find me on:

Saturday, June 20, 2026

Buku Esai Hayato Komori "Daijoubu wo Kimi ni Todoketai" (Bab 4)

Buku Esai "Daijoubu wo Kimi ni Todoketai"
sumber: foto pribadi

BAB 4
APA YANG BISA KULAKUKAN UNTUK MEREKA YANG MENDUKUNGKU.
ULURAN TANGAN YANG DIBERIKAN KEPADAKU DI SAAT-SAAT SULIT.

⬛ PESAN 19
Ketika kamu menginginkan sesuatu dari seseorang, beranilah untuk mengulurkan tanganmu terlebih dahulu.

▪️Percayalah pada sosok di cermin

Terkadang kita menganggap orang lain sebagai cerminan diri kita sendiri. Jika kamu menginginkan sesuatu dari seseorang, kamu tidak bisa hanya menunggu mereka bertindak.

Beberapa orang kesulitan berteman, menemukan teman yang dapat dipercaya. Aku sangat memahami perasaan itu, karena aku juga adalah orang yang pemalu dan introvert yang cenderung menarik diri ke dalam cangkangku.
Tetapi ada sesuatu yang ingin aku ingatkan kepada kamu di saat-saat seperti ini,

"Orang lain adalah cerminan diri kita sendiri!"

Tahun ajaran baru, kehidupan baru, lingkungan baru. Pindah sekolah, berganti pekerjaan, pindah ke departemen baru, bergabung dengan klub untuk pertama kalinya. Ketika kamu melangkah keluar dari wilayahmu dan menghadapi tantangan, kamu tidak dapat mengharapkan orang lain untuk bertindak kecuali kamu mengambil inisiatif.

Sama seperti sosok yang terlihat di cermin, ia tidak akan bergerak jika kamu hanya berdiri di depannya. Kamu perlu berbicara sendiri, bahwa

Tidak ada yang dimulai tanpa tindakan.

Jika kamu ingin disapa, sapa orang lain terlebih dahulu.
Jika kamu ingin berbicara dengan seseorang, mulailah percakapan.
Jika kamu ingin berbagi hobi dengan orang lain, mulailah dengan berbagi hobimu sendiri.
Jika kamu tidak pandai memulai percakapan, cukup dengan memasang gelang karet band favoritmu di tasmu, mungkin kamu akan mendapatkan respons seperti, "Oh? Kamu suka band itu?"

"Berbicara" bukanlah satu-satunya tindakan.

Tindakan dapat mengambil banyak bentuk.

Jika kamu suka anime, cobalah mengenakan kaos anime.
Jika kamu suka musik, kamu bahkan bisa memutar musik, selama tidak mengganggu.

Dalam hal ini, pastikan untuk mempersiapkan diri dengan matang. Bersiaplah untuk menjawab pertanyaan apa pun yang mungkin diajukan kepadamu. Jika kamu tidak pandai berbicara, maka yang penting adalah menunggu keberanian untuk didekati.

Jika kamu ingin seseorang menghubungimu, kamu harus menghubunginya terlebih dahulu.

Orang-orang yang menerima bantuan ketika mereka dalam kesulitan adalah mereka yang mampu menghubungi orang lain yang membutuhkan.

19➡️"Aku sangat canggung dalam pergaulan. Aku tidak bisa berteman."

Aku mengerti tentang perasaan ingin menarik diri ke dalam cangkangmu ketika kamu kewalahan dengan masalahmu sendiri dan tidak bisa melihat hal lain. Tetapi di saat-saat seperti ini, alih-alih membangun penghalang yang sedikit lebih tipis dari biasanya untuk melindungi diri sendiri, cobalah melihat ke luar. Lihatlah sekeliling, dan jika kamu melihat seseorang yang kamu minati, dekati mereka.

Mulailah dengan mendekati mereka sebagai orang yang kamu inginkan. Dan ingatlah bahwa emosi negatif yang kamu rasakan seringkali sama dengan emosi yang mereka rasakan juga.

-"Bagaimana jika mereka mengabaikanku saat aku mencoba berbicara dengan mereka sekarang?"
-"Bagaimana jika percakapan kami tidak berlanjut?"
-"Mungkin mereka lebih suka sendirian?"

Kecemasan negatif itu.. mereka mungkin merasakan hal yang sama seperti kamu. Wajar untuk saling mengamati, jadi meskipun langkah pertama tidak berjalan dengan baik, jangan khawatir. Anggap saja itu sebagai bonus jika berhasil.

Meskipun awalnya tidak berjalan lancar, jangan memandang resah orang tuamu dan berpikir, "Aku tidak berguna." Aku ingin kamu sepenuhnya menerima diri sendiri, termasuk kegagalan dan perjuangan yang kamu hadapi.

Namun, ada satu hal yang ingin aku ingatkan.

Yaitu, ada jeda waktu sebelum orang (atau kamu) dalam pikiranmu bertindak.

