Sebelum ke pembahasan, saya mau cerita sedikit kalo bagian ini tuh kerasa nyesekkk banget pas dibaca. Bikin pengen nangis sekaligus ngelus dada dan ngatur napas secara perlahan. Sumpah, ternyata seberat itu kehidupannya Ryuto dari sejak kecil ðŸ˜. Tapi, membuat saya semakin bangga juga pada sosok Ryuto Kazuhara yang memilih untuk terus bertahan sampai sekarang! 🩵
🩵🩵🩵
⬛ PERCERAIAN
Aku menjadi siswa SMP. Aku masih membenci belajar. Untuk kegiatan ekstrakurikuler, aku bergabung dengan klub bisbol, memanfaatkan pengalamanku dari klub softball saat SD. Tidak seperti kegiatan klub lokal yang hanya berlangsung di akhir pekan, kami berlatih setiap hari, sehingga tubuhku yang gemuk dengan cepat menjadi lebih kurus. Meskipun dulu aku sangat rakus, tetapi aku kehilangan banyak berat badan sehingga aku tidak bisa menelan makanan lagi. Namun, karena aku sudah memasuki masa remaja dan keinginan untuk menjadi populer mulai tumbuh, aku bersyukur bahwa aku secara alami menjadi langsing.
Sekitar waktu yang sama ketika aku masuk SMP, keluargaku pindah dari rumah bergaya Jepang yang sudah bobrok ke rumah baru. Kakek dan nenek dari pihak ibuku juga ikut tinggal bersama kami. Aku sangat senang memiliki kamar sendiri, tetapi kakek dan ayahku sama sekali tidak akur dan sering bertengkar. Kakekku adalah seorang peminum berat, tipe orang yang akan minum segelas shochu barley di pagi hari. Ia membeli semua alkohol itu dengan uang saku yang didapatnya dari nenekku, yang bekerja di pabrik mesin.
Pada umumnya, suasana hatinya selalu baik setiap hari, tetapi jika ia tidak bekerja dan hanya tinggal di rumah minum-minum sepanjang waktu, itu akan menjadi beban yang tak tertahankan bagi kepala keluarga. Bahkan aku bisa membayangkannya. Ayahku sama sekali tidak bisa minum alkohol. Pada akhirnya, beberapa bulan setelah pindah ke rumah baru, kondisi hati kakekku memburuk, ia dirawat di rumah sakit, dan meninggal di sana.
Sekitar waktu itulah aku menyadari bahwa ayahku kecanduan judi. Kalau dipikir-pikir, bahkan ketika sesekali ia mengajakku ke arena permainan, ia selalu bermain mesin slot sementara aku bermain permainan koin. Bahkan ada majalah pachinko di kamar mandi rumah baru kami, jadi aku berpikir, "Pasti dia menyukainya," tetapi aku tidak pernah membayangkan ia terlilit utang.
Pada bulan Juni tahun keduaku di SMP, dan pada suatu Sabtu pagi, aku, nenekku, dan adikku sedang menonton program TV "Seyanen!". Tiba-tiba, member EXILE muncul dan mengumumkan, "Bulan depan, akan ada audisi vokal di Osaka: EXILE VOCAL BATTLE AUDITION 2006 ~ASIAN DREAM~".
Aku melompat-lompat dan menari kegirangan, berteriak, "Hore!" dan, "Aku akan pergi!"
"Di mana? Jam berapa?"
Ryuto yang berusia 13 tahun sudah yakin bahwa dia akan lolos. Namun, detail yang diumumkan dalam program tersebut menyatakan bahwa persyaratan pendaftaran adalah untuk usia 18 hingga 25 tahun. Kegembiraan anak laki-laki itu sungguh hanya sesaat.
"Apa-apaan ini......?"
Aku jadi kesal tanpa alasan, kemudian kecewa, dan merasa sangat frustrasi hingga menangis.
Saat itu, sebenarnya aku agak puas dengan kehidupan sehari-hariku. Aku menikmati kegiatan klub, memiliki kamar sendiri, dan masakan nenekku sangat lezat. Ibuku selalu mengajakku ke setiap tur EXILE, dan ketika aku pergi karaoke bersama teman-temanku dan menyanyikan lagu-lagu EXILE, semua orang memujiku, mengatakan, "Kamu bagus." Tetapi jauh di lubuk hatiku, hatiku terasa hampa. Sakit. Aku mencari sesuatu yang benar-benar bisa kusukai dengan penuh semangat.
