find me on:

Saturday, June 13, 2026

Buku Esai Hayato Komori "Daijoubu wo Kimi ni Todoketai" (Bab 2)

The day has come, Happy Birthdaaayyyy to Hayato Komori!! May this year be a year full of happiness for you.. I wish you all the best, Mr. Smile 😊✨

Oke gaes, mari lanjut lagi yukk pembahasan buku esainya Hayato ke Bab 2!

Buku Esai "Daijoubu wo Kimi ni Todoketai"
sumber: foto pribadi

BAB 2
KAMU AKAN BANGKIT LAGI DAN LAGI.
DI TENGAH PANGGUNG YANG DIPENUHI AIR MATA.

⬛ PESAN 07
Bahkan ketika menghadapi kesulitan, jika kamu mengungkapkannya dalam kata-kata, takdir akan mulai bergerak.

▪️Apa yang bisa kita lakukan ketika menghadapi kesulitan nyata?

Terkadang, kamu mungkin takut membicarakan mimpimu kepada orang lain, atau mungkin seseorang bisa mengecilkan hatimu, menyebabkan kamu kehilangan kepercayaan diri pada mimpi itu. Aku juga pernah merasa seperti itu.
Dipengarui oleh ibuku, aku pergi ke konser EXILE saat kelas 3 SD dan menemukan kecintaan pada tari. Ibuku mendorongku untuk mulai menari. Saat itu, EXPG, studio tari yang dikelola oleh LDH, hanya ada di Miyazaki dan Tokyo, tetapi ibuku berkata, "Studio tari yang dikelola EXILE itu bagus," jadi setiap hari Sabtu aku akan menempuh perjalanan lima jam pulang pergi dari Prefektur Mie ke studio di Tokyo. Namun, ketika aku memasuki kelas 6 SD, keadaan menjadi sulit secara finansial dan waktu, dan melakukan perjalanan ke Tokyo menjadi hampir mustahil. Pada saat itulah ibuku mengajukan pertanyaan padaku,

"Apakah kamu ingin lanjut menari?"

Dan aku menjawab, "Aku ingin melakukannya!" Kata-kata itu diucapkan dengan tekad yang kuat dalam diriku. Adakalanya terasa menakutkan untuk melangkah maju menuju impianku. Tapi tekad dan keteguhan yang kumiliki saat itu telah membawaku ke tempatku sekarang. Aku rasa aku mampu melakukannya tanpa ragu.


▪️Dunia yang kusaksikan dari tepi panggung

Pada tahun 2007, ketika aku duduk di kelas 6 SD, aku terpilih untuk tampil sebagai penari cilik dalam tur arena nasional EXILE: EXILE LIVE TOUR 2007 EXILE EVOLUTION. Di antara lagu-lagunya, lagu yang menjadi tanggung jawabku adalah "WON'T BE LONG". Posisiku berada di ujung paling kiri panggung, jika dilihat dari penonton. Aku mungkin jadi penari cilik terakhir yang terpilih.
Namun, aku masih ingat dengan jelas pemandangan dari tepi itu. Sebelumnya aku pernah melihat panggung arena dari kursi penonton, tetapi sudut pandang dari panggung terasa seperti dunia yang sama sekali berbeda, dan aku bisa merasakan jika jantungku berdebar kencang. Semua darah mengalir deras ke seluruh tubuhku sekaligus, dan rasanya momen itu adalah momen terbaik dalam hidupku.
Dari saat itu, aku mengambil keputusan dalam hatiku, "Aku juga ingin berada di EXILE!" Aku tidak ingin berdiri di pinggir panggung tempat sorotan lampu bersinar, aku ingin berdiri di tengah panggung dan bersinar paling terang. Itulah mengapa ketika ibuku bertanya, "Apakah kamu ingin lanjut menari?" Pada saat itu, itu bukan lagi sekadar mimpi, itu adalah sesuatu yang tidak kuragukan untuk diwujudkan. Itu adalah momen ketika hal tersebut menjadi tujuan yang harus kucapai.


▪️Tekad seorang ibu dan ketakutan untuk mengejar mimpi yang tidak dapat diterima

Saat itu, ibuku berkata kepadaku, "Jika kamu ingin terus menari, kamu harus pergi ke Tokyo sendirian, oke?" Kurasa itu adalah caranya untuk menguji tekadku, dan juga mempertanyakan tekadnya sendiri.
Lalu aku menjawab, "Aku ingin berada di EXILE," apa pun situasinya. Tidak ada keraguan. Dengan tekad, jalan yang ingin kutempuh sudah kuputuskan. Namun, perasaan dan mimpiku tidak semudah itu diterima oleh semua orang.

Dahulu, menari merupakan aktivitas yang jauh lebih khusus daripada sekarang. Bahkan ada prasangka bahwa itu adalah sesuatu yang hanya dilakukan oleh orang-orang pemberontak. Tari, yang sekarang dimasukkan ke dalam pendidikan sekolah dan menjadi hal yang umum di platform seperti TikTok dan YouTube, tidak diterima secara luas pada masa itu. Di daerah tempatku tinggal, aku jelas merupakan minoritas. Ketika aku mengatakan ingin menjadi selebriti melalui tarian, orang tua teman-teman sekelasku bahkan menyebutku "pemberontak".
Aku bisa merasakannya. Ketika aku menyampaikan impian masa depanku dalam esai atau selama pertemuan orang tua-guru, aku merasakan penolakan di suatu tempat dalam komunitas. Aku ingin mengatakan, "Tapi keluargaku berbeda—" tetapi itu sama sekali bukan masalahnya.

