find me on:

Sunday, May 30, 2021

Cerita Singkat Kehidupan Pribadi: UCL Chelsea FC 2012 - 2021

sumber foto: Chelsea FC Official Twitter

Halo! Hari ini adalah harinya Chelsea FC! Oleh karena itu, saya akan menuliskan beberapa postingan mengenai klub tersebut di hari ini! Sebelumnya sudah ada dua butir, dan sekarang mari masuk ke butir yang ketiga, ahaha.. Kali ini saya mau bercerita singkat tentang peristiwa yang dialami di kehidupan pribadi saya saat Chelsea FC menjuarai Liga Champions pada tahun 2012. Lalu perjalanan berikutnya hingga klub ini berhasil meraih kemenangannya lagi di tahun 2021!

Bulan Mei pada Tahun 2012, di saat Chelsea memenangkan piala ini untuk yang pertama kalinya. Kala itu usia saya masih belasan, tepatnya bisa disebut dengan sweet seventeen. Berada di bangku akhir SMA, sebagai siswi yang tengah menunggu kelulusannya beberapa hari lagi. Ketika waktu tersebut tiba, saya baru menggemari Chelsea selama satu tahun. Berkat Fernando Torres, si pemain berkebangsaan Spanyol yang melabuhkan tujuannya pada klub dengan ciri khas berwarna biru tua ini. Karena dia bermain di Chelsea FC, maka saya pun mulai mengikuti klubnya. Lalu semakin lama, saya bisa menyatu dengan keseluruhan yang menyangkut klub ini, dan saya benar-benar bisa mencintai Chelsea FC dengan sepenuh hati tanpa embel-embel ada pemain favorit.

Kala itu, di kompetisi UCL, saya belum pernah menontonnya satu kali pun. Karena jam penayangan yang tidak cocok dengan jadwal tidur normal, maka dengan berat hati saya selalu melewatkannya. Menyaksikan hasil pertandingan hanya dari berita olahraga di televisi pada pagi hari sebelum berangkat sekolah, utamanya untuk mengetahui kabar dari sang klub favorit. Selain itu, berita yang tertulis di twitter pun semakin membantu keingintahuan saya. Jangan salah, pada zaman tersebut, saya sudah memiliki akun media sosial twitter dan lumayan aktif juga dalam menjalankannya loh. Akun-akun yang saya ikuti, rata-rata berhubungan dengan Chelsea FC! Hehehe.

Sampai partai final segera digelar, akhirnya Chelsea FC menjadi salahsatu finalisnya! Keinginan saya untuk menonton pertandingan puncak ini semakin memuncak. Dengan alasan yang dikemukakan bahwa saya telah bebas dari semua urusan sekolah dan tidak ada kepentingan yang mendesak lagi, maka untuk yang pertama kalinya saya mendapat izin dari orangtua untuk bisa begadang! Walau di hari libur, tapi beliau tetap tegas dalam mengatur jam tidur anak-anaknya. Alhamdulillah, saya pun bisa menyaksikan pertandingan Chelsea FC sekaligus kali pertama menonton pergelaran UCL!

Tidak mudah, di sepanjang menonton sendirian, kantuk selalu menyerang. Namun permainan yang disajikan dari menit ke menitnya semakin menarik hingga membuat saya lebih memfokuskan pandangan pada layar televisi sampai berkali-kali susah payah menahan teriakan saking gemasnya melihat pertandingan tersebut. Jam dinihari sangat tidak wajar untuk mengeluarkan suara yang bising, jadi sekuat tenaga saya menyembunyikan hal itu. Sampai match telah berakhir sepenuhnya dengan ketegangan luar biasa di adu penalti, maka kemenangan berhasil diraih oleh klub ini! Betapa senangnya! Bahagia! Excited! Mengelilingi perasaan hati. Dan untuk saat ke depannya, ketika saya mulai menjadi mahasiswa baru, akhirnya saya mendapat izin penuh untuk dapat begadang agar bisa menonton pertandingan sepakbola terutama Chelsea FC di jam-jam yang larut.

Waktu ke waktu, saya terus menanti agar klub kebanggaan ini mengulang momen istimewa tersebut. Namun belum juga terwujud sampai menghabiskan waktu bertahun-tahun. Kesedihan, kepedihan, keterpurukan, dirasa pula di sepanjang perjalanan itu saat Chelsea FC menelan kekalahan hingga harus tersingkir di babak yang masih terbilang permulaan.

Masa Perkuliahan telah selesai ditempuh, lalu lanjut ke masa-masa saya menjadi pengangguran hingga mendapat pekerjaan sampai sekarang. Masih, saya terus menanti agar klub ini dapat bermain di Liga Champions bahkan meraih juara lagi meski kesulitan semakin terasa. Terseok-seok di Liga Primer dan tumbang juga di kompetisi-kompetisi liga kejuaraan resmi.

Kemudian, tahun 2021 tiba, secercah harapan itu mulai tumbuh kembali. Chelsea FC mulai mendapat kepercayaan diri lagi dalam permainannya. Ditambah pemain-pemain muda yang mendominasi skuad serta dipimpin oleh pelatih yang cukup mudah bisa beradaptasi dengan para tim. UCL tahun ini membawa Chelsea FC sampai ke finalnya, dan mengantarkan klub tersebut untuk jadi pemenang! Saya tetap senantiasa menyaksikannya dari depan layar televisi di ruangan yang sama seperti 9 tahun silam. Mengenakan jersey Si Biru juga meski desainnya yang berbeda. Di usia 26 tahun sekarang ini, rasa excited yang dahulu membuncah, tetap didapatkan kembali. Malah semakin menggila! Rasa bahagia yang sulit diungkap dengan tulisan, karena hati lah yang menjadi sumber itu berasal. Yang jelas, saya tidak akan pernah menyesal karena mengalami peristiwa-peristiwa ini di sepanjang kehidupan dalam kurun waktu tersebut. Bahkan untuk di masa depan pun, saya akan bersedia untuk melewatinya lagi!

Karena saya, mencintai Chelsea FC ❤

Juara Liga Champions Chelsea FC 2020/2021 Berdasarkan Cocokologi. Percayakah?

Cocokologi, bisa saya definisikan sebagai ilmu buatan ala-ala masyarakat Indonesia untuk menyama-nyamakan suatu hal dengan hal lainnya. Istilah ini pertama kalinya dikenalkan oleh sebuah program televisi Indonesia yang pernah meraih kejayaan di masa tayangnya. Lalu semakin menyebar hingga tidak asing lagi terdengar di telinga setiap warga dari negara dengan warna bendera Merah Putih ini. Lalu cocokologi seperti apa yang akan saya tuliskan di sini? Tak lain dan tak bukan adalah tentang satu-satunya klub sepakbola luar negeri kesukaan saya! Yang mana klub tersebut baru saja menjuarai Liga Champions musim 2020/2021 pada beberapa jam lalu. Dan klub itu bernama, Chelsea FC!

Kemenangan dari klub tersebut tak surut dari anggapan cocokologi oleh orang-orang. Karena jauh sebelum partai final dari Liga Champions musim 2020/2021 ini digelar, sudah menyebar kesamaan yang terjadi antara peristiwa di masa lampau dan masa kini, meski belum pasti secara akurat. Apa yang dialami di tahun 2012 oleh klub ini dan beberapa klub lain saat Chelsea berhasil memenangkan Juara Liga Champions untuk yang pertama kalinya, kini terulang lagi pada tahun 2021. Membuat dugaan jika klub dengan julukan The Blues ini mungkin saja akan mengulang sejarah itu pada musim yang sekarang tengah dijalani. Namun meski digadang-gadang demikian, banyak juga pihak yang hanya menganggap ini sebagai kebetulan semata atau bahkan lelucon untuk hiburan saja. Selama pertandingan belum dimulai, apa saja dapat terjadi tanpa terkira. Hingga tiba pada akhirnya, Chelsea FC benar-benar terbukti meraih kemenangan UEFA Liga Champions untuk yang kedua kalinya di tahun 2021!!

Bagi saya, yang merupakan salahsatu penggemar Chelsea FC, justru cocokologi tersebut bisa dijadikan sebagai motivasi sekaligus kepercayaan diri agar klub favorit dapat mencapai asa itu. Apakah saya percaya? Ya, tapi tidak mutlak. Karena seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, apa saja bisa terjadi dalam olahraga ini. Hanya terus menjaga keoptimisan dan doa agar itu benar-benar terwujud. Apakah saya setuju? Ya, sebagai penggemar, saya menginginkan hal tersebut menjadi nyata. Tapi saat itu dapat berbanding lurus dengan realita, itu terjadi bukan karena sebuah kebetulan, apalagi keberuntungan. Karena tetap, diperlukan kerja keras dari pemain, staf serta seluruh bagian di dalam klub Chelsea FC. Mereka harus berlatih, meluncurkan taktik permainan, menjaga kondisi tubuh dan berjuang di lapangan untuk bisa menggapai titik tertinggi ini. Ditambah doa dan dukungan yang tak henti dari para penggemar, maka itu akan bersatu menghasilkan energi yang dahsyat! Dan inilah, yang paling saya percaya dalam kemenangan Chelsea FC di partai final UCL!

Angka yang cantik, bukan? 2012, lalu 2021. Hanya cukup dibalik namun kenyataannya penantian itu harus ditunggu selama 9 tahun. Melewati rasa sakit yang bertubi sampai sukses menuju ke gerbang kebahagiaan kemudian. Cocokologi hanyalah akan menjadi cocok-cocokkan saja tanpa ada arti. Hal itu takkan berfungsi jika tidak diimbangi dengan usaha dari semua pihak yang terlibat. Jadi, jangan terlalu terbawa serius pada ilmu ini, dan jangan terlalu menyangkal juga pada kecocokkan yang telah dibuat!

