find me on:

Saturday, January 18, 2025

Foto Esai Ryuto Kazuhara "Tsuitekite" (bagian 2)

foto pribadi

🩵🩵🩵

⬛ APA YANG AKU BENCI

Aku adalah anak yang sangat membenci belajar. Aku sangat buruk dalam matematika, dan ketika aku belajar tentang pecahan di kelas 3 SD, saat aku melihat angka-angka yang berjajar vertikal, pikiranku langsung panik, berpikir, "Apa ini? Aku tidak mengerti!". Aku punya teman di sekolah, dan aku menikmati kebebasan bergerak saat istirahat, tetapi sebagian besar pelajaran selain pendidikan jasmani sangat membosankan. Karena itu, belajar di rumah tidak mungkin dilakukan. Aku sangat membenci mengerjakan PR sehingga aku bahkan membakar buku PR musim panasku di dalam kaleng logam besar yang ada di sekitar rumah karena aku tidak ingin mengerjakannya *etdah šŸ˜‚*. Aku tahu bahwa mengatakan "aku tidak mengerjakan PR" tidak akan berhasil ketika liburan musim panasku berakhir, jadi aku mencoba menciptakan fakta bahwa "buku PR itu sudah tidak ada lagi di tanganku".

Namun, guru wali kelasku memarahiku, berkata, "Hanya karena kamu tidak memilikinya lagi bukan berarti kamu tidak harus mengerjakannya!", dan akhirnya aku harus tinggal di sekolah sepulang pelajaran dan memulai semuanya dari awal lagi *kasian deh*. Aku benci mengerjakan PR, itu yang sangat aku takuti dan aku menangis sepanjang waktu mengerjakan latihan-latihan itu. Aku rasa aku tidak pernah benar-benar mengerjakan PR musim panasku selama pendidikan wajib. Aku akan berbohong kepada orang tuaku dan pergi ke sekolah dengan mengatakan bahwa aku sudah mengerjakannya. Aku rasa siklusnya selalu sama. Aku benci duduk di bangku sekolah dan yang aku inginkan hanyalah bermain di luar.

Saat aku masih di SD, selain aktivitas fisik, ada satu hal lagi yang sangat aku sukai. Itu adalah "makan". Mungkin tampak wajar bagi seorang anak yang sedang tumbuh untuk menyukai makan, tetapi kurasa ini agak berlebihan dalam kasusku. Misalnya, setiap tahun di Hari Valentine, nenekku akan memberiku lima batang cokelat favoritku. Bukannya hanya makan satu batang sehari, aku akan merobek bungkusnya hingga hancur di depannya dan memakan semuanya pada hari yang sama sambil menonton TV atau melakukan hal lain.

Aku memang agak gemuk sejak lahir, tetapi dengan sikap seperti itu, tidak ada tanda-tanda aku akan menurunkan berat badan. Namun, ketika aku duduk di kelas atas SD, keinginan untuk menjadi "populer" mulai merayap ke dalam pikiranku. Sebagai seorang anak, aku mulai berpikir seperti, "Bagaimana aku bisa menjadi populer?" dan, "Mungkin jika aku pandai belajar, aku akan jadi keren." Dan dalam waktu singkat, aku mengikuti kelas Kumon (pusat bimbingan belajar).

Aku berpikir, "Jika aku mengubah citraku menjadi seseorang yang pandai belajar setelah liburan musim panas, aku akan populer!" Jadi, aku memutuskan untuk mengikuti Kumon, tempat adikku belajar juga. Ibuku tampak cukup senang melihatku begitu antusias belajar untuk pertama kalinya. Namun dengan motivasi yang tidak murni seperti itu, tidak mungkin aku bisa mengatasi ketidaksukaanku terhadap belajar. Aku hanya pergi di awal, setelah itu aku hanya berpura-pura pergi dan bermain di lingkungan sekitar sepanjang waktu. Aku bahkan beberapa kali menyuruh adikku yang rajin mengikuti Kumon, untuk berbohong, dengan melaporkan bahwa, "Abang juga ada di sana kok." *etdahhh part 2 😭*

Tapi kemudian, suatu hari, ibuku berkata kepadaku, "Kamu sebenarnya tidak pergi ke Kumon lagi kan?" dan akhirnya aku berhenti dalam waktu dua bulan.