Awalnya, impianku untuk "menjadi manusia seutuhnya" tidak disambut dengan dukungan penuh. Meskipun ibuku tentu saja mendukungku, tapi orang tua yang lain sangat menentang kepindahan kami ke Tokyo, dengan mengatakan, "Jangan kirim Hayato ke dunia industri kehidupan malam!"
Dalam situasi itu, aku menjadi takut untuk mengejar mimpiku, mimpi yang tidak pernah dikatakan oleh seorang pun padaku bahwa itu "luar biasa!" atau "semoga beruntung!". Dan secara bertahap, aku bahkan tidak suka membicarakan impianku.


▪️Pasti ada seseorang di luar sana yang akan mendukungmu

Meskipun begitu, ibuku adalah satu-satunya yang tidak menyerah, dan meskipun para orang tua itu menentang, mereka mengizinkanku mengikuti ujian masuk SMP di Tokyo. Aku lulus ujian dan diputuskan bahwa aku akan pindah ke Tokyo pada musim semi. Aku hanya ingin meninggalkan kampung halamanku. Aku ingin melepaskan diri dari rasa sakit karena tidak diterima oleh siapa pun.
Seolah-olah bisa melihat isi hatiku, pada pagi hari upacara kelulusan Sekolah Dasarku, ibuku mengantarku dengan berkata, "Pergilah beritahu kakekmu bahwa kamu akan pindah ke Tokyo." Dengan melihat ini ke belakang, aku pikir kata-kata itu mengandung ketegasan ibuku sendiri, namun juga kebaikan yang mendalam.
Aku pikir kakekku juga tidak akan menerimaku, jadi aku benar-benar tidak ingin memberi tahu beliau bahwa aku akan pergi ke Tokyo. Tetapi aku pergi ke rumah kakekku sesegera mungkin dan memberi tahu beliau bahwa aku akan pergi ke Tokyo. Kemudian, aku menerima balasan yang tidak pernah kuduga.

"Semangat ya!"

Aku benar-benar terkejut dan senang dengan respons itu. Ibuku mungkin sudah tahu apa yang akan dikatakan kakekku. Tapi aku rasa beliau sedang mengujiku. Aku rasa beliau sedang menguji apakah aku, yang akan hidup sendirian mulai sekarang, memiliki tekad dan keberanian untuk mengungkapkan perasaanku kepada seseorang?
Namun setelah aku mengatakannya, aku merasa bahwa duniaku menjadi lebih luas. Aku menyadari bahwa ada orang-orang di luar sana yang akan menerimaku!
Kemudian, ketika aku pergi ke Tokyo dan menceritakan mimpiku kepada para guru di studio, mereka tidak menertawakanku. Tentu saja, aku juga menerima beberapa kata-kata kasar. Tetapi, aku tidak merasakan tatapan dingin yang seolah meremehkan mimpi-mimpiku seperti yang aku alami saat berada di Prefektur Mie.


07 "Sebenarnya, aku punya mimpi yang belum kuceritakan kepada siapa pun."

Aku percaya bahwa penting untuk menyuarakan mimpimu. Kamu secara halus mengubah perasaan sejatimu, yang selama ini kamu sembunyikan jauh di dalam, menjadi sebuah ajakan untuk menjual sesuatu. Pada saat itu, mimpimu mulai terbentuk, dan masa depan yang tak terlihat perlahan-lahan menunjukkan garis besarnya.

Aku percaya pada kekuatan kata-kata.

Kata-kata yang diucapkan pada akhirnya dapat menggerakkan hati seseorang dan perlahan-lahan mendekatkan benang-benang takdir. Namun, dunia tidak selalu baik. Mimpi tidak diterima di mana-mana atau oleh semua orang. Terkadang mimpi diabaikan, diejek, dan bahkan disangkal keberadaannya.
Itulah mengapa hal itu menakutkan. Berbicara tentang mimpi, mencoba, melangkah maju, berhenti. Semuanya menakutkan. Tapi tolong jangan lupa. Tetap di tempatmu sekarang bukanlah hal yang "benar" untuk dilakukan. Air mata yang kamu tumpahkan hari itu ketika mimpimu hancur tidak menentukan nilai dirimu secara pribadi. Tolong, selamatkan dirimu dari rasa sakit apa pun yang kamu derita.

Tidak apa-apa untuk khawatir. Tidak apa-apa untuk merasa tersesat. Tidak apa-apa untuk menyesal. Tapi itu bukan berarti kegagalan. Itu bukan akhir. Kamu akan khawatir dan menyesali pilihanmu lagi dan lagi. Tapi itu tidak berarti bahwa kamu telah gagal.

Jawaban yang benar selalu ada di masa depan, bukan di masa lalu.

Tapi kamu bisa pergi. Tidak apa-apa. Kutukan yang membuatmu berpikir bahwa kamu tidak bisa keluar dari tempat itu sudah patah. Ke mana kamu akan pergi?