CHELSEA FC Juara Liga Champions 2020/2021

CHELSEA FC
sumber foto: Chelsea FC Official Twitter

Kompetisi Piala UEFA Champions League musim 2020/2021 kini telah mencapai puncaknya. Pada tanggal 30 Mei 2021 dinihari Waktu Indonesia bagian Barat, Partai final ini mempertemukan dua klub raksasa Inggris, Chelsea FC dengan Manchester City. Pertandingan yang semula akan digelar di Istanbul, Turki dialihkan ke Portugal tepatnya bertempat di Stadion do Dragao, Porto. Pertandingan ini berakhir dengan hasil 0-1 untuk kemenangan Chelsea FC! Permainan yang bertempo cepat dari awal dimulainya match membuat laga ini sudah terasa panas. Banyak peluang yang datang dari kedua klub yang sukses membuat jantung penonton semakin terpacu. Hingga pada menit ke-42, Chelsea memecah kebuntuan dengan berhasil mengelabui kiper lawan lalu mencetak gol dari sepakan kaki salahsatu pemain asal Jerman, Kai Havertz! Suara riuh menggema ke seluruh bagian dari stadion ini. Meski penonton yang hadir sangat dibatasi karena pandemi ini belum berakhir, namun buncahan kesenangan tetap dapat terasa!

Di babak kedua, tim lawan masih terus menggempur pertahanan dari Chelsea FC. Ball possession lebih banyak diambil alih oleh mereka membuat tim yang berjuluk The Blues ini harus memperketat penjagaan tanpa ada celah sedikitpun. Sampai tambahan waktu sebanyak 7 menit telah habis, tak ada lagi gol yang tercipta dari kedua klub tersebut. Sehingga mengantarkan Chelsea FC untuk mutlak menjadi juara dari Liga Champions musim ini!

Membanggakan! Ini adalah trofi pertama yang diraih Chelsea FC setelah di musim lalu tak mendapat trofi apa-apa. Juga trofi satu-satunya yang diraih oleh Si Biru di musim sekarang. Tak ketinggalan, trofi pertama yang berhasil diperoleh oleh Thomas Tuchel selaku manager Chelsea sejak Januari 2021. Banyak rekor yang dipecahkan oleh beliau untuk Chelsea FC dalam kurun waktu keberadaannya di klub ini yang cukup singkat tersebut. Selain itu, Chelsea FC pun telah mematahkan banyak anggapan dari orang-orang yang lebih menjagokan lawan untuk menjadi juaranya. Namun segalanya dapat terjadi dalam olahraga ini, sekecil apapun kemungkinan, itu adalah sebuah harapan yang bisa saja terkabulkan tanpa diduga oleh siapa saja. Dan terbukti dengan kemenangan Chelsea FC pada pertandingan kali ini!

Sangat membahagiakan! Penantian selama 9 tahun dari sejak terakhir kalinya Chelsea FC menjuarai UCL, kini telah berakhir dengan penuh kepuasan! Rasa senang, bangga, lega, haru, bergetar, semua tercampur menjadi airmata yang membawa pada kebahagiaan. 2012, lalu 2021. Kami bisa kembali! Dan satu fakta lagi, seseorang yang membawa Chelsea FC untuk menjuarai UCL pertama kalinya di tahun tersebut, tengah merayakan ulang tahun di hari yang sama pula. Ini merupakan persembahan terindah juga baginya! 

Selamat untuk kemenanganmu, klub sepakbola favoritku, Chelsea FC! Jangan hanya puas dengan ini saja. Tetaplah konsisten dalam setiap permainanmu. Apalagi jika ditingkatkan agar memberi kebaikan yang tak ternilai. Kepakkan selalu sayapmu. Teruslah terbang tinggi, biru kebanggaanku! Sesuai dengan semboyan kalian, Keep The Blue Flag Flying High! Happy #BlueDay!!!

Sekali lagi, selamat untukmu, CHELSEA FC!! ❤❤❤

Kai Havertz
sumber foto: Chelsea FC Official Twitter

Saturday, May 22, 2021

Fan Fiction: Mata, Ashita (Sampai Jumpa Esok)

Title: Mata, Ashita (Sampai Jumpa Esok)
Author: Harucin
Cast: Ryuto Kazuhara (GENERATIONS from EXILE TRIBE)
Genre: Sad story (semoga beneran sedih)
Length: One shot


Aku menangkap sosokmu dalam derasnya air hujan di awal musim semi ini. Kala itu, kupikir kau seperti seekor kucing yang diterlantarkan. Pandangan kita beradu, terpancar jelas luapan kesedihan dari sepasang bola matamu. Namun bibir itu terus membisu meski bertubi pertanyaan tlah aku lempar. Hanya suara gemerincik yang kemudian mengiringi langkah kita saat kau bangkit dengan segera setelah kedatanganku. Di bawah payung ini, kudampingi dirimu yang sama sekali tak kukenali hingga kau tiba di tujuanmu. Berlalu tanpa meninggalkan sepatah kata. Justru aku yang spontan meneriaki sebaris kalimat pendek padamu.

"Mata, ashita!"

Ada kejanggalan yang kurasa sampai aku harus bisa menemuimu lagi esok hari.

***

Kubuka pintu dari sekotak alat pendingin ini. Tanpa melihat intens ke dalamnya, tanganku meraba-raba untuk meraih sebuah minuman kaleng favoritku yang sudah semestinya tersedia di sana. Namun, sentuhanku tak menemukan tujuannya. Hingga kusapu seluruh bagian dari tempat itu, hanya angin belaka yang mutlak tergenggam di telapak tangan ini.

"Loh, habis?!" tidak ada apapun yang terlihat di dalam sana saat kuputuskan untuk mengintipnya.

Aku sungguh tak menyadari. Bagaimana bisa aku kecolongan dengan hal sekecil ini? Akibat padatnya jadwal bersama grup ditambah pekerjaan pribadiku sejak dua minggu ke belakang, aku seolah melupakan kebutuhanku yang tak terlihat dengan langsung, contohnya seperti persediaan minuman ini.

Biasanya, aku rutin membeli minuman tersebut secara online dengan jumlah dua box. Ya, aku akan langsung memesannya saat ini juga. Tapi itu mustahil untuk tiba sekarang. Padahal aku sudah sangat ingin meminumnya!

Terpaksa, aku harus pergi ke minimarket terdekat untuk mendapatkannya. Membeli dua kaleng sebagai teman bersantaiku di malam ini sudah cukup. Yang penting, pencernaanku dapat terpuaskan.

Rinai hujan turun saat kulangkahkan kaki keluar dari pintu rumah. Membuatku harus berputar balik untuk mengambil payung agar dapat melindungiku dari gerombolan air tersebut. Sebenarnya, bisa saja sih aku menerobos si hujan ini, toh hanya gerimis. Tapi aku masih menyayangi diriku sendiri yang tidak bisa egois. Aku tak boleh nekat, karena jika aku sakit akibat kenakalan tersebut, maka banyak pihak yang akan dirugikan. Jadi, aku akan tetap menggunakan alat pelindung itu.

Setelah mendapatkan minumannya dari dalam minimarket yang masih terletak di wilayah kompleks rumahku, aku bergegas pulang karena sudah tak sabar untuk menikmatinya. Inginku berlari, namun itu takkan terlaksana. Saat ini, volume air yang turun dari langit telah meningkat dari sejak tadi aku pergi. Serta kecepatannya pun bertambah. Seolah rintikan itu memanggil kawan lainnya untuk ikut mengeroyok bumi.

Aku hanya sanggup berjalan dengan pelan di permukaan aspal yang telah basah tanpa celah ini. Akan jadi licin dan membahayakan jika tidak berhati-hati. Menyusuri jalanan yang sudah sepi di sekitaran jam 9 malam. Tak ada kendaraan yang tampak, pun oranglain selama aku terus berjalan. Mungkin mereka sudah beristirahat duluan dalam cuaca yang seperti ini, atau malah terjebak di tempat lain sebelum bisa sampai ke sini. Bersenandung lagu menemani perjalananku untuk menuju rumah. Biar sepiku tak harus dibisingi oleh suara riuh hujan. Karena suara emasku, jauh lebih indah daripada itu.

Tinggal lurus saja dari persimpangan ini, aku sudah bisa melihat wujud rumahku. Namun sebelum tiba, langkahku terhenti tepat di tengah-tengahnya. Terlihat bayang-bayang keberadaan sesuatu dari ekor mataku. Dari jarak sekitar 70 meter, kutangkap satu sosok yang tengah terduduk sembarang di tepi jalanan. Ia mematung meski air hujan telah membasahinya. Seolah tak memiliki kekuatan, sosok itu bagai seekor kucing tak berdaya yang telah diterlantarkan oleh pemiliknya. Tak tahu arah tujuan. Kebingungan.Lalu putus asa.

Langkahku terbuka kembali. Hanya saja kini menjauh dari arah rumah untuk mendekat pada sosok yang kutemukan. Semakin jelas aku melihatnya, dari belakang, surai kemerahan yang terkena hantaman air hujan tergerai hampir sepanjang pinggangnya. Sebagai sesama manusia, aku tergerak untuk menolongnya. Dan sebagai seorang pria, mana bisa aku tega mengacuhkan wanita dalam keadaannya yang seperti itu?

Kepalanya terangkat ketika ku telah berada di hadapnya. Menurunkan tubuh coba menyeimbangkan dengan posisi dirinya. Pandangan kami beradu, sepasang bola mata yang kulihat itu sangat jelas diluapi oleh kesedihan.

"Apa kau baik-baik saja?"

Tanya itu kubuka untuk memastikan kondisi dirinya. Tapi aku tak mendapat jawaban. Dia diam.

"Apa kau terpeleset lalu jatuh?"

Lagi, kulemparkan tanya lain padanya. Lebih tepatnya adalah sebuah dugaan mengingat jalanan yang basah akibat hujan. Kedua kali, dia tak memberi respon.

"Di mana rumahmu?"

Terus menerus aku memengangi telinganya dengan pertanyaan. Hingga menawarkan diri untuk mengantarnya sampai kediaman. Namun tetap, bibir itu membisu. Tubuhnya yang kemudian memberi reaksi. Seketika dirinya bangkit dengan perlahan lalu berpaling dari hadapanku. Berjalan tertatih seolah ada beban berat yang membelenggu alat gerak bagian bawah itu.

