find me on:

Saturday, April 3, 2021

Fan Fiction: Stop being a Spoiled Child, Hayato!

Title: Stop being a Spoiled Child, Hayato!
Author: Harucin
Cast: Hayato Komori (GENERATIONS from EXILE TRIBE)
Genre: Slice of life, Fan Fiction AU
Length: One shot


"Maaa! Kaos kakiku yang warna merah tua di mana? Kok gak ada?!" di hari yang masih menunjukkan pukul 7.30 pagi ini sudah terdengar teriakan dari arah sebuah ruangan yang berada di dalam rumah mewah bertingkat dengan papan nama bertuliskan "Komori" terpasang di samping tembok pagar rumahnya. Ruangan itu berada di lantai dua namun kebisingan yang ditimbulkan bisa merambat sampai ke bawah bahkan ke ruangan-ruangan lain yang ada di sekitarnya.

"Mamaaaa!! Tolong akuuu!" belum berhenti, suara itu malah semakin nyaring. Mengeluarkan bunyinya yang dijamin dapat memekikkan telinga jika didengar dalam jarak dekat.

Sosok yang dipanggil dengan sebutan Mama itu mendatangi si pemanggil. Kedua telapak tangannya telah siaga menutupi sepasang telinganya demi kedamaian jiwa serta raga. Saat beliau telah masuk ke ruangan tersebut yang merupakan kamar dari puteranya, sebuah pemandangan mengejutkan tertangkap oleh penglihatannya.

"Ya ampun, Hayato!! Apa yang sedang kamu lakukan?!" nada dengan penekanan yang tertahan keluar dari mulut wanita paruh baya itu. Beliau menjadi saksi mata dari betapa berantakannya keadaan di dalam kamar milik anaknya yang bernama Hayato ini. Benda-benda yang harusnya tersusun rapi di lemari pakaian malah berserakan di sembarang tempat. Ada yang tercecer di lantai, tergeletak di atas kasur bahkan sampai tersangkut di tepi meja belajar.

"Kaos kaki loh Ma, yang merah tua itu, kok gak ada?" balas si anak yang masih fokus merogoh isi lemari. Lebih tepatnya mengacak-acak penghuni di dalam sana.

"Mana Mama tahu! Kamu yang harusnya bertanggungjawab atas semua barang yang kamu punya!" ujar sang ibu dengan perasaan yang masih kesal akibat kelakuan anaknya.

"Ketemu! Kaos kakinya ada!" wajah yang tadi dirundung kekusutan seperti keadaan pakaian dari lemarinya kini berubah jadi sumringah. Memamerkan benda yang ia cari ke hadapan ibunya.

"Sudah ketemu kan?"

"Udah dong."

"Sekarang rapikan lagi barang-barangmu!" suruh beliau dengan tegas.

Hayato belum menjawab. Kepekaan terhadap keadaan sekitarnya baru ia dapatkan kembali. Mengedarkan pandangannya menyaksikan situasi di kamar miliknya ini yang bak kapal pecah. Tapi.. bukannya menuruti perintah sang ibu, Hayato malah mengeles seakan mengajak ibunya berkompromi.

"Biar bibi ART aja yang beresin. Gampang kan, Ma?" tanpa merasa bersalah Hayato dengan mudahnya berkata demikian.

"Bereskan sendiri, Hayato!" ibunya bersikeras meminta dia sendiri yang merapikan.

Lagi-lagi, Hayato tetap mempertahankan argumennya, "Ma, buat apa coba ada ART di sini kalau bukan buat ngerjain tugas rumah? Dan ini salahsatu tugas mereka."

Ini bukan pertama kalinya beliau menghadapi tingkah laku seenaknya dari si anak. Namun tetap saja selalu menguras tenaga ketika perdebatan ini terjadi. Membuatnya harus berkali-kali mengelus dada dan menghela napas panjang.

Hayato langsung bergegas keluar kamar di saat pembicaraan dengan ibunya belum selesai. Meraih tas gendong untuk dibawa ke kampus dari atas kasur, ia pergi meninggalkan sang ibu yang masih tak bergerak dari posisinya.

"Ya Tuhan.. kuatkan hamba dalam menghadapi anak ini." batin beliau pasrah.

Hayato kemudian menuruni tangga dengan kaos kaki merah tua yang sudah membungkus kakinya lalu menuju meja makan. Di sana telah nampak sang ayah dan adik perempuannya yang berusia 8 tahun tengah sarapan.

"Ohayou!" sapa Hayato pada mereka.

"Onii-chan berisik banget!" ia tak menerima sapaan balik, justru keluhan lah yang didapat.

Suara lain ikut menyusup. "Ada apa, Hayato? Masih pagi sudah berbuat keributan." timpal ayahnya.

"Cuma sedikit masalah, tapi udah selesai. Papa tenang aja." balas Hayato dengan santai.

"Sedikit masalah yang menyebabkan dampak besar!" tiba-tiba dari arah belakang terdengar sebaris kalimat sindiran untuk Hayato. Mama muncul untuk bergabung dengan anggota keluarga lain.

"Lebay, huh!" tanggap Hayato.

Perdebatan ini tidak akan selesai jika tak ada yang menengahi. Sang ayah coba untuk meredamkan emosi ibunya dan menyuruh duduk saja.

"Bibiii! Bibiiii! Mana kopikuuu!" kembali lagi nyaringnya pita suara Hayato mengagetkan semua yang berada di sana. Karena minuman yang rutin menjadi teman pagi harinya belum tersedia di atas meja, dia membuat gempar seketika.

Kurang dari tiga detik setelah Hayato sampai di ujung teriakannya, satu dari tiga ART telah datang menyuguhkan secangkir kopi untuk dia.

"Silahkan, Den Hayato. Kopi Arabica di hari Rabu." ucapnya. Setiap hari, jenis kopi yang disediakan untuk Hayato harus berbeda-beda sesuai dengan seleranya. Resep itu sebelumnya telah ia koordinasikan dengan ART yang bertugas di bagian dapur. Tentang cara penyeduhan, takaran dan sebagainya yang menyangkut itu telah Hayato ajarkan. Bukan ajaran yang berupa praktik sih, tapi dia lebih ke menyuruh ART tersebut untuk mengikuti apa yang dikatakan oleh dirinya dan harus paham saat itu juga. Jika terjadi kesalahan, ia akan langsung mengetahui dan meminta untuk dibuatkan ulang, sambil diselingi dengan rengekannya yang seperti anak kecil.

"Cocok! Arigatou." ucap Hayato setelah menghirup aroma dari minuman tersebut yang sudah sesuai. Bibi ART yang berumur kepala empat itu kembali ke belakang.

"Onii-chan berisik!!!" adik kecilnya mengeluh lagi.

"Tutup aja telingamu kalo Onii-chan lagi ngomong." balas Hayato. Raut cemberut tampak dari wajah adiknya.

Melihat sikap Hayato yang seperti ini, sang ayah tak bisa tinggal diam, "Hayato, Papa tidak akan membahas tentang suaramu. Tapi Papa akan membicarakan mengenai sikapmu!"

"Ada apa dengan sikapku?" jawaban cuek ia lontarkan. Sambil mengambil selembar roti lalu ia sobek dan celupkan kilat ke dalam kopi. Siap disambut oleh mulutnya.

"Harusnya kamu bisa lebih sabar menunggu bibi mengantarkan minumanmu, toh tidak akan menyita waktu lama. Jika kamu tak bisa sabar, maka pergilah ke dapur. Buat sendiri minumanmu!" beliau mengatakan dengan tegas.

Tak ada respon mencolok yang ditunjukkan Hayato. Ia masih teramat santai menikmati sarapannya. "Tapi kan itu udah tugasnya. Wajar dong kalau aku bersikap seperti itu."

"Memang benar, tapi kamu bukan anak kecil lagi. Tak pantas berbuat demikian, apalagi di depan adikmu." tegur beliau. Menghentikan aktivitas makannya.

"Hai, hai! Aku paham.." kalimat yang bukan keluar dari hati. Hanya diucapkan semata agar ayahnya segera diam. Namun upaya itu belum berhasil, ayahnya masih terus menasehati.

"Papa memenuhi semua kebutuhanmu bukan untuk membuat dirimu jadi anak manja. Justru kamu harus bisa menjadi bijak!"

Telinga Hayato mendengarkan namun fokusnya bukan pada itu. Dia masih asyik menyeruput kopi miliknya.

Lanjut sang ayah, "Ada ART di sini bukan berarti kamu menyerahkan semua beban pada mereka. Ada hal yang harus kamu lakukan sendiri tanpa melibatkan oranglain."

"Terus?" balasan singkat dari Hayato ini seakan menantang ucapan ayahnya. Sekarang giliran sang ibu yang menyabarkan ayahnya agar emosi beliau tak meledak.

"Dan lagi mobil, kamu terus merengek untuk dibelikan itu kan karena usiamu sudah 20 tahun? Papa kabulkan keinginanmu, tapi kamu tak bisa mengurusnya dengan baik."

"Maksud Papa?" Hayato menatap heran. Untuk hal ini ia tidak mengerti.

"Kamu selalu menyuruh satpam untuk membersihkan mobilmu kan? Mengapa tidak kamu lakukan sendiri? Orang sibuk bukan, kamu hanya kuliah yang jadwalnya pun belum padat. Setelah itu, kamu hanya membuang-buang waktu dengan teman-temanmu." lagi, nasehat panjang lebar diujarkan oleh ayahnya di suasana sarapan ini. Ibu terus mengamati dua pria ini sedangkan adiknya tak henti makan.

Ponsel Hayato berdering saat obrolan ini masih berlangsung. Ia membaca pesan yang baru saja masuk. Lalu merogoh tasnya mencari sesuatu.

"Aah, ketinggalan di kamar." gerutunya saat tak menemukan apa yang dia cari. Di saat yang bersamaan, lewatlah ART yang bertugas mengatur kebersihan rumah. Hayato memanggilnya,

"Bibi, tolong ambilin buku Manajemen-ku di atas meja belajar. Yang sampulnya warna cokelat." suruh Hayato. ART itu menurutinya.

Baru saja ayahnya menasehati, namun nasehat itu tak ia gubris bahkan terapkan sama sekali. Hayato masih belum mengubah sifat manja dan ketergantungannya pada oranglain.

"Astaga, anak ini.."

Orang yang disuruh telah kembali membawa pesanan Hayato. Lalu dia bertanya, "Den Hayato, apa bibi bereskan sekarang saja kamarnya?" Hayato yang sudah paham akan perkataan itu segera menyetujuinya. ART itu pun berbalik menaiki tangga lagi untuk menuju kamar anak pertama di keluarga ini.

"Ada apa dengan kamarmu?" tanya ayah.

"Aahh, gak ada apa-apa." Hayato menutupi kebenaran. Lalu buru-buru menghabiskan kopinya. Dan pamit duluan dari meja makan.

"Kalau aku jujur sama Papa, pasti aku bakal terus-terusan diceramahin! Mending pergi aja sekarang." batin Hayato. Setelah memakai sepatu yang sudah tersedia di rak dekat pintu, ia melangkahkan kakinya menuju mobil pribadi yang sudah mengkilap dan siap jalan.

Hayato pergi ke kampus pukul 8 pagi. Bertegur sapa dengan kawan-kawan yang satu kelas ataupun di jurusan berbeda. Lalu mengikuti kelas seperti biasa sampai jam mata kuliah hari ini selesai di pukul 2 siang.