"Mari kita rangkai kata-kata yang membimbingmu menuju masa depan.
Tidak apa-apa! Kamu bisa pergi ke mana saja!"

***

⬛ PESAN 08
Sekalipun menyakitkan
Sekalipun memalukan
Keberlanjutan itu sendiri memiliki makna.

▪️Apa yang tersembunyi di balik kemunduran dan air mata

Gagal ujian, melakukan kesalahan besar di tempat kerja, kalah dalam pertandingan olahraga, menghadapi kesulitan dan kegagalan saat berjuang menuju suatu tujuan atau impian, lalu semangat pun hancur. Kemunduran yang mencegahmu untuk maju dengan impian itu adalah pengalaman yang menakutkan.

Aku mengalami banyak kemunduran saat masih remaja. Aku rasa pengalaman-pengalaman itu membentuk siapa aku hari ini. Saat aku berumur 10 tahun, aku mulai menari karena mengagumi EXILE, dan aku mengikuti audisi untuk posisi penari latar EXILE pertamaku. Banyak anak yang ikut les denganku juga dan mereka lolos, sementara aku gagal. Aku bisa mengerti mengapa anak-anak yang lebih tua dariku bisa lolos, tetapi bahkan anak-anak yang lebih muda dariku pun lolos.
Perasaan ketika pertama kali diberitahu, "Kamu tidak lolos," sangatlah menyakitkan bagi anak berusia 10 tahun sepertiku. Aku masih ingat ketika aku berpegangan erat pada kaki ibuku dan menangis tak terkendali di depan resepsionis studio setelah audisi. Kurasa itu adalah kemunduran nyata pertama dalam hidupku.
Saat itu, ibuku memarahiku sambil berkata, "Jika kamu sangat sedih sampai menangis, maka kamu harus belajar lebih giat lagi." Kemudian aku berpikir, "Tidak ada seorang pun yang berpihak padaku di dunia ini." Tetapi jika mengingat kembali sekarang, kata-kata ibuku itu menyelamatkanku di kemudian hari. Aku bisa saja menyerah saat itu juga, tetapi pada saat itulah, mimpi "menari bersama EXILE" lahir. Itu adalah pengalaman yang membuatku menangis dan merasa kalah, tetapi tempat yang memberiku kekalahan itu telah menjadi tempat di mana aku merasakan sakit di masa depan.

Kita cenderung ingin menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak kita sukai, tetapi jika kita mengubah sudut pandang kita, hal-hal itu dapat menjadi hal-hal yang kita dambakan dan ingin kita peroleh. Jika kita menafsirkan sesuatu dengan cara yang sesuai dengan kita dan mengubah sudut pandang kita, keputusasaan berpotensi berubah menjadi harapan.
Pasti ada pemandangan yang tidak akan kita lihat jika kita tidak pernah mengalami kemunduran.


▪️Untuk meraih impianmu, kamu harus melakukan hal-hal yang tidak ingin kamu lakukan

Ambil contoh ujian masuk universitas. Beberapa orang memiliki impian sejak kecil, yang lain hanya samar-samar memikirkannya selama survei preferensi karir di sekolah menengah, dan yang lainnya baru mengevaluasi kembali apa yang ingin mereka lakukan setelah menjadi orang dewasa yang bekerja. Aku pikir awal perjalanan setiap orang menuju universitas itu berbeda-beda. Namun, kita ingin kuliah untuk mendapatkan kualifikasi, atau untuk memanfaatkan apa yang kita pelajari di sana, dan kita ingin membangun karir sendiri. Ketika aku membayangkan, memikirkan, dan memvisualisasikan masa depan, hal pertama yang harus aku lakukan adalah belajar untuk ujian masuk.
Aku tidak melalui proses ujian masuk universitas, tetapi aku memutuskan untuk mencari nafkah melalui tari, dan tantangan pertamaku adalah pindah ke Tokyo. Hambatan terbesar adalah ujian masuk. Untuk pindah ke Tokyo, aku perlu lulus ujian masuk SMP, tetapi aku gagal. Aku memiliki dua kesempatan, dan dua-duanya gagal.
Saat itulah aku menyadari bahwa untuk mencapai impian, terkadang kita harus melakukan hal-hal yang tidak ingin kita lakukan terlebih dahulu. Aku juga mengalami kemunduran di sini.

Teman-teman sekelasku di Prefektur Mie mungkin juga memiliki kekhawatiran mereka sendiri, tetapi aku merasa sedikit bersalah karena mereka dapat dengan mudah masuk ke SMPN di dekat situ. Dan aku malu karena, setelah semua keberanian yang kutunjukkan tentang pindah ke Tokyo, aku mungkin akhirnya malah berujung bersekolah di tempat yang sama dengan yang lain. Di tengah semua ini, ibuku menemukan SMP swasta di Tokyo untukku. Itu benar-benar kesempatan terakhir, mengingat keadaan. Aku telah kehilangan semua semangat untuk berjuang, tetapi dengan antusiasme dan dukungan ibuku, aku berhasil lulus ujian masuk sekolah itu.
Aku telah mengatasi rintangan terbesar!

Tepat ketika aku berpikir, "Sekarang aku akan mendaki tangga karier sebagai penari!", jalan itu tiba-tiba berubah. Hari mulai gelap.