Aku bersedia untuk memapahnya. Membiarkan lengan wanita ini untuk bertumpu pada leherku. Tapi aku tak dapat melakukan itu dengan asal. Aku harus menerima persetujuannya dahulu. Dan untuk kesekian kali, dia tak mau membuka mulutnya. Tawaran yang kuberikan diabaikan begitu saja. Yang berujung dengan keheningan di antara kami. Hujan mulai reda, gemerincik suaranya mengiringi perjalanan kami. Hanya ini satu-satunya yang bisa kulakukan untuk membantu dia. Berbagi tempat untuk berteduh di bawah payung yang kubawa. Dia tak memberontak untuk menolaknya. Maka kuanggap bahwa dia setuju untukku mengantarnya pulang.

Dia berlalu begitu saja ketika kami telah tiba. Menembus pagar rumah, yang dalam sekejap ia tutup kembali meninggalkan aku di depannya. Tanpa sepatah kata yang terucap. Dalam pikiranku, bersarang berbagai pertanyaan mengenai dirinya. Sikapnya sungguh menimbulkan keheranan. Alih-alih aku merasa kesal, justru kejanggalan lah yang lebih menguasai perasaan.

"Mata, ashita!"

Kuteriakkan kalimat ini secara spontan seiring dengan dia yang masuk membuka pintu rumahnya. Bisikan hati mendorongku untuk menemuinya lagi esok hari. Aku masih penasaran dengan kesedihan yang dialami oleh wanita muda itu yang usianya bisa kutebak hanya berbeda sekitar dua atau tiga tahun di bawahku.

"Dia pasti butuh ketenangan untuk malam ini. Aku akan segera pergi saja."

Kembali ke rumah kesayangan setelah meluncurkan niat untuk pergi ke minimarket terdekat, yang tak disangka bisa menyita waktu sampai satu jam karena ada suatu sebab yang menjadikannya harus demikian. Menutup alat pelindung ini dan menyimpannya ke tempat semula. Lalu sebelum masuk, aku harus menyeka air hujan yang terciprat ke lengan baju panjangku ini. Keinginanku untuk mengaliri pencernaan dengan minuman favorit tersebut telah musnah. Yang ada, pikiranku hanya tertuju pada dia yang baru kutemui beberapa saat lalu.

Kurebahkan tubuh di pangkuan tempat tidur. Meregangkan otot-otot sembari terus menerka tentang apa yang telah terjadi pada wanita itu. Sorotan matanya menyimpan kepiluan yang mendalam. Meski hanya bertahan beberapa detik dari pandanganku, aku bisa meyakini bahwa dia sedang berada dalam situasi yang sangat sulit. Dan bisa berakhir pada keputusasaan.

"Andai saja kau mau mengatakan sesuatu, mungkin aku bisa membantumu untuk melewati masalah. Meski hanya sedikit.."

"Kita tak perlu saling mengenal, aku akan senantiasa mendengarkan semua keluhan yang kau rasa."

"Wanita adalah dewi bagiku. Keberadaannya harus selalu diagungkan. Siapapun kau, aku tidak akan pernah tega melihat dirimu terpuruk seperti tadi."

Pasti, aku akan datang lagi ke rumahnya besok. Aku takkan memaksa dia untuk mengatakannya. Perlahan tapi pasti. Aku memiliki cara pendekatan rahasia terhadap wanita agar dapat menciptakan komunikasi yang baik. Sebagai seorang pria yang dipercaya untuk membawakan satu program radio yang bertajuk pada pemberian solusi curahan hati para kaum dewi ini, aku percaya bahwa aku bisa menolong wanita itu.

***

Pria sejati selalu menepati ucapannya. Dan kini aku tengah melakukan itu. Di sore hari setelah menyelesaikan pekerjaan, aku mendatangi sebuah rumah yang sama dengan semalam. Beberapa kendaraan lewat dan aku berpapasan juga dengan penghuni kompleks ini yang bisa dihitung jari ketika menuju ke sana. Saling menyapa meski tak mengetahui tentang satu sama lain. Biarpun aku seorang artis, tapi aku tak pernah ingin untuk dipandang seperti itu oleh oranglain. Jika tak ada yang mengenalku, biarkan saja. Jangan paksakan mereka untuk selalu mengetahui siapa kita.

Beberapa kali aku menekan bel yang terdapat di sebelah pagar rumah tersebut. Rumah bertingkat yang cukup besar. Kini bisa kusaksikan dengan jelas berkat langit yang cerah dibanding pada malam pekat lalu. Kemungkinan penghuni di dalamnya merupakan sebuah keluarga. Wanita itu masih tinggal di rumah orangtuanya meski aku tak bisa menemukan nama keluarga yang notabene selalu terpampang di bagian muka rumah.

"Apa rumah ini sedang kosong?" tak ada siapapun yang keluar. Malah sahutan tak kudengar juga. Sepertinya saat ini tidak ada orang di dalam sana.

Aku akan kembali lagi besok.

"Mata, ashita!" gumamku sendiri menatap pintu yang semalam dimasuki oleh wanita itu.

***

Sama seperti kemarin, pekerjaanku berakhir di sore hari dan tak ada aktivitas lain setelah itu. Kuputuskan untuk segera pulang dan kembali mendatangi rumah tersebut untuk kali ketiga.

Hal yang kulakukan hampir 24 jam lalu, kini terulang lagi. Dan hasil yang kudapat pun tak ada bedanya. Penghuni di dalam rumah ini terutama wanita yang ingin kujumpai, tak menunjukkan batang hidungnya.

"Mata, ashita.." 

Empat hari berturut-turut aku mengulang hal yang sama. Dan hasil nihil lah yang tetap kudapat. Selalu kuakhiri dengan harapan agar dapat menjumpainya pada esok hari. Kecemasanku padanya belum menghilang. Kejanggalan yang kurasa masih merundung hati. Aku takkan membiarkannya untuk terus menahan kesedihan. Mata itu, aku tak salah dalam mengartikannya!

Selalu kuedarkan pandangan pada seluruh bagian dari rumah ini kala kuterus menantinya di depan pagar. Hujan pun tak menghalangi langkahku untuk menuju ke sini. Payung yang menjadi saksi pertemuan kami, menemani kesendirianku. Aku menengadah, berharap dirinya akan muncul dari balik jendela di atas sana. Tapi itu belum juga terkabul. Aku pulang tanpa membawa hasil.

Saat itu, aku pikir kau telah diterlantarkan. Dan kini, seperti aku yang malah diterlantarkan olehmu.

***

Di tengah jam rehat dari rehearsal grup, tanpa disadari aku menjauh dari lingkup anggota lain. Tenggelam dalam lamunan bayang-bayang wanita itu. Kepedihan yang kutangkap darinya kala itu, menulari jiwa yang terekspresikan pada wajahku kini. Meski aku masih tak mengetahui penyebabnya, namun batinku dapat merasakan.

"Ryuto-kun, daijoubu?" tepukan agak kencang yang terarah pada pundakku membuyarkan lamunan ini. Hayato, yang merupakan salahsatu anggota grup datang menghampiriku.

"Daijoubu." singkatku. Lalu anggota lain, Reo, datang ke arahku juga.

"Apa kau sedang memikirkan wanita?"

Hayato menimpali, "Eee? Ryuto-kun punya pacar? Atau kau sedang pendekatan dengannya?"

Benar, dan tidak benar. Itulah jawaban untuk pertanyaan dari mereka berdua.

"Ya, aku sedang memikirkan wanita. Tapi dia tidak memiliki hubungan lebih denganku. Bahkan, kami saja tak saling mengenal." terangku. Mereka membalas dengan tatapan curiga.

Karena dua orang ini akan terus berisik jika aku tak menceritakannya, maka aku beritahu saja secara singkat mengenai pertemuanku dengan wanita itu hingga membuatku terlihat uring-uringan seperti sekarang.

"Kau tulus untuk menolongnya kan?" tanya Hayato.

"Tentu saja."

"Maka lanjutkan perjuanganmu untuk bisa bertemu dengan dia!" sambungnya. Ia dan Reo menyemangatiku yang hampir hilang harapan ini. Tak kusangka juga dua bocah paling muda di grup bisa memberi motivasi yang besar padaku. Aku berjanji, aku akan kembali menemuinya sepulang latihan!

Malam ini, aku tak langsung menuju ke tempat tinggalku. Aku akan datang ke rumah itu dahulu. Dengan harapan besar agar dapat menjumpainya lagi.

Dari kejauhan, aku menyaksikan beberapa orang keluar dari dalam pagar rumah yang akan kutuju. Peluangku semakin tinggi, kini aku pasti dapat bertemu dengan dia. Atau mungkin penghuni rumah lainnya yang bisa menuntunku pada wanita itu.

Seorang pria dewasa yang bisa kuperkirakan berada pada usia yang sama dengan pamanku, keluar dari dalam pintu yang selalu menjadi arah pandangku ketika datang ke sini. Setelah dua kali menekan bel, akhirnya kutemukan salahsatu penghuni dari rumah ini.

"Selamat malam.." sapaku. Beliau membalas kata yang sama.

"Ano.. maaf jika aku mengganggu."

"Tidak apa-apa."

Pagar rumah ini menjadi pembatas di antara kami. Aku masih bertahan di posisi semula tanpa meminta untuk dipersilahkan masuk.

"Bisakah aku bertemu dengan--- etto.." kalimatku menggantung. Aku tidak tahu nama dari wanita yang akan kutemui. Lantas bagaimana bisa aku mengutarakan maksud kedatangan ini?

Aku tak memiliki jalan keluar untuk menyelesaikan ucapanku. Hanya raut kebingungan yang pasti sudah bisa beliau tangkap dari wajah ini.

"Apakah kau yang bernama Kazuhara Ryuto?" tanyanya memecah kebuntuan yang merundungku. Malah sekarang aku dibuat terkejut olehnya. Beliau tahu namaku?

Ah.. atau mungkin beliau mengenaliku karena pekerjaan yang kugeluti selama ini? Itu masuk akal juga, tapi aku takkan mengatakan langsung tentang ini padanya.

"Hai'.. Kazuhara Ryuto desu."