Makan di kantin bersama para mahasiswa lain, saling bergurau membicarakan hal apa saja tak terkecuali tentang dosen dan keseluruhan kampus. Meski sifat manjanya terasa nyata saat berada di rumah, namun ketika di lingkungan kampus, itu tak terlalu nampak. Hanya muncul sedikit saja yang tak mengundang perhatian oranglain.

Sudah jam 5 sore, hari hampir gelap maka Hayato memutuskan untuk segera pulang. Di perjalanan, ia mampir dahulu ke minimarket untuk membeli kopi kalengan. Saat ia sudah berbelanja lalu keluar dari sana, terdapat seorang laki-laki remaja sedang berjongkok di samping mobilnya. Seperti sedang bersembunyi dari sesuatu.

"Sedang apa kau di sini?" Hayato mencurigainya.

"Ssttt.." laki-laki itu memberitahu dengan isyarat lalu tangannya melipat memohon agar Hayato diam.

Hayato mendekatinya. Memposisikan diri sama seperti orang itu. "Apa yang sedang kau lakukan?" dia berbisik.

Si remaja itu menjawab dengan bisikan juga, "Aku sedang dikejar oleh polisi keamanan yang sedang melakukan razia anak jalanan. Tapi aku bukan anak jalanan." akunya. "Tolong jangan beritahu mereka kalau aku ada di sini." sambung dia sembari terus memohon.

Hayato tak tahu apa dia harus percaya begitu saja pada orang ini atau tidak. Dia kemudian berdiri, di seberang jalan sana sudah terlihat tiga orang polisi sedang mengintai.

"Cepat masuk!" kata hatinya mengatakan untuk segera menolong si remaja. Ia menyuruhnya untuk masuk ke dalam mobil. Berbaring di jok tengah agar tak ketahuan.

Polisi itu menghampiri Hayato, menanyakan seseorang dengan ciri-ciri yang persis seperti orang yang berada di dalam mobil miliknya.

"Ohh, anak itu.. Tadi dia lari ke arah sana." Hayato menunjuk sembarang arah untuk meyakinkan polisi. Ketiganya pun segera melangkah ke sana.

Setelah mereka lumayan jauh, Hayato secepatnya masuk dan melajukan mobil.

"Sudah aman, kau bisa duduk sekarang." ucapnya.

Anak itu berganti posisi. Duduk menyempil tepat di belakang Hayato yang sedang mengemudi.

"Arigatou gozaimasu, Onii-san. Aku sangat takut kalau sampai dibawa ke kantor polisi." ungkapnya dengan wajah cemas.

"Memangnya apa yang sedang kau lakukan sampai bisa dituduh sebagai anak jalanan?"

Dia lalu bercerita. Keberadaannya yang tengah sendirian di jalanan ramai itu karena dia habis berjualan koran. Lalu tak sengaja bertemu dengan sekumpulan anak jalanan yang sedang berkerumun. Karena ingin tahu, dia pun mendekatinya. Tak lama, sirine kendaraan dinas kepolisian terdengar semakin kencang. Petugas yang berada di dalamnya cepat turun lalu memburu kerumunan tersebut. Ia yang tak tahu apa-apa malah ikut terjerat. Panik dan terus melarikan diri hingga melihat mobil Hayato yang dikiranya akan cukup aman untuk tempat dia berlindung sementara.

"Jadi seperti itu.." kini Hayato tahu penyebabnya. "Apa kau tidak sekolah, Kai-kun?" tanyanya pada anak itu yang  sudah memperkenalkan diri.

Dia menggeleng. "Aku sudah tidak sekolah sejak lulus SD. Lalu aku bekerja apa saja untuk memenuhi kebutuhan keluarga sampai sekarang umurku 14 tahun."

"Lalu, bagaimana dengan orangtuamu?"

"Otou-san sudah lama meninggal, hanya ada Okaa-san dan adik perempuanku yang masih berumur 8 tahun. Untung saja dia bisa bersekolah."

"Usianya sama kayak adikku!"

Setelah mengetahui sedikit tentang kondisi keluarga remaja itu, Hayato tak berniat untuk menanyai lebih dalam. Karena dia pun bingung bagaimana harus memberi tanggapan. Hanya rasa kasihan saja yang kini terpikirkan olehnya atas kisah hidup yang baru saja ia simak.

"Oh ya, di mana rumahmu? Aku akan mengantar kau sampai ke sana." Hayato yang sedang menyetir dalam kecepatan lambat dengan arah tujuan yang belum jelas ini menawarkan diri. 
Mendapat perlakuan yang baik dari Hayato, ia pun merasa terbantu lagi. "Terimakasih Onii-san, kau menolongku lagi. Kau sangat baik!" dia tersenyum lebar. Lalu memberitahu jalan ke arah tempat tinggalnya.

"Baru kali ini aku berbuat kebaikan secara berturut-turut, hihi." batin Hayato mengulum senyum.

Belum tiba di tujuan, laju mobil Hayato malah semakin melambat. Lalu menepi dan sepenuhnya berhenti. Ada yang tidak beres dengan kendaraan ini. Dia harus turun untuk mengecek kondisinya.

"Arghh kussso!!" kesalnya menendang ban mobil yang terletak di bagian kiri depan. Ban itu kempes sehingga membuat mobil ini tak bisa berjalan dengan semestinya.

Kai ikut keluar. Menangkap raut sebal di wajah Hayato. Lalu pandangannya beralih pada bayang-bayang kaki dari pria berambut blonde itu yang menendang ban sekali lagi. Ia akhirnya menyadari apa yang tengah terjadi.

Belum ada kesempatan bicara, ia menunggu Hayato yang kini sedang menelpon pekerja bengkel yang ia kenal untuk dimintai pertolongan menggantikan ban tersebut. Namun montirnya baru bisa datang dua jam kemudian. Apa dia harus menunggu selama itu? Mana jalanan ini terkesan sepi dan mencekam karena sudah masuk ke wilayah perkampungan. Lalu matahari pun akan segera terbenam. Nah loh, apa Hayato akan berteriak-teriak memanggil ibunya di keadaan sulit seperti ini?

"Kai-kun, apa di sekitar sini ada bengkel?" Hayato berharap jawaban yang diberikan akan sesuai dengan harapannya meski kemungkinan itu kecil.

"Sayangnya tidak ada, Onii-san."

"Errrr kenapa aku sial banget hari ini! Tadi pagi udah diceramahin sama Mama Papa, terus sekarang ban mobil malah kempes!" dia tak mengeluarkan suara. Hanya terekspresikan dengan wajah bete serta tangannya yang mengacak-acak rambut.

"Anu.. Onii-san, apa kau membawa ban cadangan?" tanyanya hati-hati karena Hayato terlihat masih kesal.

"Selalu." singkat Hayato.

"Kalau peralatan lainnya?" lanjutnya.

"Ada juga, aku selalu membawanya.. Memang kenapa?" Hayato jadi penasaran. Menurunkan pandangan ke anak yang tingginya sebatas bahu dia.

"Kalau ada ban dan peralatan lainnya, tinggal Onii-san ganti sendiri saja." dia mengusulkan.

"Haahhh??!! Apa kau tak salah bicara?"

Dia menggeleng pelan. Kebingungan.

"Mustahil.. aku belum pernah melakukannya." tolak Hayato.

"Mungkin Onii-san belum mencoba. Makanya jadi mustahil." timpal dia.

"Untuk apa aku mencobanya? Ada orang-orang bengkel yang sudah punya keahlian khusus untuk melakukan ini, jadi aku tidak usah repot-repot." Hayato menentang.

Sekarang dia hanya mendapat tatapan aneh dari Kai setelah remaja itu mendengarkan ucapannya.

"Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa kau mau mengatakan kalau aku ini adalah anak manja juga?!" suara Hayato meninggi.

Dia sedikit tersentak. Menggeleng cepat beberapa kali. "Aku tidak bicara apa-apa loh."

Hayato terbawa emosi karena belum menemukan jalan keluar. Dia langsung meminta maaf karena tak bermaksud memarahi Kai.

"Yasudah, biar aku saja yang menggantinya." tiba-tiba remaja itu mengajukan diri.

"Kau bisa?" Hayato tak percaya. Dia menganggap ini hanya omong kosong.

"Ini mudah! Aku punya pengalaman dalam mengganti ban mobil." ungkap dia. "Tapi Onii-san harus membantuku juga menurunkan bannya dari bagasi, aku tidak kuat mengangkatnya sendirian." pintanya.

Hayato mengiyakan walau dia dibuat kebingungan dengan apa yang remaja itu katakan. Yang benar saja? Dia mau atau bahkan bisa mengerjakan ini. Tak pernah terbayang jika 'orang biasa' akan sanggup melakukannya, apalagi orang yang masih terbilang kalangan anak-anak seperti Kai.

Dia mulai melakukan langkah-langkah seperti normalnya montir saat memperbaiki. Dengan mengerahkan tenaga maksimal akhirnya selesai juga pekerjaan darurat ini. Sendirian. Sedangkan Hayato hanya bisa bengong keheranan menyaksikan apa yang dia lihat saat ini hingga mulutnya tak sadar terbuka.

"Kau benar-benar bisa melakukannya.." Hayato terkesiap. Ucapannya bertempo lambat karena saking tak menyangka.

Dia membalas sambil membersihkan tangannya yang kotor pada lap yang tersedia, "Aku kan sudah bilang tadi. Kalau kita bisa melakukannya sendiri, untuk apa menyuruh oranglain?"

"Tapi kalau oranglain yang memang pekerjaannya di bidang seperti itu, kenapa harus kita lakukan sendiri?" Hayato masih menyanggah.

"Ada hal yang memang harus dilakukan oleh orang-orang yang sudah ahli. Tapi, kalau untuk hal yang menyangkut keseharian seperti ini, aku kira siapa saja bisa melakukannya. Dan memang harus dilakukan, demi kebaikan diri sendiri. Tidak akan ada yang bisa menolong sepenuhnya jika bukan diri kita sendiri." terangnya memperjelas pendapat.

"Dia benar.."

Plak! Sebuah tamparan yang keras diterima Hayato atas kata-kata tersebut. Ucapan itu seperti menggambarkan kehidupan yang dijalani oleh dia selama ini. Di mana dia hanya bisa menyuruh oranglain untuk melakukan hal yang seharusnya bisa dia lakukan sendiri. Demi memuaskan keinginannya, demi keuntungan dirinya, dia tak mempedulikan oranglain. Nasehat panjang yang orangtuanya berikan tadi pagi gagal ia patuhi. Tapi sedikit kata yang dituturkan oleh anak ini barusan malah berhasil untuk membuatnya berpikir dengan logis.

Hayato mematung. Diam seribu bahasa tak membalas lagi perkataan dari Kai.

"Onii-san?" tegur Kai yang melihat Hayato tak bergerak. Di kedua kalinya teguran itu terlempar, Hayato kembali sadar.

"Onii-san baik-baik saja?" tanyanya khawatir.

"Ya, aku tidak apa-apa. Aa, ano.. Ah, ini, ini bannya-- ayo kita masukkan ke bagasi lagi." dia sedikit gelagapan karena masih terbawa pada bayang-bayang kesadarannya. Ia coba kesampingkan dulu perihal ini, sekarang dia harus membantu remaja itu di pekerjaan pamungkasnya.