Kamu perlu bersabar. Dengan berpikir, "Aku sudah melakukan ini, tapi mengapa mereka tidak bergerak?" mungkin itu sedikit terlalu dini. Sama seperti pandangan berubah tergantung pada sudut cermin, dan kamu tidak dapat melihat bayanganmu ketika cahaya memantul darinya, ada orang yang tidak dapat kamu lihat. Oleh karena itu, memiliki kesabaran untuk menunggu orang lain akan meringankan hatimu. Jika kamu ingin dicintai oleh orang-orang di sekitarmu, pertama-tama jadilah seseorang yang dapat mencintai diri sendiri.

"Ulurkan tanganmu! Jangan terburu-buru untuk mengharapkan imbalan apa pun!"


⬛ PESAN 20
Hari ini bukanlah kelanjutan dari kemarin, tetapi sebuah permulaan baru, sebuah kelanjutan dari setiap harinya.

▪️Sebuah peringatan tentang jalan baru

Di tahun kedua SMA, aku memutuskan untuk menjadi member GENERATIONS dan mengincar debut besar. Ini adalah awal perjalananku. Pilihan itu tidak mudah. Kami melakukan pertunjukan promosi langsung di pusat perbelanjaan dan plaza bahkan di hari kerja, dan aku semakin sering mendapat kesempatan untuk berpartisipasi sebagai penari pendukung untuk penampilan langsung EXILE. Seiring dengan semakin sibuknya latihan dan pekerjaan, secara bertahap aku menjadi sulit untuk terus bersekolah di SMA.

Sekitar waktu itu, aku merasa telah mengubah arah hidupku. Aku memutuskan untuk pindah dari sekolah tatap muka ke sekolah korespondensi, dan sesuatu mulai berubah dalam diriku.

Sejujurnya, bukan berarti aku membenci sekolah. Aku punya teman, dan meskipun aku tidak terlalu pandai belajar, itu bukanlah sesuatu yang aku benci sampai mati. Aku juga tidak terlalu membenci guru-guru, dan aku sering berpikir betapa menyenangkannya jika bisa berpartisipasi dalam festival olahraga, festival budaya, dan perjalanan sekolah. Namun di tengah semua itu, aku membuat keputusan dan memilih mimpiku.

Ketika aku kembali ke kelas dengan brosur kursus korespondensi di tanganku, seorang teman dekatku melihatnya dan langsung menangis. Teman-teman sekelasku menyiapkan acara perpisahan untukku hingga siang hari. Dan di hari terakhirku di sekolah, semua orang menulis pesan di papan tulis selama jam pelajaran, dan aku merasa... Aku tak bisa menahan air mataku saat itu. "Betapa beruntungnya aku," pikirku dari lubuk hati.

▪️Kelanjutan dari kemarin yang hanya aku yang tidak tahu

Namun dari situ, kenyataan pindah ke kursus korespondensi lebih kejam dari yang kubayangkan. Kupikir kami akan selalu berteman, tetapi ternyata tidak semudah itu.

Orang-orang yang kutemui hampir setiap hari tiba-tiba menghilang. Bagiku, itu berarti aku tiba-tiba kehilangan kontak dengan lebih dari 30 orang, tetapi dari sudut pandang mereka, aku hanyalah salah satu dari mereka. Bahkan tanpaku, kehidupan sehari-hari mereka tetap berjalan seperti biasa.

Festival olahraga tiba sesuai rencana. Tanpa kusadari, aku melihat di media sosial foto-foto teman-teman yang dulu sering bersamaku, membeli sepatu bersama keponakannya dan berpartisipasi dalam festival olahraga.

Di festival budaya, semuanya dengan gembira mengenakan hoodie kelas yang akan kupakai juga jika aku masih bersekolah penuh waktu. Di kompetisi paduan suara, aku baru tahu untuk pertama kalinya bahwa ada mantan teman sekelasku yang bisa bermain piano.

Bahkan ketika aku bertemu teman-teman setelah sekian lama, mereka semua dengan antusias membahas topik-topik yang sama sekali tidak kuketahui.

Meskipun kami hampir setiap hari bersama, aku menyadari bahwa aku telah menjadi seseorang yang tidak lagi dapat mengetahui kelanjutan dari "kemarin" mereka. Sekarang, di tempat di mana aku tidak hadir, kenangan mereka diperbarui dan terus maju.

Pada saat itu, aku yakin dalam hatiku.

Jadi begitu ya. Hari ini bukanlah kelanjutan dari kemarin, ini adalah rangkaian hari-hari baru yang berkelanjutan.

20➡️ "Aku takut akan perubahan."

Setiap hari adalah aliran peristiwa baru yang terus-menerus.

Aku teringat akan kebenaran yang jelas itu. Saat itu, jarak yang terjadi antara aku dan teman-temanku bukan karena aku membenci mereka atau ingin balas dendam. Tapi yang hilang adalah... sesuatu telah menjauh.

