik dan pintar. Mandy-kun meski lebih tua dariku, tapi aku mulai menganggapnya setara.
Aku harus kembali ke Kansai segera setelah pindah ke Tokyo, dan percobaan keduaku terasa seperti dimulai dengan sulit, tetapi begitu kamp pelatihan dimulai, aku merasa seperti berada dalam kondisi yang baik. Aku bisa mengikuti pelajaran yang sama dengan para performer yang memenangkan audisi, meskipun aku hampir tidak memiliki pengalaman menari. Itu adalah jalan pintas yang luar biasa untuk memperoleh keterampilan menari dan rasa ritme. Kakiku lelah, tetapi aku mampu menyerap banyak hal. Dalam pelajaran vokal, Kishi-kun memiliki suasana yang unik dan kekuatan ekspresif yang luar biasa. Dia memiliki suara yang emosional, seperti Yutaka Ozaki-san.
Ketika tiba saatnya bernyanyi, aku merasa tidak bisa bersaing dengan mereka. Ryota benar-benar seperti kanvas kosong, sesuatu yang belum diketahui dalam arti yang baik. Dia memiliki potensi untuk dilukis dengan warna apa pun di masa depan, bersama dengan kejujuran dan ketekunannya. Aku banyak belajar dari mereka berdua.
Saat kami mengikuti audisi, para member Sandaime J Soul Brothers terus menanjak menuju ketenaran dari hari ke hari.
"Aku ingin segera debut! Dan suatu hari nanti, aku ingin tampil di hadapan banyak penonton seperti EXILE!"
Aku merasa cemas melihat orang-orang yang pernah beraudisi denganku baru-baru ini muncul di televisi dan bekerja di dunia yang glamor, tetapi kecemasan itu juga menjadi sumber kekuatan. Dan, sekarang setelah aku dewasa, aku bisa membayangkan bahwa Imaichi-kun dan Tosaka-kun pasti telah melalui kesulitan yang hanya bisa dipahami oleh mereka. Jika itu aku, mungkin aku tidak akan mampu mengatasi perubahan hidupku yang begitu drastis sehari setelah audisi.
Berbicara tentang Tosaka-kun, dia mengizinkanku tinggal di rumahnya untuk sementara waktu selama periode dari audisi kamp pelatihan VBA 2 hingga audisi langsung final. Aku ingin mengejar ketinggalan dengan orang-orang yang mengikuti les di Tokyo, jadi aku tinggal di warnet di Shibuya dan bolak-balik ke EXPG di Nakameguro dari sana. Tujuan utamaku adalah mengikuti les dengan Imaichi-kun dan Tosaka-kun. Namun, dalam waktu kurang dari setengah bulan, uangku habis, dan aku tidak mampu lagi tinggal di warnet.
Karena benar-benar bingung, aku bertanya kepada seorang kenalan di Tokyo, "Apakah kamu tahu cara agar aku bisa tinggal gratis, meskipun hanya tidur di jalanan?". Seketika itu juga, aku mendapat balasan dari Tosaka-kun yang mengatakan sesuatu seperti, "Jangan bergerak dari sana, aku akan menjemputmu." Kemudian, aku mengetahui bahwa ternyata tim dewasa dari audisi VBA 2 sedang minum-minum di Shibuya, dan setelah melihat pesanku, Tosaka-kun meninggalkan pesta minum-minum itu hanya untuk menemuiku.
"Kamu bisa menginap di tempatku untuk sementara waktu. "
Setelah mengatakan itu, Tosaka-kun mengizinkanku tinggal di apartemennya di Futako-Tamagawa, tempat dia tinggal saat itu, dan kami naik kereta bersama ke EXPG. Selama aku tinggal bersamanya, ada satu rutinitas pagi yang tidak pernah dilewatkan Tosaka-kun, yaitu membeli sekarton susu 200ml dari minimarket setiap pagi dan meminumnya. Agak lucu, seperti anak SD, bahwa seseorang yang begitu keren, dewasa, dan bergaya selalu minum susu karton di pagi hari.
Meskipun begitu, aku bertanya-tanya apakah aku bisa bersikap sebaik itu kepada seseorang yang bahkan bukan member grup yang sama, melainkan hanya seseorang yang ikut audisi bersama.
Saat itu, Tosaka-kun sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kesal. Selain ketampanannya dan kemampuan menyanyinya, menurutku kepribadiannya adalah salah satu alasan dia kemudian menjadi bintang. Aku tidak akan pernah melupakan kebaikan yang dia tunjukkan padaku saat itu. Setiap kali aku melihat logo warnet itu, aku teringat betapa tidak dewasa dan cerobohnya aku pada saat itu.
š©µš©µš©µ
(terjemahan bahasa Indonesia bekerjasama dengan google translate, bing, dan ilmu dari penjelajahan internet)
(mohon koreksi jika ada kesalahan)



No comments:
Post a Comment