find me on:

Sunday, June 7, 2026

Buku Esai Hayato Komori "Daijoubu wo Kimi ni Todoketai" (Bab 1: 04, 05, 06)

BAB. 1: Pesan 04, 05, 06 ⬇️

Buku Esai "Daijoubu wo Kimi ni Todoketai"
sumber: foto pribadi

⬛ PESAN 04:
Jika terlalu sulit, tidak apa-apa untuk menghindari penilaian dan kritik.

▪️Mengapa aku begitu peduli dengan apa yang orang lain pikirkan tentangku?

Ketika seseorang melakukan sesuatu, aku rasa orang akan cenderung khawatir apakah mereka telah melakukan pekerjaannya dengan baik?
Aku sendiri pernah melakukan rekaman TV, siaran langsung, dan pertunjukan langsung. Aku sangat khawatir tentang apa yang orang lain pikirkan tentang semua yang kulakukan. Seperti, "Eh itu Komori, artis yang sedang mencari jati diri."
Profesiku, baik atau buruk, dihargai oleh banyak orang. Aku dapat menyaksikan reaksi itu secara langsung melalui alat seperti media sosial. Meskipun pendapat anggota staf yang aku kenal secara pribadi itu penting, aku tetap melakukan introspeksi diri. Karena aku ingin memastikan bagaimana pesanku dapat sampai kepada audiens yang dituju. Dan hasilnya adalah rasio kemenangan 50:50.
Jika dihitung dengan akurat, mungkinkah sebenarnya aku lebih banyak rekor kalah daripada menang? Tapi itulah kenyataannya!

Beberapa tahun yang lalu, ketika aku menjadi pengisi acara tetap di acara "Hirunandesu!" Nippon Television setiap hari Senin, aku dikritik karena kebiasaan makanku yang berantakan saat mencicipi makanan, karena hal itu dianggap menjadi aib bagi sesama penduduk Prefektur Mie, selain itu aku dikritik juga karena reaksiku yang terlalu antusias.
Yang terburuk adalah ketika aku terharu hingga menangis saat menonton video kelahiran di kebun binatang. Begitu banyak komentar tak berperasaan membanjiri media sosial.

"Kamu (sebenarnya) tidak (ingin) menangis, kan?"
"Kamu terlalu berusaha untuk bertindak seperti orang baik."

Terus terang, aku pikir salah untuk menghakimi orang lain.
Sekadar menonton lewat layar televisi tidak mungkin tahu semua emosi yang kusampaikan. Apa pun yang dikatakan orang lain, perasaan yang meluap di dalam diriku adalah sesuatu yang tidak bisa dipahami secara total oleh siapa pun.
Ketika terganggu oleh apa yang dikatakan orang lain, pada akhirnya itu hanyalah cara untuk menunjukkan kurangnya kepercayaan diri atas apa yang telah dilakukan.
Pada saat yang sama, aku menyadari bahwa bertanya kepada orang lain apakah aku berhasil atau tidak justru dapat menambah tekanan pada diri sendiri. Tetapi orang yang kurang percaya diri tidak bisa 120% percaya pada pujian dari orang lain. Karena itu, mereka mencari-cari kekurangan mereka sendiri.


▪️Mantra pamungkas untuk melindungi diri sendiri

Meminta nasihat orang lain sama seperti sengaja terjebak dalam lingkaran negatif yang tak berujung. Meminta pendapat orang lain tentang diri kita sama seperti mengatakan, "Ya aku paham."
Ini tidak lebih dari sekadar mendapat resep untuk pengobatan sementara.
Namun, mengandalkan orang lain untuk mendapatkan rasa aman itu terlalu berisiko. Kamu bisa saja lebih mungkin mendapat respons negatif. Seperti,
"Itu bagus, tapi bisa lebih baik jika memang ada sedikit peningkatan."
Jika seseorang mengatakan sesuatu yang sespesifik itu, aku akan melakukan sesi refleksi diri yang mendalam bahkan dalam mimpi pun.
-Apakah aku berhasil?
-Apakah aku baik-baik saja?
Bertanya kepada orang lain tentang hal itu tidak ada gunanya. Oleh karena itu, aku melakukan segala yang mampu kulakukan untuk menghindari penilaian dari orang lain.
Itulah jawaban yang telah kucapai.
Lagipula, aku hanyalah......
Sekilas, pernyataan ini terdengar pesimistis, namun ini adalah mantra pamungkas. Dengan berpikir, "Lagipula, aku hanyalah..."
Aku, yang selalu mendapatkan nilai terendah, mulai mencari cara untuk mendapatkan satu poin lagi. Dan meskipun aku hanya mendapatkan satu poin, itu bukanlah "nilai terendah."
Itu sedikit melegakan.