Sebagai gantinya, aku mengejar mimpiku. Ada masa-masa sulit, tetapi tekad dan keteguhan itu membentuk siapa aku hari ini dan menyatukanku dengan teman-teman berharga di GENERATIONS.

Aku tidak mengatakan bahwa "Aku tidak butuh teman".

Sebaliknya, aku pikir teman dan sahabat itu penting. Tetapi kamu harus menciptakan lingkunganmu sendiri. Jika seseorang di sekitarmu tidak berubah, kamu pun tidak bisa berubah. Karena dunia berputar di sekitarmu, penting untuk mencintai dan menghargai lingkunganmu sendiri.

Saat ini aku bersama teman-teman yang sangat penting. Tapi aku tidak lagi bersama teman-teman yang dulu kumiliki.

Hari ini jelas bukan kelanjutan dari kemarin.

Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, dan aku telah mengalami banyak perpisahan dengan orang-orang yang ingin kuhabiskan waktuku bersama. Itulah mengapa aku ingin menghargai di mana aku berada sekarang. Aku akan sepenuhnya menghargai dan menyayangi waktu yang tak tergantikan yang kumiliki bersama orang-orang yang bersamaku sekarang, dan terus maju.

"Hari ini bukan kelanjutan dari kemarin, tetapi awal dari hari yang baru!"


⬛ PESAN 21
Kenyataan bahwa kamu merasa kesepian adalah bukti bahwa kamu telah memberikan yang terbaik.

▪️Mengejar mimpi itu seperti lari maraton

Saat aku berjuang meraih mimpi, terkadang aku merasa seperti sedang lari maraton. Aku mencurahkan seluruh tenaga untuk mencapai tujuan. Kecepatannya mungkin lambat, tetapi aku tetap mendorong diri hingga batas maksimal, berlari menuju garis finis. Aku memperhatikan kecepatan lariku, memastikan untuk tidak membuang energi sekecil apa pun agar selalu bergerak maju dengan kecepatan penuh.

Tidak seperti jogging, dalam maraton, kamu tidak ragu untuk mengorbankan diri demi mencapai garis finis. Kamu tidak bisa berlari dengan kecepatan nyaman hanya untuk perubahan suasana. Karena tujuannya sangat jauh, kamu berlari tanpa henti. Kamu berlari dengan sekuat tenaga untuk mencapai garis finis bahkan sedetik lebih cepat. Betapa pun sakitnya, betapa pun terengah-engahnya dirimu, kamu tidak punya pilihan selain terus berlari.

Bagaimana kamu memanfaatkan air untuk memulihkan tubuhmu yang lelah selama maraton sangat memengaruhi sisa larimu. Pada saat itu, apakah kamu minum air perlahan sambil menyesuaikan kecepatan, ataukah kamu meminumnya sekaligus untuk mendapatkan momentum dan mencoba mempercepat meskipun hanya sesaat?

Momen serupa terjadi dalam kehidupan. Sambil terus menantang diri sendiri, kamu mungkin bertanya-tanya, "Haruskah aku istirahat sekarang?" atau "Haruskah aku tetap lanjut?". Ada kalanya kamu dihadapkan pada pilihan untuk mencurahkan seluruh energimu ke sesuatu sekaligus. Kemampuan untuk membuat penilaian itu dapat menentukan hasil suatu perlombaan.

Namun, kedua pilihan tersebut mengandung risiko, itulah sebabnya kamu tidak punya pilihan selain percaya pada diri sendiri dan terus maju melalui proses coba-coba. Bahkan jika kamu gagal, kamu bisa belajar darinya dan mencoba lagi. Ini adalah siklus "try and error".

Sejauh apa pun kamu melangkah, itu adalah pertempuran melawan diri sendiri. Itu membuatmu menyadari bahwa mengejar impian adalah olahraga individu.

▪️Kesepian adalah bukti bahwa kamu berlari dengan kecepatan maksimal

Tetapi ada orang-orang yang mendukungmu tanpa kamu sadari. Ada orang-orang yang menyemangatimu dari pinggir lapangan sampai suara mereka serak.

Hanya setelah hasilnya keluar dan kamu melewati garis finis barulah kamu dapat merenung dengan tenang. Kamu menyadari betapa banyak orang yang mendukungmu saat itu.

Suara dan kehangatan orang lain menjadi tak terlihat ketika kamu terlalu memaksakan diri. Itu bisa dimaklumi, karena rasanya seperti kamu berlari dengan kecepatan penuh sendirian. Namun di tengah semua itu, aku menyadari bahwa saat-saat aku merasa kesepian adalah bukti bahwa aku bergerak dengan kecepatan maksimal. Semakin cepat aku bergerak, semakin sedikit pemandangan yang bisa kulihat, jadi wajar jika perasaan kesepianku meningkat. Bahkan ketika aku diselimuti kesepian itu, selalu ada kekuatan tak terlihat yang bekerja. Kekuatan itu... Kekuatan itu mendorongku maju.