"Ternyata kau.. Tunggu sebentar." pria itu berbalik, melewati pintu yang sama seperti saat dirinya keluar menyambutku.

Menantinya kembali, berteman angin malam di musim semi yang entah mengapa berhembus cukup kencang dari biasanya. Menerpa kulit, seolah menusuk, menyisipkan hawa mendalam yang mengandung keresahan.

Orang yang sama kembali lagi untuk menemuiku. Tangannya terangkat, menyerahkan sesuatu padaku.

"Ini untukmu."

Kuambil perlahan benda tersebut. Sepucuk surat kini telah berpindah pada tanganku. Namun aku belum memahami maksudnya.

"Surat?"

"Ya.. dari orang yang kau cari."

Apa beliau sudah tahu siapa yang aku cari di rumah ini?

"Lalu di mana dia sekarang?"

"Jawabannya bisa kau temukan setelah membaca surat itu." pria itu menutup sepihak perbincangan kami. Dengan diakhiri kata sapaan seperti di awal, kakinya melangkah pergi meninggalkan aku yang masih terpaku belum mengerti sepenuhnya pada apa yang baru saja beliau katakan.

Dengan tergesa aku segera membuka surat itu ketika telah tiba di rumah. Tanpa berganti pakaian atau membersihkan diri, aku sudah tak sabar untuk membaca apa yang tertulis di dalamnya. Karena aku sungguh ingin tahu keberadaan wanita itu sekarang. Aku ingin bertemu dengannya. Menjumpai dia yang sudah kunanti selama satu minggu ini.

Terimakasih atas pertolonganmu saat itu, Kazuhara Ryuto-san!

"Aa! Dia mengenaliku."

Baru membaca baris pertama dari surat tersebut, aku langsung mengomentarinya. Dia menulis namaku di sana, berarti dia tahu siapa aku. Tapi mengapa hanya kau yang tahu namaku? Sedangkan aku tidak mengetahui namamu! Huh!

Aku melanjutkan lagi untuk membacanya.

Apa kau kaget karena aku bisa tahu namamu? Harusnya sih tidak, karena kau adalah orang terkenal, jadi siapapun dapat mengenalimu. :)

"Kau berlebihan! Aku tidak se-terkenal yang kau kira."

Mataku terus fokus pada rentetan kalimat-kalimat itu.

Kau adalah orang yang sangat peduli serta tulus. Sebelum kehadiranmu di malam itu, ada dua buah sepeda motor yang melintas di jalanan sana. Tapi mereka mengabaikanku meski aku yakin bahwa keberadaanku disadarinya. Lalu kau datang, memayungi tubuhku yang sudah basah kuyup karena hantaman hujan. Ini bukanlah pencitraan dirimu saja, kan? Haha. Aku percaya jika kau memang memiliki dua sifat terpuji itu.

"Tentu bukan! Demi apapun, aku takkan pernah bisa melihat wanita dalam kesusahan. Apalagi di kondisi seperti dirimu saat itu."

Tapi malah aku yang tidak tahu diri. Bukannya mengucapkan terimakasih, aku malah acuh padamu saat kau sudah mengantarku sampai ke depan rumah. Menyelonong masuk, meninggalkanmu dengan seenaknya. Gomenne..

"Tidak apa-apa."

Pandanganku beralih pada paragraf berikutnya.

Saat kau berteriak, "Mata, ashita!", aku mendengarnya dengan sangat jelas!

Yang benar? Dia mendengar suaraku? Lalu mengapa keesokan harinya dia tak menampakkan diri saat aku datang ke tempatnya?

Aku ingin menemuimu juga. Entah apa tujuanmu untuk bertemu denganku, tapi aku akan menebus kesalahanku yang semalam padamu di esok hari. Hanya saja, keinginanku itu tak pernah terwujud. Takkan pernah bisa.

"Eee.. Mengapa?"

Kemungkinan besar kau sudah melihat kesedihan dari mataku di saat pertama kita bertemu.

"Aku melihatnya dengan jelas!"

Aku telah putus asa akan hidupku. Penyakit yang sudah lama kuderita terus menggerogoti tubuh ini. Hingga mencapai titik tertingginya di malam itu yang merupakan titik terendah dalam hidupku. Dokter memvonis bahwa hidupku sudah tak lama lagi. Aku hancur. Tak tahu harus berbuat apa. Aku hanya sendirian di rumah ini. Kedua orangtuaku sudah tiada sejak lima tahun lalu. Dan tak ada seorangpun yang tahu tentang penyakitku.

Mataku terhenti sesaat di ujung kalimat itu. Aku belum mampu meneruskannya. Detak jantungku kini meningkat akibat mengetahui fakta tentang wanita yang selalu kucari-cari. Menghela napas panjang untuk menetralkan lagi kondisi hati.

"Karena itu, tidak ada seorangpun yang membukakan pintu untukku?"

Mungkin jika kita bisa bertemu di esok hari, aku akan memberanikan diri untuk menceritakannya padamu. Maafkan aku karena kelancangan ini. Aku sadar pada posisiku, dan menyadari juga bahwa kau adalah 'siapa'. Namun keyakinanku terus mengatakan jika kau takkan pernah membeda-bedakan manusia. Kau pasti akan bersedia untuk menjadi pendengarku. Seperti kau yang  telah menolongku tanpa pandang bulu.

"Aku akan melakukannya! Pasti!" air mata mulai menggenang di pelupuk mataku. Kondisi hati mulai tak beraturan. Ada sesak yang timbul dari dalam sini. Rasanya aku takut untuk meneruskan membaca surat ini, namun aku tak sepantasnya berhenti di tengah jalan.

Sayang sekali, di hari itu aku harus dilarikan ke rumah sakit ketika ditemukan pingsan di tempat kerja. Aku dirawat selama berhari-hari. Tapi keadaanku tak kunjung membaik, malah sebaliknya. Sampai akhirnya paman dari keluarga ayahku mengetahui tentang apa yang aku derita selama ini. Beliau menjadi satu-satunya orang yang menemaniku..

hingga ajal menjemput.

"HAH?!"

Jalan napasku menyempit. Kesesakkan menyeruak dalam tubuh ini. Pacuan jantung sudah tak memiliki irama yang senada. Airmataku pun tak bisa tertahan untuk tak jatuh membasahi wajah.

Aku tak mengenalnya, namun aku sangat kehilangan sosoknya. Tlah kutemukan jawaban dari tak selalu direstuinya perjumpaanku dengan dia. Tapi bukan ini yang kumau.

Mungkin jika saat itu aku bisa lebih memaksa dirinya untuk berbicara, jalan cerita kami takkan seperti ini. Takdirnya memang tak dapat dicegah, namun aku akan berada di sana, mendampinginya dan senantiasa mendengarkan kisah dirinya. Itulah yang ingin kulakukan untuknya.

Kutulis surat ini untukmu agar kita dapat benar-benar berjumpa. Kau akan melihatku, dan akupun pasti bisa melihatmu. Datanglah ke pemakaman umum di kompleks ini, dan temukan pusara milikku. Kau pasti bisa menemukannya dengan caramu! Di sana, kita akan bertemu. Dan dapat berkenalan juga karena namaku tertulis jelas pada batu nisan itu.

Aku menunggumu!

Surat ini telah sampai pada ujungnya. Masih dengan perasaanku yang tak menentu, aku akan mengambil sisi positif dari maksud yang coba dia sampaikan.

Kini, aku sudah mendapat kepastian. Penantianku akan segera berakhir. Aku bisa bertemu dengannya esok hari. Tak peduli dalam bentuk apapun, yang jelas, aku bisa berhadapan dengannya lagi. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali sesuai dengan keinginanku.

"Mata, ashita."


-TAMAT-

Saturday, May 8, 2021

HELLO! HALO! Dance by Me

Ke berapa kalinya yaak saya ikut memeriahkan tantangan menari dari GENERATIONS? Pokoknya ini terhitung sejak tahun lalu ahaha. Selama saya merasa mampu untuk melakukannya, akan saya coba terus. 😂

Untuk kali ini, tarian yang akan saya ikuti adalah tarian dari lagu terbaru GENE yang berjudul HELLO! HALO!. Untuk profil singkat mengenai lagunya, silahkan dibaca di postingan ini. Seperti biasa, tarian yang diberi nama dengan hastag#ハロハロダンス (HELLO! HALO! Dance) ini di-tempat-utamakan di aplikasi bernama TikTok. Tapi saya ingin meninggalkan jejaknya di tempat ini saja hihi.

Berikut #ハロハロダンス dari saya. Video dengan kualitas rendah namun dibuat dengan dedikasi yang tinggi. Lumayan capek melakukan ini di siang hari pas lagi puasa hahaha *sapa suruh*. Tapi tidak apa-apa, karena Cindy sayang GENE.❤


Sunday, April 25, 2021

Fan Fiction: Bola Bisbol

Title: Bola Bisbol
Author: Harucin
Cast: Mandy Sekiguchi (GENERATIONS from EXILE TRIBE)
Genre: Slice of life
Length: One shot


Hari Sabtu ini akan full diisi oleh Mandy untuk melakukan olahraga kesukaannya yaitu baseball. Bahkan jadwal kegiatannya pun sudah tersusun rapi. Sehabis sarapan pukul 9 pagi, ia akan latihan ringan memukul dan melempar bola di rumahnya sendiri. Bagian halaman belakang bisa dipakai untuk latihan tersebut meski tidak boleh berlebihan. Tampaknya Mandy akan melakukan pemanasan untuk menggerakkan tangannya agar tidak kaku saat tiba puncaknya di pertandingan sore nanti yang akan dilaksanakan mulai pukul 16.00. Ketika Mandy sedang bersiap-siap untuk menuju halaman itu, ponselnya lalu berdering. Panggilan masuk datang di pagi hari ini.

Diraihlah si benda itu yang ia simpan secara sembarang di atas sofa. Nama yang tertulis tidaklah asing, bahkan orang itu merupakan salahsatu orang yang akan ia temui nanti sore saat pertandingan. Ia termasuk ke dalam timnya juga.