04 "Aku tidak ingin ada yang membenciku (hiks)."

Banyak orang tidak ingin dibenci siapa pun. Mereka ingin dianggap sebagai "orang baik", dan karena itu mereka tidak bisa menunjukkan jati diri mereka yang sebenarnya. Terutama di awal tahun ajaran baru, babak baru dalam hidup, atau tonggak penting lainnya, wajar jika kita ingin dipandang sebagai "orang baik".
Namun, aku pikir keinginan untuk "menjadi orang baik" pada akhirnya hanyalah "ego sendiri". Citra yang kita miliki tentang diri kita, sosok diri kita yang ingin ditunjukan kepada orang lain, sebenarnya adalah sosok "orang baik" yang telah kita ciptakan dalam diri sendiri. Jadi, kita hanya perlu memainkan peran sebagai orang baik yang kita bayangkan.
Namun, jangan serahkan standar itu kepada orang lain.
Saat kamu bertanya kepada seseorang, "Apakah aku orang yang baik?", kamu tidak akan pernah mendapatkan jawabannya. Bahkan, jika kamu membayangkan dirimu bertanya hal itu kepada orang lain, bukankah itu tampak sangat menyedihkan? Jika kamu memiliki ketahanan mental untuk menanyakan hal itu, maka masalahnya adalah bahwa kamu tidak bisa menjadi diri sendiri karena kamu ingin orang lain menyukaimu. Jangan khawatir, jadi lanjutkan saja dan wujudkan sepenuhnya menjadi orang yang kamu inginkan.

Kamu harus menciptakan identitasmu sendiri.

Karena ini adalah sesuatu yang ingin dilakukan, jadi diriku yang sebenarnya muncul secara alami. Terlebih lagi, karena aku hidup sesuai dengan aturan menjadi orang baik yang telah aku tetapkan untuk diriku sendiri, semangatku tidak pernah padam.
Jika kamu menyimpang dari aturan-aturan tersebut, kamu mungkin berpikir, "Aku benar-benar ingin berinteraksi dengan mereka seperti ini," atau, "Aku ingin mengatakan itu." Kamu harus merenungkan hal itu dan berpikir, "Seharusnya aku melakukan itu."
Tidak perlu menyalahkan siapa pun, dan kita bisa mulai memperbaiki keadaan besok. Jangan biarkan orang lain menentukan standarmu!

"Pada akhirnya, itu adalah "ego sendiri". Berperanlah sebagai orang baik sebaik mungkin! Namun, jangan serahkan standar itu kepada orang lain!"


⬛ PESAN 05:
Apa arti menjadi diri sendiri? Setiap orang itu unik, dan itu tidak apa-apa, kan?

▪️Apakah menjadi diri sendiri benar-benar diperlukan?

"Hiduplah sebagai dirimu sendiri".

Jika diucapkan seperti itu, kedengarannya seperti sesuatu yang luar biasa dengan sendirinya. Tapi entah kenapa rasanya tidak tepat. Karena bukankah ada garis tipis antara menjadi diri sendiri dan menjadi egois.
Ketika aku melihat seseorang dengan percaya diri berkata, "Aku menjalani hidup dengan caraku sendiri." Jujur saja, terkadang aku merasa bahwa itu menjengkelkan. Tetapi jika aku menyangkalnya, rasanya seperti aku mengakui bahwa aku tidak hidup sesuai dengan jati diriku.
Untuk menghindari kesan kepada orang-orang di sekitarku bahwa aku "menjalani hidup yang menyedihkan", aku menyukai ungkapan "bersikaplah jujur pada diri sendiri!" sebagai sesuatu yang luar biasa. Saat berhadapan dengan orang-orang egois, yang bisa kukatakan hanyalah, "Bagus sekali kau telah bersikap apa adanya!"
Suasana seperti ini terasa agak meresahkan.
Tentu saja, tidak semua orang menyebalkan, tetapi, itu seperti pelecehan karena menjadi diri sendiri.