Saat-saat aku merasa kesepian juga merupakan bukti bahwa aku sedang tumbuh. Itulah mengapa aku mencoba berpikir bahwa nilai sejati diriku sedang diuji ketika aku menderita.
Namun, hampir mustahil untuk mempertahankan tingkat penderitaan itu terus-menerus. Tidak, sebenarnya, kupikir itu mustahil.

Tetapi melambat setelah menetapkan kecepatan sangatlah sulit. Terlebih lagi, itu disertai rasa takut. Betapa menakutkannya melambat sedikit saja ketika kekuatanmu mencapai batasnya.

21➡️"Semakin keras aku berusaha, semakin jauh jarak dari teman-temanku."

Hanya ada satu cara untuk melepaskan diri dari rasa sakit ini, yaitu mampu mengatakan "tidak".

Sejujurnya, aku bukan tipe orang yang mudah mengatakan "tidak". Aku tidak ingin dibenci oleh siapa pun, dan aku tidak ingin menimbulkan masalah. Aku tipe orang yang berpikir lebih mudah mengorbankan diri sendiri daripada menyebabkan penderitaan emosional pada orang lain.
Tetapi jika aku tidak menciptakan ruang, aku tidak dapat menerima uluran tangan yang diberikan kepadaku. Aku juga tidak dapat mendengar suara siapa pun.

Ketika aku mendorong batas kemampuanku, aku sering menerima kata-kata positif seperti, "Semangat ya!" Tetapi aku menyadari bahwa kurangnya ruang pribadiku justru membuatku tampak puas di mata orang lain.

Dalam situasi itu, aku merasakan pentingnya "mencintai diri sendiri". Tentu saja, kata-kata dan dorongan dari orang lain tidak diucapkan dengan niat jahat. Itu adalah bukti bahwa aku menjadi mandiri dan diakui.

Hanya aku yang dapat menciptakan ruang pribadiku sendiri.

Mengambil jalan pintas dan menciptakan ruang adalah dua hal yang sangat berbeda. Melihat ke belakang, aku sungguh berharap bahwa aku menyadari perbedaan ini jauh lebih awal.

Apa yang menyebabkan aku memaksakan diri hingga batas kemampuan? Menemukan jawabannya sangat penting, dan menghadapi diri sendiri adalah kunci untuk maju. Berlari dengan kecepatan penuh tentu saja perlu, tetapi jika kamu tidak melambat, kamu akan kehilangan pemandangan di sekitarmu.

Dengan menciptakan ruang, kamu dapat melihat perspektif yang berbeda. Di dalamnya, kehadiran teman dan keluarga sejati bersinar terang. Dukungan mereka lebih besar dari kekuatan apa pun, memungkinkanmu untuk berdiri tegak bahkan ketika tubuhmu terasa berat. Terutama ketika kamu merasa kesepian, ingatlah bahwa ada orang-orang yang mendukungmu di sekitar.

"Kesepian adalah bukti bahwa kamu bekerja keras, tetapi ciptakan ruang yang cukup untuk memperhatikan dukungan di sekitarmu. Mari ciptakan ruang!"


⬛ PESAN 22
Waktunya pasti akan tiba ketika kamu dapat membalas kehangatan yang telah kamu terima hingga saat ini.

▪️Izinkan aku bercerita sedikit tentang keluargaku

Seringkali diasumsikan bahwa kenangan masa kecil dari keluarga orang tua tunggal hanya tentang ibu, tetapi kenanganku sedikit berbeda.

Aku tidak dapat mengingat kenangan spesifik apa pun. Ibuku menderita penyakit kronis dan sering keluar masuk rumah sakit sampai aku masuk SD. Karena itu, aku menghabiskan sebagian besar waktuku tinggal bersama kerabat. Oleh karena itu, kenangan terawalku selalu tentang ditinggalkan di rumah kerabat, menangis saat mengucapkan selamat tinggal kepada ibuku.

Bahkan setelah kesehatan ibuku membaik dan beliau mulai tinggal bersamaku, tidak pernah mudah baginya untuk membesarkan anak sendirian. Sudah biasa bagi ibuku untuk tidak ada di rumah ketika aku pulang sekolah. Tetapi pada saat itu, aku tidak merasa bahwa itu menyakitkan. Sebaliknya, aku entah bagaimana senang memiliki waktu untuk diri sendiri sebelum ibuku kembali. Mungkin bahkan saat itu, aku tidak menolak "sendirian".

Kesepian bukanlah sesuatu yang istimewa bagiku bahkan saat itu. Mungkin aku secara alami menerimanya sebagai bagian dari menjalani hidupku dengan ritmeku sendiri. Untuk beberapa waktu setelah mulai tinggal bersama ibuku, aku masih tidur bersamanya, tetapi ketika aku kelas 1 SD, aku tiba-tiba menjadi mandiri.