Hayato melanjutkan perjalanan ke rumah Kai. Telah sampai, namun tak di depan rumahnya. Karena rumah anak itu berada di dalam gang, jadi Hayato menurunkannya di pinggir jalan menuju ke sana.

"Terimakasih Onii-san sudah mengantarkan aku pulang!"

"Sama-sama." mereka saling melemparkan senyum. "Apa rumahmu masih jauh?" sambungnya.

"Tidak kok, sekitar 200 meter sudah sampai. Apa Onii-san mau berkunjung dulu ke rumahku? Tapi rumahku sangat kecil."

"Tidak usah berkecil hati, Kai-kun. Yang penting itu bahwa kau masih memiliki keluarga." balasnya. "Aku akan langsung pulang, karena sudah malam. Mungkin suatu saat aku akan berkunjung ke rumahmu."

"Iya, Onii-san benar. Aku masih punya Okaa-san dari adik yang harus aku jaga dengan baik. Sebagai laki-laki, aku akan melakukan apapun untuk mereka dengan kekuatanku sendiri." tekad Kai.

"Kau anak yang hebat!" Hayato memuji anak itu.

Keduanya pun berpisah di malam hari ini yang bertiup angin sejuk khas musim semi.

Telah sampai rumah, saat Hayato memarkirkan mobil, dia dihampiri oleh satpam yang tengah berjaga.

"Den Hayato, apa besok mobilnya mau saya bersihkan lagi?" tawarnya.

"Gak perlu, biar aku yang bersihin sendiri. Mulai besok, setiap pagi hari, bapak santai aja sambil siap-siap fokus pada pekerjaan utama." Hayato berlalu masuk rumah meninggalkan senyuman tulus. Satpam itu terpaku. Terus memandangi ke mana Hayato pergi, karena tak menyangka bahwa esok pagi dia akan 'menganggur' untuk yang pertama kalinya dalam dua bulan ini.

Kata-kata seorang anak remaja yang baru tadi sore ditemuinya ini masih terus terngiang di telinganya. Berputar di pikiran seakan tak menemukan jalan keluar untuk dapat melupakannya. Ia merasa malu pada dirinya yang masih bersikap kekanakkan walau sudah hidup selama dua dekade. Mana berpendidikan pula. Mendapatkan didikan di rumah dari kedua orangtua yang masih lengkap, pun di tempat perkuliahan. Sedangkan remaja itu, yang sudah lama tak mendapat haknya karena faktor kehidupan yang tak seberuntung dirinya malah memiliki pemikiran se-cemerlang itu. Memiliki rasa tanggungjawab terhadap diri sendiri sebesar itu. Menjadi mandiri jangan karena terhimpit keadaan, namun harus diniatkan dari dalam jiwa di keadaan apapun.

Mulai malam ini Hayato bertekad, bahwa dia harus mengubah sifat, sikap, perilaku dan apapun padanan katanya yang merujuk ke makna yang sama. Ini akan sulit, butuh waktu sampai ia bisa beradaptasi dengan keadaannya. Mungkin dia juga akan dianggap aneh oleh semua penghuni rumah ketika mulai besok suara nyaringnya tak menggelegar. Semoga saja. Atau saat ia membuat minumannya sendiri. Tak masalah, karena yang terjadi adalah sesuatu yang positif. Dia akan membuktikan secara nyata jika dirinya telah menjadi lebih baik!

-TAMAT-

Sunday, March 21, 2021

GLAMOROUS Challenge

Mari melakukan tantangan lagi! Masih dan mungkin akan selalu berhubungan dengan GENERATIONS ahaha karena selama saya merasa mampu untuk melakukannya, maka saya akan senantiasa terus bergerak! *halah*

Kali ini saya akan mengikuti challenge dari "Creative Group" bernama PKCZ® di mana salahsatu member GENE sekaligus leadernya merupakan member dari grup tersebut juga. Apalagi, dia berperan sebagai vokalis dalam lagu yang digunakan untuk challenge ini! Lagu berjudul GLAMOROUS yang belum lama ini dirilis video dan musiknya dalam bentuk digital. Challenge ini lebih tepatnya ditempatkan di TikTok dan disertai dengan hastag #PKCZグラマラスチャレンジ, tapi karena saya tidak berminat untuk membuat akun tersebut, maka saya simpan saja di blog. Sekalian buat kenang-kenangan juga sama seperti tantangan-tantangan sebelumnya :)) 

Dan ini dia videonya! Yang pertama tentu  saja adalah acuan saya dalam menghapal gerakannya. Tiga orang member dari grup PSYCHIC FEVER memulai tantangan ini!


GLAMOROUS Challenge by me! Tolong jangan berharap lebih, yang jelas saya telah menyelesaikan ini wkwkw
⬇
⬇

Terimakasih dan sampai jumpa di challenge lainnya. ^^

Thursday, March 11, 2021

Fan Fiction: 'Pengacara' ShiraKazu: Banting Setir

Title: 'Pengacara' ShiraKazu: Banting Setir
Author: Harucin
Cast: Alan Shirahama & Ryuto Kazuhara (GENERATIONS from EXILE TRIBE)
Genre: Comedy, Friendship, Fan Fiction AU
Length: One Shot


Masih jadi 'pengacara' alias pengangguran banyak acara, hari-hari dari ShiraKazu dihabiskan dengan berbagai aktivitas yang tak menentu. Bahkan pemasukan dan pengeluaran mereka pun tak dapat dipastikan. Terkadang rejeki datang bertubi-tubi yang bisa membawa keduanya pada makanan lezat untuk masuk ke dalam perut dengan damai, bahkan dompet pun tak lagi kosong walau hanya mampu terisi oleh selembar kertas berharga atau koin-koin seadanya. Tapi.. sering juga keadaan sulit menghimpit mereka. Di saat hanya bisa berkeliaran tak jelas dari pagi hingga malam tanpa menghasilkan, terpaksa mereka tak bisa jajan dan cukup makan dengan makanan seadanya di rumah masing-masing. Untungnya, mereka tak pernah stres akibat keadaan ini, hanya dengan bernyanyi disertai iringan musik sederhana, dapat membuat ShiraKazu melupakan bahwa betapa kerasnya hidup ini.

~Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah, tetap jalani hidup ini melakukan yang terbaik~

Anggap saja lagu dari salahsatu band asal Indonesia ini memiliki versi Bahasa Jepangnya, jadi bisa mereka nyanyikan tanpa kebingungan. //oke skip//

Suara dari Kazu mengalun dengan indah nan lembut serta gitar yang dipetik oleh Shira menjadi pengiringnya. Jangan salah, meski mereka kesusahan dalam mendapat pekerjaan, tapi bukan berarti keduanya tak memiliki bakat. Jiwa musik nyatanya telah mengalir sejak dini di dalam darah mereka. Shira yang tertarik pada permainan alat-alat musik dan Kazu yang tak pernah letih untuk mengasah vokalnya dalam bernyanyi. Sempat terlintas dalam pikiran mereka untuk menseriusi hobi ini menjadi sebuah langkah dalam berkarir. Tapi itu sungguh tak mudah. Kesempatan belum datang pada mereka, meski bertahun-tahun telah berlalu.

Jangan bersedih, mereka tetap diakui sebagai musisi handal di lingkungan keluarga! Apalagi kini ShiraKazu mendapat tawaran dari Obaa-chan yang tinggal di samping rumah mereka untuk menyumbangkan beberapa lagu di perayaan ulang tahun ke tigaperempat abadnya. Menjadi tetangga selama lebih dari 40 tahun, beliau sudah tahu apa saja kebiasaan yang suka mereka lakukan. Bahkan saat keduanya masih bayi pun, Obaa-chan ikut andil dalam membantu ibu mereka untuk mengasuh serta memberi wejangan-wejangan.

"Jadi apa kalian bersedia untuk bernyanyi di ulang tahun Obaa-chan?" tanya beliau pada duo ini saat mereka disuruh datang ke rumahnya di hari yang masih pagi. Duduk tegap di ruang tengah yang menjadi tempat kesukaan beliau.

"Obaa-chan akan membayar kami, kan?" Kazu dengan cepat menyambar. Jika mendapat suatu 'perintah', yang pertama ada di otaknya hanya uang, uang dan uang.

"Ish! Mulut lo tuh gak bisa dijaga! Gimana kalo Obaa-chan tiba-tiba tersinggung terus lemparin ember lagi! Masa sama tetangga mau itung-itungan!" bisik Shira menegur Kazu. Dia takkan pernah lupa pada amukan Obaa-chan jika sedang marah. Yaiyalah, wong dia sendiri yang suka jadi sumber kekesalan beliau.

Kazu tetap tak mau mengalah, "Tapi kan itu termasuk pekerjaan! Masa minta gratisan?" bisikannya malah meninggi.

Melihat gerak-gerik dari pemuda di hadapannya, Obaa-chan menanggapi dengan senyum santai, "Tenang saja! Kalian akan mendapat upah yang sesuai dengan hasil kerja kalian. Apa nominalnya telah kalian tentukan sendiri?"

"10.000 yen untuk lima lagu!" lagi-lagi, Kazu secepatnya mengambil alih jawaban atas pertanyaan tersebut seolah dia yang memiliki hak penuh akan 'pekerjaan' ini.

Tangan Shira tak sanggup berdiam. Sebuah geplakan dilayangkan ke kepala pria berotot ini hingga dia meringis.

"Gomen Obaa-chan. Ryuto-kun memang selalu begitu. Jangan didengarkan, ya.. Kami tulus kok membantu Obaa-chan. Anggap saja ini sebagai hadiah dari kami." tutur Alan dengan sangat berhati-hati.

Wajah Kazu mendadak masam ketika Shira berkata demikian. Dalam pikirannya hilang sudah pundi-pundi itu. Selamat tinggal pada makanan lezat yang telah melekat dalam bayangannya.

"Tidak, Shira-kun. Jangan menolak rejeki ini. Obaa-chan akan tetap memberi kalian bayaran. Untuk jumlahnya, biar nanti saja diketahui setelah kalian selesai bekerja."

Mendengar penjelasan dari Obaa-chan, paras Kazu yang tadinya seperti bau ketek ini berubah jadi sumringah. Ucapan beliau bagaikan kalimat terindah yang telah menyusuri ke dalam telinganya di beberapa hari ini. Senyumnya mengembang. Berganti jadi tawa lebar yang mampu menaikkan mood positif.

"Arigatou Obaa-chan! Aku berjanji akan bernyanyi dengan sebaik mungkin! Aku akan membuat ulang tahunmu jadi berkesan!" tekad Kazu. Shira hanya bisa ikut tersenyum saja.

Setelah perbincangan ShiraKazu dan Obaa-chan selesai, mereka pun pamit dari kediaman beliau. Rumah yang hanya ditinggali sendiri. Tiga anak laki-laki beliau telah berkeluarga dan hanya mengunjunginya satu bulan sekali, bahkan lebih. Namun mereka tak pernah lupa mengirimkan uang agar kebutuhan ibunya tercukupi. Dan sering meminta bantuan pada kedua ibu ShiraKazu untuk menemani beliau di kala luang.

"Alan-kun, kan tadi lo udah nolak upah dari Obaa-chan, jadi nanti, semua bayarannya sah milik gue." ujar Kazu saat mereka tengah berjalan ke luar melewati pagar rumah tersebut.

"Enak aja! Kan kita berdua, kolaborasi, jadi bayarannya dibagi dua lah!" si pria berhidung mancung itu sontak sewot. Protes pada keputusan Kazu.