Lalu, sesuatu terjadi yang terasa mampu menghancurkan hatiku.
Seperti biasa, aku menyelesaikan latihan bisbol dan pulang. Saat aku membuka pintu kamarku untuk meletakkan barang-barangku dan berganti pakaian, aku melihat ibuku meringkuk di sudut ruangan, menggenggam ponselnya. Bahunya sedikit gemetar.
"Ada apa?"
Saat aku bertanya, ibuku berbalik, pipinya basah kuyup oleh air mata.
"Ayah, Ayah......" katanya, sambil mengarahkan ponsel ke arahku. Jadi aku berkata, "Halo?" dan mendengar suara ayahku di ujung telepon.
"Kamu satu-satunya laki-laki yang tersisa di keluarga sekarang, jadi aku mengandalkanmu untuk menjaga semuanya."
"Eh? Apa maksudmu, satu-satunya laki-laki?"
Ibuku memberiku surat yang dipegangnya, kemudian aku membukanya. Dengan tulisan tangan ayahku yang buruk, tertulis sesuatu yang isinya kurang lebih seperti, "Aku telah menumpuk hutang judi dan aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku berpikir untuk menghilang begitu saja. Saat aku meninggal, tolong sebarkan abu jenazahku di laut." tertulis sesuatu yang isinya kurang lebih seperti, "Aku telah menumpuk hutang judi dan aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku berpikir untuk menghilang begitu saja. Saat aku meninggal, tolong sebarkan abu jenazahku di laut."Lalu aku berpikir, "Akan menjadi masalah jika dia menghilang begitu saja," jadi aku dan ibuku mati-matian mencoba membujuknya untuk pulang dengan mengatakan, "Mari kita bicara lagi," dan, "Mari kita pikirkan apa yang bisa kita lakukan bersama." Ayahku juga bingung harus berbuat apa. Itulah yang terjadi.
Keesokan harinya, ayahku tiba-tiba pulang.
Namun masalah utang belum terselesaikan, dan ayahku selalu tampak tidak nyaman. Baik nenekku maupun aku memperlakukannya dengan sangat hati-hati, dan dalam hati aku berpikir, "Percuma saja, sekeras apa pun kita berusaha, keluarga kita tidak akan pernah kembali seperti semula."
Beberapa minggu setelah ayahku kembali menghilang, ia tiba-tiba muncul di sebuah restoran yakiniku mewah di dekat rumah. Ia menyarankan agar kami pergi ke sana.
"Kurasa kita akan bercerai."
Entah bagaimana aku sudah menerima kenyataan itu. Tapi kupikir itu lebih baik daripada ia tiba-tiba menghilang dari hidup kami dan meninggal di suatu tempat. Di restoran yakiniku mewah yang baru kami kunjungi untuk pertama kalinya itu, ada pilihan daging dengan harga yang belum pernah kucoba sebelumnya. Mungkin rasanya enak, tetapi seberapa pun aku mengunyah, aku tidak bisa merasakan apa-apa.
Dalam suasana yang berat dan muram seperti upacara pemakaman, setelah semua piring dibersihkan, ayahku, dengan ekspresi yang sedikit lebih serius, berkata...
"Mulai sekarang, ibu dan ayah akan tinggal terpisah."
Bahkan adikku, yang tadi dengan polosnya berseru, "Enak sekali!", tiba-tiba terdiam, seolah-olah dia merasakan sesuatu.
Hal seperti ini ternyata bisa terjadi pada keluargaku sendiri.
Awalnya, aku tidak bisa memberi tahu teman-temanku bahwa orang tuaku telah bercerai. Tapi kemudian aku mengetahui bahwa seorang rekan satu tim dari klub bisbol, seseorang yang dekat denganku sejak SD, juga mengalami perceraian orang tuanya sekitar waktu yang sama.
"Bukan hanya aku yang merasa seperti ini."
Dengan memikirkan itu membuatku merasa sedikit lebih baik. Sepertinya dia merasakan hal yang sama, karena setelah latihan bisbol, kami akan berjalan pulang bersama, saling menyemangati, mengatakan hal-hal seperti, "Kita berdua sedang melewati masa-masa sulit, tapi mari kita lakukan yang terbaik."