⬛ PERTEMUAN YANG MENENTUKAN

Aku rasa sekitar waktu kelas empat SD, aku mulai menyadari bahwa lagu "Skoop On Somebody" karya Toshiyuki Kubota sering diputar di pemutar CD di ruang keluarga. Ayahku menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah dengan membaca manga, tetapi ibuku menyukai musik, dan ketika kami pergi karaoke sekeluarga, beliau jauh lebih pandai bernyanyi daripada ayahku. Belakangan, aku mendengar bahwa beliau pernah bercita-cita menjadi penyanyi enka.

Suatu saat, ayahku mulai menyewa CD dari toko penyewaan lokal dan menyalinnya ke kaset. Jika aku berlarian di sekitar rumah saat ia sedang menyalin, ia akan memarahiku dengan keras, berkata, "Diam! Nanti kamu merusak suaranya!" Di antara kaset yang disalin ayahku, ada satu lagu yang sangat disukai seluruh keluarga kami. Itu adalah lagu debut EXILE, "Your eyes only ~Aimai na Boku no Katachi~". Rupanya, ayah dan ibuku mendengarnya di radio, menyukainya, dan meminta ayahku untuk membuat salinannya. Saat kami semua mendengarkan lagu itu, ibuku dengan gembira berkata, "Saat pertama kali mendengar lagu ini, aku tidak menyangka ternyata dinyanyikan oleh orang Jepang. Ada dua vokalis, dan harmoni mereka sangat keren, kan?"

Pada akhir pekan, ketika ayah tahu pekerjaan ibu akan selesai lebih awal, terkadang ia membawaku dan adikku ke pusat perbelanjaan di Sannomiya untuk menjemputnya. Ia mudah marah dan kekanak-kanakan. Ayahku jarang melakukan hal seperti itu, tetapi perjalanan pergi dan pulang dari Sannomiya ini sepertinya menjadi salah satu dari sedikit momen di mana ia menghabiskan waktu bersama keluarga, dan aku serta adikku menantikan perjalanan bersama sebagai keluarga. Aku menyukai aroma kosmetik yang tercium dari lantai pertama toko serba ada itu, jadi setiap kali aku masuk ke dalam, aku merasa terpesona dan bertanya-tanya, "Aroma apa ini yang hanya bisa kucium di sini?"

Dalam perjalanan pulang, begitu ibuku bergabung bersama kami, mobil tiba-tiba berubah menjadi pesta karaoke. Setiap kali lagu EXILE diputar, aku dan ibuku akan sangat bersemangat. Suatu kali, saat aku di dalam mobil bersama ayahku, aku ikut bernyanyi menggunakan falsetto. Kemudian ayahku tiba-tiba bertanya,

"Bagaimana kamu bisa mencapai nada tinggi itu? Katakan rahasiamu."

"Rahasia? Aku tidak tahu. Aku hanya mencoba menirunya......"

Kalau dipikir-pikir, bahkan ketika kami pergi ke karaoke, ayahku sering bernyanyi dengan sumbang. Ayahku yang biasanya tegas, lalu menanyakan hal seperti itu padaku, membuatku berpikir bahwa mungkin aku memang bernyanyi dengan cukup baik, dan aku mulai sedikit percaya diri dalam bernyanyi. Tepat saat itu, aku mengalami pertemuan yang tak akan pernah kulupakan. Ibuku, melalui seorang rekan kerja, berhasil mendapatkan tiket konser EXILE di Osaka Kosei Nenkin Kaikan (sekarang Orix Theater). Dan tempat duduknya berada di baris keenam dari depan!

Pada hari konser, ayahku mencukur garis di sisi kepala botakku, persis seperti EXILE ATSUSHI-san saat itu, dan aku meminjam kacamata hitam yang mirip dengan milik ATSUSHI-san darinya. Jadi aku sangat bersemangat. Aku masih anak-anak, jadi aku akan menonjol, dan mungkin orang-orang akan mengenaliku. Berbagai macam motif tersembunyi berputar-putar di kepalaku.

Penampilan di panggung sungguh menakjubkan. Karena kelebihan berat badan, aku mulai berkeringat deras bahkan dengan gerakan terkecil sekalipun, dan kacamata hitamku berulang kali berembun saat aku mengibarkan bendera mengikuti irama musik. Awalnya, aku hanya ingin fokus pada ATSUSHI-san, tetapi aku sangat terharu oleh rasa persatuan yang terpancar dari semua orang di atas panggung. Emosi setiap individu meluap sebagai satu kekuatan besar, dan jantungku mulai berdetak seiring dengan kecepatan musik. Bahkan sebagai seorang anak, entah bagaimana aku mengerti bahwa penampilan ini hanya mungkin terjadi karena kepercayaan timbal balik di antara para member. Yang bisa aku katakan hanyalah, "Luar biasa."