Semuanya dimulai dengan pertanyaan sederhana, "Apakah kamu ingin mencoba tidur sendiri?" Hari itu, aku tidur di kamarku sendiri untuk pertama kalinya. Rupanya, ibuku begadang sepanjang malam menungguku, khawatir aku akan terbangun dan kembali karena aku tidak bisa tidur sendiri lagi.

Ibuku begadang sedangkan aku tidur sangat nyenyak sejak hari pertama tidur sendiri. Aku sendiri terkejut betapa nyenyaknya aku tidur tanpa beban sedikit pun.

Kemudian, aku mulai menari di kelas 3 SD. Aku mulai menari sebagai saluran hobi ibuku, tetapi mimpiku semakin besar, dan aku mulai bersekolah tari di Tokyo seminggu sekali. Pada kelas 5 SD, aku sudah bolak-balik sendiri dari Prefektur Mie ke Tokyo.

Ketika aku masuk SMP, akhirnya aku mengambil keputusan. Aku ingin pergi ke Tokyo untuk mewujudkan mimpiku menjadi penari. Justru ibuku, yang tak disangka-sangka, yang membantuku mengubah perasaan itu menjadi kenyataan.

Tahun itu, aku pergi ke Tokyo sendirian. Menjadi mandiri dari orang tuaku, meraih sesuatu sendiri. Awalnya, aku merasa kesepian, tetapi perlahan aku menyadari bahwa itu membuatku lebih kuat. Dalam kebebasan yang kurasakan jauh di lubuk hatiku, aku yakin akan meraih sesuatu. Aku bisa melanjutkan hidupku.

▪️Kerinduan akan kota dan kebebasan dari kampung halaman

Sejujurnya, kerinduanku akan kota sangatlah kuat. Kebebasan dari kampung halaman, ini membuatku sangat gembira. Aku segera mengubah dialek lokalku menjadi bahasa Jepang standar, dan saat itu, aku mendengus, "Aku tidak akan pernah pulang lagi!" dan semakin tenggelam dalam duniaku sendiri.

Namun, kenyataan setelah pindah ke kota seringkali tidak sesuai harapan. Pertengkaran dengan ibuku sangat hebat. Setiap hari, aku pergi ke sekolah dan mengikuti les tari dari sore hingga malam. Meskipun kehidupanku sangat sibuk, kami tetap saling menelepon sekali di pagi hari dan sekali di malam hari.

Telepon berdering. Ibuku sangat ketat. Waktu bangun pagiku sudah ditentukan karena sudah waktunya pergi ke sekolah, dan jika aku terlambat menelepon pada waktu itu, beliau akan marah besar. Dan jika ada sesuatu yang tidak berjalan baik dalam les tari dan aku menelepon karena merasa sedih, beliau akan langsung berkata, "Berhenti saja dan pulang!"

Saat itu, aku terus berpikir, "Mengapa orang ini begitu ketat padaku?"

"Mengapa bukan dia yang paling mendukung dan menyemangatiku?"

Perasaan itu semakin kuat, dan aku mulai membenci panggilan telepon setiap hari. Meskipun aku sudah pindah ke kota, hatiku masih tertahan di tempat yang sama seperti dulu.

Bahkan setelah masuk SMA, panggilan telepon itu tetap sama. Aku melaporkan semua yang kulakukan, dan aku mati-matian berusaha bertahan hidup setiap hari, mengandalkan uang yang dikirim ibuku.

Jauh di lubuk hatiku, aku tahu ibuku bersikap ketat karena beliau peduli padaku, tetapi saat itu, aku begitu sibuk mengejar mimpiku sehingga aku tidak mampu menerima kekhawatirannya.

Kemudian, aku perlahan-lahan memahami betapa besar dukungan yang diberikan oleh kasih sayang ibuku yang tegas, tetapi saat itu, aku tidak bisa menerimanya dengan jujur.

▪️Kemandirian dan hubungan yang perlahan memudar

Ketika aku lolos audisi LDH dan dikontrak, hidupku berubah drastis. Aku melakukan debut saat masih duduk di bangku SMA, dan meskipun aku belum sepenuhnya bisa "hidup mandiri", aku secara bertahap mulai mendapatkan penghasilan.

Sambil masih menerima dukungan finansial dari ibuku, aku secara bertahap membangun fondasi untuk menghidupi diriku sendiri. Akibatnya, "kesepakatan telepon" yang ketat yang sebelumnya berlaku, secara bertahap melonggar, dan hubungan serta rasa terkekang dari ibuku perlahan memudar. Bagiku, yang pindah ke Tokyo untuk mencari kebebasan, ini terasa seperti pembebasan kedua.

Seiring debutku dan meluasnya ruang lingkup aktivitasku, aku menjadi sepenuhnya mampu hidup tanpa ibuku. Dan sebelum aku menyadarinya, jarak antara aku dan ibuku secara bertahap semakin melebar. Panggilan telepon harian berkurang, batasan waktu yang selama ini sangat kukhawatirkan menghilang, dan kebebasanku meluas.