"Salah sendiri lah, tadi sok-sokan pake nolak segala." sindir Kazu.

Shira masih keukeuh membela diri, "Gue cuman berantisipasi aja. Gimana kalo Obaa-chan beneran marah?"

"Tapi nyatanya gak marah, wleee!" juluran lidah ditunjukkan oleh Kazu pada Shira sembari telapak tangannya ia tuntun menuju pucuk kepala pria itu. Plak! Apa yang pria itu lakukan padanya tadi langsung mendapat balasan yang setimpal.

"Kussooo Ryuto-kun!" geram Shira akibat perlakuan ini. Terlambat baginya untuk membalas karena si Kazu sudah lari terbirit meninggalkannya dan segera masuk ke dalam rumah.

***

Di siang hari, Shira datang ke rumah Kazu mengajaknya untuk mulai latihan karena acara akan dilaksanakan besok malam. Semakin cepat, semakin baik. Semakin lancar juga nanti saat mereka mengeksekusinya. Begitu pikir Shira. Namun.. Kazu menolak mentah-mentah latihan tersebut.

"Wey! Kan lo yang bilang sama Obaa-chan kalo bakal melakukan yang terbaik. Lha ini diajak latihan malah gak mau. Acaranya besok! Besok loh!!" tegur Shira.

"Besok pagi aja daah, atau ntar malam! Soalnya ini bentar lagi klub baseball favorit gue mau tanding, gak boleh dilewatin!" Kazu meminta untuk mengulur waktu latihan. Baginya, kali ini menonton pertandingan bola kasti merupakan hal yang paling penting di atas segalanya.

Percuma, mau diomeli hingga mulut Shira berbusa pun, dia tak peduli. Kepalanya sudah keras seperti batu, mustahil bisa dihancurkan. Akhirnya Shira kembali ke rumahnya dengan membawa kekesalan.

Menyaksikan pertandingan olahraga tak bisa lepas dari rasa excited bahkan tak sadar untuk melepas teriakan, kan? Saking serunya menikmati setiap apa yang ditampilkan. Kadang gemas jika mendapat kegagalan. Dan sorak sorai pun pecah di saat kemenangan berhasil diraih. Itulah yang saat ini tengah dilakukan oleh Kazu. Tak terhitung berapa kali dia berteriak saat menontonnya, juga tak terduga bahwa raganya tak bisa diam untuk mengeluarkan ekspresinya ketika mengikuti tayangan tersebut. Berkali-kali ditegur oleh sang ibu, namun hanya sahutan "ya" saja yang ia lontar tanpa benar-benar menurutinya.

***

Malam hari, Shira kembali datang ke rumah tersebut sembari menenteng gitar kesayangan. Pemuda ini langsung disuruh oleh Kazuhara Mama pergi ke kamar anak laki-lakinya itu. Kazu mempunyai seorang adik perempuan yang masih menginjak bangku kelas 2 SMA. Ia bisa dibilang sebagai kakak yang protektif, sekarang. Dulu saat Shira sering mengajaknya main bersama di halaman rumah, ia tak pernah mempermasalahkan. Tapi sekarang ketika adiknya mulai beranjak remaja, ia khawatir jika benih-benih asmara tumbuh di antara mereka. Mana mau Kazu menyerahkan sang adik pada orang yang sudah dia ketahui kebobrokan luar dalamnya, haha. Baiklah mari kembali lagi pada ShiraKazu yang akan mulai latihan untuk mengisi acara penting saat esok.

"Lo gak modusin adek gue kan?! Gak salah masuk kamar?" baru saja Shira menapakkan kaki di ruangan tersebut tapi sudah mendapat tuduhan nyelekit. 

"Kagak lah!" sangkalnya segera. Ia tahu jika kamar adiknya Ryuto berada saling hadap dengan kamar ini, tapi tak sedikitpun terlintas dalam pikirannya untuk menerobos masuk sana.

"Good!" Kazu mengacungkan dua jempol.

Tak mau mengulur waktu lagi, Shira langsung mengajak Kazu untuk fokus pada latihan. Berdiskusi mengenai daftar lagu yang akan mereka bawakan esok hari. Telah diputuskan bahwa duo ShiraKazu bakal menampilkan tiga buah lagu. Tentu saja, Kazu yang berperan sebagai vokalis dan Shira mengiringi dengan gitar legendnya.

Latihan dimulai. Menyesuaikan nada masing-masing agar bisa menjadi satu kesatuan harmoni yang mengalun indah serta memberi kesan mendalam. Walau sudah terbiasa bermusik bersama, namun kali ini rasanya berbeda. Ada beban yang dipikul di pundak masing-masing yang membuat keduanya tak bisa melakukan hal ini dengan asal.

Baru satu putaran di tiga lagu yang mereka mainkan, Kazu sudah meminta berhenti. Selama bernyanyi tadi, ia terus saja berdeham kemudian batuk-batuk seakan ada sesuatu yang mengganggu pita suaranya hingga nada yang ia lantunkan kurang enak didengar.

"Ehem ehem.. Uhukk,"

"Kenapa lo?" tanya Shira aneh.

"Latihannya udahan dah Alan-kun, dilanjut besok lagi. Kayaknya malam ini suara gue udah kecapean." jelas Kazu.

Karena tak mau memaksa, akhirnya Shira menurut saja. Toh sekarang pun sudah pukul 10 malam, rasa kantuk mulai menguasai diri masing-masing. Dia pamit dan kembali berpesan pada Kazu tentang latihan di esok pagi.

"Yaudah gue balik sekarang. Besok jam 9 kita latihan lagi. Udah fix ya kita bakal mainin lagu-lagu itu." Shira memastikan.

Tanda ok diberikan oleh Kazu sebagai jawabannya. Shira pun segera menghilang dari hadapan dia dalam sekejap.

***

Esok tiba. ShiraKazu sengaja tidak menjelajah 'dunia luar' seperti yang rutin mereka lakukan di setiap hari. Karena sudah jelas, fokus mereka kini hanya pada persiapan untuk tampil di perayaan istimewa Obaa-chan samping rumah. Ini bukan acara besar sih, yang hadir hanya ketiga anak beliau beserta menantu dan cucunya. Ditambah ShiraKazu mama dan lima orang ibu-ibu lain yang menjadi tetangga terdekat beliau.

Sejak pagi setelah sarapan, Shira telah berkutik dengan gitar kesayangan menyetel nada agar jadi sempurna. Tersisa satu jam lagi hingga latihan dimulai. Sementara Kazu...

"Yabbbaaiiii!!" gerakan bibirnya mengacu pada satu kata itu. Sebuah masalah besar ia alami di waktu yang sungguh rentan ini. Bagaimana bisa ini terjadi? Padahal nanti malam ia sudah mutlak harus dalam kondisi yang fit segalanya. Sumber utama yang akan menjadi perhatian malam ini, kini malah berada di situasi yang sulit.

Ia segera keluar rumah. Menembus pagar rumah Shira dan mengetuk-ngetuk pintunya dengan tergesa seolah hal yang akan ia sampaikan begitu darurat.

Pintu terbuka, Shira Mama menyambutnya. "Ohh Kazu-kun, pasti mau bertemu Alan ya?" tanyanya ramah.

Kazu mengangguk. Mama mengatakan bahwa anaknya itu ada di balkon atas sedang bermain gitar, beliau mempersilahkan Kazu untuk langsung menyusul ke sana saja.

Orang yang dicari telah Kazu temukan bersamaan dengan dia yang menoleh setelah merasakan derap langkah kaki semakin mendekat ke arahnya.

"Uyy dah dateng lo? Belum jam 9 loh, kayaknya lo semangat banget. Bagus!!" Shira malah memuji Kazu yang telah datang lebih awal dari waktu yang dijanjikan.

Kazu merespon dengan gelengan kepala. Wajahnya malah panik. Bibirnya kemudian bergerak berusaha mengucapkan kata-kata, "Alan-kun, yabai!" ucapnya.

Namun.. suara itu tak bisa terdengar jelas oleh telinga Shira. Hanya bisikan saja yang mampu menerobos ke indera pendengarannya. "Lo ngomong apa sih? Pake bisik-bisik segala." bingungnya.

Kazu mengibas kedua tangannya. Seolah memberi tanda bahwa apa yang dikatakan oleh Shira itu tidak benar.

"Kenapa sih, Ryuto-kun?" Shira makin tak mengerti pada maksud kawannya itu.

"Ehem.. Uhuk uhuk.." sebelum membalas lagi, Kazu coba menstabilkan suaranya lagi. Namun tetap tak berhasil. Yang bisa keluar dari mulutnya hanya suara serak bahkan hilang-hilang dan berujung pada bisikan lagi.

Shira masih belum memahami betul pada apa yang tengah dialami oleh Kazu. "Ngomong yang bener, Ryuto-kun! Kok malah tetep bisik-bisik gitu."

Menyerah, apa yang diucapkan Kazu tak bisa tersampaikan pada Shira. Jalan pamungkas, ia pun mengetik kehendaknya melalui ponsel, dan diberikan pada Shira untuk dibaca.

Suara gue hilang, Alan-kun. Gimana dong??

Setelah kalimat ini diterima oleh otaknya, barulah Shira paham pada apa yang tadi ingin disampaikan oleh si pria pemilik suara emas itu, tapi sekarang suaranya malah lenyap.

"HAHHH??" Shira menganga. Ia terkejut pada tulisan itu.

"JANGAN BERCANDA!!" suaranya meninggi saking tak percayanya.

Gelengan kepala dan kibasan tangan Kazu merupakan perwakilan untuk jawaban itu.

Shira ingin memastikan lagi jika Kazu tak membual pada pengakuannya. Ia meminta pria itu untuk berkata sesuatu, namun naas.. hasil yang didapat tetap sama. Suara Kazu tak konsisten antara timbul-hilang dan berujung tak terdengar sama sekali. Jika begini, bagaimana mereka bisa latihan? Dan parahnya.. Bagaimana dengan pekerjaan di malam hari ini? Itu akan segera tiba kurang dari 12 jam lagi. Tapi apakah suara Kazu akan kembali seperti semula dengan secepat itu? Untuk bicara saja ia kesulitan, apalagi bernyanyi. Yang membutuhkan suara konsisten untuk mencapai setiap nada yang terlantun. Terutama nada tinggi, karena lagu yang akan mereka tampilkan tak lepas dari nada tersebut.

"Kok bisaaaa??!" kini Shira ingin mengetahui penyebab si otot kekar itu kehilangan suaranya tiba-tiba. Padahal semalam tak ada masalah.

Kazu mengedikkan bahu. Ia pun tak mengerti mengapa ini bisa menimpa dirinya.

Tik- tok- tik- tok

Hening sejenak. Mereka malah saling pandang menampakkan wajah panik. Hingga akhirnya Shira mendapat hidayah tentang si penyebab itu.

"Gue tau!! Ini pasti karena lo nonton pertandingan baseball kemaren? Sambil teriak-teriak sampe kedengeran ke rumah gue!" sangka Shira. Faktanya, karena saking semangat, Kazu sampai tak ngeh bahwa suaranya yang menggelegar itu bisa terdengar hingga ke rumah sebelah, tempat tinggal Shira.

Kazu pun menyadari dengan apa yang dituduhkan oleh Shira. Kemungkinan besar memang ini pemicunya. Ia tak bisa mengelak lagi, kini kepalanya malah tertunduk sebagai perwujudan dari rasa menyesal.