"Moshi-moshi, Makidai-san. Ada apakah menelponku pagi-pagi?" Mandy mengangkat si telepon dan menyapa orang di balik sana.

"Ah, Mandy, apa kau sedang sibuk?" tanyanya. Orang itu adalah Makidai-san, senior Mandy di grup EXILE TRIBE. Sekaligus salah seorang yang akan menjadi rekan bertanding baseball nanti.

"Tidak, aku hanya baru akan latihan kecil untuk sore nanti." balas Mandy yang kini duduk di sofa tersebut.

"Ano, aku butuh bantuanmu." Makidai-san mengutarakan niatnya.

"Apa itu?"

"Tolong kau pergi ke toko olahraga membeli bola bisbol untuk persediaan nanti ya, karena aku tidak sempat." jelasnya. Harusnya, ini adalah tugas dari beliau. Tapi karena ada hal penting yang mendadak mengenai keluarganya saat ini, jadi dirinya tidak bisa pergi untuk membelinya. Lalu beliau langsung ingat pada Mandy yang memiliki pengalaman lebih banyak di olahraga ini dibanding rekan lainnya, jadi beliau lebih mempercayakan tugas ini padanya. Mandy pasti akan tahu mana jenis bola bisbol yang kualitasnya benar-benar bagus.

Setelah menjelaskan maksudnya secara detail pada Mandy, si orang keturunan Afrika ini menyetujuinya. Dan ia akan pergi ke tempat tujuan dua jam dari sekarang, karena toko langganan Mandy baru akan dibuka pukul 10 pagi. Dia harus mandi dulu agar tidak terlihat lusuh. Bagaimana pun, Mandy adalah orang terkenal yang kemungkinan besar mengundang perhatian orang-orang saat dia berada di tempat umum. Dia harus rapi dan wangi. Bukan tidak mau tampil apa adanya, tapi kalau sudah mandi kan Mandy pun akan terlihat semakin tampan. Lol.

Pergi dengan menggunakan taksi, Mandy kini telah sampai di toko tersebut. Bertemu langsung dengan pemiliknya yang selalu mengawasi dan ikut melayani pembeli juga meskipun ada pegawai lain di sana. Saling bertegur sapa karena keduanya sudah saling mengenal dalam waktu cukup lama.

"Konnichiwa, Nakagawa-san," Mandy menyapa.

"Konnichiwa Mandy-kun!" pria paruh baya berusia 55 tahun ini membalas sapaannya. Imbuhnya, "Apa kabar?"

"Aku baik-baik saja. Anda sendiri?" jawab Mandy. Saling basa-basi dahulu agar suasana jadi menyenangkan. Selain itu karena sudah cukup lama Mandy tak berkunjung ke sini, jadi beliau ingin tahu keadaannya.

"Apa yang sedang kau butuhkan?" sekarang orang itu mulai menanyakan keperluan Mandy. "Pasti berhubungan dengan baseball!" tebaknya.

Tidak salah lagi. Karena Mandy selalu membeli perlengkapan untuk olahraga tersebut di sini, jadi beliau sudah bisa menebak kebutuhannya.

"Benar sekali.. 100 untuk Nakagawa-san!" balas Mandy dibumbui dengan candaan.

Mereka tertawa lebar. Sikap Mandy yang seperti ini sudah jadi kebiasaan. Dia memang suka melemparkan candaan entah untuk siapapun. Tapi inilah yang menjadikan orang-orang akan mudah nyaman saat berinteraksi dengannya. Tanpa mengenal gender juga usia.

"Aku ingin membeli bola bisbol!" ungkap Mandy.

Pemilik toko ini lalu membawa Mandy untuk melihat-lihat barang yang diinginkannya itu.

Dikeluarkanlah satu wadah kaca yang berisi sebuah bola bisbol dari balik etalase penyimpanannya. Kemudian beliau tunjukkan pada Mandy.

"Ini bola yang paling terbaru! Baru kemarin tiba di sini." jelasnya. Ia sengaja memberikan Mandy bola yang kualitasnya nomor satu.

Mandy melihat-lihat bola tersebut. Ia cek secara teliti dan akhirnya ia memutuskan untuk membeli yang ini sebanyak dua buah.

Baru saja sang pemilik akan membungkus pembelian dari Mandy, suasana di dalam toko ini mendadak jadi mencekam. Satu orang tak diundang berpakaian serba hitam dengan masker menutupi wajahnya datang lalu tanpa hitungan detik langsung menodongkan pisau ke arah sekeliling. Saat ini di dalam toko, baru ada empat orang pembeli termasuk Mandy. Sisanya yaitu para pegawai berjumlah tiga orang ditambah dengan sang pemilik. Ujung senjata yang runcing itu tampak sangat tajam. Besi yang menjadi bahan utamanya pun terlihat menyilaukan saat terkena sorotan lampu di sini. Ia mengancam para pegawai terutama bagian kasir agar mengeluarkan semua uang lalu dikumpulkan di atas meja. Sambil matanya yang selalu siaga mengawasi sekitar dan terus menggerak-gerakkan senjata itu agar membuat orang-orang ketakutan. Tidak ada rasa gentar sedikitpun, sepertinya pencuri ini sudah pernah melakukan pencurian sebelumnya di tempat lain. Mandy harus waspada. Ia harus tetap tenang dan tidak melakukan pergerakan secara berlebihan. Semua orang di sini tak ada yang berani melawannya, terlalu bahaya. Dengan tangan kosong mereka tak mau mengambil resiko besar, termasuk Nakagawa-san yang sudah terlihat pasrah dan membiarkan pencuri itu meraup uang yang telah diletakkan sesuai perintahnya.

"Aku harus menangkapnya!" batin Mandy.

"Tapi bagaimana?" ia belum memiliki ide.

Cepatlah berpikir! Sebelum pencuri itu selesai dan keburu pergi dari sini!

"Aha! Aku tahu!" Mandy berhasil mendapatkan ide.

Ia akhirnya ingat pada barang pembeliannya. Untung saja belum dibungkus. Itu masih ada di hadapan Mandy dengan wadahnya yang terbuka. Otomatis dia bisa langsung mengambil isinya tanpa memunculkan suara dari wadah kaca itu.

Perlahan tangan Mandy meraih bola itu yang kini sudah ada di genggamannya. Saat pencuri itu masih sibuk pada pekerjaannya, dari posisi samping, Mandy akan mengeluarkan jurus lemparan bolanya! Keahlian dia sebagai pitcher sudah tidak diragukan lagi. Ia pandai untuk memperhitungkan kecepatan, kekuatan dan arah lemparan agar bisa sesuai keinginan. Dengan gerakan lambat sambil diiringi hati yang masih berdebar, dalam hitungan detik ke depan Mandy akan melempar bola bisbol ini tepat ke tangan kanan si pencuri yang tengah memegang senjata. Saat senjata itu terlepas, ia akan segera lari untuk menyergapnya.

Bersiap...

Lempar!

Brak! Tepat sasaran! Bola itu sungguh mengenai tangan dari si pencuri! Senjatanya terlepas bahkan terlempar cukup jauh. Dan pencuri itu meringis kesakitan karena tangannya terkena hantaman yang keras. Tanpa membuang waktu, Mandy langsung lari mendorong pencuri ini ke samping hingga dia ambruk. Lalu atas komandonya, dua pegawai pria ikut membantu Mandy untuk melumpuhkan si pencuri.

Selesai!

Toko ini terselamatkan dan pencuri pun sudah diamankan oleh polisi yang datang 20 menit kemudian setelah dihubungi. Semua berkat Mandy dan bola bisbolnya.

"Mandy-kun, arigatou gozaimasu!" pemilik ini berkali-kali mengucapkan terimakasih atas pertolongan Mandy. Semua pegawai juga sangat salut pada keberaniannya. Dan pembeli yang menjadi saksi pun, turut memuji sang performer sekaligus rapper dari grup musik GENERATIONS ini.

Alhasil, bola bisbol yang asalnya akan dibeli Mandy malah diberikan oleh pemiliknya secara gratis. Bahkan tiga buah, termasuk bola yang menjadi tim sukses dalam membasmi si pencuri itu.

Mandy keluar dari toko ini dengan perasaan yang sangat senang. Keberuntungan tengah menyertai dirinya sekarang.

"MandyMan benar-benar keren!!" ia memuji diri sendiri. Mengingat pada karakter dirinya saat di MV DREAMERS. Di sana, dia memang berperan jadi penjahat, tapi di dunia nyata, justru ia bertekad akan menjadi pembasmi kejahatan sesulit apapun keadaannya!

Sasuga, uumandyyyyy!!


-TAMAT-

Tuesday, April 6, 2021

GENERATIONS from EXILE TRIBE -HELLO! HALO!

Halo halo... kembali lagi saya akan berbagi lirik romaji dan terjemahan Bahasa Indonesia dari lagu terbarunya GENERATIONS! Judul lagu ini hampir mirip loh dengan kata sapaan di atas, yaitu "HELLO! HALO!". Lagu yang dijadikan sebagai lagu tema pertama untuk sebuah program Dance Academy di stasiun tv NHK bernama "E Dance Academy". Program tersebut dipandu oleh EXILE USA, EXILE TETSUYA dan salahsatu member GENERATIONS sendiri yang memiliki senyuman palinggg manis! Siapa ayo siapa? :) Dua senior dari GENE yang barusan saya sebutkan pun memiliki andil dalam produksi dan pembuatan koreografi lagu ini. Jadi mereka memang sangat berkaitan dengan lagunya. Untuk informasi lebih lanjut mengenai komentar-komentar para pihak yang terlibat di dalamnya, silahkan dibaca di sini ya ➡ LDH News HELLO! HALO!

Lagu ini cocok didengarkan oleh semua orang bahkan semua umur. Musik yang ceria dan bertempo santai bisa membuat siapa saja akan mudah untuk menikmatinya. Dan lama-lama badan pun bakal ikut bergerak karena saking enaknya. Serta lirik yang dinyanyikan dengan sepenuh hati tak pernah luput dari semangat dan motivasi yang diberikan oleh GENE untuk semua orang!