Setelah beberapa waktu, dia berhenti datang ke kegiatan klub. Tanpa kusadari, dia telah mewarnai rambut panjangnya menjadi pirang dan aku mulai melihatnya bergaul dengan beberapa anak nakal di belakang gedung sekolah, lalu merokok, dan melakukan hal-hal semacamnya."Bukankah kamu bilang kita akan melakukan yang terbaik?" tanyaku.
Orang tuanya pasti punya alasan tersendiri mengapa mereka memutuskan bercerai. Lalu apa gunanya menambah masalah bagi mereka?
"Aku bukan satu-satunya yang berjuang dengan masalah keluarga". Sungguh membuat frustrasi dan sedih melihat temanku yang telah membuatku menyadari hal itu, justru malah dia yang menjadi putus asa dan semakin terjerumus ke jalan yang salah. Kesedihanku itu akhirnya berubah menjadi sumpah bahwa, "Aku tidak boleh berakhir seperti itu."
⬛ TITIK 0
Aku pensiun dari klub bisbol di musim panas tahun ketiga SMP. Karena tidak banyak kegiatan, aku menghabiskan waktu luangku di bar karaoke lokal. Harganya 500 yen sudah bisa dapat minuman sepuasnya. Terletak di tengah-tengah antara SMP tetangga dan SMPku sendiri, tempat itu adalah tempat berkumpulnya banyak pembuat onar. Terkadang, hal-hal kecil pun bisa menciptakan situasi tegang seolah-olah perkelahian akan segera terjadi.
Namun, bahkan masalah yang biasa terjadi pada anak SMP seperti, "Kau menatapku tajam, sialan!", secara mengejutkan dapat menjadi penghubung untuk berteman. Kali ini juga, secara kebetulan aku mulai nongkrong di karaoke bersama beberapa siswa dari SMP tetangga. Saat aku terus menyanyikan lagu-lagu EXILE, mereka secara bertahap mulai mengajukan berbagai macam permintaan seperti, "Nyanyikan ini," dan, "Nyanyikan itu selanjutnya." Di antara mereka, "Lovers Again" sangat populer.
Awalnya, hanya para laki-laki yang nongkrong, tetapi setelah beberapa saat, mereka mulai membawa serta gadis-gadis yang tampaknya merupakan penggemar EXILE.
"Gadis ini benar-benar menyukai EXILE. Nyanyikanlah sesuatu untuk kami, Ryuto."
Ee.. orang ini sampai repot-repot membawaku ke sini agar penggemar EXILE dapat mendengarku bernyanyi.
Selain "Lovers Again," ketika aku menyanyikan beberapa balada lain yang tampaknya disukai para gadis, mereka akan tersenyum dan bertepuk tangan. Saat itu, aku berada di usia di mana aku sangat ingin populer di kalangan perempuan. Melihat betapa bahagianya para gadis itu, aku sangat gembira dan berpikir dalam hati,
"Jika mereka sebahagia ini, bukankah itu bukti bahwa aku adalah penyanyi yang bagus?"
Karena itu, keinginanku untuk menjadi penyanyi semakin kuat dari hari ke hari. Aku tidak bisa berpartisipasi dalam VBA, tetapi setelah menyelesaikan pendidikan wajib, entah bagaimana aku jadi ingin belajar musik.
Pada tahun ketiga SMP, aku rutin berkonsultasi dengan konselor bimbingan tentang pendidikan masa depanku. Guru itu tahu kemampuan akademisku sangat buruk, jadi beliau berpura-pura pengertian, mengatakan hal-hal seperti, "Aku akan mendengarkan apa pun yang ingin kamu ceritakan. Katakan saja apa pun." Tetapi jika aku mengatakan sesuatu seperti, "Aku ingin menjadi penyanyi," aku pasti akan mendapatkan jawaban yang sama, "Hanya segelintir orang yang berhasil dalam hal itu. Bukankah lebih baik kamu bersekolah di SMA biasa saja?"
Lihat kan? Itulah mengapa aku tidak ingin mengatakannya.
Mereka mengatakan akan mendengarkan apa pun yang ingin kubicarakan, tetapi pada kenyataannya, mereka hanya menyarankan pilihan yang aman dan biasa-biasa saja. Sikap dewasa mereka membuatku sungguh hancur. Sejak itu, aku berhenti membicarakan impianku untuk menjadi penyanyi.