"Terus gimana donggg?!! Elu mah cari mati, Ryuto-kun!!!" begitu geregetnya Shira pada kecerobohan yang dilakukan oleh Kazu. Ia semakin panik. Otaknya tersendat untuk mencari cara agar Kazu mendapatkan suaranya lagi sesegera mungkin. Namun mustahil. Waktu takkan cukup menunggu hingga ia bisa bernyanyi dengan normal lagi. Apa yang harus mereka lakukan nanti malam di acaranya Obaa-chan.

Kazu mengetikkan sesuatu lagi di ponselnya,

Lo aja yang gantiin gue nyanyi!

"Bakayaro! Mana mungkin bisa!" Shira mengumpat pada ide gila yang dicetuskan Kazu. Mustahil baginya untuk bernyanyi di depan banyak orang, apalagi Obaa-chan. Tak ingatkah dia jika beliau secara tak langsung alergi pada 'suara'nya Shira. Hanya ember dan panci saja yang akan dia hadapi ketika nenek itu mendengar suara Shira yang selalu melengking tanpa aturan.

Nyanyinya yang bener dong makanya. Suara lo gak parah-parah banget kalo diseriusin!

Kazu terus berharap bahwa hal yang dianggap mustahil ini bisa menjadi mungkin. Berdoa jika Tuhan memberi keajaiban pada mereka di 20 menit berharga nanti. Durasi dari penampilan keduanya.

Masih saja, Shira tak bisa nekat akan hal ini. Mungkin yang dikatakan oleh Kazu itu benar, jika diseriusi, suara Shira akan terdengar lebih baik. Tapi.. semua itu kembali pada waktu. Butuh latihan keras dan memakan waktu lama untuk merealisasikannya. Dan tak mungkin, akan mengalami perubahan pesat hanya dalam waktu beberapa jam.

Mati lah kita...

Eh, gue punya ide!!!

Wajah si Kazu yang panik itu berubah jadi tersenyum misterius. Membawa hawa menegangkan pada diri Shira. 

***

Malam telah datang. Acara akan segera dimulai. ShiraKazu begitu tegang untuk menghadirinya. Hati yang dagdigdug menguasai jiwa dan raga mereka untuk memberikan penampilan ini. Semua masih belum kembali normal. Tak mungkin Kazu bisa bernyanyi secara langsung saat itu juga, dan tak mungkin Shira bisa menggantikannya. Ide untuk tukar posisi di pagi tadi tak menemui titik terang. Namun ada satu lagi ide tak terduga yang telah Kazu utarakan. Setelah dipikir-pikir, ini bisa jadi jalan keluarnya.

Semua undangan telah berkumpul. Perayaan dengan dekorasi sederhana namun memberi kesan yang teramat menghangatkan. Semua keluarga Obaa-chan telah berkumpul. Begitupun dengan para tetangga dekat yang sudah dianggap seperti keluarganya juga.

Sebelum tampil, ShiraKazu menghampiri nenek dulu. Mereka berinisiatif untuk menampilkan hiburan lain agar suasana jadi semakin meriah, "Obaa-chan, apa kami hanya bernyanyi saja di sini?" tanya Shira.

"Ya.. Kalian tinggal bernyanyi saja." balasnya ramah. Moodnya sedang dalam kondisi yang sangat bagus.

"Ano.. bagaimana jika kami memberi hiburan lain? Kan di sini sudah disetel musik-musik juga, jadi menurut kami itu akan terasa membosankan." Shira terus membujuk nenek untuk bisa mengijinkan mereka melakukan hiburan lain tersebut. Diikuti Kazu yang menampakkan mimik muka memohon.

Obaa-chan sedikit ragu, "Tapi kalian tak akan mengacaukan acara ini, kan?" tuduhnya seketika.

Shira segera menampik, "Tidak, Obaa-chan! Aku yakin bahwa penampilan kami pasti akan menghibur semuanya! Dan Obaa-chan pun akan senang." dia seolah menjamin bahwa apa yang akan mereka tunjukkan tak akan mengalami kegagalan.

Akhirnya Obaa-chan memberi lampu hijau pada mereka. Yosh! Jalan mulus mulai dilalui. Kini saatnya menuju ke titik utama.

Sebelum acara puncak tiba, yaitu tiup lilin dan potong kue, akan ada hiburan yang ditampilkan oleh dua anak muda 'kesayangan' Obaa-chan. Walau mereka sering membuat beliau kesal, tapi beliau tak pernah bisa benar-benar marah pada mereka yang sudah dianggap sebagai cucu juga.

ShiraKazu segera menuju ke pusat di mana mereka akan tampil. Semua pasang mata hanya tertuju pada mereka, termasuk ibu masing-masing yang penasaran juga dengan apa yang akan anak-anak mereka tunjukkan ini. Tanpa microfon di genggaman Kazu, tanpa gitar di pangkuan Shira, mereka menghadap dengan tangan kosong.

"Siap lo?" bisik Shira mendekati daun telinga Kazu. Balasan ok diterimanya.

"Baiklah tamu undangan semuanya.. Kali ini kami, duo ShiraKazu akan menampilkan sebuah pertunjukkan yang sangat eksklusif! Baru pertama kali kami lakukan sebagai persembahan khusus untuk ulang tahun nenek kami tercinta." tutur Shira mengawali aksi mereka. Kazu hanya sanggup tersenyum tanpa berdosa saja seakan tak terjadi apa-apa dibalik terlaksananya pertunjukkan ini. Padahal secara tak langsung ini adalah kesalahannya sendiri yang membuat mereka harus banting setir dalam sekejap. Membuat mereka harus kelimpungan dikejar waktu agar masalah dapat teratasi. Namun ketika dia memiliki ide ajaib, semua mereka pertaruhkan pada satu harapan ini. Yang jika gagal, maka riwayat keduanya akan 'tamat'. Dan jika berhasil, maka mereka akan semakin percaya diri dengan kekuatannya. Semoga saja opsi kedua yang lebih memihak.

Hiburan yang diharapkan akan membuat penonton terkesan. Kemudian mulai tersenyum hingga tak bisa berhenti untuk menggelak tawa. Hiburan yang mungkin saja akan mereka pelajari lebih lanjut jika keberhasilan itu yang didapat. Atau mungkin menjadi ladang penghasilan mereka untuk ke depannya.

Dari posisi mereka yang bersampingan, Shira lalu mundur dua langkah, membiarkan Kazu berada di depan sendirian. Kemudian dia bersiap untuk melakukan perannya. Begitupun Shira yang mulutnya akan mengeluarkan untaian kalimat-kalimat.

Duo itu beraksi. Menampilkan pertunjukkan sebuah... Pantomim! Pantomim ala ShiraKazu. Si hidung mancung yang bercerita dengan lancarnya serta si pemilik jenggot yang menggunakan bahasa tubuh dengan lihainya. Setiap apa yang keluar dari mulut Shira digabungkan dengan gerakan juga ekspresi wajah yang ditunjukkan Kazu, sukses besar membuat semua orang yang berada di ruangan ini terbahak-bahak. Bagaimana tidak? Nada bicara yang diucapkan oleh Shira begitu menyatu dengan jalan ceritanya. Lalu, penghayatan maksimal dari Kazu dalam menyampaikan makna yang diucap Shira, bisa mengena ke hati semua orang. Kombinasi luar biasa!!

Apa yang mereka khawatirkan sebelumnya, tak terjadi. Malah hasil positif yang didapat. Hingga sampai pada ujungnya, tepuk tangan meriah bergemuruh ditujukan hanya untuk mereka berdua.

Wajah Obaa-chan teramat berseri setelah menyaksikan duo ini tampil. Beliau merasa terpuaskan dengan aksi lucu yang membuat perayaan ulang tahunnya semakin meriah. Mereka benar-benar memberikan bukti. Ucapannya tadi tak sekedar basa-basi saja.

Dua jam berlalu, acara pun selesai. Semua tamu undangan kembali ke kediaman masing-masing. Kecuali dengan keluarga sang nenek. Ya, malam ini sudah dipastikan bahwa mereka akan menginap.

Seperti yang dijanjikan tempo hari, Obaa-chan akan memberi upah atas kerja kerasnya yang ShiraKazu lakukan di acara pentingnya itu. Sebuah amplop yang pastinya berisi nominal bayaran mereka telah berpindah tangan pada Shira.

"Shira-kun, Kazu-kun. Nenek sangat berterimakasih karena kalian sudah memberikan pertunjukkan yang luar biasa." ucap beliau kala dirinya menuntun dua orang ini menuju ke kamarnya. Menyuruh mereka untuk menunggu di depan pintu, sementara dirinya masuk mengambil si pundi-pundi yen itu.

"Terimakasih kembali, Obaa-chan. Jika Obaa-chan senang, kami pun pasti senang." balas Shira tersenyum diikuti juga oleh senyuman sok manis dari Kazu. Mode diamnya yang coba untuk disembunyikan tak mengundang kecurigaan dari beliau.

Mereka pun pamit. Menuju ke rumah Kazu dulu yang lebih dekat untuk unboxing pendapatan hari ini.

"Huaahh 15.000 yen!!" jumlah yang tak disangka-sangka oleh mereka. Shira begitu excited hingga tingkah berlebihannya tak bisa dibendung lagi. Dan Kazu pun yang masih kesulitan untuk berkata, ikut mengekspresikan dengan gerakan loncat-loncat kegirangan. Dua orang ini larut dalam bahagianya.

Masing-masing telah mendapat bagiannya sama rata. Sebelum mereka berpisah di malam yang sudah hampir larut ini, sedikit pembicaraan terlempar tentang aktivitas yang akan dilakukan esok hari.

"Besok kita ngapain lagi ya?" tanya Shira.

Tanpa banyak berpikir Kazu langsung mengisyaratkan sesuatu. Lembaran uang di tangan kanannya ia kipas-kipasi ke arah wajah, lalu tangan kirinya dia tuntun untuk mengelus-elus perut. Sudah tertebak apa isi dari pikiran orang itu.

"Yashh!! Kita pake uang ini buat makan enak sepuasnya besookk!!" tanggap Shira. Mereka lalu saling beradu tangan diiringi tawa bahagia.

Bisa dikatakan bahwa keputusan yang mereka ambil ini tepat. Di saat situasi sulit menghimpit, jangan menyerah dulu akan keadaannya. Terus berpikir mencari cara untuk mendapatkan solusi. Dan terbukti, berkat keyakinan dan kerja keras, bisa membawa mereka menggapai apa yang menjadi tujuan utama.

ShiraKazu, saiku!!


-TAMAT-

Wednesday, March 3, 2021

AmeHare Dance by Me

Hampir satu tahun lalu grup musik GENERATIONS from EXILE TRIBE mengadakan dance challenge dengan gerakan dari lagu "Hirahira" yang bertujuan untuk menyambut perilisan single tersebut. Dan kali ini, gerakan dance terbaru siap untuk diikuti kembali! Untuk meramaikan single berjudul "Ame Nochi Hare" yang dirilis bulan lalu, kini GENE mengajak semua penggemar untuk melakukan "AmeHare Dance" atau dikenal dengan hastag #雨晴れダンス Sebenarnya dance ini tidak dinamai dengan challenge, sih. Karena ini masuknya ke dalam salahsatu konten TikTok milik GENERATIONS. Tapi secara pribadi, saya tetap tertantang dengan adanya dance terbaru ini. Walau durasinya kurang dari 15 detik, butuh usaha keras untuk bisa menghapal dance tersebut ahahaha.