GENERATIONS, EXILE USA, EXILE TETSUYA
dan para siswa dari E Dance Academy
sumber foto: GENERATIONS official twitter

GENERATIONS from EXILE TRIBE -HELLO! HALO!

Lirik: Masato Odake
Musik: Hitoshi Harukawa, Safari Natsukawa, Dirty Orange

Burankokogi nagara harewataru sora mite itara
Sukaiburu ni pokkari to ukabu mashumaro
Me no mae kassouro aka renga no kabe koete tobe!
Chippoke na kono te de yume wo tsukamou
Jika kau melihat langit cerah sambil berada di ayunan
Celah langit biru dan marshmallow yang mengapung
Landasan pacu di depanmu terbang di atas dinding bata merah!
Raihlah impianmu dengan tangan mungil ini

Kimi no namae oshiete yo, ima kara tomodachi dayo
Ten'nenshoku no sekai ni oide
Sebutkan namamu, mulai sekarang aku adalah temanmu
Datanglah ke dunia warna-warni alami ini

Reff 1:
Halo halo odotteiru
Kyou mo minna ga odotteiru
Halo halo warai nagara
Hana no merodi ni ryoute hirogerunda.. Halo!
Halo halo menarilah
Hari ini semuanya menarilah
Halo halo sambil tertawa
Rentangkan kedua tanganmu di atas melodi bunga.. Halo!


Waku waku wo takusan atsumeru jiyukenyuu wo
Bokutachi wa mainichi yatteitai ne
100-nen (Hyaku-nen) tattatte zettai kawaranai negai ga
Kirari to kanau to shinjite iyou
Penelitian bebas untuk mengumpulkan kegembiraan
Kita ingin melakukannya setiap hari
Harapan yang tidak akan pernah berubah bahkan setelah 100 tahun
Mari percayalah bahwa itu akan menjadi kenyataan

Boku no koto oboete iru? Atarashii nakama nandayo
Yakusoku shiyou koyubi tatete
Apakah kau mengingatku? Ini adalah teman barumu
Mari berjanji, angkat jari kekingkingmu

Reff 2:
Halo halo odotteiru
Dokoka de dareka odotteiru
Halo halo utai nagara
Hana no merodi ga kaze ni notterunda.. Halo!
Halo halo menarilah
Siapa pun di mana pun menarilah
Halo halo sambil bernyanyi
Untuk melodi bunga yang sedang tertiup angin.. Halo!


Kimi ga omou yori kimi wa motto, harebare shite tsuyoi hito dayo
Fumishimeteiru daichi no you desu Halo halo ha
Boku wa kimi ga daisuki ni natta, fuwafuwa to amakute yasashii
Aetara mou ureshikunatte, Halo halo ha, halo!
Kau adalah orang yang lebih kuat dari yang kau pikirkan
Ini seperti tanah yang sedang kau injak-injak
Aku sangat mencintaimu yang lembut, manis dan baik hati
Menyenangkan jika melihatmu, Halo halo ha, halo!

Kimi no namae oshiete yo, ima kara tomodachi dayo
Ten'nenshoku no sekai ni, come, come, come on!
Sebutkan namamu, mulai sekarang aku adalah temanmu
Ke dunia warna-warni alami ini, ayo, ayo, ayo!

Reff 1:
Halo halo odotteiru
Kyou mo minna ga odotteiru
Halo halo warai nagara
Hana no merodi ni ryoute hirogerunda
Halo halo menarilah
Hari ini semuanya menarilah
Halo halo sambil tertawa
Rentangkan kedua tanganmu di atas melodi bunga

Reff 2:
Halo halo odotteiru
Dokoka de dareka odotteiru
Halo halo utai nagara
Hana no merodi ga kaze ni notterunda.. Halo!
Halo halo menarilah
Siapa pun di mana pun menarilah
Halo halo sambil bernyanyi
Untuk melodi bunga yang sedang tertiup angin.. Halo!

Hello and hello! Halo halo ha!!
Hello and hello!
Hello and hello! Halo halo ha!!
Hello and hello!


(diperbarui 1 Mei 2021)
(sumber lirik kanji: E Dance Academy)
(lirik romaji dan terjemahan B. Indonesia oleh saya sendiri)
(mohon koreksi jika ada kesalahan)


Lagu HELLO! HALO!


Saturday, April 3, 2021

Fan Fiction: Stop being a Spoiled Child, Hayato!

Title: Stop being a Spoiled Child, Hayato!
Author: Harucin
Cast: Hayato Komori (GENERATIONS from EXILE TRIBE)
Genre: Slice of life, Fan Fiction AU
Length: One shot


"Maaa! Kaos kakiku yang warna merah tua di mana? Kok gak ada?!" di hari yang masih menunjukkan pukul 7.30 pagi ini sudah terdengar teriakan dari arah sebuah ruangan yang berada di dalam rumah mewah bertingkat dengan papan nama bertuliskan "Komori" terpasang di samping tembok pagar rumahnya. Ruangan itu berada di lantai dua namun kebisingan yang ditimbulkan bisa merambat sampai ke bawah bahkan ke ruangan-ruangan lain yang ada di sekitarnya.

"Mamaaaa!! Tolong akuuu!" belum berhenti, suara itu malah semakin nyaring. Mengeluarkan bunyinya yang dijamin dapat memekikkan telinga jika didengar dalam jarak dekat.

Sosok yang dipanggil dengan sebutan Mama itu mendatangi si pemanggil. Kedua telapak tangannya telah siaga menutupi sepasang telinganya demi kedamaian jiwa serta raga. Saat beliau telah masuk ke ruangan tersebut yang merupakan kamar dari puteranya, sebuah pemandangan mengejutkan tertangkap oleh penglihatannya.

"Ya ampun, Hayato!! Apa yang sedang kamu lakukan?!" nada dengan penekanan yang tertahan keluar dari mulut wanita paruh baya itu. Beliau menjadi saksi mata dari betapa berantakannya keadaan di dalam kamar milik anaknya yang bernama Hayato ini. Benda-benda yang harusnya tersusun rapi di lemari pakaian malah berserakan di sembarang tempat. Ada yang tercecer di lantai, tergeletak di atas kasur bahkan sampai tersangkut di tepi meja belajar.

"Kaos kaki loh Ma, yang merah tua itu, kok gak ada?" balas si anak yang masih fokus merogoh isi lemari. Lebih tepatnya mengacak-acak penghuni di dalam sana.

"Mana Mama tahu! Kamu yang harusnya bertanggungjawab atas semua barang yang kamu punya!" ujar sang ibu dengan perasaan yang masih kesal akibat kelakuan anaknya.

"Ketemu! Kaos kakinya ada!" wajah yang tadi dirundung kekusutan seperti keadaan pakaian dari lemarinya kini berubah jadi sumringah. Memamerkan benda yang ia cari ke hadapan ibunya.

"Sudah ketemu kan?"

"Udah dong."

"Sekarang rapikan lagi barang-barangmu!" suruh beliau dengan tegas.

Hayato belum menjawab. Kepekaan terhadap keadaan sekitarnya baru ia dapatkan kembali. Mengedarkan pandangannya menyaksikan situasi di kamar miliknya ini yang bak kapal pecah. Tapi.. bukannya menuruti perintah sang ibu, Hayato malah mengeles seakan mengajak ibunya berkompromi.

"Biar bibi ART aja yang beresin. Gampang kan, Ma?" tanpa merasa bersalah Hayato dengan mudahnya berkata demikian.

"Bereskan sendiri, Hayato!" ibunya bersikeras meminta dia sendiri yang merapikan.

Lagi-lagi, Hayato tetap mempertahankan argumennya, "Ma, buat apa coba ada ART di sini kalau bukan buat ngerjain tugas rumah? Dan ini salahsatu tugas mereka."

Ini bukan pertama kalinya beliau menghadapi tingkah laku seenaknya dari si anak. Namun tetap saja selalu menguras tenaga ketika perdebatan ini terjadi. Membuatnya harus berkali-kali mengelus dada dan menghela napas panjang.

Hayato langsung bergegas keluar kamar di saat pembicaraan dengan ibunya belum selesai. Meraih tas gendong untuk dibawa ke kampus dari atas kasur, ia pergi meninggalkan sang ibu yang masih tak bergerak dari posisinya.

"Ya Tuhan.. kuatkan hamba dalam menghadapi anak ini." batin beliau pasrah.

Hayato kemudian menuruni tangga dengan kaos kaki merah tua yang sudah membungkus kakinya lalu menuju meja makan. Di sana telah nampak sang ayah dan adik perempuannya yang berusia 8 tahun tengah sarapan.

"Ohayou!" sapa Hayato pada mereka.

"Onii-chan berisik banget!" ia tak menerima sapaan balik, justru keluhan lah yang didapat.

Suara lain ikut menyusup. "Ada apa, Hayato? Masih pagi sudah berbuat keributan." timpal ayahnya.

"Cuma sedikit masalah, tapi udah selesai. Papa tenang aja." balas Hayato dengan santai.

"Sedikit masalah yang menyebabkan dampak besar!" tiba-tiba dari arah belakang terdengar sebaris kalimat sindiran untuk Hayato. Mama muncul untuk bergabung dengan anggota keluarga lain.

"Lebay, huh!" tanggap Hayato.

Perdebatan ini tidak akan selesai jika tak ada yang menengahi. Sang ayah coba untuk meredamkan emosi ibunya dan menyuruh duduk saja.

"Bibiii! Bibiiii! Mana kopikuuu!" kembali lagi nyaringnya pita suara Hayato mengagetkan semua yang berada di sana. Karena minuman yang rutin menjadi teman pagi harinya belum tersedia di atas meja, dia membuat gempar seketika.

Kurang dari tiga detik setelah Hayato sampai di ujung teriakannya, satu dari tiga ART telah datang menyuguhkan secangkir kopi untuk dia.