Perubahan ini tampak sangat alami, dan kupikir itulah arti "menjadi dewasa". Tetapi waktu berlalu tanpa aku sempat mempertimbangkan apakah perubahan dalam hubungan kami ini benar-benar hal yang tepat untukku.

Kemudian, penyakit kronis ibuku memburuk.

Saat mendengar berita itu, antara "kebebasan" dan "keluarga" beririsan dalam diriku. Setelah berpikir panjang, aku memutuskan untuk mengajak ibuku ke Tokyo dan tinggal bersamaku.

Itu adalah masa yang sulit. Bukan karena hubunganku dengan ibuku buruk. Hanya saja, jauh di lubuk hati, aku merasa sedikit sedih.

Aku akhirnya mendapatkan kebebasanku. Waktu yang seharusnya kuhabiskan sendirian, sekarang akan aku habiskan bersama ibuku. Rasanya seperti aku melepaskan kebebasan yang telah aku peroleh sekali lagi.

▪️Aku terus maju, didorong oleh energi yang aku butuhkan untuk mendukung ibuku

Ketika aku mulai tinggal bersama ibuku, aku dengan telaten menjaga kesehatannya. Nutrisi, olahraga, rutinitas harian.. aku mengawasi semuanya dengan saksama.

Selain itu, untuk menjaga hubungannya dengan masyarakat, aku berulang kali mendorongnya untuk bekerja di Tokyo. Tetapi kenyataan itu keras. Usia, kekuatan fisik, dan penyakit ibuku membuatnya sulit beradaptasi dengan kota Tokyo.

Ketika ibuku merasa sedih, aku sering menyemangatinya. Aku mengatakan kepadanya untuk tidak menyerah, untuk tidak patah semangat. Tanpa aku sadari, aku membayar sewa, tagihan listrik, dan biaya hidup kami. Tentu saja, alasan utamanya adalah untuk mewujudkan mimpiku sendiri. Namun di balik itu semua, ada juga bagian dari diriku yang bekerja keras untuk ibuku.

Ada sebagian dari diriku yang tegang. Itu bukan rasa sakit, melainkan, itu menjadi kekuatan pendorong untuk terus maju.

Rasa itu menghilang sebelum aku menyadarinya. Sebelum aku menyadarinya, "penyesalan karena melepaskan kebebasanku" yang kurasakan ketika kami pertama kali mulai tinggal bersama telah lenyap.

Sudah delapan tahun sejak aku mulai tinggal bersama ibuku. Sekarang, kupikir sudah cukup jika ibuku sehat dan hidup bebas, meskipun beliau tidak memaksakan diri untuk tetap berhubungan dengan masyarakat.

Mungkin karena perasaanku berubah seperti ini, ibuku juga berubah. Beliau mulai berkonsultasi denganku sebelum membeli apa pun. Jika ada sesuatu yang diinginkannya, beliau akan jujur memberitahuku. Sebagai tanggapan, terkadang aku melontarkan sesuatu yang agak kasar, seperti, "Ibu tidak butuh itu!"

Dan seiring kesibukanku meningkat, aku secara bertahap menghabiskan lebih banyak waktu sendirian daripada bersama ibuku. Sama seperti keadaan aku dan ibuku dulu.

22➡️"Orang tuaku sama sekali tidak mengerti aku!"

Seiring waktu berlalu, dan aku tumbuh dewasa, mendapatkan kekuatan untuk hidup mandiri, hubunganku dengan ibuku perlahan berbalik.
Tiba-tiba terlintas dalam pikiranku bahwa hubunganku dengan ibuku seperti jam pasir. Pasir terus jatuh dari atas ke bawah.

Waktu tampaknya hanya mengalir ke satu arah, tetapi jam pasir, pada saat tertentu, tiba-tiba berbalik.

Ketika aku masih kecil, ibuku mencurahkan begitu banyak waktu untukku. Setiap butir pasir adalah cinta, kata-kata, dan doa. Tanpa kusadari, semua "masa kini" ibuku digunakan untuk "masa depanku."

Dan waktu yang kuhabiskan sendirian adalah harapan agar aku bisa berdiri di atas kakiku sendiri.

Dan sekarang, jam pasir telah berbalik secara diam-diam.

Sebelum kusadari, giliranku untuk mencurahkan waktu ke dalam kehidupan ibuku. Beliau telah berjalan bersama langkahku, dan menyentuh tanganku dengan lembut, dan sekarang aku mengembalikan apa yang pernah kuterima.

Mungkin ada seseorang di luar sana yang berpikir hal yang sama. Saat ini, beberapa orang mungkin sedang berada di fase pemberontakan mereka. Berkonflik dengan keluarga, merasa sedih... Tapi percayalah padaku. Suatu hari nanti, kamu akan mengerti.

-Ah, orang ini penting bagiku.
-Itulah mengapa aku mampu menerima apa pun yang mereka lakukan.