Namun akhirnya, aku harus mengikuti pertemuan yang juga dihadiri ibuku, dan aku memutuskan untuk mengatakan kepadanya bahwa aku ingin menjadi penyanyi di masa depan dan ingin bersekolah di Sekolah Kejuruan usik, bukan SMA. Ketika aku mencari tahu biaya sekolah yang ingin aku masuki sebelumnya, aku terkejut betapa mahalnya biaya tersebut. Bahkan jika aku bekerja paruh waktu di beberapa tempat, aku tidak yakin apakah aku mampu membayar seluruhnya. Dan seandainya aku mampu pun, tidak ada jaminan jika aku akan menjadi penyanyi, jadi aku bisa mengerti akhirnya mengapa orang dewasa mengatakan bahwa keinginanku itu gegabah dan mereka mencoba menghentikanku.
"Setelah lulus SMP, aku ingin bersekolah di sekolah kejuruan musik."
Ketika aku mengatakan itu kepada ibuku saat kami berduaan di ruang tamu, beliau tampak sedikit terkejut. Orang tuaku baru saja bercerai tahun lalu, mereka mungkin masih harus membayar cicilan rumah, dan mereka juga sudah membiayai pendidikan anak-anak mereka, jadi aku tahu bahwa mereka tidak mampu menyekolahkanku di sekolah musik yang mahal.
"Ibu ingin mendukung mimpimu, tetapi ibu ingin kamu setidaknya menyelesaikan SMA. Jika itu sekolah negeri, biayanya bisa lebih terjangkau."
Aku tidak punya pilihan selain mengalah dan berkata, "Baiklah." Namun, bahkan jika aku bersekolah di SMAN, kemampuan akademisku hampir tidak cukup. Aku mengikuti ujian masuk dengan sikap acuh tak acuh, dan berpikir, "Aku sudah memutuskan untuk bersekolah di SMA, tapi apakah aku akan lulus?". Namun entah bagaimana, aku berhasil lulus. Aku pikir itu sebuah keajaiban.
Tetapi, seperti yang diharapkan, pelajaran sekolah tidak dapat dipahami, dan sangat sulit. Bahkan pada tes kemampuan matematika pertama, aku tidak mengerti apa pun yang tertulis di sana. Setelah mendapatkan nilai nol pertama dalam hidupku saat itu, aku merasa semakin yakin bahwa "belajar bukan untukku" dan "apa gunanya melakukan ini?". Kebetulan, aku mendapatkan sekitar 30-40 poin di mata pelajaran lain, nilai yang nyaris saja gagal.
Di kelasku, ada seorang anak laki-laki dengan rambut keriting alami yang selalu menyeringai. Dia tampak kekanak-kanakan sebagai siswa SMA, tipe yang mudah pilek hanya karena sedikit gangguan. Tapi dia selalu tersenyum dan menawan, jadi aku menyukainya. Aku bertanya padanya, "Bagaimana hasil ujianmu? Coba kulihat," dan ketika dia menunjukkan lembar jawabannya, dia mendapat nilai hampir nol!
"Bagaimana kamu bisa masuk SMA?"
Bahkan ketika aku bertanya seperti itu, dia hanya tersenyum. Begitulah tipe orangnya.
Sekitar dua bulan setelah mulai sekolah, Tenpa-kun (siswa itu) berhenti datang. Ketika aku bertanya kepada guru-guru, mereka mengatakan dia tidak bolos, tetapi putus sekolah.
⬛ CHIKI-CHIKI BOMBER
Dulu, aku bekerja paruh waktu di restoran yakitori bernama Chiki Chiki Bomber di dekat rumahku. Pemiliknya adalah pria yang sangat ramah dan bersahabat. Selain yakitori yang lezat, kepribadian pemiliknya menarik berbagai macam orang ke restoran, mulai dari keluarga lokal dan anak muda yang ramai hingga pekerja kantoran paruh baya yang agak lelah. Aku dan keluargaku sudah sering mengunjungi restoran ini sejak aku masih SMP.