Berikut video gerakan dari AmeHare Dance yang telah diajarkan oleh Guru Besar Yuta Nakatsuka! Dan di bawahnya diikuti dengan video dari saya yang ikut meramaikan kemeriahan ini. Perbedaannya pasti jauh, amat jauh, namun saya tetap happy dalam melakukannya hihihi :D




Sunday, February 21, 2021

Fan Fiction: Di Bawah Payung Merah

Title: Di Bawah Payung Merah
Author: Harucin
Cast: Ryota Katayose (GENERATIONS from EXILE TRIBE)
Genre: Romance-School, Fan Fiction AU
Length: One Shot


Hujan turun cukup deras membasahi jalanan wilayah ini di saat jam pelajaran telah berakhir. Para siswa beriringan mulai mengeluarkan alat untuk berteduh yang dibawanya agar bisa terlindungi dari hantaman gerombolan air ini. Membuat mereka dapat menerobos si peristiwa alam dan kembali ke rumah masing-masing dengan tepat waktu. Namun tidak halnya dengan Yuko, gadis yang duduk di kelas 3A ini lupa membawa benda tersebut ke sekolah. Terpaksa ia harus menunggu dulu hingga hujan reda agar bisa sampai ke rumah.

"Pulang bersamaku saja, Yuko." hanya berselang tiga menit, kemudian suara yang sangat tak asing terdengar dari sebelah kiri gadis ini. Sebuah ajakan ditujukan baginya.

Ia pun menoleh ke sumber suara bersamaan dengan si pemilik yang ikut meliriknya juga. "Ry.. Ryota?" ucapnya terbata. Tak menyangka sama sekali jika tawaran itu datang untuk yang pertama kalinya dari laki-laki yang sudah ia sukai selama setahun. Katayose Ryota, lengkapnya. Namun, Yuko hanya sanggup memendam rasa itu saja. Padahal mereka berada di kelas yang sama, malahan rumah pun bertetangga. Orangtua keduanya saling mengenal satu sama lain. Sayangnya, meski sudah memanggil dengan nama depan masing-masing, dua remaja ini tak terbilang akrab. Ryota yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman-teman sesama lelaki, dan Yuko yang cukup bergaul dengan siswa perempuan lainnya di kelas.

"Ayok, kita pulang!" ajak lagi Ryota yang kini telah membuka penuh payung miliknya. Bersiap melangkahkan kaki meninggalkan tempat belajar ini.

"Kenapa.. Kau mengajakku?" sembari melemparkan tanya ini, Yuko masih mematung bertahan pada posisinya.

Ryota menjawab dengan santai, "Karena kau tak membawa payung, kan? Jadi aku menawarkan 'tumpangan' padamu."

"Lalu kenapa harus aku?" lagi dan lagi, Yuko bak meminta kepastian diiringi degupan jantungnya yang kian lama kian tak beraturan.

"Karena rumah kita searah dan berdekatan. Jadi apa salahnya jika aku mengajakmu?" Ryota memberi jawaban rasional. Inilah faktanya.

"Ah, benar juga.." sahut Yuko yang sekarang sudah tak memiliki bahan pertanyaan lagi untuk diajukan pada lelaki jangkung di sampingnya.

"Dia mengajakku pulang karena arah ke rumah kita itu sama. Tak ada alasan lain lagi, baiklah.. Kamu jangan kepedean, Yuko!" batinnya. Gadis berambut hitam yang terurai sepanjang pundak itu tenggelam dalam lamunan di saat Ryota tengah menanti jawaban darinya.

Karena si perempuan ini diam terus, remaja laki-laki itu pun sontak menepuk bahunya. Membuyarkan lamunan hingga dia mendapat kesadaran lagi. "Kenapa kau malah diam? Jika tak mau, bilang saja. Jangan mengulur waktuku!" ujar Ryota sedikit pedas. Menampakkan sifat aslinya. Ia segera mengambil langkah pertama menjauh dari gadis ini. Menganggap bahwa ajakannya telah ditolak.

"Tunggu, aku ikut!" tanpa berpikir lagi, Yuko buru-buru menyusul Ryota di depan yang untung saja masih berjarak dekat. Menempati ruang kosong di sebelah laki-laki itu. Saling berbagi tempat untuk berteduh.

"Begitu saja sampai harus dipikir-pikir dulu. Tinggal jawab saja, YA! Memang mau sampai kapan kau menunggu di sekolah?!" sindir Ryota saat keduanya tengah menempuh perjalanan pulang. Berbicara tanpa beban sembari tangannya yang terus bertahan memegangi penyangga payung ini.

"Ryota sialan! Dia berbicara dengan seenaknya. Menyindirku sesuka hati. Tapi aku tak bisa marah padanya.. Sungguh, itu mustahil." Yuko menggerutu dalam hati. Ia bisa saja kesal pada Ryota. Namun rasa itu kalah telak oleh debaran jantungnya yang kini semakin cepat akibat posisi mereka yang sangat berdekatan. Bahkan kini Yuko merasakan bahwa lengan miliknya telah bersentuhan dengan milik orang itu. Menjadikan aliran darah dalam tubuhnya berdesir seketika hingga kakinya tiba-tiba lemas. Namun ia harus bisa bertahan karena perjalanan ini belum usai.

"Diam lagi, diam terus." tak mendapat respon untuk yang kedua kali, Ryota mulai bete. "Yasudahlah, terserah kau saja." ia pun menyerah dan beralih menutup percakapan ini.

"Maafkan aku, Ryota. Sulit bagiku untuk beradaptasi dengan keadaan ini. Aku bingung bagaimana harus berbicara.." Yuko hanya mampu membalas dalam diam. Lidahnya seakan kelu untuk dapat bergerak mengeluarkan kata-kata. Butuh usaha yang keras tapi ia belum mampu.

Alhasil, hanya keheningan saja yang kini mendominasi selama mereka melangkah beriringan di bawah satu payung. Menyisakan dua belokan lagi sampai Yuko tiba di depan rumahnya, begitupun kediaman Ryota yang hanya terhalang oleh satu rumah setelahnya. Waktu ini terasa begitu lama bagi gadis itu. Ia tak ingin ini cepat berlalu, tapi di sisi lain ia pun ingin cepat sampai rumah untuk merapikan kondisi hati. Begitu dilanda kebimbangan. Pikirannya amat berkecamuk. Lebih berisik daripada suara jatuhnya air hujan yang masih saja belum berakhir.

Ketika sepasang kaki Ryota dan Yuko membawa mereka untuk berbelok arah, dari depan tertangkap sebuah pemandangan yang hampir sama seperti keadaan mereka sekarang. Satu laki-laki dan perempuan berseragam sekolah, hanya saja pakaian itu berbeda dengan yang dikenakan oleh dua insan ini. Si perempuan mengaitkan tangannya ke lengan lelaki di  sebelah. Sembari kepalanya yang ikut disandarkan pada bahu milik orang yang sama. Tak salah lagi, keduanya adalah sepasang kekasih. Begitulah anggapan dari Ryota dan Yuko yang tanpa sengaja terus memperhatikan gerak-gerik manusia di depan.

Dalam suasana yang masih senyap, mulut Ryota dengan sendirinya mengeluarkan sebaris kalimat, "Bisa saja mereka! Mencari kesempatan untuk bermesraan dalam keadaan seperti ini." ia mengemukakan pendapat mengenai satu objek menarik itu.

"Ya! Pamer di muka umum." sedikit demi sedikit Yuko telah bisa menenangkan perasaannya. Kali ini ia menanggapi ucapan dari Ryota.

Ryota menyambungkan, "Dan lihatlah! Payung yang dipakai pun berwarna merah, benar-benar melambangkan cinta mereka."

"...merah--" ucap pelan Yuko. Mendongak mengalihkan pandangan pada permukaan bagian dalam payung milik Ryota.

"Warnanya sama seperti payung milikmu." timpalnya.

Ryota ikut melihat ke atas. "Ah, benar. Payung ini berwarna merah juga ternyata, aku baru sadar haha." sekilas tawa dilepaskan oleh remaja laki-laki ini.

"Tumben sekali, biasanya kau tidak menggunakan payung ini kan?" tanya Yuko. Sebagai seseorang yang diam-diam menyukainya, ia pasti tahu betul bahwa payung ini berbeda dengan payung yang selalu dipakai oleh Ryota sebelumnya. Di dalam langkah mereka, tampaknya perbincangan dua arah mulai terbentuk. Gadis ini sudah lancar dalam meloloskan kata-kata dari bibirnya.

"Oh iya! Hari ini aku meminjam punya ayah karena payung milikku yang kemarin dipakai ibu saat pergi ke toserba sobek tersangkut paku." papar Ryota.

"Souka.." balas Yuko singkat.

"Tunggu, kau menyadari hal ini?" sangka Ryota karena Yuko bisa mengetahui tentang perubahan ini.

Deg! Irama konstan jantungnya berganti jadi tak beraturan lagi. Kedamaian di hati itu seakan mendapat serangan tiba-tiba yang menyebabkan dirinya kalang kabut. 

"Apa yang harus aku katakan sebagai jawabannya?" batin Yuko risau mencari alasan untuk diberikan pada Ryota.

"Apa kau diam-diam memperhatikanku ya?" kesimpulan dari Ryota seolah menuduhnya. "Sampai-sampai kau tahu hal sesimpel ini." tambahnya.

Jleb! Setelah Ryota mengucap kalimat itu padanya, Kedua pipi Yuko seketika merona menimbulkan efek warna yang sama seperti alat pelindung ini. Belum cukup hatinya dibuat tak karuan, kini ekspresi wajahnya ikut serta pula ke dalam keadaan itu. Seluruh tubuhnya terasa panas meski dinginlah yang seharusnya menusuk ke dalam kulit di cuaca yang seperti ini.

Namun, apa yang tengah dialami oleh Yuko saat ini justru malah memacu adrenalinnya. Meningkatkan keberanian untuk dapat mengungkap isi hati pada lelaki di samping. Nyalinya bak telah ada di puncak kejujuran.

"Ya!" satu kata terlontar sebagai jawaban dari pertanyaan Ryota untuknya. Dia sudah tak sanggup memendam rasa ini lebih lama lagi.

"Ya?" Ryota mengulang kata itu. Tampak berpikir.

Yuko lalu terhenti saat Ryota masih berjalan menatap lurus arah depan dengan tempo yang semakin pelan. Membuat dia tertinggal sementara di belakang sebelum lelaki itu sadar kemudian mundur memayungi kembali sekujur tubuh gadis ini yang terkena guyuran air hujan selama beberapa detik.

Tak mengindahkan jawaban tadi, Ryota malah heran pada sikap Yuko. Kakinya ikut terdiam. "Kenapa tiba-tiba berhenti? Bajumu jadi basah kan?"

Si lawan bicara pun tak menjawab. Mengabaikan tanya dari Ryota.

"Yuko, ada apa?" Ryota semakin dibuat keheranan. Belum ada jawaban lain yang ia dengar dari teman sekelasnya itu.

Si gadis kemudian bergerak. Memutar tubuhnya ke arah kiri, menghadap Ryota yang masih tampak dari posisi samping. Mengetahui hal ini, membuat Ryota seolah terpengaruh pada gerakan tersebut. Ia melakukan hal yang sama sehingga kini mereka berdua saling berhadapan dengan dekat. Kepalanya menunduk seraya milik gadis itu yang ikut terangkat juga. Netranya menatap lekat sepasang mata Ryota yang bulat.