Ada saat-saat ketika aku merasakan hal seperti itu. "Tidak peduli apa yang orang lain pikirkan tentangku, aku bahagia karena aku hidup sesuai dengan diriku sendiri!"
Saat orang lain mengatakan itu sambil tersenyum lebar, rasanya seperti memaksakan dan menyesakkan.
Oleh karena itu, aku pikir "menjadi jujur pada diri sendiri yang tidak selaras dengan orang-orang di sekitarmu" itu tidak perlu.
Selama kamu tidak menimbulkan gesekan, bahkan tanpa perasaan "menjadi diri sendiri," itu sebenarnya tidak menyakitkan.
Hanya hidup seperti itu, kurasa, sudah cukup.

05 "Terkadang aku membenci diriku sendiri karena sama sekali tidak memiliki kualitas yang baik."

Aku ingin hidup seperti angin, aku tidak ingin bertengkar dengan siapapun, aku ingin menghindari konflik. Seperti angin, aku ingin hidup tenang dan damai bersama orang-orang di sekitarku. Oleh karena itu, aku pikir lebih baik tidak terpaku pada satu gagasan, tetapi terbuka terhadap kedua sisi argumen. Pertama-tama, apa artinya menjadi diri sendiri?

Jawabanku adalah prasangka yang dimiliki orang lain tentangku.

Gambaran tentang kekuatan dan kepribadianmu yang telah didefinisikan oleh orang lain.. aku pikir itulah yang membentuk "jati dirimu yang sebenarnya."
Jadi, mengapa itu perlu? Bukankah pada akhirnya karena kamu ingin menarik garis dan mengatakan, "Aku berbeda dari orang-orang di sekitarku," Bukankah kamu bukan ingin diakui oleh "dirimu sendiri", melainkan oleh seseorang di sekitarmu? Dan selain itu, apakah "kesadaran diri" yang mandiri benar-benar diperlukan?

Sejauh apa pun kamu pergi, seseorang tidak dapat hidup sendirian.

Aku tidak punya keberanian atau tekad untuk hidup terisolasi dari masyarakat. Kurasa individualitas dan kekuatan itu penting. Itu berhubungan dengan menerima dan mencintai diri sendiri. Tapi itu berbeda dengan "menjadi diri sendiri".
Pepatah "setiap orang punya kepribadian masing-masing" memang benar adanya, tetapi kenyataannya, tidak ada satu pun orang di dunia ini yang memiliki kepribadian yang sama persis. Lebih jauh lagi, setiap orang memiliki banyak sisi berbeda yang tidak mereka tunjukkan kepada orang di hadapan mereka.
Kalau begitu, bukankah tidak apa-apa jika setiap orang memiliki "keunikannya tersendiri"? Tidak perlu memaksakan diri untuk mempersempitnya hanya pada satu hal. Tidak masalah jika kamu tidak memiliki inti yang kuat. Aku pikir kemampuan untuk melindungi diri sendiri adalah kekuatan terbesar untuk manusia.

"Wajar jika setiap orang memiliki berbagai macam ekspresi. Jadilah "unik dalam segala hal!"


⬛ PESAN 06:
Rentangkan "Antena"-mu, dan raih kembali perasaan jujurmu!

▪️Tekanan ekspektasi

Ekspektasi orang-orang di sekitarmu dapat menjadi sumber tekanan yang sangat besar. Sebagai contoh, harapan orang tua. Sebagai orang tua, mereka peduli dengan masa depan dan urusan pribadi anak-anak mereka. Kita tahu mereka khawatir. Namun, kekhawatiran itu terkadang bisa berubah menjadi tekanan. Semakin kita berpikir, "Kita tidak ingin menimbulkan kekhawatiran," justru malah perasaan... "Kita harus memenuhi harapan" semakin kuat.