"Silahkan, Den Hayato. Kopi Arabica di hari Rabu." ucapnya. Setiap hari, jenis kopi yang disediakan untuk Hayato harus berbeda-beda sesuai dengan seleranya. Resep itu sebelumnya telah ia koordinasikan dengan ART yang bertugas di bagian dapur. Tentang cara penyeduhan, takaran dan sebagainya yang menyangkut itu telah Hayato ajarkan. Bukan ajaran yang berupa praktik sih, tapi dia lebih ke menyuruh ART tersebut untuk mengikuti apa yang dikatakan oleh dirinya dan harus paham saat itu juga. Jika terjadi kesalahan, ia akan langsung mengetahui dan meminta untuk dibuatkan ulang, sambil diselingi dengan rengekannya yang seperti anak kecil.

"Cocok! Arigatou." ucap Hayato setelah menghirup aroma dari minuman tersebut yang sudah sesuai. Bibi ART yang berumur kepala empat itu kembali ke belakang.

"Onii-chan berisik!!!" adik kecilnya mengeluh lagi.

"Tutup aja telingamu kalo Onii-chan lagi ngomong." balas Hayato. Raut cemberut tampak dari wajah adiknya.

Melihat sikap Hayato yang seperti ini, sang ayah tak bisa tinggal diam, "Hayato, Papa tidak akan membahas tentang suaramu. Tapi Papa akan membicarakan mengenai sikapmu!"

"Ada apa dengan sikapku?" jawaban cuek ia lontarkan. Sambil mengambil selembar roti lalu ia sobek dan celupkan kilat ke dalam kopi. Siap disambut oleh mulutnya.

"Harusnya kamu bisa lebih sabar menunggu bibi mengantarkan minumanmu, toh tidak akan menyita waktu lama. Jika kamu tak bisa sabar, maka pergilah ke dapur. Buat sendiri minumanmu!" beliau mengatakan dengan tegas.

Tak ada respon mencolok yang ditunjukkan Hayato. Ia masih teramat santai menikmati sarapannya. "Tapi kan itu udah tugasnya. Wajar dong kalau aku bersikap seperti itu."

"Memang benar, tapi kamu bukan anak kecil lagi. Tak pantas berbuat demikian, apalagi di depan adikmu." tegur beliau. Menghentikan aktivitas makannya.

"Hai, hai! Aku paham.." kalimat yang bukan keluar dari hati. Hanya diucapkan semata agar ayahnya segera diam. Namun upaya itu belum berhasil, ayahnya masih terus menasehati.

"Papa memenuhi semua kebutuhanmu bukan untuk membuat dirimu jadi anak manja. Justru kamu harus bisa menjadi bijak!"

Telinga Hayato mendengarkan namun fokusnya bukan pada itu. Dia masih asyik menyeruput kopi miliknya.

Lanjut sang ayah, "Ada ART di sini bukan berarti kamu menyerahkan semua beban pada mereka. Ada hal yang harus kamu lakukan sendiri tanpa melibatkan oranglain."

"Terus?" balasan singkat dari Hayato ini seakan menantang ucapan ayahnya. Sekarang giliran sang ibu yang menyabarkan ayahnya agar emosi beliau tak meledak.

"Dan lagi mobil, kamu terus merengek untuk dibelikan itu kan karena usiamu sudah 20 tahun? Papa kabulkan keinginanmu, tapi kamu tak bisa mengurusnya dengan baik."

"Maksud Papa?" Hayato menatap heran. Untuk hal ini ia tidak mengerti.

"Kamu selalu menyuruh satpam untuk membersihkan mobilmu kan? Mengapa tidak kamu lakukan sendiri? Orang sibuk bukan, kamu hanya kuliah yang jadwalnya pun belum padat. Setelah itu, kamu hanya membuang-buang waktu dengan teman-temanmu." lagi, nasehat panjang lebar diujarkan oleh ayahnya di suasana sarapan ini. Ibu terus mengamati dua pria ini sedangkan adiknya tak henti makan.

Ponsel Hayato berdering saat obrolan ini masih berlangsung. Ia membaca pesan yang baru saja masuk. Lalu merogoh tasnya mencari sesuatu.

"Aah, ketinggalan di kamar." gerutunya saat tak menemukan apa yang dia cari. Di saat yang bersamaan, lewatlah ART yang bertugas mengatur kebersihan rumah. Hayato memanggilnya,

"Bibi, tolong ambilin buku Manajemen-ku di atas meja belajar. Yang sampulnya warna cokelat." suruh Hayato. ART itu menurutinya.

Baru saja ayahnya menasehati, namun nasehat itu tak ia gubris bahkan terapkan sama sekali. Hayato masih belum mengubah sifat manja dan ketergantungannya pada oranglain.

"Astaga, anak ini.."

Orang yang disuruh telah kembali membawa pesanan Hayato. Lalu dia bertanya, "Den Hayato, apa bibi bereskan sekarang saja kamarnya?" Hayato yang sudah paham akan perkataan itu segera menyetujuinya. ART itu pun berbalik menaiki tangga lagi untuk menuju kamar anak pertama di keluarga ini.

"Ada apa dengan kamarmu?" tanya ayah.

"Aahh, gak ada apa-apa." Hayato menutupi kebenaran. Lalu buru-buru menghabiskan kopinya. Dan pamit duluan dari meja makan.

"Kalau aku jujur sama Papa, pasti aku bakal terus-terusan diceramahin! Mending pergi aja sekarang." batin Hayato. Setelah memakai sepatu yang sudah tersedia di rak dekat pintu, ia melangkahkan kakinya menuju mobil pribadi yang sudah mengkilap dan siap jalan.

Hayato pergi ke kampus pukul 8 pagi. Bertegur sapa dengan kawan-kawan yang satu kelas ataupun di jurusan berbeda. Lalu mengikuti kelas seperti biasa sampai jam mata kuliah hari ini selesai di pukul 2 siang.

Makan di kantin bersama para mahasiswa lain, saling bergurau membicarakan hal apa saja tak terkecuali tentang dosen dan keseluruhan kampus. Meski sifat manjanya terasa nyata saat berada di rumah, namun ketika di lingkungan kampus, itu tak terlalu nampak. Hanya muncul sedikit saja yang tak mengundang perhatian oranglain.

Sudah jam 5 sore, hari hampir gelap maka Hayato memutuskan untuk segera pulang. Di perjalanan, ia mampir dahulu ke minimarket untuk membeli kopi kalengan. Saat ia sudah berbelanja lalu keluar dari sana, terdapat seorang laki-laki remaja sedang berjongkok di samping mobilnya. Seperti sedang bersembunyi dari sesuatu.

"Sedang apa kau di sini?" Hayato mencurigainya.

"Ssttt.." laki-laki itu memberitahu dengan isyarat lalu tangannya melipat memohon agar Hayato diam.

Hayato mendekatinya. Memposisikan diri sama seperti orang itu. "Apa yang sedang kau lakukan?" dia berbisik.

Si remaja itu menjawab dengan bisikan juga, "Aku sedang dikejar oleh polisi keamanan yang sedang melakukan razia anak jalanan. Tapi aku bukan anak jalanan." akunya. "Tolong jangan beritahu mereka kalau aku ada di sini." sambung dia sembari terus memohon.

Hayato tak tahu apa dia harus percaya begitu saja pada orang ini atau tidak. Dia kemudian berdiri, di seberang jalan sana sudah terlihat tiga orang polisi sedang mengintai.

"Cepat masuk!" kata hatinya mengatakan untuk segera menolong si remaja. Ia menyuruhnya untuk masuk ke dalam mobil. Berbaring di jok tengah agar tak ketahuan.

Polisi itu menghampiri Hayato, menanyakan seseorang dengan ciri-ciri yang persis seperti orang yang berada di dalam mobil miliknya.

"Ohh, anak itu.. Tadi dia lari ke arah sana." Hayato menunjuk sembarang arah untuk meyakinkan polisi. Ketiganya pun segera melangkah ke sana.

Setelah mereka lumayan jauh, Hayato secepatnya masuk dan melajukan mobil.

"Sudah aman, kau bisa duduk sekarang." ucapnya.

Anak itu berganti posisi. Duduk menyempil tepat di belakang Hayato yang sedang mengemudi.

"Arigatou gozaimasu, Onii-san. Aku sangat takut kalau sampai dibawa ke kantor polisi." ungkapnya dengan wajah cemas.

"Memangnya apa yang sedang kau lakukan sampai bisa dituduh sebagai anak jalanan?"

Dia lalu bercerita. Keberadaannya yang tengah sendirian di jalanan ramai itu karena dia habis berjualan koran. Lalu tak sengaja bertemu dengan sekumpulan anak jalanan yang sedang berkerumun. Karena ingin tahu, dia pun mendekatinya. Tak lama, sirine kendaraan dinas kepolisian terdengar semakin kencang. Petugas yang berada di dalamnya cepat turun lalu memburu kerumunan tersebut. Ia yang tak tahu apa-apa malah ikut terjerat. Panik dan terus melarikan diri hingga melihat mobil Hayato yang dikiranya akan cukup aman untuk tempat dia berlindung sementara.

"Jadi seperti itu.." kini Hayato tahu penyebabnya. "Apa kau tidak sekolah, Kai-kun?" tanyanya pada anak itu yang  sudah memperkenalkan diri.

Dia menggeleng. "Aku sudah tidak sekolah sejak lulus SD. Lalu aku bekerja apa saja untuk memenuhi kebutuhan keluarga sampai sekarang umurku 14 tahun."

"Lalu, bagaimana dengan orangtuamu?"

"Otou-san sudah lama meninggal, hanya ada Okaa-san dan adik perempuanku yang masih berumur 8 tahun. Untung saja dia bisa bersekolah."

"Usianya sama kayak adikku!"

Setelah mengetahui sedikit tentang kondisi keluarga remaja itu, Hayato tak berniat untuk menanyai lebih dalam. Karena dia pun bingung bagaimana harus memberi tanggapan. Hanya rasa kasihan saja yang kini terpikirkan olehnya atas kisah hidup yang baru saja ia simak.

"Oh ya, di mana rumahmu? Aku akan mengantar kau sampai ke sana." Hayato yang sedang menyetir dalam kecepatan lambat dengan arah tujuan yang belum jelas ini menawarkan diri. 
Mendapat perlakuan yang baik dari Hayato, ia pun merasa terbantu lagi. "Terimakasih Onii-san, kau menolongku lagi. Kau sangat baik!" dia tersenyum lebar. Lalu memberitahu jalan ke arah tempat tinggalnya.