Keberaniannya yang telah berada di puncak mendorong dia untuk bertindak, bahkan gadis itu serasa kehilangan kendali. Dengan perasaan yang begitu meluap seperti aliran sungai di tengah-tengah guyuran hujan ini, tampak dari bawah kakinya seolah berjinjit. Layaknya menggapai sesuatu yang berada lebih tinggi dari dia. Kemudian beralih ke atas, tanpa aba-aba ia langsung mendaratkan sebuah kecupan pada bibir mungil milik Ryota. Menunjukkan bukti nyata dari perasaannya tanpa harus melalui kata-kata.

Keduanya tertegun. Kaku. Ini hanya terjadi kurang dari lima detik, namun menyisakan memori mendalam bagi mereka.

Apa yang barusan dilakukan oleh gadis bernama Yuko ini? Lalu peristiwa sekelebat apa yang beberapa detik lalu dialami oleh Ryota? Sesuatu yang hangat dan lembut baru saja menabrak bibirnya. Sukses menancap ke relung hati.

Di bawah sebuah payung berwarna merah tempat mereka berbagi ruang untuk berlindung dari hujan, hal yang tak diduga terjadi di antara dua anak remaja ini. Sama sekali tiada bayangan. Mereka hanya menyandang status sebagai teman sekelas, pun tak akrab. Namun jika salahsatu pihak telah menaruh hati, jangan pernah salahkan perasaan tersebut. Selama itu bukan sesuatu yang 'terlarang'. Ya, karena saat ini Ryota sedang tak memiliki ikatan serius dengan perempuan lain.

Seulas senyum perlahan terpancar dari wajah Ryota kala gadis di depannya masih bertahan dengan tatapan penuh harap. Memandang balik bola mata itu. Memberi makna yang berarti di dalamnya.

"Jadi begitu ya.." ungkapnya.


-TAMAT-

Tuesday, February 16, 2021

GENERATIONS from EXILE TRIBE -A wish for you ~Kimi wo Negau Yoru~

Lagu yang menjadi pendamping dari single "Ame Nochi Hare" milik GENERATIONS from EXILE TRIBE! Dengan nuansa malam hari yang melibatkan seluruh bagian dari alam semesta menghiasi setiap barisan lirik dari lagu cinta ini. Yang berkisah tentang keseriusan perasaan dari sepasang kekasih yang selalu mengharapkan kebaikan untuk hubungan mereka. Apapun yang terjadi, harapan tulus tak pernah lelah ditujukan kepadanya, orang yang dicintai.

Lagu ini diiringi dengan tempo musik asyik dan mudah diingat saat pertama kali mendengarnya. Dengan menggaet komponis yang sama seperti di lagu "One in a Million ~Kiseki no Yoru ni~", pendengar bisa menemukan rasa musik yang sama dengan lagu itu di sini. Namun tentu keduanya tetap memiliki daya tarik masing-masing. Dan sebagai tambahannya, sentuhan rap ikut serta mewarnai sehingga membuat lagu yang diberi judul "A wish for you ~キミを願う夜~" ini terdengar semakin istimewa.

Cover Single "Ame Nochi Hare"
sumber foto: GENERATIONS Official Twitter

GENERATIONS from EXILE TRIBE -A wish for you ~キミを願う夜~ / Kimi wo Negau Yoru
(Sebuah harapan untukmu ~Malam Harapanmu~)

Lirik: EIGO (ONEly Inc. )
Rap: MANDY Sekiguchi
Musik: ⭐Taku Takahashi (m-flo). Minami (CREAM)

Kimi no inai kono basho ja
Kimochi wo moteamashite shimau yo
Karappo na serifudake ga 
Yozora ni kieteku
Aku tak tahu apa yang akan aku lakukan
Tanpa kehadiranmu di dunia ini
Kata-kata yang kosong
Hilang begitu saja di langit malam

Chikadzuite wa hanarete wo kurikaesu You & me
Furete wo surinukete iku sadame no Gravity
Sore sura ni mo sakaratte Wanna see you kon'ya
Ai ni yuku yo I will get there
Lagi dan lagi, kau & aku menjadi dekat kemudian menjauh
Untukku menyentuhmu dan terbang melewati sini
Aku kan menentang gravitasi takdir, ingin melihatmu
Aku ingin bertemu denganmu malam ini, aku akan berada di sana

Taguri yosete iku futatsu no Destiny
Uchuu no katasumi de kon'ya hajimaru Story
Kita bersama melukis takdir
Kisah kita akan dimulai malam ini di sudut alam semesta

Reff 1:
Meguriau himeta negai ga, hikiyoseau marude mahou-sa
Kirameki ga hora futari wo tsutsumu, A wish for you, My wish for you
Samayou wakusei ukabu mirai ga, ima toki wo koe hitotsu ni naru
Kimi wo mamoru boku wo shinjite, A wish for you, My wish for you
Seperti sihir, kita tertarik pada keinginan rahasia kita untuk bertemu satu sama lain
Lihatlah! Bahkan kilauan mengelilingi kita.. sebuah harapan untukmu, harapanku untukmu
Planet yang berpetualang (kau & aku), masa depan kita yang melayang akan melampaui waktu dan menjadi satu
Aku akan melindungimu, percayalah padaku.. sebuah harapan untukmu, harapanku untukmu


Rap:
Oh, come ride, ride, ride with me
Oh, kono sora koete ikou tooku ni
Oh, mari pergi, pergi, pergi bersamaku
Oh, mari kita melampaui langit ini, jauh sekali


Kimi wo negau riyuu no kazunara
Sora no hoshi no kazu ni mo kate sou-sa
Ryoute hirogete Get ready to dive
Atarashii sekai e We go
Jika aku menghitung alasan-alasan penyebab aku memanjatkan harapan untukmu
Yakinlah, jumlah bintang-bintang di langit pun takkan bisa dibandingkan dengan itu
Rentangkan tanganmu, bersiaplah untuk menyelam
Kita akan pergi ke dunia baru

Mujuu ryoku ukabu In the air majiwaru Me & you
Donna kabe mo konnan mo zenbu norikoete yukeru
Mukai kaze mo, ruuru mo, tafuna reeru mo
Nani ga ki tatte I'm here for you, u, u, u..
Gravitasi nol ada di udara, aku & kau mari bersatu
Kita dapat mengatasi tembok kesulitan apapun
Bahkan angin sakal, peraturan, trek yang sulit
Tak peduli apapun, aku ada di sini untukmu

Kurayami no saki ni hikari wo mitsukete
Kimi no te wo totte kon'ya tsuyoku nigiru, Let's fly!
Aku akan menemukan cahaya yang melampaui kegelapan ini
Malam ini aku akan meraih tanganmu dan menggenggamnya erat, mari terbang!

Reff 2:
Ugokidasu kako to mirai ga, hitotsu ni nari okosu hareeshon
Seijaku wo ima yaburitsukamu yo, A wish for you, My wish for you
Samayou wakusei negau mirai ga, uchuu no kanata hitotsu ni naru
Mou hanasanai boku wo shinjite, A wish for you, My wish for you
Masa lalu dan masa depan yang bergerak menyatu dan menciptakan lingkaran cahaya
Aku akan memecah keheningan sekarang dan menangkapnya.. sebuah harapan untukmu, harapanku untukmu
Planet yang berpetualang (kau & aku), masa depan yang kita harapkan akan bersatu di alam semesta
Aku takkan pernah membiarkan pergi, percayalah padaku.. sebuah harapan untukmu, harapanku untukmu


Hikareau futatsu no hoshi ga
Kasanariau konna yoru ni
Tsuyoku negau, "Zutto kono mama."
I wish for you, My wish for you
Dua planet saling ditarik
Akan menjadi satu malam ini
Aku sungguh berdoa, "Aku ingin kita tetap seperti ini selamanya."
Aku berharap untukmu, harapanku untukmu

Rap:
Tsurete ikitai uchuu ryokou
Mita kotonai basho esukooto
Mars mo koete iku Pluto
Futari no mae ni wanai fukanou
Ride, ride, ride, ride, ride with me
Majide kimi no mi!
Gingakei demo hakarenai kikaku-gai no My feeling
Aku ingin mengajakmu jalan-jalan ke alam semesta
Mengantarmu ke suatu tempat yang belum pernah kau lihat sebelumnya
Pergi melewati Mars, lalu Pluto
Di sana tak ada yang tak mungkin bagi kita
Pergi, pergi, pergi, pergi, pergilah bersamaku
Sungguh, itu hanya kau!
Perasaan yang luar biasa ini tak dapat diukur di galaksi ini

Reff 1:
Meguriau himeta negai ga, hikiyoseau marude mahou-sa
Kirameki ga hora futari wo tsutsumu, A wish for you, My wish for you
Samayou wakusei ukabu mirai ga, ima toki wo koe hitotsu ni naru
Kimi wo mamoru boku wo shinjite, A wish for you, My wish for you
Seperti sihir, kita tertarik pada keinginan rahasia kita untuk bertemu satu sama lain
Lihatlah! Bahkan kilauan mengelilingi kita.. sebuah harapan untukmu, harapanku untukmu
Planet yang berpetualang (kau & aku), masa depan kita yang melayang akan melampaui waktu dan menjadi satu
Aku akan melindungimu, percayalah padaku.. sebuah harapan untukmu, harapanku untukmu

Rap:
Oh, come ride, ride, ride with me
Oh, kono sora koete ikou tooku ni
Oh, come ride, ride, ride with me
Oh, kono sora koete ikou tooku ni
Oh, mari pergi, pergi, pergi bersamaku
Oh, mari kita melampaui langit ini, jauh sekali
Oh, mari pergi, pergi, pergi bersamaku
Oh, mari kita melampaui langit ini, jauh sekali


(sumber lirik kanji: www.lyrical-nonsense.com)
(sumber terjemahan B. Inggris: twitter @achanturtle)
(lirik romaji dan terjemahan B. Indonesia oleh saya sendiri)
(mohon koreksi jika ada kesalahan)

Monday, February 15, 2021

Review J-Lit Kanae Minato "PENANCE"

Setelah bukunya Akiyoshi-sensei, ada buku lain lagi yang mau saya review ya.. Masih J-Lit karya dari Kanae Minato yang berjudul "PENANCE" dengan terjemahan bahasa Indonesia yang terbit pada tahun 2020.

foto pribadi

Judul: PENANCE (SHOKUZAI)
Penulis: Kanae Minato
No. ISBN: 978-623-7351-37-5
Penerbit: Haru
Tanggal Terbit: Juni 2020
Jumlah Halaman: 356
Penerjemah: Andry Setiawan
Penyunting: Prisca Primasari
Penyelaras Aksara: Francisca Ratna
Desainer Sampul: Eky Priyagung
Penata Sampul: Propanardilla

(sumber: buku "PENANCE")


"Meski Tuhan mengampuni kalian, aku tidak."

Lima belas tahun lalu, seorang gadis kecil bernama Emily dibunuh di sebuah desa yang tenang. Empat anak perempuan yang waktu itu sedang bermain bersama Emily tidak bisa memberikan kesaksian yang berarti padahal mereka berjumpa dengan laki-laki pembunuhnya. Akibatnya, penyelidikan pun mandek.

Ibu almarhumah Emily tidak terima, memanggil keempat anak tersebut, kemudian mengancam mereka, "Temukan pelakunya sebelum kasusnya kedaluwarsa, atau ganti rugi dengan cara yang bisa kuterima. Jika tidak, aku akan membalas dendam kepada kalian."

