find me on:

Monday, February 15, 2021

Review J-Lit Kanae Minato "PENANCE"

Setelah bukunya Akiyoshi-sensei, ada buku lain lagi yang mau saya review ya.. Masih J-Lit karya dari Kanae Minato yang berjudul "PENANCE" dengan terjemahan bahasa Indonesia yang terbit pada tahun 2020.

foto pribadi
Judul: PENANCE (SHOKUZAI)
Penulis: Kanae Minato
No. ISBN: 978-623-7351-37-5
Penerbit: Haru
Tanggal Terbit: Juni 2020
Jumlah Halaman: 356
Penerjemah: Andry Setiawan
Penyunting: Prisca Primasari
Penyelaras Aksara: Francisca Ratna
Desainer Sampul: Eky Priyagung
Penata Sampul: Propanardilla

(sumber: buku "PENANCE")


"Meski Tuhan mengampuni kalian, aku tidak."

Lima belas tahun lalu, seorang gadis kecil bernama Emily dibunuh di sebuah desa yang tenang. Empat anak perempuan yang waktu itu sedang bermain bersama Emily tidak bisa memberikan kesaksian yang berarti padahal mereka berjumpa dengan laki-laki pembunuhnya. Akibatnya, penyelidikan pun mandek.

Ibu almarhumah Emily tidak terima, memanggil keempat anak tersebut, kemudian mengancam mereka, "Temukan pelakunya sebelum kasusnya kedaluwarsa, atau ganti rugi dengan cara yang bisa kuterima. Jika tidak, aku akan membalas dendam kepada kalian."

Ketika keempat anak yang menanggung beban besar di pundak mereka itu tumbuh dewasa, tragedi demi tragedi pun terjadi secara beruntun....

***
Mohon diperhatikan sejak awal, jika pembaca lebih mengutamakan pencarian pelakunya, bagaimana kronologi kematian Emily, dan peran detektif, buku ini tidak akan memberi kalian kepuasan itu. Di sini, hanya 20% proses untuk mengungkap si pelaku, dan sisanya merupakan kisah yang menggambarkan kondisi psikologis keempat anak yang terlibat serta ibu Emily setelah peristiwa kelam itu terjadi.

"PENANCE" dibagi menjadi beberapa bab, dengan menggunakan sudut pandang orang pertama dari masing-masing anak yaitu Sae, Maki, Akiko, dan Yuka. Serta ibu dari Emily bernama Asako. Membaca setiap bab dari kelanjutan hidup anak-anak tersebut, membuat hati saya terasa pilu. Nyess banget! Trauma masa lalu apalagi dialami pada masa kecil, memang sangat mungkin berdampak begitu parah pada saat dewasa. Apalagi dalam kasus ini, mereka pun dihantui oleh ancaman balas dendam dari ibu Emily. Mereka yang seharusnya menjalani kehidupan normal pada umumnya, namun hal itu nyatanya tidak bisa mereka raih. Dengan efek yang berbeda, tapi semua itu kompak menjauhkan hidup mereka dari kata "sempurna". Bahkan, menjerumuskan mereka pada jurang kegelapan yang semakin dalam. Mereka tidak pantas diperlakukan seperti itu. Mereka tidak patut mendapat jalan cerita kehidupan yang menyakitkan itu! Meski, sedikit saja, saya agak menyayangkan sikap Maki versi kecil, tapi dia sudah ada usahanya juga dalam menghadapi kematian Emily. Jadi saya kira itu bisa dimaafkan. Yang tidak bisa saya maafkan justru adalah sosok seorang ibu yang "sok" merasa kehilangan!

Bagi saya pribadi, saya marah, kesal, benci sebenci-bencinya pada ibu Emily. Sejak baca sinopsisnya, saya berpikir bukankah ibu tersebut seharusnya fokus pada pencarian pelaku? Ah, mungkin akan ada twist yang membuat masuk akal jika memang anak-anak itu patut disalahkan. Tapi ternyata, setelah membaca sampai akhir, pemikiran saya tidak berubah! Layak sekali memaki ibu Emily atas keegoisannya! Apalagi saat dimunculkan bab tentang masa lalunya, makin-makin deh saya eerrggghh sama dia! Harusnya ngaca, buk.. jaga anaknya dengan baik. Kasih tau ini itu yang gak boleh. Bukan malah nyalahin bocah mulu sampai merusak masa depannya! Apalagi, pas di bagian dia nerima berita kematian anaknya, perlakuannya sama Akiko bikin saya refleks mengumpat!! Iya tau kok ibu syok, tapi harus banget kah dengan cara itu? Mau nangisss sama nasib Akiko pas masa kecil maupun dewasa 😭

Ada bagian yang saya suka tentang bagaimana respons keempat anak itu saat berjumpa kembali dengan ibu Emily. Terlihat bahwa mereka sudah muak dan tipis-tipis melempar sindiran. Tapi saya sekaligus sedih juga karena dalam respons itu pasti terkandung keputusasaan mereka sebab selama belasan tahun kebebasan hidup mereka telah direnggut, ditambah jalan masa depannya pun telah suram. INI GAK ADIL TOLONG!

Saya bisa menerima penyesalan dari keempat anak tersebut saat mereka dewasa meski secara logika mereka tak perlu ada rasa sesal karena melihat dari situasi belasan tahun lalu yang mana mental dan pemikiran anak-anak belum bisa terbentuk dengan baik. Tapi untuk ibunya Emily, penyesalan yang dia akui sangatlah terlambat! Bahkan penebusan dosa yang dilakukannya pun menurut saya tidak ada artinya, karena untuk apa? Toh empat orang tersebut juga sudah terlanjur mengalami bencana dahsyat akibat dari "terpenjara" oleh ancaman balas dendam dia. MAMAM TUH DOSA!!!

Mengamati dari perilaku setiap tokoh utama di buku ini, masing-masing ada baik dan jeleknya. Bahkan dari tokoh-tokoh sampingan pun, digambarkan demikian. Selain ibu Emily, saya gedek juga sama orangtuanya Yuka. Sumpah! Pokoknya, "PENANCE" menggambarkan secara realistis sebagaimana sifat manusia dan keadaan lingkungan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Hanya saja, saya kurang sreg sama bab akhir. Sudut pandang berganti jadi orang ketiga, berisi percakapan antara dua dari empat orang tokoh utama. Kesannya, percakapan itu seperti "berterima kasih" pada orang yang sudah membuat mereka menderita. Kek? Seriusan?! Hmmm

Tidak ada twist mengejutkan di buku ini, tapi jujur aja mental saya agak terguncang saat baca setiap kisah dari empat anak itu. Kemudian bagai roller coaster, emosi saya langsung memuncak giliran baca bagian dari ibu Emily! Huh!

RATING: 4/5 BACA YAAA GAEEESSS!!



No comments:

Post a Comment