Dan kehangatan yang pernah diberikan kepadamu pada akhirnya akan berbalik dalam dirimu dan diberikan kepada orang lain. Kurasa itulah keajaiban yang tenang dan berkelanjutan dalam hubungan orang tua-anak.

"Hari itu pasti akan tiba ketika kamu mengembalikan apa yang telah kamu terima."


⬛ PESAN 23
Saingan hidupku. Partnerku memberiku dorongan yang kubutuhkan.

▪️Partner Hidup

GENERATIONS.
Grup ini benar-benar partner hidupku.

Kami semua saling mengenal sejak remaja. Beberapa member sudah saling mengenal selama 20 tahun.

-Beberapa di antara kami bukan dari industri hiburan, dan adapula seniorku di sekolah.
-Ada seorang guru sekolah tari yang menurutku sangat berbakat dan sedikit menakutkan.
-Ada seseorang yang aku lihat di program audisi dan membuatku berpikir, "Aku sama sekali tidak ingin berada di grup yang sama dengan orang ini." Entah kenapa, aku hanya ingin berpikir begitu. Sejak pertama kali bertemu hingga sekarang, dia tetap menjadi dirinya sendiri. Dia bukan saudara kandungku, tetapi aku merasa seperti bersaudara kandung dengannya.
-Ada seseorang yang telah pergi ke suatu tempat, tetapi aku harap dia baik-baik saja.

Ada berbagai macam orang.
Namun, justru karena aku bertemu orang-orang ini, dan karena kami telah sampai sejauh ini, maka aku bisa menjadi seperti sekarang ini.

Ada banyak hal yang kusyukuri. Namun, perasaanku terhadap para member tidak selalu positif.

Ada kecemburuan, kompleks inferioritas.

Karena mereka adalah rekan seperjuangan yang berjuang bersamaku.
Karena mereka adalah rekan seperjuangan yang telah lama bersamaku.
Karena mereka adalah orang-orang yang sangat dekat denganku.

Terkadang aku merasakan emosi-emosi seperti itu.
Di awal debut kami, karya debut utama kami adalah kolaborasi dengan sebuah drama. Drama itu dibintangi oleh Alan Shirahama, pemimpin kami. Dan, Reo Sano, teman seangkatanku dan juga dari grup yang sama, muncul dalam drama itu.

"Meskipun kami berada di grup yang sama, titik awal kami sangat berbeda."

Aku merasa iri. Aku mengerti usaha mereka, jalan yang telah mereka lalui, dan bagaimana mereka memanfaatkan peluang mereka. Tapi aku tidak bisa menghadapinya. Jika aku melihat itu, aku merasa telah kalah.

23➡️ "Aku iri dengan kesuksesan orang lain."

Saat kami debut dan membangun karir, para member secara bertahap memantapkan posisi dan karakter mereka. Sementara itu, kompleks inferioritasku semakin kuat. Seharusnya aku bahagia atas kesuksesan teman-temanku, tetapi jujur saja aku tidak bisa merasakan kebahagiaan itu. Itu perasaan yang menakutkan, seperti aku tertinggal di garis start.

"Kenapa kamu tidak mencoba menjadi MC?"

Suatu hari, ketika aku merasa kurang individualitas di dalam grup, seorang member menyarankan hal itu.

"Aku?" Aku, seseorang yang tidak punya apa-apa untuk ditawarkan, berbicara mewakili semua orang?

Tetapi saat itu, aku cemas, dan yang terpenting, aku tidak ingin para member berpikir bahwa aku "tidak bisa melakukannya". Jadi, aku mencobanya agak impulsif. Dari situ, aku bekerja keras untuk terus bertindak seolah-olah aku mampu. Dan entah kenapa, segalanya mulai berkembang sangat cepat. Pekerjaan individuku meningkat. Semakin keras aku bekerja, semakin banyak pekerjaanku meningkat secara proporsional.

Ada kalanya jadwal individuku menyebabkan masalah bagi grup. Meskipun begitu, para member tidak mengatakan apa pun dan terus mendukungku. Sekarang, dalam perkenalan diri di buku ini, aku merasa telah menerima banyak dukungan. Aku telah mampu mengekspresikan diri melalui tulisan. Aku telah mencapai titik di mana aku merasa masih bisa menambahkan banyak keahlian lagi ke resumeku.

Aku iri pada member lain. Aku tersiksa oleh perasaan rendah diri. Jujur, ada saat-saat aku membenci mereka. Tetapi justru karena aku berada di antara member yang begitu kuatlah aku jadi merasa menderita. Dan suara merekalah, dukungan merekalah, yang paling menyelamatkanku.

Uluran tangan dapat ditemukan di tempat yang tak terduga.

Terkadang kamu tidak bisa merasakan kehangatan yang ditawarkan. Tetapi ketika kamu menyadari kehangatan itu, kamu mendapatkan harapan dan kekuatan untuk maju.
Jangan lupakan kehangatan itu.

"Jangan biarkan rasa iri dan dengki mengendalikan hatimu. Jangan lupakan kehangatan itu!"