"Aku ingin menjadi bagian dari mereka."

Aku tidak bisa membayangkan bagaimana itu bisa terjadi. Tetapi konser ini adalah momen di mana benih harapan "aku ingin menjadi bagian dari mereka suatu hari nanti" tumbuh di hatiku.

Beberapa hari kemudian, aku menerima kabar gembira dari adik perempuan rekan kerja ibuku, yang sebelumnya telah mengatur tiket untuk kami itu. Rupanya, seorang teman adiknya itu, yang bekerja di industri hiburan dan memiliki koneksi dengan EXILE, ditanya oleh ATSUSHI-san, "Apakah kamu kenal anak laki-laki berkepala botak yang ada di depan itu?" Aku tidak pernah merasa sebahagia itu memiliki kepala botak seperti saat itu. Orang yang berada di tengah kelompok yang kupikir adalah "salah satu dari mereka" itu memperhatikanku! Jika ini bukan takdir, lalu apa lagi?!


⬛ MUSIM PANAS DI AMAMI OSHIMA

Selama musim panas tahun keenamku di SD, aku dan keluarga pergi ke Amami Oshima, kampung halaman nenekku.

Meskipun namanya Amami, kampung halaman nenekku terletak di daerah bernama Sukumo, yang hanya dapat dicapai dengan menaiki kapal lain dari Koniya, sebuah pelabuhan di selatan. Aku tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang, tetapi 20 tahun yang lalu, bahkan tidak ada toko di Sukumo. Makanan diantar sekali sehari dengan kapal yang bolak-balik dari pulau utama, dan sebuah bus yang membawa makanan berkeliling ke setiap rumah untuk mengantarkannya. Pokoknya, tempat itu sangat terpencil, bahkan pantai terbaik di daerah itu pun tidak memiliki pondok pantai atau kamar mandi, jadi aku hanya mengapung di tengah laut. Orang-orang di Amami tidak berenang di laut. Gambarannya seperti orang-orang di Osaka yang tidak mendaki Menara Tsutenkaku. 

"Ini pantai pribadi!"

Ayahku adalah orang yang paling bersemangat melihat pantai yang sepi itu. Ia dengan cepat melepas celana renang yang telah dikenakannya sejak meninggalkan rumah nenekku dan mulai berenang telanjang bulat. Ia tampak menikmati dirinya sendiri. Aku memperhatikan ayahku berenang sebentar, lalu seorang anak laki-laki yang tampak seusiaku datang. Dia bercerita bahwa dirinya adalah seorang siswa Sekolah Dasar yang tinggal di daerah itu. Dia juga memiliki seorang adik perempuan yang empat tahun lebih muda darinya, dan rupanya mereka berdua adalah satu-satunya siswa di sekolahnya.

Anak laki-laki itu bernama Iwami, dia memiliki alis tebal yang menyatu dan bulu hidung yang panjang dan lebat. Dia memiliki penampilan yang liar dan tropis. Dia berkata, "Ayo kita memancing besok!" dan aku menjawab, "Ya, aku akan ikut!", tapi waktu pertemuannya jam 5 pagi. Dia menyuruhku untuk "hanya membawa ember", dan aku bertanya-tanya bagaimana kami akan memancing karena tidak ada toko peralatan memancing di dekat situ.

Keesokan paginya, ketika aku pergi ke pantai pada waktu yang disepakati, Iwami sudah ada di sana, berpakaian persis seperti hari sebelumnya.

"Ayo kita tangkap beberapa kepiting pertapa dulu," kata Iwami.

Dia dengan terampil menangkap beberapa kepiting pertapa hanya menggunakan peralatan sederhana: seutas tali yang diikatkan ke ujung tongkat bambu. Setelah menangkap beberapa ekor, dia kemudian merobek bagian belakang kepiting itu. Bagian belakang itulah yang menjadi umpan. Dengan ember kecil yang kubawa dari rumah nenekku yang kini berisi bagian belakang kepiting pertapa itu, dan dua tongkat bambu, kami berenang menuju rakit yang mengapung di laut.