Tidak seperti di kelas sekolah, selama pekerjaan paruh waktuku, satu demi satu hal terjadi yang tampaknya bermanfaat bagi hidupku. Ketika ada perselisihan kecil antara pelanggan, master (pemilik) akan segera turun tangan dan menyelesaikannya dengan lancar. Ketika sebuah keluarga yang biasanya ramai sedang berbincang dengan tenang, aku akan mencoba memahami situasi mereka sambil berpikir, "Setiap keluarga memiliki perjuangannya sendiri." Setiap orang mungkin menunjukkan sisi yang berbeda dari diri mereka saat di sekolah atau tempat kerja, tetapi di bar, semua orang tampak menjalani hidup mereka sendiri sebagai protagonis, dan rasanya seperti berada di teater.
Di tengah semua itu, aku pandai memperhatikan hal-hal seperti, "Oh, gelas orang itu kosong," sambil mengamati teater dari sudut pandang atas. Master juga mulai memanggilku "Direktur Eksekutif" alih-alih namaku, meskipun aku belum lama bekerja di sana. Dan beliau berterima kasih padaku, mengatakan hal-hal seperti, "Senang rasanya ada Direktur Eksekutif di sini," dan, "Dia langsung menjadi aset bagi tim kami."
"Pekerjaan ini sangat cocok untukku!"
Motivasiku untuk bersekolah terus menurun, sementara pekerjaan paruh waktuku mulai menarik. Aku berpikir apakah aku harus berhenti sekolah dan masuk EXPG (sekolah pelatihan seniman yang dikelola oleh LDH) sambil bekerja paruh waktu. Meskipun itu adalah keinginan tulus ibuku, aku merasa tidak benar-benar "hidup" ketika aku hanya pasif mendengarkan ceramah di sekolah. Aku tidak tahan lagi dengan rutinitas harian mengorbankan diri dan membuang waktu hanya untuk mendapatkan gelar "lulusan SMA".
Dengan ujian akhir semester yang semakin dekat, aku dengan santai berkata kepada ibuku yang berada di ruang tamu, "Ano, kurasa aku akan berhenti sekolah."
"Tunggu sebentar. Apa yang kau bicarakan?"
Ibuku meninggikan suaranya dari biasanya.
"Kehidupan SMA-mu baru saja dimulai!"
"Aku tidak bisa mengikuti pelajaran di sana, dan meskipun aku pergi ke tempat seperti itu setiap hari, tetap tidak akan ada gunanya. Pokoknya aku berhenti, aku tidak akan pergi sekolah lagi! Aku akan bekerja pagi dan siang dan masuk ke EXPG. Aku sudah memutuskan!"
"Mengapa kamu memutuskan ini sendiri?"
Sambil berkata demikian, ibu menangis. Sudah dua tahun sejak aku terakhir kali melihat ibu menangis, yaitu sejak ayah menghilang. Saat itu, ayah telah memercayakan ibu, adikku, dan nenek kepadaku, dengan mengatakan, "Kamu satu-satunya laki-laki di keluarga ini," tetapi pada akhirnya, aku hanya membuatnya menangis.
Karena itulah aku tetap bertahan. Karena ayah telah memercayakan keluarga kepadaku, aku terus bersekolah karena formalitas saja. Tapi aku sudah tak sanggup lagi menyembunyikan jati diriku yang sebenarnya.
Keesokan harinya, pertama-tama aku melaporkan kepada pemilik Chiki Chiki Bomber.
"Aku memutuskan untuk berhenti sekolah. Jadi, tolong izinkan aku bekerja di sini lebih lama."
Aku berharap master akan senang, tetapi sebaliknya, beliau memasang wajah tegas yang jarang ditunjukkan.
Beliau berkata, "Direktur Eksekutif, kami mempekerjakanmu dengan syarat kamu bekerja sambil bersekolah. Jika kamu berhenti sekolah, itu cerita lain. Kamu tidak bisa bekerja di sini lagi."
"Ee?!"
Setelah memulai pekerjaan paruh waktuku, aku bercerita kepada master bahwa aku ingin menjadi penyanyi, dan beliau tersenyum lalu berkata, "Aku akan mendukungmu." Kupikir master berbeda dari orang dewasa yang berpikiran sempit yang langsung menolak ideku untuk menjadi penyanyi.
"Ketika aku memberitahumu sebelumnya bahwa mimpiku adalah menjadi penyanyi, anda bilang akan mendukungku, kan?"