Ketika keempat anak yang menanggung beban besar di pundak mereka itu tumbuh dewasa, tragedi demi tragedi pun terjadi secara beruntun....

Sunday, February 7, 2021

Fan Fiction: Cerah Setelah Hujan (2)

Title: Cerah Setelah Hujan (2)
Author: Harucin
Cast: Alan Shirahama (GENERATIONS from EXILE TRIBE)
Genre: Fan Fiction AU
Length: One Shot


"Lelah sekaliiii!" Alan langsung merobohkan tubuhnya di atas tempat tidur. Tanpa membersihkan diri atau hanya berganti pakaian, raganya bak telah kalah telak dihinggapi rasa lelah akibat pekerjaan lembur yang dia jalani. Sesampainya di rumah, ia segera menuju kamar melepas segala beban di pundak dan siap menyambut kedamaian sepanjang malam bahkan hingga siang. Untung saja besok adalah akhir pekan, ia mendapatkan libur dan itu akan dijadikan sebagai bayaran atas segudang keringatnya hari ini.

Tidur sangat nyenyak dalam keadaan menelungkup. Berjam-jam terlewati sampai datanglah satu peristiwa yang mengganggu kenyamanan itu. Rasa dingin menyadarkan dia dari lelapnya. 

"Eh, air?" ucap Alan saat merasakan telapak tangan yang sebelumnya ia sentuhkan ke bagian rambut belakang itu basah. 

Semakin ia mendapat kesadaran penuh dari tidurnya, semakin ia dapat merasakan hal lain yang sedang terjadi pada dirinya. Dalam posisi yang masih sama, kini hantaman air terasa ke bagian belakang kepalanya. Tetes demi tetes menyerang dalam tempo yang cepat. Alirannya melebar ke bagian bawah kepala itu. Sudah pasti, dengan terjadinya hal ini, ada yang tidak beres di dalam kamar tersebut.

Alan segera membalikkan tubuh. Bersamaan dengan dahinya yang kini menjadi korban gerombolan air itu. Tetesan tak beraturan jatuh dari atas.

Ia beranjak menghindar. "Yabai! Atapnya bocor!" akhirnya ia mengetahui apa yang menimpa dirinya saat ini. Menatap ke arah yang jadi sumber dari mana air itu turun. Tanpa berpikir panjang, si pria berhidung mancung ini bergegas mengambil benda apa saja di sekitar yang sekiranya dapat dijadikan sebagai tempat untuk menampung air yang merembes ke langit-langit kamar dan jatuh di atas kasurnya. Sisi lain dari tempat istirahat itu pun tak luput dari serangan.

Tak cukup di sana, setelah ia mengecek ke seluruh bagian ruangan kamar, ada lagi titik yang bernasib sama. Bagian sudut di mana lemari pakaian miliknya terletak menjadi korban juga. Karena peristiwa tak terduga ini, mengharuskan dia untuk memeriksa ke seluruh ruangan yang ada di rumahnya. Meski ini hanya rumah sewaan sederhana yang di dalamnya cukup terdapat ruang tamu menyatu dengan ruang tengah, lalu dapur berdampingan dengan kamar mandi, dan tentunya satu ruang kamar baginya, namun ia tak boleh mengabaikan. Jangan acuh karena rumah ini adalah satu-satunya tempat yang ia punya untuk berlindung dari hujan, seperti yang terjadi saat ini dan dari terik matahari, jika siang datang apalagi di musim panas.

Tak ada kebocoran lain yang ia temukan. Sedikit perasaan lega karena dampaknya tidak terlalu parah. Namun tetap, ia harus segera memperbaikinya. Esok! Semoga saja bisa. Walau hujan yang Alan saksikan dari balik jendela ruang tamu tampak begitu deras dan awet, tapi harapannya mudah-mudahan saja terwujud.

Terpaksa, sekarang pria ini harus tidur di luar kamar. Mustahil ia bisa nyaman berada di atas tempat tidur yang sudah kepalang basah. Berbaring di kursi ruang tamu, ia coba untuk memejamkan mata kembali meski berisiknya suara hujan terus mengusik dirinya. Dunia luar masih gelap. Dan kantuknya pun tak bisa ia tahan. Alan membawa dirinya untuk masuk ke alam bawah sadar sesi kedua.

Tak ada hal spesifik yang membuatnya terbangun dari tidur. Matanya perlahan terbuka diikuti geliatan dari keduanya tangannya. Memalingkan pandangan pada jam dinding di sana.

"Masih jam 8 pagi. Hoaamm," tuturnya sembari menguap. Menandakan bahwa ia butuh untuk menambah jam tidur. Sebelumnya ia bisa terlelap, namun tak nyenyak karena banyak gangguan eksternal yang datang. Dan kini pun, mustahil baginya untuk tidur kembali karena harus menjalankan niat dadakan di malam tadi.

"Huh! Harusnya hari ini aku bisa tidur sepanjang waktu! Hari libur harusnya diisi dengan memanjakan diri!" ia mengeluh akibat kesialan yang menimpanya.

Mengintip keadaan luar dari balik jendela lagi, nyatanya hujan telah reda. Dan bisa diperkirakan bahwa matahari akan segera menyinari memberikan kecerahannya di hari ini.

Dengan malas si pria bermarga Shirahama ini menuju ke kamar mandi. Berjalan melewati kamar dan mengecek keadaannya sebentar. Air yang ditampung akibat hujan semalaman itu hampir memenuhi si wadah. Dan langit-langitnya pun masih terlihat basah. Ia membawa wadah-wadah itu ke dapur untuk dibuang airnya.

Setelah mencuci muka dan gosok gigi, ya, belum ada niatan untuknya mandi, cukup membersihkan area wajah saja. Kemudian Alan memasak makanan untuk mengisi perut yang sudah keroncongan, sekaligus mempersiapkan tenaga agar lancar dalam melakukan 'pekerjaan' nya.

Di pukul 10 pagi, kesibukannya akan segera dimulai. Ia keluar rumah memastikan cuaca sekarang.

"Bagus! Cuacanya mendukung." mood Alan semakin membaik ketika mengetahui bahwa matahari enggan bersembunyi di saat ini. Sang raja itu tak malu-malu untuk memancarkan sinar serta memberi kecerahan pada dunia.

Kembali masuk rumah ia segera menggotong si kasur yang kebanjiran itu untuk dijemur di halamannya yang pas sekali terkena sorot panas matahari. Sepreinya ia lepas dan ikut dijemur membentang pada tali panjang yang suka dipakai untuk tempat menjemur pakaian.

"Lumayan melelahkan.." ungkap Alan sambil menyeka sedikit keringat yang sudah keluar di dahinya. Tapi ini belum selesai, hal inti yang menjadi masalah utama masih belum teratasi.

Kebocoran yang terjadi di kamarnya mengharuskan Alan untuk naik ke atap. Memeriksa sekaligus memperbaiki apa yang salah dari tempat itu. Satu kemungkinan besar penyebab itu terjadi telah berputar-putar di pikiran. Dan ia akan membuktikan kebenarannya.

Meminjam tangga milik tetangga sebelah rumah agar ia bisa mencapai atas, Alan dibantu oleh seorang lelaki muda yang merupakan si pemilik. Setelah menemukan titik yang diperkirakan merupakan atap yang terhubung dengan kamarnya, ia lalu menaiki satu persatu penyangga kaki itu dengan perlahan. Di bawah, si lelaki memegangi kedua sisi tangga dengan kuat. Hingga tiba di atas, kecurigaannya terjawab.

"Benarkan! Gentengnya banyak yang bergeser. Pantas saja kamarku jadi bocor!" gerutunya. Di atap ini, sekitar jarak dua meter di hadapnya, terlihat lumayan banyak genteng yang berpindah dari posisi semestinya. Jelas saja, jika hujan turun, maka air akan mudah masuk ke sela-sela yang harusnya tertutupi dan alhasil akan merembes masuk ke dalam plafon rumah.

Kini Alan telah berada di atas atap tersebut. Membetulkannya dengan sangat hati-hati, karena ia bukan ahlinya. Namun ia juga merasa mampu untuk mengerjakannya sendiri. Mengembalikan si para tanah liat beku itu ke tempat semula. Mengabsen satu-persatu khawatir jika ada yang terlewat. Di bagian lain yang masih terjangkau olehnya pun tak luput dari pengawasan. Oh ya, lelaki muda yang membantunya ini meninggalkan sementara dirinya karena pasti Alan akan lama berada di atas sana.

"Dasar kocheng! Aku yakin pasti si kawanan itu yang jadi biang kerok! Mentang-mentang aku tak pernah mengusirnya saat mereka ketahuan ada di atap. Beraninya binatang itu mengerjaiku!" di tengah pekerjaannya, Alan terus mengomel menyalahkan satu penyebab pasti yang ia yakini sebagai sumber masalah dari semua masalah yang ia alami semalam. Kesal namun tak tahu harus dilimpahkan ke mana dan siapa. Jadi ia hanya bisa mengoceh dan terus mengoceh tiada ujung.

Waktu berlalu semakin siang. Terik matahari sangat terasa oleh tubuh Alan. Membuat keringatnya bercucuran dan baru bisa diusap oleh lengan bajunya berkali-kali. Ia tak membawa handuk.

"Hari ini benar-benar cerah! Bahkan panas. Aku yakin kasurku akan cepat kering, dan air yang menggenang di genteng-genteng ini pun akan segera menguap." senyum Alan menyertai kala ia yakin pada ucapannya. Secara tak langsung, kecerahan di hari ini telah meringankan pekerjaan dadakannya.

Baiklah, semuanya telah beres. Ia memeriksa ulang dan tak ada yang kurang. Besar harapannya jika nanti terjadi hujan maka tak akan ada kebocoran lagi di kamarnya. Bahkan di semua ruangan rumah.

Saat Alan akan turun, ternyata lelaki itu belum kembali. Ia takkan buru-buru berteriak memanggilnya. Biarkan saja sejenak. Di atap ini, ia duduk dengan santai. Tepat di tengah-tengah garis 'puncak segitiga' itu. Mengedarkan pandangan ke sekitar. Dari atas tempatnya berada sekarang, ia bisa melihat 'dunia' yang lebih luas. Berteman cahaya matahari yang ikut memperjelas penglihatan itu, Alan seperti menemukan hal berharga. Meski silaunya membuat telapak tangan dia harus melindungi sepasang matanya, namun ia bisa mengerti bahwa hujan dan cerah itu selalu beriringan.

"Hujan yang turun dari langit menyebabkanku harus menyita waktu libur. Namun cerah yang datang setelahnya bisa menyelamatkanku juga. Karena aku bisa secepatnya mengatasi masalah itu." ungkapnya tersenyum.

Memang, tidak ada hujan yang tidak akan berhenti. Dan tidak akan ada cerah jika tak terjadi hujan dulu. Cerah datang setelah hujan. Menghapus kesulitan dan memberi jalan keluarnya.

Teriakan datang dari arah bawah. Lelaki muda itu memanggil Alan bertanya apakah ia sudah selesai atau belum. Sahutan diterima dan Alan segera turun. Berterimakasih atas pertolongan yang telah dia beri.

"Bau sekali badanku! Aku akan langsung mandi!" Alan pun bergegas pergi karena sudah tercium aroma tak sedap dari sekujur tubuhnya.

-TAMAT-