Semuanya adalah pengalaman pertama bagiku. Memancing dari rakit dengan tongkat bambu, menggunakan kepiting pertapa sebagai umpan. Dari tempat kami berdiri, kami bisa melihat terumbu karang di kedalaman laut. Awalnya, aku salah memperkirakan sudut saat menurunkan tali pancing dari tongkat bambu, dan kail pancingku tersangkut di terumbu karang. Dalam istilah memancing, ini disebut "tersangkut". Dalam pengalaman memancingku sebelumnya, jika kail tersangkut, aku akan menyerah dan menyiapkan kail lain. Tapi ini Amami. Tali pancing sangat berharga baginya, begitu pula kailnya.

"Gawat, Iwami, kailnya tersangkut di terumbu karang!"

Aku mencoba menarik kail itu keluar. Namun karena tidak tahu harus berbuat apa lagi, aku memanggil Iwami untuk meminta bantuan. Iwami berkata, "Tunggu sebentar," dan tanpa ragu dia melompat ke laut. Dia menyelam ke kedalaman dan dengan terampil melepaskan tali pancing dari terumbu karang.

"Aku berhasil!"

Iwami, yang muncul dari laut dengan sangat cepat, tampak sekeren pahlawan super dari serial sentai. Meskipun kami seumuran, dia sangat dapat diandalkan. Aku yakin Iwami bisa bertahan hidup di mana pun di bumi ini.

"Beberapa hari yang lalu, ketika aku pergi mengambil kail, aku menemukan seekor belut moray."

"Apa?! Belut moray berbahaya jika menggigitmu!"

Semua yang dia katakan begitu liar sehingga aku tidak bisa menahan tawa, meskipun aku menghormatinya juga karena itu.

Saat kami berbicara, adikku dan anak-anak lainnya terbangun. Adikku yang sedang bermain di atas ban renang datang menghampiriku, 

"Aku ingin melihat Nemo!"

Ketika adikku berteriak dengan polos, Iwami langsung berkata, "Oke! Tunggu sebentar ya," dan menyelam ke laut dengan benda pipih seperti saringan. Ketika dia muncul ke permukaan sambil menghela napas, dia benar-benar menangkap ikan badut. Dia sungguh jenius.

Keesokan harinya angin bertiup kencang. Adikku sedang bermain air di perairan dangkal pantai dengan ban renang, lalu dalam sekejap, ia tersapu ke laut.

"Gawat!"

Saat aku berpikir aku harus menolongnya, Iwami melompat ke laut sebelum aku sempat. Dengan gaya renang bebas yang indah, dia dengan cepat mencapai adikku, lalu kembali ke perairan dangkal hanya dalam beberapa menit.

"Tempat itu tidak bagus hari ini, arusnya terlalu kuat!" katanya.

Bagaimana mungkin seseorang yang masih sangat muda, baru 12 tahun, bisa melihat semuanya? Bagiku, Iwami tampak lebih dari sekadar jenius, dia seperti dewa.

Kupikir aku sendiri cukup liar, tetapi aku benar-benar dikalahkan oleh Iwami. Namun, saat kami membicarakan berbagai hal, kami menemukan beberapa kesamaan yang menyenangkan.

Suatu hari, aku bertanya pada Iwami, "Musik jenis apa yang kamu dengarkan?" Dia menjawab, "Aku tidak tahu banyak tentang musik, tetapi aku melihat sebuah lagu di TV beberapa hari yang lalu dan kupikir lagu itu keren, jadi aku membeli CD pertamaku." Ternyata CD pertama yang dia beli adalah "real world" milik EXILE. Sampai saat itu, Iwami tampak seperti pahlawan dari dimensi lain, tetapi aku senang menemukan bahwa kami memiliki selera musik yang serupa.

"Kamu serius?! Aku sangat menyukai mereka!" balasku.

Lalu dengan antusias aku bercerita tentang apa yang kusuka dari EXILE, daya tarik lagu-lagu mereka, betapa hebatnya kedua vokalis itu, dan betapa dahsyatnya penampilan mereka.

Saat dewasa kini, aku menjadi sangat menyukai kegiatan di luar ruangan dan bahkan mulai serius melakukan perjalanan memancing di laut. Terkadang, ketika kailku tersangkut, aku masih teringat pada Iwami.

🩵🩵🩵

(terjemahan bahasa Indonesia bekerjasama dengan google translate, bing, dan ilmu dari penjelajahan internet)
(mohon koreksi jika ada kesalahan)


No comments:

Post a Comment