▪️Dari pahlawan kota kecil hingga membagikan selebaran untuk sebuah studio

Saat masih SD, aku tinggal di Prefektur Mie dan menjalankan toko kastanye. Tubuhku lebih tinggi dari kebanyakan anak-anak di sekitarku. Jujur saja, aku memiliki karakter yang khas. Karena itu, aku diberi kesempatan untuk membintangi iklan untuk studio tari EXPG tempatku berlatih, dan tampil di panggung sebagai penari latar untuk EXILE.

Hal terbesar yang terjadi adalah pada tahun 2007, di program TV "Mecha-Mecha Iketeru!". Acara variety show ini, yang dipandu oleh Ninety-Nine dan sangat berpengaruh di masyarakat, menampilkan kolaborasi antara Takashi Okamura-san dan EXILE, dengan Okamura-san tampil di panggung EXILE dalam segmen yang disebut "OKAXILE", dan aku terpilih sebagai penari cilik untuk tampil di dalamnya. Saat itu aku masih kelas enam SD.
Tiba-tiba, anak-anak dan orang dewasa di lingkungan sekitar, yang sebelumnya acuh tak acuh terhadap tari, mulai memperhatikanku. Mereka menatapku dengan terkejut dan kagum, menghujaniku dengan komentar iri seperti, "Hebatnya!". Bahkan anak-anak yang sebelumnya tidak pernah memperhatikanku tiba-tiba mulai berkata, "Mungkin aku juga harus mulai menari, benar kan?" katanya. Di balik kata-katanya itu, aku merasa seolah-olah sosok yang pernah kuimpikan ada di sana, dan hatiku dipenuhi emosi.
Aku benar-benar merasa seperti pahlawan di kota kecilku. Tidak, lebih dari itu. Pada saat itu, aku benar-benar seorang pahlawan di kota kecilku. Aku datang ke Tokyo dengan pengalaman dan perasaan ini, dan aku merasa seperti Mario dalam "mode tak terkalahkan" setelah mendapatkan bintang.

Akhirnya, ketika aku menjadi siswa SMP, aku diperlakukan sama seperti orang dewasa di antara para penari. Sampai saat itu, aku mengikuti pelajaran di kelas anak-anak, tetapi aku mulai mengikuti pelajaran di kelas dewasa bersama mereka. Dengan kata lain, standar tiba-tiba meningkat ke level dewasa.
Saat masih kecil, aku hanya dinilai berdasarkan kemampuan menari dengan sekuat tenaga, tetapi sekarang sudah tidak berguna sama sekali.
Mereka yang tidak memiliki kekuatan dan keterampilan untuk bertahan hidup di dunia yang kejam ini akan secara bertahap dieliminasi.
Selain itu, aku sedikit lebih besar dari rata-rata untuk anak SMP. Karena itu, sulit bagiku untuk berpartisipasi dalam acara dan sebagai penari latar saat masih kecil, dan keterampilanku tidak cukup baik sebagai orang dewasa. Lambat laun, kesempatan untuk berpartisipasi dalam acara berkurang, dan aku tidak lagi dipanggil untuk menjadi penari latar di video musik EXILE.
Anak-anak yang dulu aku anggap sebagai juniorku muncul di video musik dan tampil di pertunjukan langsung satu-persatu. Kupikir aku berada di barisan depan, tapi ternyata aku hanya berada di atas ban berjalan.
Meskipun kerja keras dan keberuntungan tentu berperan dalam mencapai tujuan, pada kenyataannya, ini hanya tentang bergerak maju mengikuti arus zaman.

Sementara juniorku muncul di video musik EXILE, aku membagikan selebaran di luar studio. Aku bahkan sempat mendampingi anak-anak di pertunjukan langsung itu. Satu-satunya pekerjaanku adalah menggantikan kru kamera saat latihan di sebuah program TV. Sejujurnya, itu pekerjaan yang bisa dilakukan siapa saja.

Bintang yang tadi kupegang di tanganku telah kehilangan kilaunya, menjadi tak lebih dari sebuah kerikil yang tergeletak di tepi sungai. Sejujurnya, sekitar waktu itu, aku berpikir untuk kembali ke kampung halaman saat memasuki SMA dan menjadi sopir truk untuk perusahaan transportasi yang dijalankan kakekku. Jadi, selama periode itu, aku semakin menjauh dari dunia tari.
Aku sering bolos les menari sepulang sekolah untuk nongkrong bersama teman-teman di pusat perbelanjaan di Kanagawa, atau ikut serta dalam kegiatan klub seorang siswa SMA yang baik kepadaku.

Bintang yang telah kehilangan kilaunya itu telah jatuh ke tanah dan membusuk di lumpur.

Sambil menyaksikan teman-temanku meraih kesempatan yang tak akan pernah kudapatkan, aku hanya menjalani tahun ketiga SMP-ku dengan tanpa tujuan.


08 "Sekeras apa pun aku berusaha, aku tidak bisa mendapatkan hasil yang kuinginkan."

Namun, bahkan bagi seseorang yang hampir menyerah, momen itu tiba-tiba datang.
Saat itu September 2010, tahun terakhirku, ketika aku sangat yakin harus berhenti. Seseorang dari studio tiba-tiba bertanya kepadaku, "Ada audisi untuk GENERATIONS, apakah kamu mau mencoba?" Dan yang lebih penting, audisi itu akan dilakukan di dalam studio.
Pada saat itu, aku merasakan bintang dalam diriku, yang telah membusuk, mulai berdetak kembali. Aku pernah mendengar seseorang berkata istilah, "Peluang memiliki rambut di depan tetapi botak di belakang," dan pada saat itu, aku benar-benar memahami kata-kata itu dari lubuk hatiku.