Tekanan dari ekspektasi teman mungkin lebih mirip dengan kesombongan.
-Aku tidak ingin orang-orang mengasihani aku.
-Aku tidak ingin orang berpikir bahwa aku adalah seseorang yang mereka rindukan.
Justru karena itulah aku mencoba bersikap tegar lebih dari yang seharusnya.
Aku berpura-pura bahwa aku baik-baik saja.
Namun, ekspektasi masyarakat tetap sama.
Aku tidak ingin kemampuanku disangkal.
Aku tidak ingin dianggap sebagai "orang yang tidak cocok secara sosial"
Aku ingin dipandang sebagai orang yang kompeten dan dihargai.
Itulah mengapa kegagalan bukanlah pilihan.

▪️Ekspektasi orang lain dan keraguanku sendiri

Namun, karena terlalu berusaha memenuhi harapan orang lain, terkadang aku tidak tahu apa yang sebenarnya aku inginkan.
"Eh? Apakah ini benar-benar yang ingin aku lakukan?"
Untuk memenuhi harapan seseorang, itu berarti kamu benar-benar harus mengorbankan sesuatu. Semua orang sudah paham.
Apakah itu waktu.
Apakah itu perasaan sendiri.
Atau mungkin itu diri sendiri.
Meskipun berbeda-beda dari orang ke orang, tentu saja sesuatu pasti sedang hilang.

06 "Aku merasa seperti termasuk orang-orang yang 'tidak memilikinya'."

Jadi, apa yang harus kita lakukan? Jawabanku saat ini adalah...
Aku rasa ini tentang meningkatkan jumlah hal-hal yang membuat kita merasa bahagia.
Saat kamu berupaya mendapatkan pengakuan dari orang lain dan terus maju sambil merenungkan diri sendiri, penting untuk meningkatkan jumlah "antena" dalam dirimu sehingga kamu dapat merasakan kebahagiaan dalam segala bentuknya.
Jika kamu hanya memiliki satu antena, kamu harus menempuh perjalanan yang sangat panjang untuk mencapai tujuan meraih kebahagiaan. Di sepanjang jalan, ada kemungkinan besar mengalami kemunduran, penyesalan, dan bahkan jika kamu berhasil mencapainya, kamu mungkin tidak merasa puas.
Namun aku pikir jika kamu memasang banyak antena dan mampu menangkap semua yang ada di hadapanmu dalam segala bentuknya, kamu tidak akan terlalu kehilangan arah.

Pada akhirnya, kita bekerja keras untuk membuat diri kita bahagia.

Apa yang kamu anggap sebagai karya terbaikmu bervariasi tergantung pada sifat pekerjaan dan kepribadianmu, jadi kamu perlu memastikan bahwa kamu berada dalam posisi untuk memahami dengan jelas apa yang kamu anggap sebagai karya terbaikmu.
Sekali pun kamu mati-matian berusaha meyakinkan orang lain bahwa kamu benar-benar berbeda dari bagaimana mereka melihatmu, mereka mungkin sebenarnya melihatmu sebagai seorang yang sangat bahagia dan puas. Sebaliknya, seseorang yang menjalani hidup dengan santai mungkin dianggap sebagai perusak suasana oleh orang-orang di sekitarnya.

Pada akhirnya, kita bekerja keras untuk bahagia, jadi pertama-tama kita perlu berada dakam kondisi di mana kita benar-benar merasa bahagia.

"Pasang banyak antenamu sendiri, dan tangkaplah kebahagiaan!"


Di dunia ini, hanya ada dirimu satu.
Percuma saja mengorbankan hatimu yang berharga hanya demi sebuah hubungan dengan orang lain.
Sedikit kepercayaan, luangkanlah waktu untuk percaya pada diri sendiri, satu-satunya diri.
Aku rasa itulah hal yang paling penting saat ini.



(terjemahan bahasa Indonesia bekerjasama dengan google translate, bing, dan ilmu dari penjelajahan internet)
(mohon koreksi jika ada kesalahan)



No comments:

Post a Comment