"Itu karena Direktur Eksekutif masih bersekolah dengan giat pada saat itu. Meskipun belajar tidak menyenangkan, pasti ada hal-hal yang hanya bisa kamu alami di sekolah. Aku akan mendukungmu jika kamu mengejar mimpimu saat masih bersekolah, tetapi jika sampai berhenti sekolah untuk menjadi penyanyi, itu adalah cerita yang berbeda."
Bahkan sebelum aku mulai bekerja di sana, entah bagaimana aku menganggap master sebagai sosok ayah. Melihatnya bekerja di toko, semua yang dilakukannya masuk akal. Bahkan kepada pelanggan, master bisa dengan jelas mengatakan tidak pada hal-hal yang salah. Aku sangat menghormati master, jadi aku terkejut ketika beliau berkata, "Jika kamu berhenti sekolah, kamu akan dipecat dari pekerjaan paruh waktumu."
Namun kemudian, dua atau tiga hari kemudian, master meneleponku saat aku sedang merasa sedih.
Suaranya terdengar agak canggung. "Direktur Eksekutif, besok kami kekurangan staf. Bisakah kamu membantu kami?"
Ketika satu pintu tertutup, pintu lain akan terbuka...... Master adalah dewa yang meninggalkanku sekaligus dewa yang menjemputku. Tak diragukan lagi bahwa beliau adalah dewa bagiku. Keesokan harinya, aku kembali bekerja paruh waktu di Chiki Chiki Bomber.
Sekalipun aku bisa diterima di EXPG, aku tetap butuh uang dulu. Pekerjaan paruh waktuku di Chiki Chiki sebagian besar dari sore hingga malam hari, jadi aku harus menggunakan waktu yang biasa kuhabiskan di sekolah untuk pekerjaan paruh waktu lain. Saat aku sedang berpikir untuk mencari pekerjaan paruh waktu lainnya, ibu temanku, yang bekerja sebagai manajer area di restoran cepat saji, tiba-tiba muncul di Chiki Chiki.
"Ryuto, katanya kamu putus sekolah. Jika kamu mencari pekerjaan paruh waktu, datanglah ke tempat kami untuk wawancara besok."
Semuanya berjalan lancar. Master bahkan menanggapi, "Syukurlah!"
Tapi aku merasa khawatir bahwa aku tidak akan cocok di tempat-tempat dengan aturan kerja paruh waktu yang ketat, seperti supermarket, minimarket, atau restoran cepat saji. Hal lain yang menggangguku adalah banyaknya orang yang kukenal dari SMP dan SMA yang sering nongkrong di tempat itu.
Keesokan harinya, ketika aku pergi ke restoran cepat saji itu, "wawancara" hanyalah formalitas, dan di hari yang sama, aku sudah mengenakan seragam dan berdiri di dapur, yang dipenuhi bau minyak. Aku tidak ditempatkan di kasir atau semacamnya. Karena bekerja di ruang belakang, aku tidak bertemu siapa pun yang aku kenal, tetapi beberapa bulan kemudian, firasatku bahwa "pekerjaan paruh waktu dengan aturan yang ketat bukanlah untukku" terbukti benar.
Hari itu, aku sedang mengangkut stok makanan dengan gerobak dari gudang yang tidak jauh dari restoran cepat saji. Di sebelahnya ada tempat perjudian pachinko, di mana para pelanggan asyik bermain pachinko sambil menghisap rokok. Karena apa yang terjadi pada ayahku, aku sangat tidak menyukai orang-orang yang sering mengunjungi tempat perjudian pachinko. Mungkin perasaan itu terlihat di wajahku. Saat aku mendorong gerobak dengan sekuat tenaga, aku bertatap muka dengan seorang pria tua yang tampak sangat marah. Dia mungkin kalah dalam permainan pachinko. Kekesalannya terlihat jelas di wajahnya.
Aku segera mengalihkan pandangan dan terus mendorong gerobak dengan tenang. Tiba-tiba, pria tua itu berjalan ke arahku dengan tatapan tajam, dan berteriak, "Mau apa lo?", aku menyadari wajahnya hanya berjarak sekitar 10 cm dari wajahku.