Kesempatan tidak melintas di jalanmu. Kesempatan datang langsung kepadamu! Itu bukan sesuatu yang bisa kamu raih dan genggam.

Kamu harus menghadapinya secara langsung dan sekuat tenaga!

Pada saat itu, aku yakin. Aku tanpa sadar telah menjauhkan diri dari tari, tetapi aku terus maju. Sekalipun bagi orang-orang di sekitarmu hal itu tampak seperti sikap pasif, atau seperti kamu menolak menerima kekalahan, kamu harus tetak berada di tempat itu. Lalu kamu akan menyadari bahwa itu adalah usaha dan bakatmu sendiri. Kamu tidak bisa langsung mencapai 100 dalam semalam. Tidak ada kereta yang langsung berangkat dari titik awal ke tujuan akhir. Itulah mengapa, jika kamu tetap bertahan, kamu pasti akan mencapai tujuanmu. Di sepanjang jalan, pasti akan ada tempat dan waktu di mana kamu harus bersabar dan berhenti.
Kamu mungkin berpikir, "Aku tidak bisa melakukan apa pun," "Aku bahkan tidak berusaha," "Tidak ada gunanya tetap di sini", kamu mungkin merasa seperti itu kadang-kadang. Meskipun demikian, ada makna yang dalam untuk tetap berada di tempat itu. Benar! Terkadang, hanya berdiri di sana saja sudah merupakan hal yang luar biasa! Oleh karena itu, terus mengalami kemunduran atau menyerah bukanlah alasan untuk melepaskan segalanya.

"Sekalipun kamu merasa stagnan, teruslah berdiri di sana. Karena hal itu memiliki makna!"

***

⬛ PESAN 09
Mencari perubahan, keberanian, dan kekuatan untuk berhenti sejenak.

▪️Apakah "melepaskan diri dari situasi saat ini" benar-benar hal yang tepat untuk dilakukan?

Ketika kamu mengalami kemunduran dalam hidup, sebuah tembok besar berdiri di hadapanmu. Saat kamu tidak mampu bergerak bahkan selangkah pun, terkadang seseorang akan dengan baik hati mengatakan hal ini kepadamu,
"Jika itu sangat menyakitkan, sebaiknya kamu berhenti saja."
Namun, menerima kata-kata ini begitu saja bukanlah hal yang disarankan. Menurutku, ini agak berbahaya.
Aku ingin menjangkau orang-orang yang merasa situasi mereka saat ini sulit. Aku berusaha untuk tidak mengatakan hal-hal seperti, "Mari kita lepaskan diri dari situasi ini dan ubah lingkungan kita."

Saat ini, aku menjadi penyiar di program radio "SCHOOL OF LOCK!". Aku menerima banyak permintaan saran dari pendengar remaja.
-Pergi ke sekolah itu sulit.
-Aku sangat ingin pergi, tapi aku tidak bisa memaksakan diri untuk pergi.

Setiap kali aku mendengar seseorang mengatakan itu, aku memikirkan sesuatu. Aku tidak ingin langsung mengatakan, "Mari kita tolak dan ubah situasi saat ini." Tentu saja, jika orang tersebut sendiri mengembangkan keinginan untuk melakukan sesuatu, pada akhirnya aku ingin memberi mereka sedikit dorongan.

Ada alasan mengapa aku tidak suka menggunakan frasa "mari kita keluar dari situasi ini" terlalu sering. Saat kita mengucapkan kata-kata itu, terkadang, tanpa disadari, kita akhirnya menjiplak dan memproyeksikan diri kita sendiri ke orang lain. Kata "membebaskan diri" terdengar lembut pada kesan pertama. Namun, hal itu dapat mengarah pada kesimpulan ekstrem bahwa "jika kamu tidak menyukainya, berhentilah saja."
Bagaimana jika peran itu dibalik?

Sebagai contoh, jika aku mulai merasa kesulitan untuk pergi bekerja, lalu seseorang mengusulkan kepadaku, "Jadi, bisakah kamu mengambil cuti selama sebulan?"
Sejujurnya, aku tidak memiliki keberanian untuk berhenti. Sejujurnya, aku bahkan tidak ingin mengambil cuti seminggu. Sekalipun aku merasa tidak enak badan, aku takut untuk mengambil cuti sehari pun. Itulah mengapa ada ungkapan, "Jika terasa sakit, sebaiknya kamu berhenti melakukannya,"
"Aku sebenarnya juga ingin melakukannya."
Aku merasa keinginan yang terpendam di hatiku mulai muncul.

Yang benar-benar dibutuhkan bukanlah untuk "keluar",
-Bagaimana caranya?
-Kamu ingin jadi apa?

Mungkin ini tentang mencari tahu.


09 "Aku merasa keadaan tidak bisa terus seperti ini, tapi aku pun tidak sanggup melakukan apa-apa."