"Baru kali ini aku berbuat kebaikan secara berturut-turut, hihi." batin Hayato mengulum senyum.

Belum tiba di tujuan, laju mobil Hayato malah semakin melambat. Lalu menepi dan sepenuhnya berhenti. Ada yang tidak beres dengan kendaraan ini. Dia harus turun untuk mengecek kondisinya.

"Arghh kussso!!" kesalnya menendang ban mobil yang terletak di bagian kiri depan. Ban itu kempes sehingga membuat mobil ini tak bisa berjalan dengan semestinya.

Kai ikut keluar. Menangkap raut sebal di wajah Hayato. Lalu pandangannya beralih pada bayang-bayang kaki dari pria berambut blonde itu yang menendang ban sekali lagi. Ia akhirnya menyadari apa yang tengah terjadi.

Belum ada kesempatan bicara, ia menunggu Hayato yang kini sedang menelpon pekerja bengkel yang ia kenal untuk dimintai pertolongan menggantikan ban tersebut. Namun montirnya baru bisa datang dua jam kemudian. Apa dia harus menunggu selama itu? Mana jalanan ini terkesan sepi dan mencekam karena sudah masuk ke wilayah perkampungan. Lalu matahari pun akan segera terbenam. Nah loh, apa Hayato akan berteriak-teriak memanggil ibunya di keadaan sulit seperti ini?

"Kai-kun, apa di sekitar sini ada bengkel?" Hayato berharap jawaban yang diberikan akan sesuai dengan harapannya meski kemungkinan itu kecil.

"Sayangnya tidak ada, Onii-san."

"Errrr kenapa aku sial banget hari ini! Tadi pagi udah diceramahin sama Mama Papa, terus sekarang ban mobil malah kempes!" dia tak mengeluarkan suara. Hanya terekspresikan dengan wajah bete serta tangannya yang mengacak-acak rambut.

"Anu.. Onii-san, apa kau membawa ban cadangan?" tanyanya hati-hati karena Hayato terlihat masih kesal.

"Selalu." singkat Hayato.

"Kalau peralatan lainnya?" lanjutnya.

"Ada juga, aku selalu membawanya.. Memang kenapa?" Hayato jadi penasaran. Menurunkan pandangan ke anak yang tingginya sebatas bahu dia.

"Kalau ada ban dan peralatan lainnya, tinggal Onii-san ganti sendiri saja." dia mengusulkan.

"Haahhh??!! Apa kau tak salah bicara?"

Dia menggeleng pelan. Kebingungan.

"Mustahil.. aku belum pernah melakukannya." tolak Hayato.

"Mungkin Onii-san belum mencoba. Makanya jadi mustahil." timpal dia.

"Untuk apa aku mencobanya? Ada orang-orang bengkel yang sudah punya keahlian khusus untuk melakukan ini, jadi aku tidak usah repot-repot." Hayato menentang.

Sekarang dia hanya mendapat tatapan aneh dari Kai setelah remaja itu mendengarkan ucapannya.

"Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa kau mau mengatakan kalau aku ini adalah anak manja juga?!" suara Hayato meninggi.

Dia sedikit tersentak. Menggeleng cepat beberapa kali. "Aku tidak bicara apa-apa loh."

Hayato terbawa emosi karena belum menemukan jalan keluar. Dia langsung meminta maaf karena tak bermaksud memarahi Kai.

"Yasudah, biar aku saja yang menggantinya." tiba-tiba remaja itu mengajukan diri.

"Kau bisa?" Hayato tak percaya. Dia menganggap ini hanya omong kosong.

"Ini mudah! Aku punya pengalaman dalam mengganti ban mobil." ungkap dia. "Tapi Onii-san harus membantuku juga menurunkan bannya dari bagasi, aku tidak kuat mengangkatnya sendirian." pintanya.

Hayato mengiyakan walau dia dibuat kebingungan dengan apa yang remaja itu katakan. Yang benar saja? Dia mau atau bahkan bisa mengerjakan ini. Tak pernah terbayang jika 'orang biasa' akan sanggup melakukannya, apalagi orang yang masih terbilang kalangan anak-anak seperti Kai.

Dia mulai melakukan langkah-langkah seperti normalnya montir saat memperbaiki. Dengan mengerahkan tenaga maksimal akhirnya selesai juga pekerjaan darurat ini. Sendirian. Sedangkan Hayato hanya bisa bengong keheranan menyaksikan apa yang dia lihat saat ini hingga mulutnya tak sadar terbuka.

"Kau benar-benar bisa melakukannya.." Hayato terkesiap. Ucapannya bertempo lambat karena saking tak menyangka.

Dia membalas sambil membersihkan tangannya yang kotor pada lap yang tersedia, "Aku kan sudah bilang tadi. Kalau kita bisa melakukannya sendiri, untuk apa menyuruh oranglain?"

"Tapi kalau oranglain yang memang pekerjaannya di bidang seperti itu, kenapa harus kita lakukan sendiri?" Hayato masih menyanggah.

"Ada hal yang memang harus dilakukan oleh orang-orang yang sudah ahli. Tapi, kalau untuk hal yang menyangkut keseharian seperti ini, aku kira siapa saja bisa melakukannya. Dan memang harus dilakukan, demi kebaikan diri sendiri. Tidak akan ada yang bisa menolong sepenuhnya jika bukan diri kita sendiri." terangnya memperjelas pendapat.

"Dia benar.."

Plak! Sebuah tamparan yang keras diterima Hayato atas kata-kata tersebut. Ucapan itu seperti menggambarkan kehidupan yang dijalani oleh dia selama ini. Di mana dia hanya bisa menyuruh oranglain untuk melakukan hal yang seharusnya bisa dia lakukan sendiri. Demi memuaskan keinginannya, demi keuntungan dirinya, dia tak mempedulikan oranglain. Nasehat panjang yang orangtuanya berikan tadi pagi gagal ia patuhi. Tapi sedikit kata yang dituturkan oleh anak ini barusan malah berhasil untuk membuatnya berpikir dengan logis.

Hayato mematung. Diam seribu bahasa tak membalas lagi perkataan dari Kai.

"Onii-san?" tegur Kai yang melihat Hayato tak bergerak. Di kedua kalinya teguran itu terlempar, Hayato kembali sadar.

"Onii-san baik-baik saja?" tanyanya khawatir.

"Ya, aku tidak apa-apa. Aa, ano.. Ah, ini, ini bannya-- ayo kita masukkan ke bagasi lagi." dia sedikit gelagapan karena masih terbawa pada bayang-bayang kesadarannya. Ia coba kesampingkan dulu perihal ini, sekarang dia harus membantu remaja itu di pekerjaan pamungkasnya.

Hayato melanjutkan perjalanan ke rumah Kai. Telah sampai, namun tak di depan rumahnya. Karena rumah anak itu berada di dalam gang, jadi Hayato menurunkannya di pinggir jalan menuju ke sana.

"Terimakasih Onii-san sudah mengantarkan aku pulang!"

"Sama-sama." mereka saling melemparkan senyum. "Apa rumahmu masih jauh?" sambungnya.

"Tidak kok, sekitar 200 meter sudah sampai. Apa Onii-san mau berkunjung dulu ke rumahku? Tapi rumahku sangat kecil."

"Tidak usah berkecil hati, Kai-kun. Yang penting itu bahwa kau masih memiliki keluarga." balasnya. "Aku akan langsung pulang, karena sudah malam. Mungkin suatu saat aku akan berkunjung ke rumahmu."

"Iya, Onii-san benar. Aku masih punya Okaa-san dari adik yang harus aku jaga dengan baik. Sebagai laki-laki, aku akan melakukan apapun untuk mereka dengan kekuatanku sendiri." tekad Kai.

"Kau anak yang hebat!" Hayato memuji anak itu.

Keduanya pun berpisah di malam hari ini yang bertiup angin sejuk khas musim semi.

Telah sampai rumah, saat Hayato memarkirkan mobil, dia dihampiri oleh satpam yang tengah berjaga.

"Den Hayato, apa besok mobilnya mau saya bersihkan lagi?" tawarnya.

"Gak perlu, biar aku yang bersihin sendiri. Mulai besok, setiap pagi hari, bapak santai aja sambil siap-siap fokus pada pekerjaan utama." Hayato berlalu masuk rumah meninggalkan senyuman tulus. Satpam itu terpaku. Terus memandangi ke mana Hayato pergi, karena tak menyangka bahwa esok pagi dia akan 'menganggur' untuk yang pertama kalinya dalam dua bulan ini.

Kata-kata seorang anak remaja yang baru tadi sore ditemuinya ini masih terus terngiang di telinganya. Berputar di pikiran seakan tak menemukan jalan keluar untuk dapat melupakannya. Ia merasa malu pada dirinya yang masih bersikap kekanakkan walau sudah hidup selama dua dekade. Mana berpendidikan pula. Mendapatkan didikan di rumah dari kedua orangtua yang masih lengkap, pun di tempat perkuliahan. Sedangkan remaja itu, yang sudah lama tak mendapat haknya karena faktor kehidupan yang tak seberuntung dirinya malah memiliki pemikiran se-cemerlang itu. Memiliki rasa tanggungjawab terhadap diri sendiri sebesar itu. Menjadi mandiri jangan karena terhimpit keadaan, namun harus diniatkan dari dalam jiwa di keadaan apapun.

Mulai malam ini Hayato bertekad, bahwa dia harus mengubah sifat, sikap, perilaku dan apapun padanan katanya yang merujuk ke makna yang sama. Ini akan sulit, butuh waktu sampai ia bisa beradaptasi dengan keadaannya. Mungkin dia juga akan dianggap aneh oleh semua penghuni rumah ketika mulai besok suara nyaringnya tak menggelegar. Semoga saja. Atau saat ia membuat minumannya sendiri. Tak masalah, karena yang terjadi adalah sesuatu yang positif. Dia akan membuktikan secara nyata jika dirinya telah menjadi lebih baik!

-TAMAT-