⬛ PESAN 24
Kamu tidak seharusnya mengukur upaya orang lain dengan standarmu sendiri.

▪️Standar pribadi terbentuk

Seiring bertambahnya pengalaman, kita secara tidak sadar membangun standar kita sendiri.

Berapa banyak waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah yang ada di hadapan kita?

-Berapa banyak usaha yang dibutuhkan?
-Bisakah aku melakukannya?
-Apa yang aku sukai, dan apa yang ingin aku lakukan?
-Sebaliknya, apa yang tidak aku sukai, dan apa yang tidak ingin aku lakukan?

Dan ini tidak hanya terbatas pada kepekaan dan perasaan kita sendiri.

-Apakah aku menyukai orang ini atau tidak?
-Bisakah aku berteman dengan orang ini atau tidak?

Standar untuk hubungan interpersonal seperti itu juga terbentuk dalam diri kita tanpa kita sadari. Aku percaya standar pribadi ini adalah, aku menyebutnya sebagai "tolak ukur pribadi"-ku.

Setiap kali aku membuat keputusan, aku menjalani hidupku dengan mengukurnya dalam pikiranku, "Menurut tolak ukur pribadiku, beginilah."

Aku yakin kamu, yang sedang membaca ini sekarang, memiliki tolak ukur pribadimu sendiri.

Bagiku, tolak ukur ini adalah standar terpenting yang harus dipercaya di dunia ini. Ini telah menjadi skala yang aku gunakan untuk mengukur segala sesuatu tentang diriku, dan telah membimbing hidupku hingga saat ini.

Namun, di awal usia 20an, aku terlalu terperangkap oleh tolak ukur itu. Aku mengukur setiap peristiwa di depanku dengan tolak ukurku sendiri, dan secara sewenang-wenang memutuskan bahwa itu mustahil. Bahkan dengan orang-orang yang aku temui, aku terlalu cepat menyimpulkan bahwa segala sesuatunya tidak sesuai dengan standarku. Akibatnya, terkadang aku menyimpan prasangka terhadap orang lain.

"Aku sudah bekerja sangat keras, tapi mengapa aku hanya dihargai pada level ini?"

Pikiran-pikiran ini menggerogoti hatiku.

Ada saat-saat ketika aku merasa sakit hati memegang tongkat ukur dan menarik garis yang jelas untuk mengukur segala sesuatu. Namun demikian, dengan memercayai tongkat ukurku dan secara bertahap mengubah standarku, dan mengalami rasa sakit dan penderitaan itu, akhirnya aku memahami sesuatu.

24➡️ "Aku cenderung membandingkan diriku dengan orang lain."

Jawaban yang kudapatkan adalah ini:

"Aku tidak boleh mengukur usaha orang lain dengan tolak ukurku sendiri."

Hanya orang lain yang tahu perjuangan dan usaha mereka sendiri. Dan sebaliknya, hanya aku yang tahu perjuanganku sendiri. Kesadaran ini secara bertahap mengubahku.

Aku menjadi mampu menghargai penderitaan dan usaha orang lain yang tidak dapat dilihat hanya melalui garis-garis yang ditunjukkan oleh tolak ukurku sendiri. Lebih dari itu, aku merasa seperti pintu terbuka untuk benar-benar memahami dan berempati dengan orang lain untuk pertama kalinya.

Jika aku mengukur orang lain dengan standarku sendiri, aku akan berakhir berputar-putar, bertanya-tanya, "Mengapa mereka tidak mengerti aku?"

Saat aku memutuskan, "Aku tidak bisa mengerti orang ini," orang lain juga akan berhenti mencoba untuk mengerti aku.

Tolak ukur penting bukan untuk mengukur orang lain, tetapi untuk melindungi diriku sendiri dengan mengetahui batasan dan potensi maksimalku. Tapi aku tidak boleh menerapkannya pada orang lain.

Tolak ukurku sendiri adalah sesuatu yang kugunakan untuk mencintai dan melindungi diriku sendiri.

Hanya ketika aku mengenal dan menerima diriku sendiri, barulah aku dapat menghormati perbedaan antara diriku dan orang lain. Dan aku dapat benar-benar berempati. Aku percaya itulah cinta diri sejati dan langkah pertama untuk memahami orang lain.

Aku ingin melakukannya. Itulah mengapa aku akan terus dengan hati-hati menciptakan tolak ukurku sendiri melalui berbagai pengalaman.

"Mari kita gunakan "tolak ukur kita sendiri" hanya untuk diri kita sendiri, bukan untuk orang lain!"


"Setiap kali kamu merasa kesepian, saat itulah kamu harus ingat bahwa ada orang-orang di sekitarmu yang mendukungmu."

***

(terjemahan bahasa Indonesia bekerjasama dengan google translate, bing, dan ilmu dari penjelajahan internet)
(mohon koreksi jika ada kesalahan)



No comments:

Post a Comment