Kehilangan apa yang dianggap "normal" itu menakutkan. Tetapi ketidakmampuan untuk melepaskan diri darinya belum tentu dikatakan sebagai hal yang buruk. Mempertahankan status quo adalah pilihan yang sepenuhnya valid. Baik upaya untuk mengubah sesuatu maupun menghadapi kenyataan bahwa sesuatu tidak dapat diubah, keduanya sama-sama berharga. Ketika orang berpikir, "Aku ingin mengubah situasi saat ini," mereka mungkin menyimpan penyesalan pahit karena telah berusaha mati-matian untuk melakukan sesuatu dan kemudian gagal. Mungkin ada penyesalan di waktu itu, karena mereka tidak bisa melanjutkan apa yang ingin dilakukan.
Tetapi tidak apa-apa untuk tetap seperti apa adanya.

Berubah bukanlah satu-satunya cara untuk "maju". Tetap di tempat dan terus berjuang untuk menjadikan tempatmu saat ini sebagai rumahmu, tidak diragukan lagi, adalah cara untuk hidup dengan kuat. "Mengatasi" tidak selalu berarti "berubah".
Tempat dan posisimu saat ini. Terus berjuang untuk mencintai posisi itu juga merupakan bentuk kekuatan. Terkadang, sekadar berdiri diam pun bisa menjadi tindakan berani. Untuk menghindari membenci diri sendiri seperti sekarang, mintalah bantuan. Carilah tempat lain, carilah tempat baru.
Tidak satu pun dari pilihan tersebut tentang "menyerah" pada sesuatu, melainkan "memilih jalan agar tidak menyerah."

Tidak peduli berapa banyak kemunduran yang aku hadapi, berapa kali aku berhenti, berapa kali aku pergi, di mana pun aku berada, aku ingin percaya bahwa pilihan yang aku buat adalah "pilihan untuk menghindar dari menyerah."

"Perubahan tidak selalu berarti kemajuan.
Semua jawaban yang aku dapatkan setelah banyak pertimbangan adalah jalan untuk tidak menyerah."

***

⬛ PESAN 10
Ketika keajaiban itu sirna, bagaimana kamu akan menerima kenyataan?

▪️Keajaiban pada kesuksesan itu tidak berlangsung lama

Kesuksesan besar terkadang datang secara tiba-tiba. Tentu saja, dibutuhkan banyak usaha dan waktu untuk sampai ke sana. Tetapi semuanya muncul d hadapanku dengan begitu mudah, dengan cara yang melampaui semua itu. Kegembiraan dan emosi itu begitu meluap-luap sehingga jantungku bergetar, dan pada saat itu, tubuhku terasa ringan seolah-olah karena sihir.
Tidak, itu bukan hal fisik. Tapi rasanya seperti jantungku melayang. Rasanya seperti seluruh tubuhku, termasuk organ dalamku telah diganti. Seperti aku terlahir kembali.

Ketika aku terpilih sebagai penari cilik untuk tur EXILE di kelas 6 SD, aku terlihat sangat bersemangat. Mengingat dua tahun sebelumnya aku gagal dalam audisi untuk tampil di pertunjukan langsung EXILE, dan karena kekecewaan itu, kegembiraan atas keberhasilan ini bukan hanya "kebahagiaan", tetapi perasaan gembira yang luar biasa.
Aku rasa aku agak terbawa suasana. Tapi itu adalah hal yang baik. Di bawah pengaruh kesuksesan, aku mampu memanfaatkan momentum itu dan memutuskan untuk pindah ke Tokyo di tahun berikutnya.

▪️Kesuksesan di masa lalu tidak akan menyelamatkanmu sekarang

Namun, semuanya berubah ketika aku pindah ke Tokyo setela menjadi siswa SMP. Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, aku benar-benar sudah tidak terpilih lagi untuk apa pun. Bahkan hari-hari ketika aku bersinar begitu terang kini terasa amat jauh. Untuk apa berusaha sekeras ini? Aku mulai bertanya-tanya apakah sinar itu masih ada di sini.

Meskipun begitu, semua orang di sekitarku mengatakan hal yang sama,
-Sungguh menakjubkan bahwa kamu muncul di "Mechaike" dan menjadi penari cilik utama!
-Kamu takkan mendapatkan pengalaman seperti itu dalam keadaan normal!

Memang, aku tampil dalam program khusus yang disiarkan secara nasional di televisi. Sungguh seperti keajaiban bahwa seorang anak dari pedesaan mendapatkan kesempatan seperti itu, dan bahkan sekarang setelah aku debut, aku mendapatkan kesempatan lain untuk berada di tengah fenomena sosial seperti itu. Itu tidak diragukan lagi merupakan pengalaman yang dapat disebut sebagai "kesuksesan" dalam sejarah hidup Hayato Komori.
Namun bagiku yang seorang siswa SMP, kata-kata yang diucapkan orang-orang di sekitarku itu tidak memberiku kekuatan sedikit pun. Kejayaan masa lalu tidak ada artinya jika aku bukan siapa-siapa di masa sekarang. Bahkan sekarang sebagai orang dewasa, saat mengerjakan berbagai proyek,
-Luar biasa kamu memiliki pengalaman berdiri di panggung sebesar itu di usia yang begitu muda!
-Kamu paling sering tampil di TV di LDH, jadi kamu bisa membangunnya!