Seandainya aku mengikuti petunjuk, bahkan jika aku tidak melakukan kesalahan apa pun, aku seharusnya meminta maaf dan mencoba menyelesaikan situasi ini sedamai mungkin. Tapi aku merasakan amarah yang mendalam membuncah di dalam diriku terhadap orang dewasa ini yang kalah tanpa alasan, kehilangan kesabaran tanpa alasan, dan bertindak mengancam tanpa alasan. Aku melepaskan troli, mencengkeram kerah baju pria tua itu, dan berkata,
"Heh, aku tidak tahu apakah anda kalah di pachinko atau apa pun, tapi apakah pantas bagi orang dewasa untuk mencari masalah dengan anak muda di siang bolong?"
Kami tidak terlibat dalam perkelahian sengit, kami hanya saling menatap tajam dari jarak dekat untuk beberapa saat. Jika dia terus menantang, aku pasti akan membalasnya dengan sekuat tenaga. Begitulah marahnya aku. Pria itu tampak sedikit terkejut, tetapi dia tidak bisa mundur, jadi dia terus berteriak, "Mau apa lo? Mau gelut sini?!". Jika ini era Reiwa, dan seseorang merekamnya, aku pasti sudah tamat dalam sekejap.
Kemudian, seorang karyawan bergegas keluar dari restoran cepat saji, berteriak, "Hentikan!" dan "Cukup!", lalu memisahkan aku dan pria tua itu.
Segera setelah itu, manajer restoran menegurku, "Dalam situasi seperti itu, kamu harus selalu mengikuti aturan. Jangan terprovokasi jika seseorang menantangmu." Aku langsung kembali bekerja, tetapi dalam hatiku aku telah memutuskan, "Aku sudah tidak tahan lagi, aku pasti akan berhenti." Bukan hanya karena aku tidak menikmati bekerja di restoran cepat saji, tetapi lebih dari itu, aku merasa jika aku terus seperti ini, aku mungkin akan menimbulkan masalah yang lebih besar.
Setelah berhenti dari pekerjaan paruh waktu siang hariku, aku mendapat lebih banyak shift di Chiki Chiki, tetapi meskipun begitu, aku masih punya terlalu banyak waktu luang. Aku menyadari bahwa aku perlu segera bergabung dengan EXPG untuk meredam energi yang meluap-luap ini. Ini bukan saatnya untuk mengatakan, "Aku akan melakukannya setelah menabung cukup uang." Setelah membuat pernyataan yang begitu berani dan putus sekolah, aku belum melakukan upaya apa pun untuk menjadi penyanyi selama enam bulan terakhir. Paling-paling, aku hanya berlatih vibrato di rumah, menggunakan remote TV sebagai mikrofon dan melihat bayanganku di jendela. Itu saja.
Bukan hanya pria tua yang bertingkah sok jagoan di depan tempat pachinko itu yang payah. Ternyata aku juga.
Karena tidak bisa duduk diam lagi, aku memutuskan untuk pergi ke EXPG sesegera mungkin.
Stasiun terdekat ke EXPG di Osaka adalah Stasiun Sakuragawa. Setelah keluar dari stasiun kereta bawah tanah dan menyeberangi Jembatan Shiomibashi, aku bisa melihat atap Kyocera Dome di sebelah kiriku, yang menyerupai topi alien. Aku bertanya-tanya apakah setiap orang yang menyeberangi jembatan ini bermimpi tentang hari di mana mereka akan berdiri di kubah itu.
"Aku punya mimpi."
Aku langsung menemukan EXPG. Anak-anak muda seusiaku berbondong-bondong masuk ke gedung itu, seolah-olah ditarik oleh magnet.
Tetapi ketika aku bertanya di resepsionis, "Bagaimana caraku masuk ke sini?", wanita di meja resepsionis menjawab dengan datar, "Saat ini, ada daftar tunggu dulu selama enam bulan!"
"Ah sial!"
Aku merasa menyedihkan karena begitu ceroboh. Aku menyadari bahwa aku perlu menemukan sesuatu yang bisa kulakukan untuk menjadi penyanyi selama enam bulan itu, setidaknya sampai aku bisa masuk. Dalam perjalanan pulang dari EXPG, Kyocera Dome, seperti yang terlihat dari Jembatan Shiomibashi, tampak kabur dan jauh lebih sulit digapai daripada saat aku melihatnya dalam perjalanan ke sana sebelumnya.
🩵🩵🩵
(terjemahan bahasa Indonesia bekerjasama dengan google translate, bing, dan ilmu dari penjelajahan internet)
(moion koreksi jika ada kesalahan)



No comments:
Post a Comment