Aku terkadang menerima kata-kata penyemangat seperti itu. Tetapi kenangan akan kesuksesan tidak selalu mengubah hatiku. Bahkan, terkadang hal itu bisa sangat membebaniku.


▪️Hal-hal yang berubah, dan hal-hal yang tidak berubah

Tidak seperti ketika aku masih di SMP, ketika kata-kata orang-orang di sekitarku sama sekali tidak membantu, sekarang sudah tidak demikian lagi. Sepanjang pengalamanku, aku telah menerima bantuan dari banyak orang. Dan yang terpenting, aku tidak pernah sekalipun berpikir bahwa grup GENERATIONS adalah sebuah kegagalan.
Aku tidak mungkin bisa sampai sejauh ini sendirian. Itulah mengapa kata-kata penyemangat yang kuterima dari orang lain sekarang menjadi kekuatan pendorongku dan memberiku energi. Perubahan terbesar dari masa remajaku ke usia 20-an adalah.. ini mungkin asal-usulnya.

Dulu, aku mengira semua orang di sekitarku adalah musuhku, aku selalu curiga dan berpikir, "Mungkin itu hanya kebohongan untuk meyenangkan hatiku." Tapi sekarang berbeda, aku sekarang bisa merasakan ketulusan yang nyata dalam kata-kata itu. Rasanya seperti aku mendapatkan lebih banyak antena yang dapat menerima pesan. Namun, beberapa hal tetap sama. Yaitu, kenangan akan kegagalan cenderung terulang-ulang dalam pikiran kita lebih sering daripada kenangan akan kesuksesan.
"Aku tampil bagus di rekaman TV itu, komentarku berjalan lancar, staf memberikan umpan balik yang baik, dan ratingnya bagus. Jadi aku akan baik-baik saja lain kali juga!" Betapa mudahnya jika aku bisa berpikir seperti itu, kan? Mungkin saja. Tapi kenyataannya tidak demikian.

-Aku adalah pemain reguler, tetapi waktuku di tim telah berakhir. Apakah itu kesalahanku sendiri?
-Pasti ada hal-hal yang bisa kuperbaiki. Jika aku melakukannya dengan benar saat itu, aku pasti masih melakukannya sekarang.
-Tidak bisakah aku tetap di sana?
-Aku rasa aku tidak akan dicoret dari susunan pemain inti, kan?

Itulah mengapa aku akhirnya terus memikirkan kegagalan masa lalu. Dan pada akhirnya, kecemasan menghampiriku, "Jika aku belum berkembang sama sekali sejak saat itu, bukankah aku akan gagal lagi di lain waktu?" Tidak peduli seberapa jauh aku melangkah maju, tidak peduli seberapa banyak aku berkembang, ada beberapa hal yang tidak berubah. Aku sering lebih mengingat kesedihan saat sebuah pertunjukan berakhir daripada kegembiraan saat pertunjukan dimulai. Lebih sering terjebak kesedihan daripada kegembiraan hari pertama pertunjukan langsung. Rasa takut akan kegagalan membuatku tegang. Ketika aku mencoba menantang diri sendiri dengan sesuatu, kegagalan terlintas di pikiranku sebelum kesuksesan. Dan langkah-langkah yang aku ambil secara bertahap menjadi semakin kecil.
"Itu hanya pola pikir negatif,"
mungkin orang lain akan berkata begitu, dan mungkin itu sudah cukup. Tapi tidak sesederhana itu.
"Jangan berpikir negatif!" mungkin orang lain akan berkata itu juga. Tetapi tidak semudah itu untuk menyelesaikannya.
Ini hanyalah kepribadianku. Selama cara berpikir ini menjadi akar masalahnya, mencoba memaksa diri untuk mengubahnya tidak akan ada gunanya. Itulah mengapa aku mencoba memikirkannya sendiri. Mengapa aku hanya terus mengingat kegagalan di masa laluku?

10 "Kesalahan-kesalahan hari itu terus berputar-putar di kepalaku. Hingga aku tidak bisa tidur di malam hari."

Inilah cara berpikir yang aku temukan.
"Pengalaman sukses diproses dengan cepat, sedangkan pengalaman gagal diproses secara lambat."

Kenangan akan kesuksesan dengan cepat menetap dalam diri sendiri. Tidak perlu menggali lebih dalam mengapa kita berhasil karena itu bukan masalahnya. Kita tidak usah berpikir bahwa kita beruntung. Kita cukup menerimanya dengan jujur dalam diri sendiri.
Namun, kegagalan berbeda. Mengubah kegagalan menjadi sesuatu yang positif sangatlah sulit.
Mengapa bisa gagal?
Kecuali kita mengidentifikasi penyebabnya, kita tidak bisa belajar untuk masa depan. Bahkan jika kita menemukan penyebabnya, itu tetap bagian dari karir kita. Selain itu, aku tidak bisa menerimanya sebagai "nasib buruk". Jika aku menganggapnya sebagai terhalang oleh faktor yang tidak pasti di luar kendaliku, seperti "aku mungkin berhasil jika aku beruntung." Aku merasa kewalahan oleh ketidakberdayaan. Bagaimanapun juga, butuh waktu agar kenangan akan kegagalan memudar. Itulah mengapa yang penting adalah,
Bagaimana menjaga keseimbangan antara kesuksesan dan kegagalan.

Bersikap negatif tidak selalu merupakan hal yang buruk. Tetapi penting untuk memahami bahwa "kegagalan adalah sesuatu yang membutuhkan waktu untuk diproses" dan kemudian mencari cara sendiri untuk menerimanya. Terutama bagi orang-orang sepertiku, yang memiliki pemikiran negatif yang sangat kuat.
Kamus Kojien mendefinisikan "negatif" sebagai "memiliki sikap negatif atau pasif". Tetapi mari kita berhenti menyangkal proses ketidakmampuan untuk memprosesnya.

"Butuh waktu untuk memproses kenangan akan kegagalan!"

***

⬛ PESAN 11
Seperti kucing, menyebar dengan bebas dan penakut.

▪️Dari mana perasaan rendah diri dan kecemasan berasal

Kompleks inferioritas, adalah perasaan merasa lebih rendah dari orang lain. Ini karena seseorang memiliki rasa percaya diri yang rendah. Hal itu muncul karena meremehkan kemampuan dan nilai diri sendiri. Dalam arti tertentu, ini adalah semacam delusi.
Misalnya, ketika kamu merasa lebih rendah dari orang lain.
Misalnya, ketika kamu membayangkan masa depan yang bahkan belum terjadi, dan menjadi takut akan kegagalan yang bahkan belum kamu alami, lalu dikuasai oleh kecemasan. Mungkin itulah saat kamu merasakan "kompleks inferioritas", bukan?

▪️Seandainya saja aku bisa hidup seanggun kucing

Sebagai informasi tambahan, keluargaku selalu memelihara kucing. Sudah ada kucing di rumah kami sejak aku masih kecil. Bahkan, sampai aku duduk di kelas awal Sekolah Dasar, aku mengira itu normal jika setiap rumah memiliki kucing.
Saat kita tinggal bersama kucing dan berinteraksi dengan mereka, bulu-bulunya sangat lebat dan gerakannya sangat santai.
Perlahan-lahan.
Terkadang aku berpikir, "Bukankah makhluk ini seharusnya diklasifikasikan sebagai moluska?"
"Aku berharap aku bisa hidup sebebas dan sesantai mereka."
Aku terkadang merasa seperti itu.
Tapi ketika ada suara keras atau sesuatu jatuh, mereka langsung mengeras!
Aku terkejut betapa cepatnya perubahannya. Aku mempelajari ini dari majalah kucing, tetapi ternyata, kucing sebenarnya bisa merasa cemas hanya dengan mendengar pemiliknya mengatakan hal-hal seperti "menakutkan" atau "cemas".
Bahkan kucing yang tidur sepanjang hari, yang tampak begitu lentur, rileks, dan riang,
bisa merasa cemas tentang "sesuatu" yang belum terjadi.
Aku menyadari bahwa ini adalah bukti bahwa mereka peka terhadap apa yang mereka rasakan di hati dan di kulit mereka.
Mungkin itulah sebabnya kucing bisa hidup begitu bebas dan tanpa beban.

11 "Aku mudah tersinggung oleh hal-hal sepele."

Yang ingin aku sampaikan adalah bahwa menjadi sensitif atau reflektif mungkin bukanlah hal yang buruk sama sekali. Bisa jadi seseorang yang tampak lebih unggul darimu dan penuh percaya diri sedang bergumul dengan rasa takut dan penderitaan yang mendalam di dalam hatinya. Mereka mungkin hanya mencoba terlihat kuat, tetapi sebenarnya mereka merasa tidak aman. Mungkin itu hanya sesuatu yang tidak bisa mereka ungkapkan secara publik.
Jika dipikirkan dari sudut pandang itu, merasa "takut" mungkin bukanlah hal yang buruk sama sekali. Memahami apa yang membuat kamu takut, terus merasa takut, dan mengetahui cara menghindari konflik, mungkin dalam arti tertentu, merupakan sikap yang tepat. Hal yang sama berlaku juga untuk kucing. Karena mereka peka terhadap rasa takut dan kecemasan, menderita penyakit, dan selalu takut akan sesuatu, mereka bisa merasa lega ketika berada dalam suatu situasi dan berpikir, "Sekarang sudah baik-baik saja." Selain itu, mereka dapat memahami perasaan orang-orang yang mengalami hal yang sama.

Ketika menjadi terlalu kuat, baik manusia maupun hewan menjadi sekadar naluri. Ketika kamu menjadi tidak peka, kamu kehilangan kemampuan untuk membedakan antara rasa takut dan kecemasan dalam situasi saat ini. Itulah mengapa aku berpikir, "Tidak apa-apa untuk tetap lemah."
Aku ingin tetap peka. Aku ingin mampu takut akan masa depan yang mungkin datang atau mungkin tidak. Karena dengan begitu, aku benar-benar bisa merasakan bahwa "semuanya baik-baik saja saat ini."
Itulah mengapa aku ingin hidup bebas dan penakut, seperti kucing.

"Justru karena kita takut, kita bisa merasa bahwa "tidak apa-apa". Tidak apa-apa untuk menjadi lemah."

******

(terjemahan bahasa Indonesia bekerjasama dengan google translate, bing, dan ilmu dari penjelajahan internet)
(mohon koreksi jika ada kesalahan)

No comments:

Post a Comment